
Sembilan tahun yang lalu.
"Louis, ini adalah Elona Locke. Mulai hari ini kalian adalah pasangan tunangan, ya." ucap Raul Vandyke pada putra semata wayangnya.
"Ayo, Louis. Beri salam pada Elona."
Lilia menggenggam tangan putranya, mengajaknya melangkah ke depan, tempat di mana seorang anak perempuan yang dimaksud berada. Tubuh anak perempuan itu tidak lebih tinggi dari Louis. Rambutnya cokelat terang diikat kepang dengan poni yang dipotong rata. Tubuhnya yang gemuk menunjukkan lemak yang tetap terlihat meski telah ditekan oleh korset.
Tangan kecil Louis pun terulur. "Halo, salam kenal. Namaku Louis." ucapnya.
Louis begitu terkejut ketika sedetik kemudian, si gadis kecil langsung meraih tangannya tiba-tiba, dan menggenggamnya kuat-kuat.
"Aku Elona! Salam kenal! Horee, kita sudah bertunangan!" seru Elona kecil, lalu menggamit lengan Louis.
"Ayo, main!" Elona berkata setengah berteriak, lalu menarik tangan Louis menuju taman mawar di sebelah mansion.
"E-eh, tunggu sebentar!" Louis pun mau tak mau mengikuti langkah Elona yang berlari.
Seorang remaja melihat tingkah Louis dan Elona yang semakin berlari menjauh. Remaja lelaki ini jelas usianya masih sangat belia untuk memakai setelan kemeja dan jas seperti orang dewasa. Memegang jabatan marquess di usia yang sangat muda membuatnya terlihat jauh lebih dewasa daripada remaja sebayanya. Tak lupa pula, sebilah pedang tersampir di bagian pinggang.
Raul Vandyke menatap lelaki muda tersebut, "Nak Stefan, mari silakan masuk." ucap Raul. Stefan Locke pun melangkah ke arahnya.
"Mulai dari sekarang, tolong jaga adikku. Dia anak yang sangat baik, dan sangat ingin sekali ditunangkan dengan Louis."
"Tentu saja, Nak Stefan, kami akan menjaga adikmu seperti putri kami sendiri." ucap Lilia seraya mengiringi Stefan Locke masuk ke dalam rumah kediaman Vandyke.
*****
"Louis, kegiatan sehari-harimu apa saja?" tanya Elona ketika dirinya mengunjungi Louis di kediamannya pada suatu hari, sebulan setelah mereka bertunangan. Mereka berdua sedang berjalan-jalan di taman mawar milik Lilia.
Louis menjawab sambil tersenyum. "Oh, di pagi hari aku belajar, siangnya aku berlatih pedang, dan-"
"Oh, pedang! Aku juga suka berlatih pedang. Dulu aku sering mengikuti ayah berlatih pedang dengan prajurit tetapi beliau tidak mengijinkanku! Tapi setelah aku menangis, ayahku membiarkanku mengayunkan pedangnya dan blablabla..."
Elona bicara tanpa henti seperti sebuah angin ribut. Louis hanya diam saja dan mendengarkan. Anak lelaki itu berusaha untuk sopan dan tetap mendengarkan. Namun Elona terus berbicara tanpa henti.
"Kalau hobi, apa hobimu, Louis?" tanya Elona lagi, begitu ia selesai bicara panjang lebar. Louis hampir mengantuk dibuatnya
"Oh, hobiku adalah jalan-jalan ke kota dan pergi ke theater-"
"Ah, aku juga suka pergi ke theater! Dulu ibuku juga menyukai pergi ke theater. Setiap ada pertunjukan baru, ibu pasti akan mengajakku turut serta untuk melihatnya! Lalu nanti kami akan masuk ke ruangan VIP yang ada di atas, lalu aku dibelikan minuman kesukaanku, dan blablabla..."
*****
Sore hari tiba. Elona beserta kakaknya telah pulang dari kediaman Vandyke. Louis kembali masuk ke dalam rumah sambil berjalan gontai.
Lelah sekali rasanya. Louis baru pertama kalinya mengalami hal seperti ini. Dia baru tahu kalau mendengarkan orang bercerita tentang dirinya sendiri terus-menerus bisa sebegini melelahkannya. Louis pun menjatuhkan dirinya di atas sofa di ruang keluarga, dan berbaring miring di sana.
Lilia masuk ke ruang keluarga yang sama dan mendapati putranya seperti tidak ada tenaga sama sekali. Wanita itu pun terheran melihatnya.
"Louis? Ada apa, nak? Kamu sakit?"
Louis yang melihat ibunya datang dan menghampirinya segera menegakkan tubuhnya, lalu bersandar di sandaran sofa.
"Aku capek, Bu..."
"Capek?"
"Iya..." lalu Louis menceritakan semua yang terjadi antara dia dan tunangannya Elona, dan apa yang mereka obrolkan sepanjang sore.
"Dia itu seperti... apa ya? Selalu membicarakan dirinya sendiri. Padahal dia bertanya tentangku. Tapi begitu aku menjawab, omonganku langsung dipotong. Dia selalu bercerita tentang ayah dan ibunya, bagaimana mereka memperlakukan dia dan semacamnya. Aku tidak diberi kesempatan untuk bicara sama sekali, Bu."
Lilia memandangi putranya. Kemudian, wanita itu mengelus kepalanya.
"Louis, sini Nak, dengarkan Ibu,"
Louis menoleh dan menatap ibunya. Lewat pancaran mata ibunya yang tenang dan anggun lah Louis selalu bisa mendapatkan ketenangan dalam hidup. Di tengah-tengah tuntutan ayahnya yang selalu menginginkan dia meraih yang terbaik, ada ibunya yang selalu berhasil untuk menenangkan emosinya.
"Sayang, mungkin kamu belum tahu, tapi Elona itu sudah kehilangan kedua orangtuanya." Lilia berkata dengan lembut.
"Kehilangan?" Louis kecil bertanya tak mengerti.
"Iya, sayang. Kedua orangtuanya telah meninggal dalam kecelakaan. Dan Elona menjadi sangat tertekan karena hal itu."
"Oh... maaf, aku tidak tahu..." Louis tamoak tertunduk lesu. Lilia pun mengangkat wajah putra semata wayangnya itu.
"Tidak apa, Louis. Mulai dari sekarang, jadilah teman yang baik baginya, ya. Dia menyukaimu dengan tulus. Kamu putra ibu yang baik, kan?"
"Um..." Louis tersenyum seraya menatap ibunya. "Baiklah, Bu. Aku akan tetap menemaninya. Aku akan berusaha untuk menjadi tunangan yang baik baginya!"
"Anak Ibu memang pintar! Sini, ibu peluk!" Lilia mendekap putranya dalam penuh kehangatan. Setelah itu, Lilia menepuk-nepuk kepala Louis dengan lembut.
"Semoga kesedihan dan kelelahanmu cepat hilang! Wush!" dengan satu gerakan tiupan, Lilia seperti telah meniupkan kesedihan dan kelelahan Louis dalam sekejap. Louis kecil senang sekali tiap kali ibunya melakukan ritual menepuk-nepuk kepalanya seperti itu.
"Tapi, kalau aku lelah mendengar semua ocehan Elona lagi, aku boleh cerita sama Ibu lagi, kan?"
"Boleh, sayang... sangat boleh!"
"Aku sayang Ibu!"
*****
Louis mengambil cangkir tersebut dan meminumnya. Sedetik kemudian, ia menyemburkan isi mulutnya.
"Apa? Kenapa, Louis? Tidak enak, ya?" tanya Elona. Gadis itu terlihat panik sekali.
"Oh, ini..." Louis ingin mengatakan yang sebenarnya kalau memang teh buatan Elona sangat pahit. Tetapi Elona begitu tergagap setelahnya.
"A-aku mi-minta maaf... Ayah, Ibu..."
Entah kenapa, justru kedua orangtuanya lah yang gadis itu panggil di saat-saat seperti ini. Louis yang tak enak hati akhirnya terpaksa berbohong.
"Ini enak, kok. Sungguh! Jadi jangan sedih, ya!" ucap Louis berusaha menenangkannya. Gadis itu pun kembali ceria.
"Benarkah?"
"Iya."
Kebohongan yang makin lama Louis sesali karena pada akhirnya ia harus selalu meminum teh pahit seperti itu.
Dan kebohongan lainnya pun mulai terjadi.
"Louis, aku sudah berlatih supaya bisa berdansa denganmu! Ayo kita berdansa!" ucap Elona antusias. Namun karena tubuhnya yang gemuk, ia seringkali tidak dapat menahan keseimbangan tubuhnya dan malah menginjak kaki Louis berkali-kali.
"Sudah, sudah ya! Aku capek!" Louis yang tak dapat menahan sakit di kakinya yang bengkak-bengkak akhirnya terpaksa menghentikan latihan mereka secara sepihak.
Kebohongan demi kebohongan terus bergulir. Louis tetap menahan semuanya, karena di malam hari selalu ada ibunya yang menenangkan jiwa dan pikirannya.
Hingga suatu hari, Lilia Vandyke meninggal dunia karena sakit, di usia Louis yang ke empatbelas.
Louis terpaku sendirian di depan makam ibunya. Tatapan matanya begitu kosong. Satu-satunya tempat sandaran bagi hidupnya kini telah tiada. Satu-satunya penenang hati dan jiwanya kini telah pergi selamanya.
"Ibu... kenapa pergi..."
"Louis..." sebuah suara muncul dari balik badannya. Suara milik Elona Locke. Gadis itu ikut hadir di pemakaman Lilia Vandyke dan belum pulang meskipun pengunjung yang lain sudah pergi satu persatu.
"Louis, aku sudah dengar tentang ibumu meninggal... Jangan sedih ya... Ayo kita ke taman, di sana kamu pasti bisa merasa tenang."
"Ibuku baru saja meninggal dan kamu mengajakku jalan-jalan?!"
"Bukan begitu maksudku... Aku hanya-"
"Hanya apa? Cari perhatian, hah?? Dengar ya, semua usaha kamu ini sia-sia!"
"Tapi-"
"Jangan dekati aku lagi! Aku merasa terganggu sama keberadaanmu, tahu? Aku mengikuti pertunangan ini, hanya karena ayahku yang minta. Jadi kamu jangan melunjak! Sudahlah! Malas aku melihatmu."
"Tapi... *hiks* Aku cuma punya kamu... *hiks* Louis... Louis...!"
*****
"Halo, aku meninggalkan sapu tanganku di sana."
Seorang gadis menyapa Louis yang tengah terduduk melamun di bawah pohon di area taman sekolahnya. Sudah tiga tahun semenjak ibunya meninggal, dan hari ini adalah hari peringatannya.
Gadis berambut biru terang itu menunjuk ke bagian rerumputan yang diduduki oleh Louis. Lelaki itu pun menundukkan kepala. Ternyata dirinya sudah tanpa sadar menduduki sebuah sapu tangan putih.
Louis segera mengambil sapu tangan tersebut, lalu mengulurkannya pada gadis itu. "Maafkan aku, aku sudah mendudukinya."
"Tidak apa." ucap gadis itu, seraya menerima sapu tangannya kembali. Tapi setelah menerimanya, gadis itu tidak segera pergi. Ia malah menatap Louis lekat-lekat.
"Ada apa?" Louis merasa heran bila ditatap sampai seperti itu.
"Kamu sedang sedih, ya? Kenapa?" tanya gadis itu.
"Bukan urusanmu, kan?" Louis menanggapinya dengan ketus. Tapi gadis itu malah semakin mendekatinya.
"Mau apa kamu?!" Louis bingung ketika gadis itu sudah dekat sekali padanya. Lalu gadis itu membungkuk, dan mengulurkan tangan ke arah kepala Louis.
"Semoga kesedihan dan kelelahanmu cepat hilang! Wush!"
Gadis itu menepuk-nepuk kepala Louis, lalu melakukan satu gerakan tiupan. Seketika itu juga Louis terperanjat. Itu adalah ritual membuang kesedihan yang selama ini ibunya sering lakukan padanya sebelum beliau tiada.
"Oh, maaf! Mamaku dulu sering melakukan itu padaku kalau aku sedang sedih. Maaf, tanpa sadar aku melakukannya padamu." gadis itu menunduk merasa malu. Lalu ia membungkukkan badannya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai nanti!" gadis itu pun beranjak pergi. Namun, Louis menghentikan langkahnya dan memanggilnya hingga ia menoleh ke belakang.
"Hey, siapa namamu?"
"Namaku Kiara! Dari keluarga Perez!"
"Kiara Perez...?" gumam Louis dalam hati.
*****