Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 47. Sedap Sore


"Tunggu sebentar, anda berdua ingin pergi kemana?"


Seorang staff yang bertugas menjaga bagian depan sebuah butik cukup ternama menghentikan langkah kaki Iris dan Elona yang ingin masuk ke dalam. Petugas ini memandangi Iris dan Elona secara bergantian, dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Setelah puas berbelanja di pasar tradisional, Iris mengajak Elona ke sebuah butik untuk membeli beberapa pakaian baru untuknya dan Elona. Namun, baru sampai di depan pintu, mereka dicegat oleh seorang staff butik tersebut.


Iris yang dihentikan langkahnya tiba-tiba merasa heran dan menjawab, "Tentu saja kami ingin masuk ke dalam!"


"Maaf, Nona. Tapi butik ini hanya untuk kalangan bangsawan saja." ucap sang staff penjaga dengan menatap angkuh pada Iris.


Wanita itu pun mengernyitkan dahinya, lalu menoleh ke arah tubuhnya sendiri dan Elona.


"Oh, ya ampun. Aku lupa!" Iris menyadari kalau ia sedang mengenakan pakaian rakyat dan bukannya gaun bangsawan seperti biasanya.


Elona maju ke depan tubuh Iris dan menatap si stafg butik dengan gusar. "Memangnya kenapa kalau kami rakyat biasa? Apa kami tidak boleh beli di sini, meskipun kami punya uang?!"


Mendengar nona muda di hadapannya ini marah-marah, si staff malah mencibir.


"Nona, saya bahkan tidak yakin anda punya uang untuk membayar barang-barang yang ada di dalam."


"Apa katamu?!!" Iris langsung naik pitam mendengar omongan dari staff tersebut. Kemudian, ia mengeluarkan kalung emas dengan simbol keluarga Locke terpatri sebagai bandulnya dna menunjukkan pada staff tersebut.


"Dengar, aku bukanlah 'nona', tapi 'nyonya'! Aku adalah Marchioness Iris Locke, istri dari Marquess Stefan Locke! Dan kau tahu, dia siapa?! Ini Elona Locke, pemimpin sementara kota ini. Dan kamu tidak mengenalinya?!"


Iris sampai tersengal-sengal saking marahnya. Begitu melihat simbol kalung tersebut, wajah staff itu berubah menjadi pucat. Butiran keringat dingin keluar dari dahinya.


"A-ah!! Maafkan aku, Nyonya! Mari silakan masuk! Silakan dipilih sesuka anda!" sang staff penjaga langsung membukakan pintu lebar-lebar, dan tidak berkata apapun lagi. Jelas sekali kalau ia sekarang jadi takut salah bicara pada dua orang anggota keluarga Locke tersebut.


*****


Iris memilih beberapa pakaian untuknya dan Elona. Mereka berdua saling bergantian mengenakan pakaian-pakaian tersebut di ruang ganti guna mencari model dan warna yang paling disuka. Iris pun akhirnya membeli beberapa pakaian setelahnya. Wanita itu tampak senang, namun tidak begitu yang terjadi pada Elona. Sejak kejadian dicegatnya masuk oleh staff tadi, ia jadi lebih pendiam.


"Kamu kenapa? Tidak suka dengan pakaiannya, ya?" tanya Iris. Elona menggelengkan kepalanya.


"Bukan soal pakaiannya, tapi aku tidak suka dengan perlakuan staff tadi." sahut gadis itu.


"Sudahlah. Dia sudah minta maaf. Lagipula, memang kita yang kemari dengan pakaian rakyat biasa. Dan kita tidak membawa pelayan. Prajurit pun hanya mengawal dari jauh. Jadi wajar saja dia begitu." ucap Iris. Tapi Elona tampak tak setuju mendengarnya.


"Tetapi, tak seharusnya seperti itu. Harga diri seseorang harusnya bukan dilihat dari seberapa kaya dan seberapa mewah pakaiannya, kan?"


Iris tampak terdiam mendengar pembelaan dari Elona. Wanita itu sebenarnya setuju dengan perkataan adik iparnya itu, tapi memang di kerajaan tempat mereka tinggal saat ini, semua dinilai berdasarkan kasta. Dan Iris terbiasa dengan hidup yang seperti itu.


"Hmm, di duniamu sebelumnya... tidak seperti ini, ya?" tanya Iris perlahan, berusaha untuk tidak menguak luka lama yang dialami iparnya itu di masa lalu.


Elona tampak terkejut mendengar pertanyaan kakak iparnya tersebut. "Kak Iris sudah tahu tentangku...?"


Iris pun mengangguk sambil tersenyum, "Stefan telah menceritakan semuanya padaku."


Elona mengangguk pelan dan berkata, "Iya... memang masih ada kasus intimidasi, tapi ada hukum yang mengatur hal tersebut. Dan masyarakatnya lebih bisa mengutarakan pendapat. Yang seperti tadi itu bisa didemo warga sampai bisnisnya tutup."


"Apa itu 'demo'?" tanya Iris tak mengerti.


"Semacam gerakan protes bersama." jawab Elona singkat.


"Hmm... pasti duniamu itu menyenangkan, ya? Lebih damai daripada di sini?" sahut Iris sambil tersenyum.


Iris dan Elona tiba di kabin kereta kuda yang diparkirkan tak jauh dari butik itu berada. Mereka meletakkan semua barang belanjaan di sana. Namun, karena Iris masih ingin berjalan-jalan, Elona memutuskan untuk mengajaknya berjalan kaki saja di sepanjang pinggiran jalanan Kota Armelin, sembari menikmati udara dan langit senja hari.


"Kalau dibilang menyenangkan... ya, ada hal baiknya dan buruknya. Tidak bisa dibandingkan dengan dunia ini." Elona menjawab pertanyaan kakak iparnya tadi.


"Hal baik?"


"Iya, misalnya teknologi. Di sana, ada benda yang memungkinkan Kak Iris berbicara langsung pada orang yang jauh sekalipun, hanya dalam hitungan detik saja. Bahkan benda tersebut bisa dibawa kemana saja. Namanya handphone. Atau biasa orang menyingkatnya dengan 'hape' saja."


"Benarkah?!" Iris menatap Elona takjub. Gadis itu pun mengangguk.


"Iya, duniaku yang sebelumnya memang sudah semaju itu..."


"Lalu, hal buruknya?" tanya Iris lagi. Elona menundukkan kepalanya sambil terus berjalan. Lalu ia tersenyum tipis.


"Hal buruknya... di sana aku sendirian. Jadi, walaupun aku punya benda yang bernama handphone itu, tidak ada yang benar-benar bisa kuhubungi kalau aku butuh seseorang. Orangtuaku telah tiada, dan semua kerabat tidak menyukaiku.


Oleh karena itu... meskipun di dunia ini tidak ada teknologi semaju di sana, tapi aku punya kalian..."


Senyum Elona saat mengatakan hal tersebut dibalas dengan tetesan air mata Iris. Wanita itu pun mendekapnya erat dan hangat.


"Iya, kamu punya kami... kamu tidak sendirian lagi... jadi, jangan pernah merasa kesepian ya..."


"Iya..." Elona pun ikut menitikkan air mata, "Terima kasih, Kak..."


*krucukk*


Suara perut membuyarkan suasana sedih yang menyelimuti Iris dan Elona. Suara tersebut berasal dari perut Elona, dan membuat wajah gadis itu merona merah karena malu. Iris tergelak melihatnya.


"Ada yang kelaparan, ya? Hahaha!"


"Boleh. Mau makan di mana?" tanya Iris kembali.


Elona pun mengedarkan pandangannya ke sekitar. Tak jauh dari sana ada sebuah kedai berdinding kayu dan batu yang tampak berada di ujung jalan. Tergantung di bagian atasnya, nama kedai tersebut adalah 'Sedap Sore'.


"Kakak mau makan di sana?" Elona menunjuk kedai tersebut. Iris mengernyitkan dahi begitu melihat tampilan luar bangunan tersebut yang tampak sangat sederhana. Namun, banyak orang keluar masuk dari kedai tersebut, menandakan tempat makan ini cukuo populer di daerah sana.


"Kedai?" tanya Iris memastikan. Seumur-umur, sebagai putri seorang bangsawan viscount, bila sedang keluar ia hanya pernah makan di pesta-pesta maupun restoran dan kafe ternama. Kedai sama sekali tempat yang belum pernah dijamahnya.


"Iya, di sana! Yuk, kita coba!" Elona menarik tangan kakak iparnya itu mendekat menuju Kedai Sedap Sore.


*****


Pintu kayu Kedai Sedap Sore terbuka begitu Elona mendorongnya, lalu pintu menutup kembali ke posisinya semula begitu gadis itu melepasnya, persis seperti pintu bar di film-film barat yang pernah ditontonnya sewaktu di bumi.


Elona mengajak Iris untuk duduk di sebuah meja kosong. Tampak di dalam kedai banyak warga biasa yang makan dan minum dengan lahap. Suasana begitu ramai dengan obrolan dan tawa. Bahkan ada yang membawa anak balita untuk ikut makan bersama orangtuanya, jadi suara rewel anak kecil pun kadang terdengar di sana. Dan Iris begitu terperangah melihat semua itu.


Selama ini Iris hanya makan di tempat-tempat mewah, dan para pengunjung biasanya datang berpakaian rapi dan mewah, serta bertindak dan bertutur kata elegan nan sopan. Belum pernah wanita itu makan di tempat yang begitu bebas tanpa memikirkan apapun seperti di kedai ini. Selama masih bersikap sopan terhadap karyawan kedai dan pengunjung lain, maka hal itu sudahlah cukup.


Bagaimana dengan Elona sendiri? Gadis itu langsung bisa beradaptasi dengan lingkungan kedai yang seperti itu. Suasananya mengingatkan ia pada sebuah warteg di bumi, tempat ia makan dan minum sehari-seharinya bila sedang tidak masak di kontrakan.


Wajah Elona begitu sumringah ketika melihat semua yang ada di kedai ini, yakni suasananya, orang-orangnya yang setara dan tidak memandang kasta, dan cara makan yang tak perlu etika meja makan kaku seperti yang dilakukannya selama ini sebagai Elona Locke.


Seorang pelayan menghampiri meja tempat Elona dan Iris berada, lalu memberikan sebuah buku menu sederhana. Di dalamnya terdapat berbagai macam pilihan makanan dan minuman yang siap untuk dipesan.


"Kak Iris, pilihlah!" Elona menunjuk buku menu tersebut. Iris membuka-buka halamannya, dan sekali lagi ia takjub.


"Di sini... murah-murah sekali! Semuanua seharga koin perak saja?! Apa porsinya kecil?"


"Tidak, Kak! Porsinya cukup untuk makan satu orang sekali makan!" sahut Elona.


"Tapi... di sini tidak ada makanan pembuka, makanan utama, penutup... apa yang harus aku makan?" tanya Iris lagi kebingungan. Elona tertawa mendengarnya.


"Makan di sini tidak seperti di restoran mewah, Kak. Cukup pesan satu jenis makanan saja, langsung ke makanan utama. Lalu, pesan minumnya juga. Sudah begitu saja!"


"Oh begitu... Kamu kelihatannya tahu sekali, ya?" tanya Iris lagi. Elona pun tersenyum.


"Hehe, dulu aku sering makan di tempat seperti ini."


"Oh..." Iris pun mengangguk paham bahwa yang dikatakan 'dulu' oleh Elona pasti adalah dunianya yang sebelumnya.


Setelah Iris dan Elona mantap memilih makanan yang akan disantap, Elona pun memanggil pelayan untuk memesan. Sang pelayan mencatat pesanan dan kembali ke dapur untuk memberikan catatan pada si juru masak.


Sembari menunggu, Elona mengedarkan pandangan ke sekitar. Kebanyakan para warga memesan menu sayuran dan nasi. Ada juga yang memesan telur rebus untuk kebutuhan proteinnya. Senyum Elona mengembang ketika ia melihat drum barrel susu kedelainya ada di sudut ruangan, dan beberapa warga mengantri bergantian untuk mengambil susu dari drum tersebut.


"Itu susu kedelai buatanmu, kan?" tanya Iris. Elona mengangguk senang, terutama saat para pelanggan kedai meminumnya hingga habis setelah menyantap makanan dari si juru masak.


"Hah... segar!!" seru salah satu pelanggan. Rupanya tak ada yang menyadari bahwa Elona dan Iris berada di dekat mereka, karena pakaian rakyat biasa yang mereka berdua kenakan.


"Ini gantinya susu sapi itu kan? Enak ya!" seru pelanggan yang lain.


"Hebat ya, Nona Elona itu, bisa membuat yang seperti ini!"


Mendengar hal itu, Elona tersipu malu. Iris pun tersenyum mendengarnya.


"Ah, seandainya daging juga bisa dibuat dari kedelai, ya!"


"Hei, melunjak kamu! Itu tidak mungkin, kan? Mana ada daging kedelai, hahahaha!"


Para pengunjung tergelak bersama, tapi tidak dengan Elona. Gadis itu tampak berpikir keras.


"Daging dari kedelai, ya..." gumamnya.


Iris menyadari wajah Elona yang sedang berpikir dan bertanya, "Kenapa, Elona? Jangan bilang kalau kamu bisa membuat daging dari kedelai, ya!"


"Umm, aku memang bisa, Kak..." gumamnya pelan, dan Iris pun terperanjat.


"Apa?! Bagaimana bisa? Daging dari hewan, tapi kedelai kan tumbuhan!"


"Memang bukan daging sungguhan, tapi aku bisa buat yang mirip. Tapi... ada satu kendala..."


"Apa?"


"Aku tidak yakin bahannya ada di dunia ini..."


*****


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...


...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...


Ijin promo dikit ya, bantu temen wkwk.


Kalau ada yang senang baca action campur romantis, bisa langsung cus ke Detektif Muda karyanya CovieVy. Ceritanya tentang cewek detektif menyamar masuk jadi siswi SMA, yang nantinya di tiap aksinya akan ditemani cogan cogan. yang penasaran, langsung diserach aja ya, Detektif Muda by CovieVy.