Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 60. Urusan Terakhir


"... tapi saya tidak tahu kapan Nona akan terbangun. Denyut jantungnya terdengar lemah sekali..."


Sang dokter memberikan diagnosa terakhir, dan hal itu membuat Louis terperangah. Ia tidak menyangka kalau perbuatannya bisa membuat Elona sampai seperti ini.


"Tidak akan terjadi apapun pada Elona kan, Dok?! Iya, kan?!!" tanya Art memastikan dengan setengah berteriak. Tapi dokter hanya menanggapinya dengan tatapan lemah.


"Kita harus melihat dulu perkembangan kondisinya. Saya akan cek secara berkala." ucap sang dokter.


*****


BUGH!!!


"Kyaaa!!"


Jeritan Mai terdengar dari kamar Elona sepulangnya sang dokter dari kediaman Locke, karena Art langsung menghampiri Louis dan meninju mukanya hingga tersungkur. Louis spontan memegangi ujung bibirnya yang kesakitan karena sobek dan berdarah.


"Kau...!!"


Belum sempat Louis melawan, Art sudah berada di atas Louis dan memukuli wajahnya berkali-kali.


"Apa yang kau lakukan sampai Elona seperti itu, hah!! Jawab!!"


"Aku tidak tahu!!" Louis berusaha mencegah pukulan Art yang bertubi-tubi dengan menahan lengannya. Lalu begitu ada kesempatan, Louis mencoba melawan. Tinju Art mengenai telapak tangan Louis, sedangkan tangan yang satunya meraih kerah Art dengan erat dan menggulingkan lelaki itu ke samping.


"Kalian berhentilah!! Pengawal!!" Mai bergegas keluar dari kamar dan memanggil pengawal.


Kini giliran Louis yang berada di atas tubuh Art dan meninjunya pula bertubi-tubi. Tetapi gerakan Art lebih cepat, ia langsung menahan tangan Louis yang meninjunya. Supaya terlepas dari cengkeraman tangan Art, Louis berusaha meraih apa saja yang melekat pada tubuh Art.


Hingga akhirnya, Louis menyentuh kain penutup kepala milik Art dan menariknya. Spontan, sekelebat rambut berwarna emas yang bersinar pun tampak di baliknya.


Louis begitu terkejut melihat rambut emas tersebut, hingga ia mundur dan berdiri dari atas tubuh Art. Kain penutup kepala itu terjatuh begitu saja dari tangannya. Ia menunjuk Art dengan tatapan mata ngeri.


"K-kau... kau adalah..."


Arthur berdiri dari posisinya dan merapikan pakaiannya yang kusut. Kemudian, ia menyambar kain penutup kepala yang terjatuh dari lantai, dan menghampiri Louis dengan nafas yang menderu tak teratur.


"Ya, aku adalah Arthur, putra tunggal Duke Eckart." ucap Art. "Kenapa kau? Kaget, karena pemuda desa yang kau remehkan kemarin kastanya ternyata setingkat di atasmu?!"


"..." Louis hanya bisa terdiam sekarang. Ia tidak berani lagi melawan, karena berhadapan dengan seorang calon duke berarti akan mengancam kelangsungan hidup keluarganya.


Melihat nyali Louis yang menciut, Art malah semakin menantangnya.


"Ayo! Kenapa berhenti?! Kau takut kalau aku akan menggunakan pengaruh keluargaku dalam hal ini?!


Aku bukan orang yang seperti itu! Karena aku mencintai Elona dengan tulus sebagai diriku sendiri, bukan karena aku adalah seorang Eckart!


Aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan pada Elona, tapi kalau sampai terjadi apapun padanya karena hal itu, ingat kata-kataku dengan baik:


Aku tidak akan segan-segan menggunakan kekuasaanku untuk melenyapkan seluruh keturunan Vandyke!!"


*****


Keesokan harinya.


Art tampak tertidur tepat di sisi tempat tidur Elona sambil terus menggenggam tangannya. Mai masuk ke dalam ruangan dan membuka tirai jendela. Sinar matahari yang masuk membangunkan Art. Lelaki itu mengerjapkan mata dan mengusapnya dengan tangan sebentar.


Art melirik ke arah Elona yang masih saja terbaring di tempat tidurnya. Kecantikan masih terlihat di wajahnya meski air mukanya pucat dan tak sadarkan diri. Art membelai rambut gadis itu, merapikannya dengan penuh kelembutan.


"Tuan Muda, apakah ada tanda-tanda Nona akan terbangun?" Mai bertanya dengan lemah. Matanya masih terlihat sembab akibat menangis semalaman karena memikirkan kondisi Elona.


Art hanya menggeleng sebagai jawaban. Kemudian, lelaki itu memalingkan pandangan ke arah Mai dan berkata, "Minta Ryndall untuk segera kirimkan surat super kilat pada Stefan. Kalau perlu, minta dia yang kirimkan sendiri supaya semakin cepat. Katakan dalam surat itu, Elona sedang membutuhkan kakaknya."


"Tapi, nanti Tuan Stefan akan sangat mengamuk kalau dia tahu bahwa Tuan Louis menyusul Nona sampai kemari dan menyebabkan semua ini!" seru Mai.


"Aku juga tidak ingin menambah beban pikiran Stefan dan Iris. Tapi mau bagaimana lagi. Kita harus mencoba segala cara, dan barangkali dengan hadirnya Stefan di sini, Elona bisa segera sadar."


*****


Sementara itu, di ladang kedelai Kota Armelin.


Tampak Louis Vandyke sudah datang pagi-pagi sekali ke ladang tersebut. Ia datang menggunakan tunik biasa, sepatu boot kulit, dan sebuah pacul di tangan. Louis berniat membuka lahan yang sama sekali belum tersentuh, seperti yang telah dikerjakannya selama sebulan belakangan ini. Lelaki itu berniat melakukannya meskipun tidak ada yang memintanya kali ini.


Tepat setelah ancaman Art kemarin, Louis langsung beranjak pergi dari kediaman Locke. Lelaki itu tak menjawab satu patah kata pun pada Art. Apa yang dikatakan Elona padanya kemarin adalah benar, bahwa seharusnya ia tidak membuat Kiara menunggu. Seharusnya kalau ia memang bimbang dengan hatinya, langsung saja memilih atau tidak sama sekali, dan bukannya malah memberikan harapan palsu. Sudah jelas Elona menolaknya berkali-kali, lalu apa lagi yang ingin ia buktikan?


Saat ini, Louis begitu membenci dirinya yang tidak bisa mengambil sikap. Ia malah menyakiti dua orang yang sangat peduli dengannya sekaligus.


Dan dengan semua kebencian yang menumpuk terhadap dirinya sendiri ini, Louis menggarap lahan Elona tanpa diperintah dan tanpa diupah. Ia terus bekerja dan bekerja, hingga melupakan waktu istirahat dan pulang begitu larut malam.


Di malam ketiga Louis bekerja memaksakan dirinya seperti itu, ternyata Kiara sudah menunggu kepulangannya tepat di depan kamar penginapannya.


"Louis! Kamu kemana saja?? Sudah tiga hari ini aku mencarimu, tapi aku tidak dapat menemuimu sama sekali!!"


Kiara langsung menghampiri Louis yang pulang ke penginapan dengan pakaian penuh tanah dan wajah yang sangat kelelahan.


"Louis! Ada apa?? Kenapa kamu pucat begini? Kamu sakit?" Kiara bertanya dengan penuh perhatian sembari membelai wajah lelaki pujaannya itu.


Tetapi Louis menepis tangan Kiara dan berkata, "Aku tidak apa-apa. Aku hanya baru saja pulang dari menggarap ladang kedelai Elona."


"Apa Elona yang memintamu melakukannya?"


"Aku tidak bisa membiarkanmu! Kamu terlalu memaksakan diri! Ajudanmu bilang kalau sudah tiga hari ini kau berangkat terlalu pagi dan pulang terlalu malam, lalu sering melewatkan makan. Aku-"


"Sudahlah, Kiara..." Louis menyela perkataan gadis yang ada di hadapannya itu.


"Biarkanlah aku melakukannya begini. Aku sudah banyak bersalah padamu dan juga Elona. Sekarang, izinkan aku menebus dosaku dengan caraku sendiri. Kamu pulanglah ke ibukota, tak perlu menungguku..."


"Tapi, Louis-"


Perkataan Kiara tidak lagi didengarkan oleh lelaki itu. Ia berjalan dengan lemas menuju kamar penginapan yang ditempatinya dan menutup pintu.


*****


Malam hari, di kediaman Locke di Kota Armelin.


"Nah, padahal sudah kuperingatkan agar tidak terbawa perasaan pada Louis, tapi kamu malah melakukannya!" ucap Tara pada Elona yang sedang menangis tersedu.


Saat ini, Elona dan Tara bertemu lagi di alam mimpi. Elona kembali dalam keadaan masih menangisi tindakan Louis. Sedangkan Tara begitu kesal karena Elona tidak mendengarkannya.


"Tapi... Louis aslinya adalah orang baik..." ucap Elona yang masih saja membela mantan tunangannya itu.


"Iya, aku tahu! Tapi aku benci sifatnya yang plinplan itu! Dia tidak bisa menentukan pilihannya sendiri dengan tegas. Yah ini semua karena pengaruh ayahnya juga yang selalu menekannya, sih..." Tara mendengus kesal.


"Sudah, jangan menangis lagi! Yang penting sekarang, keinginanmu untuk bersamanya yang terakhir kali sudah terpenuhi. Itu saja yang penting. Dan kamu menikmatinya, kan?"


Elona menganggukkan kepala begitu mendengar pertanyaan Tara, lalu ia menghapus sisa-sisa air mata di pipinya dan mencoba tersenyum.


"Kamu benar. Seandainya Kiara tidak datang pun, aku tetap tidak bisa bersama Louis lebih lama lagi. Jadi, aku harus mensyukuri kalau aku sudah bisa bersamanya dan bersenang-senang dengannya, benar kan?"


Tara ikut tersenyum melihat temannya yang berbeda dunia itu sudah mulai ceria kembali.


"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Tara.


Elona berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata, "Apa boleh aku minta ijin untuk mengambil alih tubuh ini sekali lagi? Aku ingin bertemu dengan kakakku yang terakhir kalinya..."


"Kenapa juga kamu harus minta ijin padaku, ini kan tubuhmu. Silahkan saja!" ucap Tara sembari terkekeh.


"Tara, bukankah kamu juga masih ada urusan yang harus diselesaikan?"


Sebuah suara tiba-tiba terdengar entah dari mana. Elona dan Tara terlonjak, lalu mencari-cari sumbernya.


"Ini... suara yang bicara padaku waktu itu!" ucap Elona.


"Siapa yang bicara?" tanya Tara.


"Kalian berdua tidak perlu tahu siapa aku, dan tidak perlu mencari sosokku. Anggap saja aku adalah pelindung antar semesta." suara itu berbicara lagi.


"Lalu, apa maksudmu, kalau aku masih ada urusan yang belum terselesaikan?" tanya Tara lagi penasaran.


Tak lama, sebuah lingkaran muncul melayang di hadapan mereka dna menampilkan sebuah gambar seperti layaknya televisi berwarna. Di sana dengan jelas terlihat, sosok Tara yang terbaring di sebuah ranjang rumah sakit dengan tubuh penuh balutan perban putih, lengkap dengan berbagai peralatan life support.


"Kamu masih hidup di bumi. Tapi sama seperti Elona Locke, kamu tidak bisa berlama-lama lagi di sana. Lihatlah itu,"


Tampak di salah satu sisi ranjang, seorang lelaki tengah menunggui tubuh Tara dengan selalu menggenggam tangannya. Tara tak mungkin dapat melupakan sosok tersebut.


"Geri...?"


Kekasih yang telah mengkhianati Tara dengan berselingkuh dengan sepupunya sendiri, rupanya ada di sana menjaga tubuh gadis itu di sisinya, sepanjang siang dan malam.


"Dia sudah menunggumu terbangun dari tidur panjangmu selama setahun ini. Sekarang, aku akan memberimu kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal padanya yang terakhir kali." ucap suara itu.


Tara tertegun melihat Geri yang tak juga beranjak dari sisinya. Selama hidup di dunia fantasi ini, Tara sebenarnya selalu bertanya-tanya apakah Geri akan menyesal apabila mengetahui bahwa Tara mengalami kecelakaan karena dirinya?


Bagaimana dengan harta kekayaan yang ditinggalkan orangtuanya, begitu Tara tiada? Yang jelas, Tara tidak ingin semua harta yang susah payah dikumpulkan orangtuanya untuk dirinya berakhir sia-sia begitu saja di tangan para kerabatnya yang kejam.


"Baiklah, sepertinya aku memang ada urusan yang harus kuselesaikan di sana. Aku harus melakukan satu hal terakhir sebelum benar-benar pergi dari bumi."


"Kalau begitu... kita akan berpisah di sini?" tanya Elona.


"Sepertinya begitu..." ucap Tara.


Elona berlari menghampiri Tara dan memeluknya dengan erat.


"Terima kasih banyak, Tara... Aku bersyukur kamu lah yang menggantikan diriku dan bukannya orang lain. Seandainya kita bisa hidup dalam satu dunia yang sama bersama-sama, aku yakin kita pasti bisa menjadi sahabat baik..."


Air mata menetes di pipi kedua gadis itu, diiringi pelukan yang semakin hangat dan erat. Mereka berdua sama-sama membayangkan seandainya bisa pergi bersenang-senang bersama, pasti mereka akan berdebat mana rasa es krim yang lebih enak, cokelat atau strawberry. Tapi sayangnya, hal itu tidak akan mungkin dilakukan.


"Selamat jalan, Elona... aku senang bisa bertemu dan berteman denganmu... selama ini aku tidak punya teman dekat. Aku tak menyangka akan bertemu denganmu dalam keadaan seperti ini..."


Kemudian, keduanya pun pergi menuju tubuh masing-masing yang sebenarnya untuk terakhir kalinya.


*****


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...


...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...