Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 64. Teman!


Beberapa hari kemudian di ibukota.


“Elona! Apa yang terjadi? Mana Stefan?”


Iris datang menghampiri Elona, begitu mengetahui bahwa adik iparnya itu telah tiba di kediaman Locke di ibukota. Wanita itu berjalan dengan perlahan, mengingat usia janin dalam perutnya sudah 3 bulan.


Elona hanya memandangi kakak iparnya itu dengan tatapan lesu.


“Ceritanya panjang, Kak Iris…”


Iris memandangi Elona dnegan rasa iba. Ia sebenarnya begitu penasaran dengan apa yang terjadi di Armelin. Kabar terakhir yang ia dengar adalah bahwa Elona pingsan. Gadis itu tak sadarkan diri hingga Stefan harus pergi menjenguknya ke sana. Tapi melihat adik iparnya itu hanya menjawab pertanyaannya dengan tidak bersemangat, Iris tidak mau menekannya lebih jauh lagi.


“Ya sudahlah, kamu bisa menceritakannya padaku nanti. Untuk sekarang, istirahatlah. Nanti aku akan meminta pelayan menyiapkan cokelat panas untukmu.”


Elona berjalan dengan gontai menuju ke arah kamarnya di lantai dua, diiringi dengan para pelayan yang membawakan barang-barangnya di belakang.


Begitu Iris melihat punggung Elona telah menjauh, ia berpaling kepada Ryndall yang sedari tadi berdiri di sebelahnya. Lelaki itu tampak lelah setelah menemani Elona dalam perjalanan pulang ke ibukota.


“Apa yang terjadi pada Elona sebenarnya?” tanya wanita itu, masih tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


“Ah, itu Nyonya, sebenarnya Tuan Vandyke menyusul Nona Elona ke Armelin.” sahut Ryndall.


“Apa, Louis?! Lalu apa yang terjadi?!”


“Saya tidak tahu keadian persisnya, tapi setelah Nona Elona pulang menemani Tuan Vandyke dari kota, ia pingsan dan tak sadarkan diri berhari-hari. Lalu begitu terbangun, Nona Elona mendengar kabar bahwa pabriknya mengalami ledakan kebakaran.”


“Hah?! Siapa yang melakukannya??” Iris benar-benar terperangah mendengarkan cerita Ryndall yang menyatakan Elona tertimpa kemalangan dua kali berturut-turut. Sang sekretaris pun hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.


“Itulah yang kami belum ketahui. Maka dari itu, Tuan Stefan masih berada di Armelin untuk menelusuri dan mencari jejak pelakunya. Tuan meminta Nona Elona untuk pulang ke ibukota supaya terhindar dari stress berlebihan.” jelas Ryndall panjang lebar.


“Kasihan skeali Elona…” ucap Iris merasa iba. “Kalau begitu, aku harus membuatnya ceria seperti sedia kala selama ia berada di sini."


*****


“Mai, letakkan saja barang-barangnya di sana. Dibereskannya nanti saja. Aku ingin segera beristirahat.” ucap Elona kepada Mai yang ikut membantu membawakan tas dan koper besar dari kereta kuda menuju kamar.


Dengan segera, Mai merapikan koper-koper tersebut di sudut ruangan bersama dengan para pelayan yang lain, dan pamit dari kamar tersebut.


Elona menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Meskipun sudah tidak ditiduri oleh pemiliknya selama lebih dari setahun, sprei kasur tersebut tercium wangi, seperti baru kemarin ia pergi dari ibukota menuju ke Armelin. Wangi dari spreinya itu sedikit bisa menenangkan pikirannya yang begitu kalut saat ini.


Padahal baru sebulan kemarin, Elona bisa menemukan pengganti ragi untuk membuat tempe di dunia fantasi ini. Padahal baru saja ia menyelesaikan membuat tiga makanan dasar dari kedelai, yaitu susu kedelai, tahu dan tempe. Baru saja ia mau merayakan keberhasilannya sebagai pengusaha kedelai yang berhasil. Tetapi, malah kemalangan yang menimpanya saat ini.


Kira-kira, siapa yang telah melakukannya? Apa aku berbuat salah pada orang lain, sehingga ada yang mau melihatku sengsara? Mungkinkah si pelakunya iri dengan keberhasilanku?


Tapi… siapa? Seingatku, keluarga ini tidak memiliki musuh yang begitu berarti, apalagi dalam bisnis. Segala produk makanan yang kubuat juga tidak mengganggu jalannya ekonomi pasar.


Kecuali susu kedelai, sih, yang memang sempat jadi polemik karena bersaing dengan susu hewan. Tapi setelah Duchess Nania menjelaskan perbedaan susu kedelai dan hewan, para anggota asosiasi peternakan susu sapi itu menerima keberadaan susu kedelai pada akhirnya.


Lalu, kalau bukan dari segi bisnis, apa ada orang yang membenciku sampai tega menghancurkan usahaku?


Elona memejamkan matanya sejenak sambil terus berpikir. Tiba-tiba ia teringat pada seseorang yang mungkin saja saat ini sedang membencinya dan melakukan peledakan tersebut sebagai balas dendam.


Louis. Sekarang seharusnya dia juga lagi ada di ibukota, kan? Apa mungkin dia pelakunya? Mengingat semua yang telah kulakukan padanya belakangan ini, maka tak heran kalau ia saat ini ingin melihatku kesusahan. Bisa saja begitu, kan?


Elona meloncat dari kasurnya setelah dirasa menemukan titik terang. Ia berlari keluar kamar dan menemukan seorang pengawal yang berjaga di depan pintu.


“Pengawal, tolong katakan pada para pelayan untuk segera menyiapkan pakaianku. Aku ingin pergi ke suatu tempat sekarang juga.”


*****


“Elona… kamu di sini?”


Louis cukup terkejut begitu pelayannya mengantarkan seorang penjenguk bagi dirinya yang sedang sakit, dan ternyata itu adalah Elona Locke, mantan tunangannya. Lelaki itu tak menyangka bahwa Elona mau menjenguknya setelah apa yang diperbuatnya pada gadis itu.


Elona sendiri memasuki kamar Louis dengan perasaan bimbang. Sudah bertahun-tahun lamanya ia tak memasuki ruangan ini. Sejak kecil, Elona sering diajak Louis ke kamarnya untuk bermain.


Kegiatan itu terhenti manakala mereka sudah semakin dewasa dan karena Louis yang waktu itu semakin menjauh. Elona juga tak menyangka bahwa akan datang hari ketika ia menginjakkan kaki ke ruangan ini lagi.


“Hai.” sapa Elona. Louis tersenyum melihat gadis itu.


“Hai, masuklah.”


Baru masuk setengah ruangan, langkah kaki Elona terhenti. Ia tertegun ketika melihat Louis harus mengompres lengan atasnya dengan air. Terlihat kalau lengan dan betis lelaki itu sedang bengkak.


“Ini… karena kamu bekerja di ladangku…?”


“Ah! Tidak usah dipikirkan, sungguh! Aku tidak apa-apa, ini hanya cedera biasa. Hanya perlu diistirahatkan saja.” ucap Louis supaya Elona tidak merasa bersalah.


Namun, tetap saja, raut wajah Elona menunjukkan penyesalan. Terlebih lagi, tadinya Elona ke kediaman Vandyke ini untuk memastikan apakah benar Louis pelaku peledakan tersebut. Tapi setelah melihat kondisi Louis dan apa yang dikatakannya supaya Elona tidak merasa bersalah, sepertinya itu hal yang tidak mungkin.


Dan benar saja, dengan penyesalan begitu dalam, Elona menundukkan kepalanya memohon maaf pada Louis.


“Maafkan aku. Padahal aku sudah diberitahu kalau kamu bekerja tanpa henti di ladangku, tapi aku malah membiarkanmu dengan harapan agar kau jera dengan perbuatanmu. Aku tidak menyangka akan sampai seperti ini jadinya. Maaf!”


“Hey, sudahlah! Aku melakukannya karena aku merasa bersalah padamu, kenapa malah jadi kamu yang meminta maaf?!” sahut Louis, lalu menatap lekat-lekat mata Elona.


“Aku minta maaf atas seluruh perbuatanku selama ini. Aku tahu aku banyak sekali melakukan kesalahan padamu, dan mungkin kamu tidak akan mau memaafkanku.”


“Memang, aku tidak akan memaafkanmu!” seru Elona dengan memasang muka angkuh, membuat Louis merenggut tak terima.


“Selama kita belum berjabat tangan, aku tidak akan memaafkanmu!” Elona melirik Louis dan tergelak. Louis yang sadar sedang dikerjai oleh gadis itu lagi langsung ikut tertawa.


Louis menjulurkan tangannya dan berkata, “Teman?”


Elona pun tersenyum menyambutnya, “Teman!”


*****


“Oh iya, ngomong-ngomong, siapa yang telah memberitahumu kalau aku mengerjakan ladangmu siang malam?” tanya Louis penasaran.


Elona menghela nafas sebelum menjawabnya, “Kiara yang memberitahuku.”


“Apa?! Kiara?! Dia menemuimu?” tanya Louis terkejut. Elona pun mengiyakan.


“Iya, dia datang ke rumahku dan memohon padaku untuk segera mengampunimu dan membebaskanmu dari rasa bersalah, supaya kamu berhenti bekerja di ladang.”


“Kiara memohon padamu?! Dia benar-benar melakukannya??”


“Hahh, makanya sudah kubilang padamu, kan?” Elona menyahut dengan keki. “Sudah kukatakan dari awal, berikan saja hatimu itu padanya! Lihat, setelah semua yang kamu lakukan padanya, dia masih mau membelamu sampai seperti itu!”


“Kiara…” Louis dibuat tertegun mendengar penjelasan Elona. “Aku juga jadi merasa bersalah padanya…”


“Kamu sudah memilih dia dibandingkan aku, dan aku menerima hal itu. Sudahlah, jangan plinplan lagi. Dia selalu ada di sisimu selama ini kan?”


Louis menanggapi dengan hening dan terhenyak mendengarkan perkataan Elona. Mantannya itu benar. Jangan sampai ia melakukan kesalahan yang sama pada Kiara, seperti yang ia perbuat pada Elona dahulu.


“Kamu sendiri, bagaimana?” giliran Louis yang bertanya, membuat Elona mengangkat alisnya.


“Apanya yang bagaimana?”


“Sudah sejauh apa hubunganmu dengan pemuda itu… siapa kamu memanggilnya? Art?”


Seketika itu juga wajah Elona merona merah seperti strawberry. “Aku belum ada hubungan apapun dengannya!”


“Kamu bilang ‘belum’, berarti ‘akan’?” Louis malah menggoda gadis itu.


“Aku tidak tahu…” tiba-tiba Elona menjawab dengan nada lemah. “Sudah lebih dari seminggu aku tidak bertemu dengannya. Aku juga tidak menerima kabar apapun darinya…”


Louis memandangi sejenak Elona yang merasa sedih. Lelaki itu menduga kalau gadis itu pasti belum mengetahui identitas Art yang sebenarnya, yaitu adalah putra tunggal seorang duke paling berpengaruh di negeri ini.


“Pasti dia itu sangat mencintaimu ya, melebihi aku dulu.” Louis menghela nafas. Sebenarnya ia tidak ingin membela lelaki itu, apalagi dengan caranya yang menyembunyikan identitasnya dari Elona. Tapi ia juga tidak ingin melihat gadis itu semakin bersedih.


“Sudahlah. Kita bahas yang lain, ya!” Louis mencoba mengalihkan topik. “Kamu kenapa ke ibukota? Bagaimana dengan pekerjaan pabrikmu di Armelin?”


Ditanya hal itu, membuat Elona semakin murung. Louis pun bingung saat menyadarinya. “Eh? Ada apa? Aku salah bicara?”


“Tidak apa, karena kamu tidak tahu apa yang terjadi. Pabrikku… baru saja mengalami ledakan hebat beberapa hari lalu…”


“Apa?! Apa yang terjadi??”


“Aku tidak tahu, Louis… Beruntungnya, tidak ada korban jiwa karena terjadinya dini hari setelah jam kerja selesai. Tetapi, kerugian karena terbakarnya produk-produk yang masih ada di dalam pabrik cukup besar. Aku harus memulai segalanya dari nol lagi…”


Louis menjadi geram setelah mendengar cerita tersebut. “Ini gila! Siapa yang melakukannya! Dan bagaimana??”


“Entahlah… pelakunya menembakkan panah api ke lubang pipa gas pembuangan yang sudah ia lubangi sebelumnya. Api di mata panah tersebut membuat gasnya tersulut dan membakar semuanya, dan-“


“Tunggu! Gas pembuangan?” Louis bertanya tak mengerti.


“Iya, gas pembuangan limbah tahu. Gasnya kan bisa terbakar kalau disulut api!” jelas Elona singkat.


“Benarkah?” tanya Louis masih tak percaya. “Aku tidak tahu kalau ada gas yang bisa terbakar kalau terkena api…”


“Ada. Gas metana salah satunya. Tapi orang-orang di dunia ini mungkin tidak mengetahuinya karena teknologinya belum sampai kesana.”


“Dunia ini?” Louis kembali bertanya dengan bingung. “Kamu bicara seolah-olah kamu bukan orang dari dunia ini saja!”


“Eh?! Ah, aku salah bicara!” Elona tersadar kalau dia keceplosan soal asalnya yang bukan dari dunia fantasi ini, pada Louis yang tak mengetahui siapa dia sebenarnya. Beruntungnya, Louis tidak mencurigainya.


Eh, benar juga… seharusnya, orang-orang dari dunia ini tidak mengetahui kalau gas dari limbah tahu bisa terbakar. Tapi pelaku peledakan ini mengetahuinya dan menyulutkan api…?


Apa berarti, pelakunya juga bukan berasal dari dunia ini, sama sepertiku?


Sebuah kesimpulan yang hampir mustahil terlintas di kepala Elona. Dan dengan hal itu juga, dugaan siapa sang pelaku mengerucut pada seseorang.


“Louis, aku pulang dulu! Aku ingin mengirim surat pada Kak Stefan tentang pelakunya!” seru Elona sambil beranjak dari duduknya.


“Eh? Kamu tahu siapa pelakunya? Kamu yakin?”


“Belum yakin, sih! Tapi, hari ini akan kupastikan!”


*****


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...


...\=\= covert art by @fuheechi_ \=\=...