
"Kiara?! Kenapa kamu ada di sini??"
Louis tampak begitu terkejut ketika melihat sosok gadis yang dekat dengannya selama setahun belakangan ini. Sosok yang ia minta untuk menunggu jawaban akan pilihan hatinya di ibukota. Lelaki itu tidak pernah menyangka kalau Kiara akan menyusulnya sampai ke ujung selatan Kota Armelin ini.
Kiara melihat pemandangan yang akan terjadi antara Louis dan Elona tepat di depan matanya. Gadis itu berlari menghampiri mereka berdua dengan mengangkat ujung dressnya sambil berderai air mata.
Kiara menghentikan langkahnya tepat di hadapan Louis yang masih saja terperangah dengan kenekatan gadis itu. Sambil masih terus terisak, Kiara menatap Louis dengan mata yang nanar.
"Aku sudah menunggumu... selama sebulan aku telah menunggumu, tapi kamu tidak juga kembali... aku risau, Louis... aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi... tapi ternyata kamu di sini menikmati waktu bersamanya dan melupakanku..."
Kiara menunjuk Elona yang sedari tadi terdiam menyaksikan semuanya.
"Tapi, aku kan sudah bilang akan memberimu jawabanku setelah aku yakin. Kenapa kamu malah menyusulku?!" ucap Louis tak habis pikir.
"Aku tidak bisa! Aku mencoba untuk bersabar, tapi memikirkan kalau kamu bisa saja memilih Elona nantinya, aku jadi tidak bisa menunggu lebih lama lagi..."
Kiara masih saja tenggelam dalam tangisannya. Kemudian, ia meraih tangan Louis dan menggenggamnya. Gadis itu menatap Louis dengan mata nanar dan berkata memelas, "Kumohon, pilihlah aku... hiks... dengan setengah hati pun tidak apa-apa... hiks... karena aku akan membuatmu mencintaiku sepenuhnya nanti... tapi pilihlah aku!"
Louis terkejut dengan pernyataan Kiara. Dengan cepat, ia menarik tangannya yang digenggam oleh Kiara supaya terlepas.
"Tapi, hatiku sudah memilih Elona... aku minta maaf..." Louis berkata dengan nada ragu karena tahu akan menyakiti Kiara lebih dalam lagi setelahnya.
Kiara memandang mata lelaki itu dengan tatapan tak percaya. Dan Louis pun kembali berkata maaf.
"Maafkan aku, Kia-"
"Tidak!!" Kiara menutup kedua telinganya dengan tangan, pertanda ia tidak mau mendengarkan Louis berkata lebih lanjut tentang hal yang lebih menyakitkan lagi. Gadis itu juga memejamkan kedua matanya dengan erat karena tidak mau melihat kenyataan yang sedang terjadi saat ini.
"Tidak boleh begini!! Ini tidak sesuai dengan alur ceritanya! Harusnya kamu bersamaku dan bukannya dia! Sia-sia sudah perjuanganku selama ini di dunia ini!"
Kiara berteriak menyerocos. Ia begitu kehilangan kendali akan bicaranya karena saking terpukulnya. Dan hal itu didengarkan oleh Tara yang berada di dalam pikiran Elona saat ini.
Tidak sesuai alur cerita? Apa maksudnya?? Apa jangan-jangan, selama ini dia juga...
Tara membatin tak mengerti, tetapi ia berpikir keras. Selama ini, Tara selalu bertanya-tanya, apakah mungkin ada orang lain yang berpindah ke dunia fantasi ini selain dirinya. Dan pernyataan Kiara tadi baru saja memberikan titik terang baginya.
Elona sendiri tidak menanggapi apa yang dibatinkan Tara barusan. Kini di hadapannya muncul seseorang yang membuat tunangannya berpaling darinya dulu, dan baru saja ia mendengar kalau Louis membuatnya menunggu selama sebulan ini tanpa kepastian. Lalu sekarang, Kiara begitu memelas dan memohon supaya Louis tidak melepaskannya begitu saja.
Dengan cepat, Elona menjulurkan tangannya ke hadapan Louis. Seketika itu juga, wajahnya itu terhantam oleh tamparan keras dari gadis itu. Mata Elona berkilat menahan amarah yang menggebu-gebu. Dan Louis sampai hampir kehilangan keseimbangan karena itu.
"Elona...?" Louis memandangi Elona dengan bingung. Pipinya masih terasa panas dan memerah akibat tamparan tersebut.
"Ternyata kamu masih tidak berubah!" ucap Eloan dengan berteriak dan nafas menderu. Tetesan air mata jatuh di kedua pipinya.
"Kamu membuat Kiara menunggu jawabanmu?! Laki-laki macam apa kamu, yang seenaknya mempermainkan wanita begitu? Kamu pikir kami ini barang, yang kalau kamu sudah bosan lalu diganti begitu saja, hah?!"
"Tapi, Elona, aku-"
"Lalu sekarang, dengan seenaknya kamu bilang, kamu memilihku?? Memangnya siapa kamu, berhak punya pilihan begitu?!! Bisa-bisanya... hahh... hahh..."
Secara tiba-tiba, Elona memegangi dadanya. Rasa sesak nafas yang sudah lama tak dirasakannya kini kembali hadir di dadanya.
"Elona, ada apa denganmu? Elona!!" Tara berteriak dari dalam pikiran Elona tanpa bisa berbuat apapun. Ia pun juga heran mengapa Elona bisa terserang sesak nafas lagi. Padahal tubuhnya sudah tidak gemuk, tapi ia masih menderita karena sesak nafas tersebut hanya karena stress.
Tara merasakan tubuh Elona semakin ambruk dengan nafas yang sesak. Gadis itu berpikir bahwa ini seperti seseorang yang mengalami gangguan stress pascatrauma atau ptsd. Contohnya seperti orang yang merasa tetap pincang dan tidak dapat berjalan meskipun luka di kakinya telah terobati. Jadi, ia pincang karena stress akibat trauma yang dialaminya, bukan karena luka.
Tara merasa saking stressnya Elona saat ini, gadis itu pun mengalami sesak nafas meskipun tubuhnya sudah kurus.
"Elona? Elona?? Kamu kenapa? Dadamu sesak? Elona!!" Louis yang melihat perubahan pada diri mantan tunangannya tersebut langsung panik. Dan begitu ia melihat tubuh gadis itu ambruk dan memejamkan mata, dengan sigap Louis menangkapnya dan membopongnya dengan gendongan depan.
"Elona!!"
Louis berusaha menepuk-nepuk pipi gadis itu, namun ia tak kunjung sadarkan diri. Dengan segera ia berlari menuju tempat dimana para pengawalnya memarkir kereta kudanya. Ia tak lagi menaruh perhatian pada Kiara yang menatap kejadian tersebut dengan bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Fokusnya sekarang hanya tertuju pada Elona dan ingin segera membawa gadis itu pulang ke kediaman Locke.
Elona terkulai lemas dengan mata terpejam dan wajah yang pucat, membuat Louis ngeri melihatnya. Louis meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya, dan berdoa dalam hati,
*****
Sementara itu, di kediaman Locke di Kota Armelin.
Mai begitu terkejut ketika melihat David datang dengan kudanya bersama dengan Arthur Eckart, seseorang yang sedang dekat dengan nona majikannya dan rela menyamar menjadi pemuda desa demi bisa membantunya. Tak biasanya, David datang dengan majikannya seperti itu.
Kedua kuda mereka tiba di pelataran. Wajah David menunjukkan raut muka sebal begitu turun dari kudanya. Mai segera menghampiri lelaki yang belum lama ini telah menjadi kekasihnya tersebut.
"David, ada apa? Oh, salam hormat, Tuan Muda Arthur Eckart!" Mai pun memberikan gestur hormat, yang langsung dibalas dengan anggukan kepala oleh Art.
"Tuan Muda mengekorku setelah mengatakan aku ingin kemari menemuimu." ucap David. Art melirik ke arahnya sebal.
"Siapa yang mengekor?! Lagipula apa gunanya aku membuntutimu yang ingin pergi pacaran! Aku kemari untuj bertemu dengan Elona!" Art memberikan alasan.
"Maaf Tuan Muda, Nona Elona belum pulang dari kota." sahut Mai. Raut wajah Art semakin sebal mendengarnya.
"Tch! Baiklah, akan kutunggu!"
David menghela nafas. Ia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran tuannya itu.
"Kalau cinta itu harus gerak cepat. Giliran sudah ditikung begini, baru kewalahan. Kalau Tuan risau begini, langsung saja susuli Nona Elona ke kota!"
"Jangan sok menasehati hanya karena kamu sudah punya pacar lebih dulu dariku!" ucap art gusar.
"Lagipula, sebesar apapun rasa sukaku pada Elona, aku masih belum siapa-siapa baginya. Aku harus memberikannya ruang supaya ia bisa memilihku tanpa penyesalan!"
Lagi-lagi, David menghela nafas panjang. "Ya, terserah padamu saja, Tuan. Kalau nanti ternyata Nona memilih Tuan Vandyke, jangan menangis bergulingan di kamar, ya!"
"David!! Kapan aku pernah begitu! Kupecat ka-"
"Pecat? Tidak akan bisa!" David tersenyum mengejek, yang langsung dihentikan oleh Mai.
"David, sudahlah... kasihan Tuan Arthur..."
Art semakin sebal begitu mendengar perkataan Mai. Bahkan seorang pelayan saja sampai kasihan padanya.
Tiba-tiba, sebuah kereta kuda melaju cepat memasuki pekarangan kediaman Locke. Begitu roda-rodanya berhenti, pintu kabin langsung terbuka lebar. Tampak dari dalam Louis segera keluar dari sana dengan menggendong Elona yang terkulai lemas.
"Nona Elona!! Apa yang terjadi??" Mai langsung menghampiri mereka berdua dengan wajah yang sangat panik.
"Aku tidak tahu, Elona tiba-tiba pingsan!!" teriak Louis dengan panik.
Art yang melihat semua itu langsung menghampiri Louis. Dalam satu gerakan, Art meraih tangan Elona dan langsung merebut gendongan Louis tiba-tiba hingga lelaki itu tak bisa mencegahnya.
"David, segera panggilkan dokter terhebat yang kamu tahu di kita ini. Mai, antarkan aku ke kamar Elona sekarang!" titah Art dengan cepat. David segera menaiki kudanya dan memerintahkan hewan tersebut melaju cepat ke kota, sementara Art dan Mai segera naik ke lantai dua menuju kamar Elona. Louis pun terpaku dan mengekori mereka sampai kamar.
Tak lama, dokter pun tiba. Setelah memeriksa sejenak, ia tampak berpikir keras.
"Apa yang terjadi, dok?" tanya Art yang ingin segera mendapatkan jawaban.
Sang dokter pun mengernyitkan dahinya, lalu berkata, "Sebenarnya Nona Elona hanya pingsan, tapi..."
"Tapi apa??"
"... tapi saya tidak tahu kapan Nona akan terbangun. Denyut jantungnya terdengar lemah sekali..."
*****
...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...
...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...
...((dukung author dengan follow IGnya di @author.ryby ya 🤗))...