
Sementara itu, di kediaman Locke, di Armelin
"Jadi, selama ini... Elona yang kukenal adalah seseorang dari dunia lain?"
Art bertanya dengan nada yang masih tak percaya, setelah Elona menceritakan segalanya. Gadis itu menceritakan asal usul Tara dan bagaimana dirinya bisa masuk ke dalam tubuh Elona.
Gadis itu mengangguk mendengar pertanyaan Art. Lelaki itu tampak memegangi kepalanya sejenak, tampak merasa tak habis pikir dengan semua yang telah didengarnya.
"Jadi, yang kemarin menemani Louis jalan-jalan itu bukan Tara, tapi aku, Art. Maafkan aku, ya. Karena aku, kamu jadi ada kesalahpahaman dengan Tara..." lanjut Elona.
"Jadi... ini yang kemarin kamu- um, maksudku Tara katakan kalau penjelasannya rumit...?" tanya Art memastikan, dan Elona mengangguk sekali lagi.
Dari sudut ruangan, tampak Mai yang sedari tadi diam, mulai menghampiri tempat tidur Elona.
"Saya sudah menduga, kalau ada yang berbeda dari diri Nona sejak setahun yang lalu. Nona mulai berubah, lebih sering keluar kamar, lebih pemberani... ternyata memang bukan Nona Elona selama ini..." ucap gadis pelayan itu.
Elona tersenyum lembut ke arah Mai, lalu berpaling pada Stefan dan Art secara bergantian.
"Aku ingin minta pada kalian semua untuk tetap menjaga Tara seperti layaknya kalian menjagaku. Jangan ada satu hal pun yang membedakan kami, karena dia menggantikan diriku dengan sangat baik. Dan Tara mencintai kalian semua sama sepertiku..."
"Elona... kenapa kamu bilang begitu? Jangan bilang kalau kamu mau pergi!!" Stefan berteriak.
"Kak, aku memang sudah harus pergi. Aku tidak bisa berlama-lama lagi di sini..." ucap Elona lemah.
"Tidak, tidak boleh! Akan kupanggilkan pendeta grand magus supaya kamu bisa tetap di sini!" seru Stefan.
"Kak... sudahlah... bahkan grand magus sekalipun tidak akan bisa mengubah takdir..."
Tanpa terasa, tetesan air mata Elona jatuh ke kedua pipinya. Gadis itu benar-benar sedih melihat kakaknya yang sampai ingin melawan kehendak dewa hanya supaya ia bisa hidup kembali.
"Aku sudah lama tiada, Kak... relakan kepergianku, kumohon..."
Stefan juga tampak menitikkan air mata. Dipeluknya adik kesayangannya itu erat-erat.
"Mana mungkin aku bisa begitu... meskipun Tara sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, tapi kamu juga adikku, Elona..."
"Kakak, terimakasih banyak... Kakak sudah menjagaku dengan sangat baik selama ini... sampaikan salamku untuk Kak Iris dan calon keponakanku, ya..."
Elona berpaling pada Art dan Mai dan mengatakan, "Kalian berdua juga tolong jagalah Tara dengan baik, ya. Terutama kamu, Art... Tara mungkin tidak pernah mengatakannya, tapi ia mencintaimu. Jangan sia-siakan dia, ya...
Dan kamu, Mai, terimakasih sudah menjadi temanku selama ini..."
"Nona ini bicara apa? Nona yang membawaku kemari dan memberiku kehidupan sekali lagi... aku yang harusnya berterima kasih..."
Elona berganti memeluk pelayan kesayangannya itu dengan erat. "Berbahagialah, Mai..."
Tak lama kemudian, mata Elona terpejam, menyisakan tangis yang berkepanjangan dari Stefan dan Mai.
Sementara Art menyaksikan semuanya dalam diam. Perlahan, ia keluar dari kamar Elona dan dari kediaman Locke.
*****
Malam hari, di hutan perbatasan wilayah.
"Hiaatt!!! Haaatt!!"
Dengan sekali tebas, Art telah membunuh serigala yang datang menghampirinya. Saat ini, ia sedang kembali ke hobi lamanya, yaitu berburu di hutan.
Sudah berjam-jam Art menghabiskan waktunya di sana. Sesekali ia menebas monster-monster, lebih seringnya sekedar menaikin pelana kudanya dan berkeliling hutan dalam diam dan perlahan. Itulah kebiasaan yang selalu ia lakukan tiap kali ia sedang ada masalah ataupun banyak pikiran. Berburu adalah caranya melepaskan stress.
Inikah rahasia yang ingin dikatakannya padaku? Kalau dia berasal dari dunia lain?
Semua pengetahuan yang dimilikinya itu... karena dia berasal dari dunia lain?
Art terus memikirkan apa saja yang pernah dikatakan dan dilakukan oleh gadis yang ia cintai, yang selama ini ia kenal dengan nama Elona.
Berarti... nama Tara yang ia sebut dalam mimpi buruknya waktu itu, adalah namanya sendiri?
Padahal selama ini tanda-tandanya begitu jelas, kenapa aku bodoh sekali tidak menyadarinya...
Selama ini ia menanggung semua kesedihannya sendiri. Ia bahkan rela berkorban untuk keluarga Locke dan warga kota yang tidak dikenalnya, di tempat yang asing baginya.
Tapi, bukannya percaya padanya, aku malah meragukan dia. Memangnya apa hakku, kalau aku sendiri saja menyembunyikan identitasku?!
Lama Art mengenang perbuatannya kemarin yang malah marah dan membentak gadis itu. Kemudian, kata-kata Elona yang asli terngiang lagi dalam ingatannya.
"Tara mungkin tidak pernah mengatakannya, tapi ia mencintaimu..."
"Sialan!!" Art berteriak marah ke udara, membangunkan seisi penghuni hutan.
"Kenapa aku malah memarahinya! Kenapa aku tidak percaya saja padanya!! Aku memang tidak pantas dicintai olehnya! Aku yang tidak pantas mendapatkannya!!"
Amarah bercampur tangis menyeruak hebat dari diri pemuda itu, dan menghasilkan para hewan liar yang buas berguguran di bilah pedangnya satu persatu.
Malam ini, Art berburu dengan membabi buta, jauh melebihi yang biasanya.
*****
Keesokan harinya, di kediaman Locke di Armelin.
"Elona?"
"Kak Stefan...?"
Pada pagi harinya, tubuh Elona kembali membuka mata. Stefan pun tersenyum melihatnya, meskipun ia tahu ini adalah Tara dan bukan Elona adiknya yang sebenarnya.
Tetapi, begitu membuka mata, gadis itu menangis tersedu dan memeluk kakaknya.
"Maafkan aku... aku bukan Elona... maaf, karena aku telah mengambil posisinya..."
"Kamu ini bicara apa? Kamu adikku juga! Kamu tetaplah Elona yang kukenal selama setahun belakangan ini. Aku sudah merelakan kepergiannya, jadi sudahlah... atau kamu mau kupanggil dengan nama aslimu saja?"
Tara menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak, Kak... izinkan aku memakai namanya sampai akhir hayatku. Aku ingin mengenang dia selamanya, sebagai teman dan juga orang yang kuanggap saudariku. Boleh, kan?"
"Tentu... malah aku bersyukur kamu tidak melupakan dia begitu saja..."
"Nona... Tara?"
Nona mudanya itu pun tersenyum. "Bukan Tara, tapi Elona. Panggil aku seperti caramu memanggil dia, ya. Aku akan hidup untuk dirinya sampai aku tiada."
Mai pun menangis dan memeluk tubuh Elona. "Maafkan kalau saya lancang, Nona... tapi, terimakasih banyak untuk segalanya..."
"Iya, Mai. Aku juga berterima kasih padamu, ya."
Mai melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya. "Oh iya, saya hampir lupa. Ada seseorang yang ingin menjenguk anda di bawah."
"Siapa?"
"Nona Kiara Perez."
*****
Kiara tampak menunggu Elona di lobi bawah dengan raut wajah yang tegang. Ia takut kalau saja kehadirannya tidak diinginkan di sini. Tetapi, para pengawal Locke memberikannya jalan masuk, dan para pelayan memintanya menunggu di lobi, tanpa mengenali kalau dia adalah orang yang merebut tunangan majikannya itu.
Tanpa lama menunggu, sang pemilik rumah hadir dengan dress putih berbalut bordiran merah muda memasuki ruangan. Tubuh Elona tampak baik-baik saja meskipun wajahnya terlihat pucat. Ia memasuki ruangan diiringi oleh Stefan.
Sesuai tradisi bahwa yang kastanya lebih rendah harus memberikan salam terlebih dahulu, maka Kiara pun beranjak dari duduknya dan melakukan curtsy.
"Salam hormat, Nona Elona Locke."
Elona pun menganggukkan kepalanya. "Salam. Tidak usah terlalu formal begitu. Duduklah."
"Apa kabar?"
"Tidak usah basa-basi. Mengingat semua usahamu untuk merebut Louis dariku juga tidak pakai basa-basi, jadi langsung saja ke inti pembicaraan. Mau apa kamu kemari?"
Pernyataan Elona langsung menohok Kiara tanpa segan. Gadis iu jadi salah tingkah dibuatnya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan langsung saja," ucap Kiara. "Aku ingin kamu mencabut hukumanmu untuk Louis saat ini."
Elona mendengarkan perkataan Kiara dan mengernyitkan dahinya. "Hukuman apa? Aku sedang tidak menghukum siapapun saat ini."
"Tapi, Louis, dia..." Kiara mengambil nafas sejenak dan menghembuskannya, sebelum melanjutkan pembicaraan. "Saat ini Louis sedang berusaha menebus dosanya padamu, dengan menggarap lahan kedelai milikmu siang dan malam tanpa istirahat sedikitpun."
"Apa?! Tapi aku tidak menyuruhnya begitu!" ucap Elona terkejut.
"Aku tahu, tapi Louis tetap melakukannya. Dia bilang, dia baru akan berhenti kalau dia sudah mendengarkan kata pemaafan darimu. Dia merasa dosanya yang sekarang begitu berat. Karena itu, kumohon datangi dia dan katakan kalau mau memaafkannya!"
Kiara menjelaskan panjang lebar. Tapi meski begitu, Elona tidak beranjak sedikitpun. Gadis itu malah menghela nafas dan meminum tehnya perlahan-lahan.
"... itu bukan urusanku." ucap Elona pelan setelah menyesap tehnya.
"Apa?!"
"Itu bukan urusanku!" jawab Elona tegas. Kemudian, ia memanggil para pengawal untuk memasuki lobi.
"Pengawal," titah Elona begitu pengawalnya berada di ruangan. "Bawa gadis ini keluar dari rumahku sekarang juga. Kalau perlu juga keluar dari kota ini. Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi di sini!"
"Apa?! Elona kumohon! Aku akan pergi dari sini, aku janji! Tapi setidaknya maafkan dulu Louis. Ampuni dia! Kalau tidak, dia tidak akan berhenti untuk memaksakan dirinya bekerja seperti itu!"
Kiara masih berusaha memberikan penjelasan sambil terus meronta-ronta dari cengkeraman para pasukan Locke. Tapi Elona hanya menatapnya dingin.
"Sudah terlambat. Elona yang lama sudah tiada dan itu semua karena kalian berdua! Sekarang, aku adalah Elona yang baru, dan aku muak melihatmu saat ini. Pergilah, sebelum aku melakukan hal yang lebih gila lagi."
"Tapi, kumohon! Nona Elona! Dengarkan aku sekali ini saja!!"
Sia-sia sudah Kiara berteriak, ketika tubuhnya sudah diseret oleh para pengawal Locke di pekarangan, dan dibiarkan terhempas begitu saja.
"Sial!" umpat gadis itu sembari berdiri dan membersihkan dressnya yang kotor terkena tanah.
"Besok aku akan datang lagi, Elona. Aku akan terus memohon sampai kamu memaafkan Louis!"
Namun keesokan harinya, belum sempat Kiara datang lagi ke kediaman Locke, seorang pengawal Perez datang dan memberikan kabar buruk untuknya.
"Nona Kiara, gawat! Tuan Louis!"
"Ada apa dengannya?"
"Tuan Louis jatuh pingsan dan mengalami cedera berat di tangannya!!"
"Apa?!"
Kiara langsung bergegas menaiki kerta kudanya dan pergi ke arah penginapan tempat Louis tinggal selama di Armelin.
Di kamar penginapannya, tampak Louis terbaring lemas di tempat tidur. Dahinya berkeringat dingin, dan suhu tubuhnya tinggi. Diagnosa dokter mengatakan bahwa lelaki itu mengalami cedera otot di kedua tangannya karena terlalu lama bekerja keras tanpa istirahat.
Kiara langsung terduduk dan berlinang air mata. Seandainya saja Elona mau memaafkan Louis kemarin, ini semua tidak akan terjadi.
Kiara menggenggam tangan Louis yang terkulai lemas. Pikirannya begitu kalut saat ini. Ia teus teringat akan Elona yang mengusirnya dan menghempaskan tubuhnya begitu saja ke tanah.
"Lihat saja, kau, Elona Locke...! Aku akan membuat perhitungan! Pabrik tahu, huh? Tidak ada orang di dunia ini yang mengenal seluk beluk pabrik tahu melebihi aku!!"
*****
Beberapa hari kemudian, di kediaman Locke di Armelin. Stefan dan Elona baru saja akan menyantap sarapan mereka ketika seorang pelayan datang tergesa-gesa ke ruang makan
"Nona Elona! Ada berita penting!!"
"Ada apa? Katakanlah."
"Pabrik anda, Nona! Pabrik kedelai anda baru saja mengalami ledakan kebakaran dini hari tadi!
"Apa?!"
*****
...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...
...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...