
"Nanti pipanya tolong dipasang ke arah sini, ya! Iya, pipa yang itu. Harus bisa mengalirkan limbahnya dengan benar sampai ke tangki nanti!" ucap Elona saat memberikan instruksi pada pekerja bangunan.
Pagi-pagi sekali Elona telah tiba di ladang, tepatnya di area yang disepakatinya bersama Ryndall sebulan yang lalu, untuk didirikan sebuah bangunan yang nantinya akan digunakan sebagai pabrik tahu lengkap dengan tangki pembuangan limbahnya. Di area tersebut saat ini terdapat beberapa pekerja bangunan dan pengeruk tanah yang sedang bekerja sesuai dengan arahan instruksi dari Elona.
Sebuah tangki tembaga setinggi tiga meter telah disiapkan, dan akan dibenamkan ke dalam tanah. Ada tiga jenis lubang pipa yang telah dibuat di sisi tangki. Yang satunya terletak di bagian atas, dan dua lainnya di bagian bawah dnegan sisi yang berbeda. Selain itu, sudah dipersiapkan pula dua pipa dengan diameter besar dan satu pipa diameter kecil.
"Untuk apa dibuat tiga lubang pipa, Nona?" tanya Ryndall tak mengerti ketika dia memeriksa bahwa tangki dalam keadaan sempurna sesampainya di area.
"Yang sebelah bawah sini adalah untuk mengalirkan limbahnya dari pabrik ke tangki, yang kedua bagian bawah ini untuk mengeluarkan sisa limbah padat, dan yang terakhir di atas itu untuk jalur gas." jelas Elona.
"Gas yang kata Nona bisa meledak itu?!" Ryndall langsung bertanya dengan nada ngeri.
"Iya yang itu. Kita hanya perlu mengaturnya saja supaya tidak meledak."
"Bagaimana caranya?"
"Nanti kalau semuanya sudah jadi, akan kutunjukkan langsung caranya." ucap Elona.
Pabrik ini direncanakan memiliki beberapa ruangan, di antaranya untuk gudang penyimpanan kacang kedelai, ruang pembuatan susu, ruang pembuatan tahu, dan ruang buangan limbah sebelum dialirkan ke tangki. Elona juga menyiapkan dua ruangan kosong untuk berjaga-jaga barangkali ia membutuhkan tempat untuk sesuatu yang belum terpikirkan sekarang.
Tak lama, sebuah kereta kuda mewah berhenti tepat di dekat Elona berada. Dari dalam kabin, sepasang pria dan wanita turun dengan pakaian yang tidak cocok bila dikenakan di ladang yang kotor. Namun Elona mengenali pasangan ini, dan menyambut mereka dengan wajah yang terkejut.
"Kak Stefan! Kak Iris!"
Elona segera berlari dan memeluk kakak laki-laki satu-satunya itu. Telah berbulan-bulan lamanya gadis itu tak bertemu dengannya dan hanya berkomunikasi lewat surat.
"Halo, adikku sayang. Apa kabar?" tanya Stefan seraya mengelus kepala Elona.
"Sangat baik! Kenapa kalian tidak mengabariku dulu kalau mau kemari!"
"Kami mau kasih kejutan!"
"Elona! Ini kamu?! Ya ampun, tubuhmu jadi indah sekali!" Iris berjalan mengelilingi tubuh Elona dengan tatapan takjub. Berat badannya saat ini memang telah menyentuh angka yang diinginkan gadis itu, yaitu 55 kilogram. Elona tersenyum senang.
"Hehe, iya kak. Program dietku berhasil! Aku sudah mengganti baju-baju lamaku yang kebesaran dengan yang baru, hehe."
Elona berganti memeluk kakak iparnya sekarang. "Kalian kenapa kemari?"
Ditanya begitu, Stefan dan Iris malah saling bertatapan, lalu ganti memandangi Elona. "Kamu tidak tahu, ya, kalau kamu ini terkenal di ibukota?"
"Terkenal? Apa maksud kakak?"
"Produk susu kedelaimu ini sangat laku di ibukota, sayang. Rasanya enak dan para bangsawan selalu datang ke Kafe Satu Sesapan untuk meminumnya, termasuk aku!" ucap Iris sambil tertawa.
"Ah iya, kafe itu. Kamu hebat sekali bisa bekerja sama dengan kafe milik Duke Eckart. Aku juga kaget ketika melihat ada susu kedelai dengan merek Locke Armelin di mana-mana. Semua teman-teman bisnisku menanyakan hal itu padaku." jelas Stefan.
Elona memang secara sederhana memberi nama merek pada produk kedelainya 'Susu Locke Armelin' hanya supaya pembeli tahu bahwa produksinya memang dilakukan di Armelin oleh keluarga Locke.
"Terkenal sampai sana?" Elona bertanya bingung.
"Iya! Sampai para wartawan ingin mewawancaraiku mengenai kesuksesan penggarapan lahan bekas galian tambang di sini. Mereka mengira aku yang mengurus bisnisnya. Aku berusaha menjawab sebisaku!" ujar Stefan.
"Yah, seperti yang Kakak lihat sendiri," Elona menunjuk ke arah ladang, di mana para pekerja sedang menggarap siklus panen kedelai yang kedua.
"Semuanya berjalan lancar sekarang. Tanahnya sudah semakin subur. Sekarang aku bisa menanam kedelai tanpa harus susah payah melakukan pengapuran lagi." lanjut gadis itu.
"Oh, bagaimana yang soal Kafe Satu Sesapan? Kenapa produk kita bisa hadir sebagai menu baru di kafe ternama begitu?" kali ini Iris yang bertanya.
"Ah, kalau itu, berkat seseorang! Kalian berdua kemarilah!"
Elona mengajak Stefan dan Iris berjalan ke tengah ladang, untuk menghampiri seseorang yang sedang bekerja keras menggali tanah saat ini.
*****
"Ini, Paman. Istirahatlah sebentar." ucap Art seraya menyerahkan botol minum tersebut. Pria tua itu mengambilnya dan mengucapkan terima kasih.
"Kamu anak muda, tubuhmu masih bagus sekali, ya. Kami yang tua-tua ini jadi merasa kalah, hahaha!" ucap seorang pria lain seraya memandangi otot Art yang terlihat dari lengan tunik yang digulungnya ke atas.
"Ah, Paman bisa saja! Aku masih belum bisa dibandingkan dengan kalian yang punya pengalaman bertani lebih dariku!" seru Art.
Kebersamaan Art dengan para warga Armelin memang membuatnya lebih dekat dengan mereka, tanpa mereka mengetahui identitasnya yang sebenarnya. Dan Art merasa nyaman dengan semua itu.
"Ngomong-ngomong, kamu terlihat dekat dengan Nona Elona. Kamu naksir padanya, ya?"
"Eh?!" ditanya seperti itu, wajah Art langsung memerah karena malu. Hal itu pun disambut tawa oleh para paman-paman pekerja ladang.
"Hahaha! Dasar anak muda! Tidak bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik!"
"Aku jadi teringat masa mudaku! Kekeke!"
Para pria tua itu terkekeh melihat tingkah Art. Tetapi seseorang yang lain berkata, "Sayang ya kalian berbeda kasta. Meskipun bisa saja pemuda desa menikahi nona bangsawan, tapi hal itu akan menjadi gunjingan banyak pihak, hmm..."
"Sungguh malang nasibmu, Nak. Seandainya kamu terlahir di keluarga yang berada, cintamu pasti akan segera tersampaikan."
Mereka pun geleng-geleng kepala, memikirkan nasib Art selanjutnya, tanpa mereka mengetahui kalau sedang berbicara dengan seorang putra duke.
"Art!"
Dari kejauhan, sebuah suara muncul memanggil nama pemuda tersebut. Yang dipanggil pun sontak menoleh ke arah sumber suara. Elona sedang melambaikan tangannya. "Kemari sebentar!"
"Wah dipanggil sang pujaan hati, tuh!" goda seorang pekerja.
"Cepat sana hampiri dia!" seru yang lain.
"Iya, iya. Aku pergi dulu." ucap Art, lalu berjalan menghampiri Elona.
Namun baru setengah perjalanan menuju tempat Elona berdiri, langkahnya terhenti, ketika melihat sepasang pria dan wanita yang berdiri di belakang Elona. Terutama melihat yang wanita. Art terkesiap, matanya terbelalak saat mengenali wajah kedua orang tersebut. Dan dua orang itu pun juga tampak mengenali wajah Art. Pemuda itu belum siap kalau harus menghadapi pasangan tersebut sekarang. Tetapi ia terlanjur melangkah ke arah Elona.
Karena tak kunjung sampai, Elona pun menghampiri Art yang berdiri mematung. Gadis itu menggamit lengannya. "Ayo, kemari! Akan kuperkenalkan kamu dengan kedua kakakku!"
Elona menarik lengan Art untuk menghampiri Stefan dan Iris. Semakin dekat, mata Iris membulat setelah melihat wajah lelaki tersebut. Apalagi Stefan. Dahinya berkerut dan nafasnya tertahan begitu mengenali siapa yang ditarik lengannya oleh adik kesayangannya itu.
"Kak Stefan, Kak Iris. Perkenalkan, ini temanku Art dari desa Rudiyart!" ucap Elona begitu tiba di hadapan kedua kakaknya.
"Err, salam hormat, Tuan dan Nyonya Locke." Art masih berusaha berakting di hadapan Iris, sepupu jauhnya itu.
"Kamu..." Iris menatap tak percaya. Wanita itu menutupi mulutnya dengan kipas di tangannya.
Sementara Stefan tidak tinggal diam. Begitu melihat pemuda tersebut dan mengenali baik-baik wajahnya, ia langsung merenggut kerah tunik Art dan mengangkatnya ke atas. Nafasnya menderu menahan emosi yang akan meledak-ledak. Kebencian menyeruak dari dalam dirinya begitu saja, terutama saat ia teringat kelakuan nakal yang pernah dilakukan oleh sepupu jauh istrinya itu padanya.
"Kamu!! Mau apa kamu di sini, hah! Apa yang telah kamu lakukan pada adikku?!"
Art langsung terseret ke arah depan. Iris pun kaget dengan tindakan suaminya itu, tapi ia mengerti sebabnya. Yang tidak tahu apapun di sini adalah Elona. Gadis itu begitu terkejut ketika dalam sekejap kakaknya berubah menjadi kasar terhadap temannya seperti itu.
"Kakak! Ada apa?! Kenapa menyerang temanku? Dia salah apa?!" Elona berteriak panik. Ia berusaha melepaskan tangan kakaknya yang masih saja menarik kerah baju Art. Pemuda itu pun berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman Stefan.
"Teman? Teman apa!! Apa kamu tidak tahu siapa dia?!" Stefan masih saja emosi dan berusaha menghajar Art.
"Art adalah temanku yang susah payah membantu usaha kedelaiku dari nol! Dia teman dari desa yang sangat berjasa bagiku! Memangnya Kakak mengenalinya?!" Elona menjelaskan dengan susah payah. Stefan memandangi adiknya dengan heran.
"Dari desa, katamu?! Kamu benar-benar tidak tahu siapa dia?" tanya Stefan. Elona balik menatapnya bingung.
Stefan mendengus kesal, "Hey, kebohongan apa yang kau katakan pada adikku, hah! Katakan yang sebenarnya! Katakan kalau kau adalah-"
*****