
"Elona! Kamu tidak apa-apa?"
Art berteriak ke arah Elona yang terkulai lemas di tepian sungai. Setelah terjatuh dari tebing air terjun setinggi 30 meter, beruntungnya mereka berdua tercebur ke aliran sungai cukup dalam yang ada di bawah tebing sehingga mereka selamat. Kemudian mereka terbawa arus deras beberapa menit.
Art terus memeluk tubuh Elona saat mereka terombang-ambing dalam air. Pemuda itu melindunginya dari hantaman arus sungai yang kencang dan bebatuan yang menghalangi di tengah-tengah sungai. Meskipun terasa sakit dan memar di sana-sini, setidaknya mereka telah mencapai bagian sungai yang arusnya lebih tenang ketimbang tadi saat jatuh. Art pun menepi sambil terus membawa tubuh Elona yang lemas tak berdaya.
"Uhuk! Uhuk!"
Elona terbatuk-batuk di tepian sungai. Seluruh pakaiannya basah kuyup. Gadis itu masih tersadar, tapi terus bertarung melawan arus sungai yang deras membiat tubuhnya lemas. Elona menatap Art yang memeriksa sekujur tubuhnya dengan khawatir.
"Aku tidak apa-apa..." jawabnya, lalu mencoba untuk bangun. Sesaat kemudian, ia menyadari bahwa lelaki di hadapannya ini bergerak tidak sebagaimana mestinya. Seperti ada yang salah dengan kakinya. Elona memandang kaki kiri Art dengan seksama, dan tampak darah merah segar mengucur dari sana.
"Art! Kamu berdarah??"
Art menoleh ke arah kakinya sejenak dan berkata, "Tadi sepertinya tergores sesuatu di dalam air, tapi aku tidak tahu apa. Tapi tidak apa-apa... Aku masih bisa tahan... Ugh..."
"Kamu benar tidak apa? Kamu kelihatan kesakitan, Art!" Elona berseru panik.
"Mungkin keseleo sedikit juga. Tapi tidak apa-apa. Ayo, kita cari tempat persembunyian yang aman. Sepertinya akan turun hujan sebentar lagi."
Dengan bantuan Elona, Art dapat berjalan sambil terseok-seok. Mereka berdua berusaha berjalan sebisanya demi menemukan tempat yang aman.
Langit siang yang cerah berubah mendung secara perlahan. Awan-awan gelap menyelimuti. Dan tak lama, tetesan air hujan turun dari langit membasahi bumi. Tetesan itu lama kelamaan semakin banyak dan semakin deras.
Elona terus mengedarkan pandangan ke sekitar, berharap bisa segera menemukan tempat yang pas untuk berteduh. Sementara tubuhnya sudah kedinginan sejak tadi. Lalu gadis itu menoleh ke arah Art yang juga tampak pucat, sama seperti dirinya.
"Art... kamu masih kuat?" tanya Elona begitu khawatir. Namun Art tetap tersenyum dengan bibirnya yang mulai memutih.
"Aku tidak apa-apa... jangan khawatir, ya..." kata pemuda itu berusaha untuk menenangkan.
Tak lama, mereka berdua melihat sebuah goa yang cukup untuk dimasuki oleh manusia. Elona dan Art segera masuk ke dalamnya. Tampak tak jauh dari mulut goa, terdapat bebatuan kecil yang ditumpuk membentuk lingkaran, dengan tumpukan kayu bakar yang sedikit menghitam di tengahnya.
"Sepertinya ada yang pernah kemari." ucap Elona.
Dengan susah payah, gadis itu mendudukkan Art perlahan dan hati-hati supaya lelaki itu dapat bersandar dan beristirahat tanpa merasa nyeri. Art meluruskan kakinya, dan terlihatlah bahwa darah sedari tadi mengucur dari kaki kirinya tanpa henti sepanjang ia berjalan menuju goa.
"Art! Darahmu semakin banyak!" Elona berteriak histeris. Sedangkan pemuda di hadapannya itu tampak bernafas terengah-engah seperti kelelahan. Keringat dingin keluar dari pori-pori dahinya dan segera bercampur dengan air hujan yang membasahi kepalanya.
"Kamu... bisa menyalakan api dengan batu flint?" tanya Art seraya menatap Elona. Gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Aku memang belum pernah mencobanya sendiri, tapi aku pernah melihat orang-orang melakukannya." sahut Elona.
"Bagus... dan syukurlah kayu bakar itu masih kering..." ucap Art seraya menunjuk kayu bakar di hadapannya. Kemudian, Art merogoh saku celananya yang ada di sisi kanan. Sesaat kemudian ia mengeluarkan sebuah batu flint dan menyerahkannya pada Elona, beserta dengan sebuah belati kecil yang terpasang di bagian pinggang.
"Nyalakan api dengan menggesek belati ini pada batu flintnya. Hati-hati pada percikannya ya..."
Elona pun mencoba memukulkan bilah eblati besi itu ke batu flint. Memang cukup susah ternyata saat dicoba sendiri. Setelah lebih dari lima kali percobaan, akhirnya gadis itu berhasil. Kobaran api berukuran sedang telah menyala. Memang tidak bisa menghangatkan, tapi cukup untuk menerangi lingkungan dalam goa yang gelap.
Setelah api menyala, celana panjang Art yang bersimbah darah di sebelah kiri mulai terlihat jelas. Sambil menatap ngeri, Elona membuka bagian kain celana tersebut perlahan, dan terdapat sebuah ranting kecil yang menusuk daging kaki Art. Dan juga tampak bengkak besar di dekat mata kaki.
Tanpa dapat berkata apa-apa lagi, Elona segera membuka tas kecilnya dan mengeluarkan perban dan alkohol. Gadis itu memang membawa persiapan obat luka luar, begitu ia mendengar kalau hutan ini penuh dengan hewan buas.
"Rantingnya harus dicabut dulu, tapi aku tidak bisa..." Elona berkata ragu melihat luka Art yang masih mengucurkan darah sedikit demi sedikit.
Art pun memegang ranting yang menusuk kakinya itu. "Biar aku saja."
"Apa kamu bisa?" tanya Elona.
"Aku biasa melakukannya... aku sering terluka begini, tenang saja... palingkan mukamu kalau kamu tidak sanggup melihatnya..."
Elona memalingkan muka dan memejamkan mata. Art pun mengambil nafas, berusaha untuk serileks mungkin, lalu dengan secepat kilat, lelaki itu mencabut ranting yang menusuk kakinya seraya berteriak kesakitan.
"Aghhhh!!"
Elona mengintip dari pejaman matanya dan begitu melihat ranting telah tercabut, sesegera mungkin ia membersihkan luka tersebut dengan alkohol dan membalutnya dengan perban supaya darahnya berhenti mengalir keluar.
Di saat membalutkan perban di kaki Art, seketika itu pula air mata mengalir deras tak tertahankan dari pelupuk mata Elona.
"Hiks... hiks..."
Isakan tangis tak dapat dibendung oleh gadis itu lagi, membuat Art terkejut.
"Hei... kenapa menangis..." tanya Art. Kemudian ia menegakkan tubuhnya dari sandaran dan menyentuh pipi Elona. Diusapkannya air mata yang mengalir di pipi gadis itu.
"Ini bukan salahmu... sudahlah..."
"Tapi, seandainya tadi aku lebih waspada, semua ini tidak akan-"
"Sshh, sudahlah... semua sudah berlalu. Yang penting sekarang lukaku sudah kamu obati, kita sudah dapat tempat berteduh, api sudah menyala. Tinggal menunggu teman-temanku datang menjemput kita..."
Art berusaha menenangkan Elona yang masih saja menangis. Kedua tangan pemuda itu mengusap pipi Elona, dengan upaya menghapus air matanya.
Meski di luar udara dingin hutan dan hujan menyelimuti, namun Elona merasakan ada hangat yang mengalir dari telapak tangan Art melalui pipinya. Elona memegang pergelangan tangan Art, dan menyandarkan kepalanya di telapak tangan pemuda itu.
"Kamu jangan kenapa-kenapa... Jangan pernah kenapa-kenapa karena aku..."
Wajah Elona yang jelita menangis memohon supaya dirinya baik-baik saja, membuat Art ingin segera memeluk gadis itu. Tapi kakinya yang terluka membuatnya tak berdaya.
"Kemarilah..."
Elona beranjak mendekatkan diri pada Art, yang kemudian tangan gadis itu langsung ditarik dan tubuhnya terjatuh dalam pelukan lelaki itu. Elona terduduk tepat di sebelah Art, sembari tangan pemuda itu melingkar di pundaknya.
"Art...?"
"Aku kedinginan." jawab lelaki itu singkat, supaya Elona tidak bertanya macam-macam lagi.
"Oh." Elona berusaha merapikan duduknya. Memang cukup hangat dan nyaman, meski baju pemuda yang medekapnya itu basah kuyup sama seperti dirinya. Keduanya duduk berangkulan menghadap ke arah api yang menyala.
"Kamu ingat, dulu pertama kita bertemu, kamu juga membalutkan perban padaku yang terluka, kan?"
"Iya..." jawab Elona. "Dulu kamu terluka setelah berburu, katamu."
"Haha, iya, dulu aku kurang hati-hati melawan beruang itu." Art menyahut sambil terkekeh mengenang masa lalu.
"Pasti sakit sekali, ya, waktu itu?" tanya Elona. Art menganggukkan kepalanya.
"Iya. Tapi aku harus berterima kasih pada beruang itu karena sudah membuatku terluka."
Elona mengernyitkan dahinya, lalu menoleh ke arah wajah Art yang ada di sebelahnya. "Kenapa?"
"Karena berkat itu," Art menatap lekat-lekat mata Elona yang saat ini hanya berjarak beberapa senti saja darinya. "...aku jadi bisa bertemu denganmu."
"Art..."
Jantung Elona seketika itu juga berdegup tak beraturan. Nafas pemuda itu berhembus di wajahnya. Rona merah di wajahnya pasti sudah sangat terlihat, kalau saja bukan karena pencahayaan api yang tidak begitu terang.
"Elona..." Art memanggil nama gadis itu, dan berusaha meyakinkan diri sendiri untuk mengatakan isi hati.
"Apa selama ini kamu hanya bisa melihatku sebagai teman saja?"
"Aku..."
"Apa sebentar saja, aku tidak pernah singgah di hatimu sebagai seorang laki-laki?"
Mendengar pertanyaan Art, Elona sedikit tertegun. Sebenarnya selama ini, gadis itu selalu menyadari bahwa ada yang berbeda dengan hatinya setiap kali melihat pemuda di hadapannya itu. Elona sebenarnya selalu menyadari bahwa perlakuan Art padanya pun sudah lebih dari apa yang biasanya seorang teman lakukan.
Tetapi, gadis itu menyangkal untuk menyadarinya. Setelah dua kali kisah cintanya kandas begitu saja, ia jadi tidak yakin kalau dirinya pantas dicintai dan diperjuangkan oleh seorang laki-laki.
Tapi di sini, saat ini, tak akan mungkin Elona bisa menyangkal lagi, kalau ia sangat takut kehilangan lelaki di hadapannya itu. Melihat Art terluka saja membuat hatinya merasa seperti tersayat. Elona menyadari betapa pentingnya keberadaan Art sejak lama. Dan setelah semua yang terjadi hari ini, membuat dirinya semakin tidak bisa jauh dari lelaki itu.
"Elona..." Art memanggil lagi nama gadis itu dengan dalam dan lembut, membuat hati Elona merasa luluh seketika.
Art menatap mata Elona lekat-lekat seakan tak mau melepaskannya. Wajah Art semakin dekat dengan wajah gadis itu. Hembusan nafas mereka berdua saling bertukar di udara. Suara degup jantung yang kencang menyamarkan suara tetesan air hujan deras di luar sana.
Dan perlahan, kedua pasang mata mereka masing-masing refleks saling menutup, dan bibir mereka saling menyentuh dengan hangat dan lembut.
*****
...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...
...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...
((Ryby: nyentuh juga akhirnya tu bibir.(" -_-) yg mau follow ig di @author.ryby ya))