
Sementara itu, sore hari di ibukota.
"Pesanannya, Nona?"
Seorang pelayan menghampiri Kiara, ketika gadis itu sedang duduk di salah satu meja terbaik di Kafe Satu Sesapan. Meja tersebut berada di balkon kafe di lantai dua, dengan pemandangan matahari senja yang begitu jingga.
Sore ini, Louis mengajaknya untuk bertemu di Kafe Satu Sesapan, dan gadis itu menyetujuinya. Kebetulan sekali, karena Kiara memang sudah sejak lama ingin pergi ke kafe tersebut. Tetapi, mengunjungi kafe itu sendirian terasa janggal.
Dan memang sore ini, Kiara sedang mengantisipasi akan ada satu adegan yang terjadi, sesuai alur plot webtoon Cerita Hati.
"Umm... apa camilan yang sedang populer di sini?" tanya Kiara kembali, seraya membolak-balik halaman menu kafe. Pelayan itu tampak berpikir sejenak.
"Untuk cemilan, ada menu baru kami, yaitu tahu goreng. Bisa pesan pedas atau biasa saja. Minumannya paling cocok dengan teh atau susu kedelai. Kalau Nona mau, bisa saya-"
"Sebentar," potong Kiara tiba-tiba. "tahu goreng...?"
"Iya, Nona. Tahu adalah makanan yang diolah dari susu kedelai yang-"
"Ah, aku mengerti apa itu tahu. Tidak apa, tidak usah menjelaskan. Baiklah, aku pesan tahu gorengnya satu, ya." ucap Kiara. Sang pelayan kafe pun langsung mencatatnya.
"Kalau begitu, silakan ditunggu. Pesanan akan datang sekitar lima belas menit lagi." ucap sang pelayan, dan ia pun pamit dari hadapan Kiara.
Tak lama kemudian, pesanan pun tiba. Kiara pun menusuk sepotong tahu hangat dengan garpunya dan menyuap ke dalam mulutnya.
Setetes air mata jatuh ke pipi. Rasa rindunya pada dunia asalnya muncul, saat ia masih menjadi seorang Wulan. Bukan rindu kepada ibu dan saudari tirinya, tapi lebih kepada ayahnya.
Ayah Wulan adalah seorang pemilik pabrik tahu di daerah Sumedang. Dan Wulan seringkali diajak berkunjung ke pabrik tersebut oleh ayahnya sewaktu kecil.
"Wulan, suatu hari nanti, kamu yang akan menjadi pemimpin dari pabrik tahu ini, ya?"
"Semua ini, Pa??"
"Iya, jadi kamu harus belajar yang rajin ya! Belajar caranya mengolah kedelai, biar nanti saat dewasa kamu bisa gantikan Papa!"
"Iya, Pa... tapi, kok bau banget, sih?!"
"Hahaha! Itu bau limbahnya, Sayang! Nanti juga kamu terbiasa!"
"Kiara...? Kiara!"
"E-eh, Louis! Kamu sudah datang!"
Lamunan Kiara buyar dan gadis itu bergegas menghapus air mata di pipinya.
Sudah, sudah! Sudah 16 tahun aku hidup di dunia ini. Kehidupanku sekarang di sini. Dan Louis ada di hadapanku sekarang.
Tapi... aku jadi ingin bertemu dengan Elona Locke. Mungkin setelah semuanya selesai, kita bisa bernostalgia tentang bumi bersama...
"Kamu kenapa, Kiara? Kenapa menangis?" Louis bertanya dengan cemas. Kiara tersenyum menanggapinya.
"Aku tidak apa, Louis..."
"Oh, oke." Louis pun duduk di hadapan Kiara. Gadis itu menatapnya penuh harap. Ada adegan yang sedang diantisipasinya di sore ini, tepat di meja ini, di kafe ternama ini.
Adegan pelamaran oleh Louis Vandyke pada Kiara Perez.
Setelah 16 tahun gadis itu menunggu-nunggu kesempatan ini. Setelah banyak rintangan yang ia hadapi, Kiara begitu menantikan hari ini.
Meskipun sosok antagonis tidak ada lagi di sisi mereka berdua, tapi Kiara cukup lega dengan hal itu. Karena itu berarti, semuanya berjalan lebih lancar dari dugaannya sebelum ia bertemu dengan Louis. Kiara juga merasa lelah seandainya ia harus menghadapi berbagai macam serangan dari sang antagonis Elona Locke pada dirinya, seperti yang seharusnya terjadi di dalam webtoon Cerita Hati.
Tapi semua itu tidak terjadi, dan Kiara tersenyum senang menatap lelaki di hadapannya saat ini. Dalan hati ia berharap, bahwa bersatunya Kiara dan Louis akan tetap terjadi meskipun tanpa ada faktor gangguan dari tokoh antagonis.
"Kiara... aku ingin membicarakan sesuatu." ucap Louis. Kedua tangannya meraih tangan Kiara yang ada di atas meja.
Inikah saatnya? Setelah sekian lama?? Aduh, aku tak bisa mengontrol detak jantungku...
"I-iya... apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Kiara, sesuai plot cerita.
Louis menghela nafas. Mata merahnya menatap lekat pada gadis di hadapannya itu. Kiara pun juga jadi tidak sabar dibuatnya.
"Kiara..."
"Ya, Tuan Muda Louis..."
Oh, tidak! Ini dia! Ini dia!
"Selama kita bersama, aku merasakan ada yang berubah. Aku yang dulu hanya bisa meratapi kepergian ibuku dan menghadapi dunia dalam kegelapan, semua itu berubah semenjak ada kamu."
Oh, sesuai dengan yang ada di webtoon! pekik Kiara dalam hati. Gadis itu berusaha untuk menenangkan hatinya, meski sepertinya sia-sia.
"Kamu memberikan sesuatu yang bermakna sejak hadir dalam hidupku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi yang jelas, aku tahu kalau aku yang sekarang tidak akan bisa di sini tanpa ada kamu yang menemaniku..." lanjut Louis. Kemudian, ia terdiam sejenak.
Di titik ini, Kiara menahan nafasnya dan bersiap-siap.
"Kiara..."
"Maukah kamu menjadi istriku?" ayo katakan...
"... aku minta maaf..."
"Eh...?"
Louis tampak memalingkan pandangannya ke arah lain, seperti sengaja menghindari tatapan mata Kiara. Dan gadis itu pun tertegun, berusaha untuk mencerna apa yang dikatakan lelaki pujaannya tadi.
Apa aku tidak salah dengar yang barusan? Minta maaf...? Kenapa Louis jadinya minta maaf??
"Mi-minta maaf kenapa? Ada apa?"
"Aku minta maaf..." Louis menghela nafas, lalu genggamannya pada tangan Kiara pun terlepas.
"Selama ini aku berpikir kalau aku mencintaimu. Aku... tadinya yakin kalau kamu adalah satu-satunya yang bisa berada di sisiku, tapi..."
Kata-kata lelaki itu tertahan, seperti tidak tega mengungkapkannya. Sementara Kiara sendiri masih terperangah tak percaya bahwa semua yang dinantikannya sekarang seluruhnya keluar dari alur cerita yang seharusnya.
"Tapi apa?" ada nada tak percaya dan tak rela dalam pertanyaan gadis itu. Louis tampak menghela nafas untuk yang kesekian kalinya.
"Tapi... ternyata aku masih belum yakin dengan hatiku... maafkan aku..."
Adegan yang seharusnya ditandainya dengan pemberian cincin pertunangan, malah sekarang tergantikan dengan permohonan maaf dari Louis dengan kepala yang menunduk di hadapan Kiara sebagai simbol.
"Kamu... tidak mencintaiku?" tanya Kiara kembali. Kerongkongannya serasa panas, dan pelupuk matanya pun seperti telah bersiap untuk meneteskan air mata sekali lagi.
"Aku... belum tahu..." jawab Louis.
Kiara memejamkan mata, berharap semua yang terjadi saat ini tak pernah ada selamanya. Namun, ketika ia membuka mata, Louis masih ada di sana dengan kepala yang masih menunduk. Cincin pertunangan itu tetap tidak ada. Yang ada hanyalah air mata yang mulai menetes perlahan dengan hangat tanpa disadarinya.
"Lalu... bagaimana selanjutnya? Kamu mau mencampakkan aku?"
"Bukan begitu!" Louis menyanggahnya segera. "Aku hanya belum tahu hatiku ini memilih siapa. Jadi..."
"Jadi?"
"Jadi... izinkan aku untuk pergi sementara waktu. Beri aku waktu untuk menata hatiku..." Louis berkata dengan hati-hati.
"Sampai kapan?" tanya Kiara menginginkan kepastian.
"Aku pasti akan datang langsung padamu bila aku sudah menetapkan perasaanku. Aku juga tidak ingin membuatmu mencintaiku seutuhnya, sementara aku di sini hanya bisa memberimu setengah-setengah...
Aku hanya ingin mencintai seseorang tanpa setengah hati dan tanpa penyesalan..."
Kiara menghapus air mata di pipinya. Ia sudah sering disakiti di dunia sebelumnya, ia bertekad harus bisa bertahan untuk hal yang seperti ini. Setidaknya sampai ia tidak berada dalam jarak pandangan Louis.
"Baiklah, aku mengizinkanmu..." ucap gadis itu tak rela.
"Benarkah?"
"Iya... ingatlah, aku menunggumu."
"Aku janji, aku akan kembali secepatnya membawa jawabanku!"
Louis kemudian beranjak dari kursinya, lalu mengambil jasnya yang tersampir di sandaran kursi.
"Aku pergi dulu."
Dan seperti itu saja. Louis pergi dari kafe tersebut tanpa berbalik sedikitpun pada gadis di belakangnya. Sekarang Kiara sudah tak dapat melihat Louis lagi di sana, dan air matanya langsung tumpah sejadi-jadinya.
Kenapa begini... kenapa semuanya sia-sia begini...
*****
Louis baru saja tiba di rumahnya setelah dari Kafe Satu Sesapan dan langsung pergi ke kamarnya. Ia memanggil beberapa pelayan.
"Siapkan koper besar. Besok pagi-pagi sekali, aku akan pergi ke luar kota untuk sementara waktu. Apa ayahku ada?"
"Ayah anda sedang berada di lobi bawah." ucap seorang pelayan. "Ada apa, Tuan Muda? Anda ingin pergi kemana mendadak begini?"
Louis tersenyum. Ia mengeluarkan sesuatu dari laci, sebuah benda yang pernah ia dapatkan bertahun-tahun yang lalu dari mantan tunangannya.
"Aku akan pergi ke Kota Armelin."
*****
...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...
...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...