
"Semoga hari ini tidak ada kendala apapun..."
Art berkali-kali melihat ke arah menara jam yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Jam tersebut menunjukkan waktu hampir tengah hari. Art berdiri sambil sesekali membenarkan letak kain yang ia ikatkan ke belakang kepala untuk menutupi mulutnya. Tak lupa ia juga mengenakan topi guna menutup rambut emasnya supaya tidak ada yang mengenalinya.
Hari yang diminta Elona untuk menemani gadis itu jalan-jalan di Kota Rudiyart telah tiba. Art bahkan sudah siap dari setengah jam sebelum waktu yang disepakati. Saking gelisahnya ia sampai terjaga sepanjang malam. Seperti seorang anak kecil yang terlalu gembira karena esoknya mau diajak jalan-jalan sampai susah tidur.
Tetapi Art punya alasan tersendiri untuk itu. Selain berjalan-jalan dengan Elona itu sendiri memang membuat jantungnya berdegup kencang, lelaki itu juga gelisah kalau seandainya ada warga yang mengenalinya saat ini.
Elona meminta Art untuk memakai pakaian terbaik yang ia punya. Gadis itu berpesan seperti itu supaya mereka berdua diizinkan masuk oleh pihak Kafe Satu Sesapan yang memang hanya diperuntukkan untuk kaum bangsawan. Meskipun Art memakai tunik gembel sekalipun pasti diizinkan masuk karena memang dia pemlik kafenya, tapi sebaiknya dituruti saja permintaan Elona supaya tidak memancing kecurigaan. Pelayannya mencarikan pakaian desa terbaik yang biasanya dipakai hanya untuk keperluan penting.
Maka inilah dia, Art mengenakan tunik cokelat khaki dengan blazer dan topi warna senada. Ia juga memiliki ide untuk menutupi wajahnya dengan kain. Jangan sampai ada warga yang mengenalinya dari wajah tampannya. Art cukup optimis mengenai penyamarannya kali ini, karena sepanjang dia pergi dari kediamannya menuju alun-alun ini, tak seorangpun yang tampak memperhatikannya.
*****
Tak lama, yang ditunggu-tunggu pun tiba. Elona datang dengan kereta kudanya. Gadis itu turun dari dalam kabin, memakai dress dan bandana dengan warna senada. Riasan tipis di wajahnya tak mengurangi kecantikan alaminya. Rambut cokelat terangnya ia biarkan terurai lemas di pundaknya. Art terpaku melihat Elona seolah begitu berkilau dalam terpaan sinar matahari.
Gadis itu terlihat kebingungan seperti sedang mencari seseorang. Tentu saja bingung, karena orang yang dicarinya menutup sebagian mukanya dengan kain saat ini. Art segera tersadar dari terkesimanya saat menyadari kehadiran Elona, dan cepat-cepat menghampiri gadis itu.
"Hai." Art menepuk pundak Elona, membuatnya sedikit terkejut.
"Eh, Art? Kamu kenapa menutupi mukamu begitu?" Elona memandanginya heran.
"Tidak apa-apa. Um... aku sedang sedikit flu, itu saja!" sahut Art berbohong.
"Oh, kalau kamu sedang sakit, apa sebaiknya ditunda saja jalan-jalannya?"
"Eh, jangan! Sudah, tidak apa-apa! Ayo!" Art menyahut dengan cepat lalu segera mengajak Elona kembali menaiki kereta kudanya. Lelaki itu sudah mempersiapkan segalanya hari ini, jangan sampai dibatalkan.
"Kita mau kemana dulu? Langsung ke kafe?" Art bertanya ketika ia dan Elona sudah berada dalam kabin kereta kuda. Elona menggelengkan kepala.
"Ke kafenya nanti sore saja. Aku mau jalan-jalan dulu." usul Elona.
"Oke, mau kemana?"
"Ke theater. Kita nonton yuk! Aku sudah lama sekali tidak pergi ke sana." ajak gadis itu sambil tersenyum senang. Elona memang sudah lama sekali tidak menonton sebuah pertunjukan besar. Sebagai Elona yang sebenarnya, memorinya terakhir kali menunjukkan pergi ke theater sewaktu kedua orangtuanya masih ada. Dan sebagai Tara, jangankan pergi ke gedung theater, ke bioskop saja seumur hidupnya bisa dihitung dengan jari.
"Baiklah, ayo." ucap Art. Lalu dia memberikan instruksi pada sang pengemudi untuk mengarah ke lokasi theater di Rudiyart.
Selang beberapa saat, kereta kuda terhenti di depan sebuah gedung besar. Art turun dari kabin terlebih dahulu, kemudian membantu Elona untuk turun juga dengan menuntun tangannya. Elona pun menggamit lengan Art dan masuk menuju ke dalam ruang theater. Hal itu adalah sesuatu yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh Art sebelumnya, bahwa dirinya suatu hari akan berlaku seperti pasangan kekasih, seperti berjalan-jalan dan menonton pertunjukan theater, dengan seorang gadis.
Padahal selama ini, Art begitu membenci makhluk yang bernama perempuan. Karena baginya, perempuan mendekatinya hanya karena gelar dan kekayaannya. Tidak pernah ada seorang gadis yang bahkan menawari untuk membayarkan tiket pertunjukan untuknya, seperti yang Elona sedang lakukan saat ini.
Gadis itu membuka tas kecilnya dan mengeluarkan kantung koinnya dari sana. Tetapi saat hendak membayar, petugas tiket malah menolaknya.
"Anda tidak perlu membayar, Nona! Hari ini anda dan pasangan anda adalah pengunjung ke 99 dan 100! Anda mendapatkan hadiah dua tiket VVIP gratis dari kami! Selamat!!"
Elona begitu terkejut begitu si petugas memberikan tiket secara cuma-cuma padanya.
"Benarkah? Wah, kita beruntung sekali, Art!" Elona tersenyum senang.
"Kalau begitu, ayo kita masuk! Pertunjukan hampir dimulai!"
Art dan Elona menempati salah satu ruangan VVIP, yaitu ruangan tersendiri khusus untuk dua orang dengan pemandangan terbaik dari tribun atas. Elona begitu bersemangat ketika tiba di ruangan.
Pertunjukan pun dimulai. Elona memilih cerita percintaan. Art tidak begitu suka dengan cerita cengeng begitu sebenarnya, tapi ia pun juga bingung bila diminta untuk memilih. Art tidak begitu suka untuk duduk diam dan menonton sebuah pertunjukan seperti yang dilakukannya saat ini. Baginya, kegiatan yang hanya duduk diam itu membosankan. Lelaki itu lebih suka pergi berjalan-jalan, berburu, berlatih pedang, ketimbang duduk di rumah.
Tetapi Elona terlihat ceria sekali. Tidak mungkin Art berani menolak ajakannya untuk melihat cerita percintaan dalam theater. Art mengedarkan pandangan ke sekitar dan terhenti saat melihat Elona yang banyak menunjukkan ekspresi berbeda-beda saat ini.
Saat adegannya mulai romantis, wajah gadis itu merona merah. Saat adegan sedih, gadis itu mulai menangis. Dan saat adegan ketika si protagonis lelaki menang melawan si tokoh jahat, Elona terlihat antusias seolah dia sendirilah yang memainkan pertunjukan tersebut.
Kebosanan Art seketika sirna. Lelaki itu asyik memperhatikan wajah Elona di sebelahnya lebih seru ketimbang pertunjukan yang ada di hadapannya.
*****
"Ah? Oh iya, seru! Seru sekali!" jawab Art sekenanya. Ia sama sekali tidak menonton dan malah memperhatikan wajah Elona sepanjang adegan.
"Oh ya, kamu suka waktu adegan yang mana?" tanya Elona.
Art berpikir sejenak hendak mengarang cerita, "Umm ah, waktu si tokoh laki-lakinya menang melawan penjahat!"
"Oh, aku juga suka dengan adegan yang itu!" Elona kembali antusias menceritakan kesan-kesannya pada pertunjukan yang telah lewat. Tak lelah, Art mendengarkan semua ocehan gadis di hadapannya.
"Ah, maaf ya. Aku jadi keasyikan sendiri, hehe!" Elona berkata dengan malu begitu menyadari ia sibuk berbicara sendirian.
Art menggeleng, "Tidak apa. Aku mendengarkan semuanya, kok."
"Hehe... oh ya, kita kemana lagi ya? Kamu ada ide?" tanya Elona.
"Hmm... selama dua pekan ini sedang ada Festival Seni Rudiyart. Mau kesana?"
"Festival seni yang sebelumnya kamu ceritakan itu?" tanya Elona.
"Iya. Sore ini baru akan dimulai festivalnya."
Art mengarahkan pengemudi kereta kuda untuk menuju lokasi. Rudiyart memang terkenal sebagai kota seni. Banyak pemain theater, penyanyi dan penulis buku lahir dan besar di kota ini. Bukan hanya memiliki gedung theater terbesar senegeri, Rudiyart juga memiliki kegiatan festival seni yang diadakan setiap tiga bulan sekali. Dalam kegiatan tersebut, para pelaku seni berkumpul dan mempertunjukkan keahlian masing-masing.
Sore hari tiba, dan area festival pun dibuka untuk pengunjung. Sesampainya di sana, Elona begitu takjub. Jalanan dihias dengan bendera warna-warni. Para pedagang seni mempercantik tenda mereka dengan berbagai warna dan menjajakan hasil karya mereka. Terlihat juga para bangsawan dan ajudan mereka yang berkeliling mencari dekorasi untuk dipajang di rumahnya. Para pelaku pertunjukan beraksi mempertontonkan keahlian mereka seperti menari dan akrobatik.
Dan lagi-lagi, Elona terkejut. Ketika ia hendak membeli tiket untuk berdua, lagi-lagi petugas tiket menhentikan tindakannya.
"Selamat, Nona! Anda menang undian! Mulai hari ini hingga festival selesai dalam dua pekan, anda dan pasangan berhak menikmati segala pertunjukan di area festival secara gratis tanpa dipungut biaya!" seru si penjual tiket.
"Art... ini aneh... kenapa dari tadi aku terus beruntung ya?" Elona mulai mengernyitkan dahinya keheranan.
Dan gadis itu semakin keheranan ketika bahkan membeli camilan, es krim dan lain-lain saja ia tak perlu membayar, dengan berbagai alasan seperti menang undian, pengunjung nomor sekian, atau memang tiba-tiba gratis dibagikan begitu saja.
Art hanya mengangkat bahunya begitu Elona mempertanyakan semua hal aneh tersebut.
"Anggap saja hari ini adalah hari keberuntunganmu, oke?!" sahut Art sembari tersenyum.
"Hmm, sepertinya kamu yang membawa keberuntungan untukku. Terimakasih banyak ya sudah menemani jalan-jalan ini." Elona menatap Art lekat-lekat sembari tersenyum bahagia.
Tidak sia-sia semua persiapan yang lelaki itu lakukan, selama ia bisa mendapatkan senyuman seperti itu dari bibir Elona.
*****
Malam sebelumnya.
"Salam hormat! Tuan Arthur Eckart!"
Para prajurit Eckart terkejut ketika tuan muda mereka tiba-tiba berkunjung ke menara pasukan di waktu hampir tengah malam. Mereka semua sedang sibuk bersantai dan beberapa bahkan sudah tertidur pulas di kamar-masing. Sambil mengusap-usap mata karena mengantuk, mereka tetap memberikan gestur salam pada majikannya itu.
"Salam. Aku akan berikan instruksi cepat. Semua yang ada di sini, besok harus pergi ke seluruh penjuru kota, terutama ke tempat-tempat yang biasanya didatangi oleh pasangan.
Beberapa hari lagi, aku dan Elona akan pergi berjalan-jalan di kota. Aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya, aku tidak ingin Elona sampai harus membayar untuk apapun yang ingin dilakukannya besok.
Katakan pada seluruh penjual dan penjaga tiket yang ada, bila aku datang, jangan coba-coba memanggil namaku, dan berikan tiket gratis pada Elona. Katakan pada mereka semua aku akan memberi imbalan tiga kali lipat untuk itu. Kalian mengerti?"
"Eh, eh, umm... baik Tuan Muda!" seru para prajurit kebingungan. Katanya instruksi cepat, tapi malah serentetan perintah yang mereka terima, di tengah malam pula.
"Ya ampun... Tuan Arthur kalau sedang jatuh cinta menyusahkan orang lain, ya..."
Para prajurit Eckart pun berbisik dan geleng-geleng kepala melihat tingkah majikan mereka tersebut.
*****