Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 71. Kenangan Terakhir


“Saksi berikutnya dipersilakan memasuki ruangan,”


Kiara melihat ke arah pintu aula, menanti dengan jantung yang berdegup kencang. Setelah dua saksi yang begitu memberatkannya, siapa lagi yang akan berusaha untuk menjebloskannya ke penjara?


Aku hanya mengakui identitasku pada Mama… tidak mungkin dia, kan?


“Nyonya Penny Perez!”


“Apa?!” Kiara begitu terperanjat ketika nama ibunya dipanggil. Dan gadis itu semakin terperangah ketika orang yang benar-benar sangat dia percaya sekarang juga berusaha untuk menjebloskannya ke penjara.


Penny Perez memasuki ruangan dengan kepala yang terus menunduk. Kemudian, wanita itu berdiri di podium saksi. Setelah Nyonya Perez mengatakan sumpah kejujuran, Yang Mulia Raja Valcke memulai pertanyaannya.


“Apa hubungan anda dengan tersangka?”


“Saya adalah ibunya.” jawab Penny dengan lemah, seraya menatap putri kesayangannya di podium tersangka.


“Apakah benar, kalau putri anda merupakan seseorang yang berasal dari dunia lain?”


Sebelum membuat pernyataan yang tidak mungkin dia tarik kembali, Penny menatap Kiara lekat-lekat, dan dibalas dengan tatapan ngeri dari putrinya itu. Penny mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dau kali.


“Benar. Kiara memang terlahir dari rahim saya sendiri. Tetapi, memori tentang kehidupan di dunia sebelumnya masih bisa dia ingat dengan baik. Kiara sendiri yang mengatakan, kalau dia telah terlahir kembali menjadi seorang tokoh dalam cerita yang sering dibacanya dulu.”


“Mama! Kenapa, Ma?!!”


Kiara jelas berteriak histeris setelah ibunya sendiri yang bersaksi demikian. Para audiens pun kembali rebut.


“Terlahir kembali?”


“Reinkarnasi, ya, maksudnya? Yang seperti itu benar-benar ada?”


“Tenang! Sekali lagi, tenang!!” Raja Valcke kembali menenangkan audiens. Namun, audiens masih saja tak hentinya membicarakan keterkejutan mereka.


Sang raja menopangkan dahinya dengan sebelah tangan di atas meja. Dia benar-benar tidakhabis pikir dengan kasus yang ditanganinya sekarang. Benar-benar seperti cerita khayalan. Para dewan pengadilan pun tak hentinya sibuk berdiskusi di antara mereka.


“Maafkan Mama, Sayang… Mama hanya tidak ingin kamu terjerumus dengan sesuatu yang kamu sendiri tahu kalau itu adalah hal yang salah… Kamu adalah anak baik, dan Mama sangat mengenali sifatmu yang satu itu…” Penny berkata seraya mencucurkan air mata.


Kiara menunduk dan meneteskan air mata. Cerita indah yang dia dambakan akan terjadi padanya di dunia ini, sekarang semuanya harus hancur hanya karena tindakannya yang impulsif. Hanya karena rasa cintanya pada seorang lelaki. Sekarang semuanya menghilang begitu saja tepat di hadapannya.


*****


“Baiklah. Dengan seluruh kesaksian yang begitu memberatkan, maka dengan ini Lady Kiara Perez dinyatakan sebagai terdakwa dalam kasus peledakan pabrik kedelai milik Lady Elona Locke!”


Sorak sorai audiens memenuhi ruangan. Yang Mulia pun melanjutkan putusan pengadilannya.


“Untuk hukuman yang akan diterima terdakwa akan didiskusikan terlebih dahulu oleh dewan pengadilan. Untuk sementara, Lady Kiara akan dipindahkan ke Penjara Aristokrat. Sidang pengadilan untuk kasus ini saya nyatakan ditutup!”


Tiga pukulan palu di meja menandakan persidangan selesai. Kiara Perez segera dibawa oleh dua orang pengawal keluar dari ruangan aula. Sekilas, Kiara melemparkan tatapan ke arah Elona yang menatapnya balik. Tanpa ada kata-kata satupun, keduanya pun berpisah.


Iris segera berlari pelan menghambur ke arah pelukan adik iparnya, begitu mereka berada di koridor istana.


“Kak Iris, hati-hati! Perhatikan kandungan Kakak!”


“Hehe, aku senang sekali, soalnya tadi itu kamu keren sekali!” seru Iris sambil tersenyum lebar.


“Hei, aku juga ingin peluk dia!” tiba-tiba suara Arthur muncul dari balik punggung Iris. Pemuda itu langsung menarik tangan Elona. Gadis itu tidak siap dengan keseimbangannya dan akhirnya jatuh ke dalam pelukan Arthur.


“Apaan sih, kau, Art?! Ganggu saja!” Iris berdecak sebal melihat sepupunya itu.


“Apa-apaan kau!!" tangan Elona langsung ditarik kembali oleh seseorang. Stefan yang baru saja keluar dari aula langsung menarik adiknya menjauh dari Arthur.


“Jangan buat aku naik pitam ya! Pergi sana!”


“Hei, aku sudah jadi pacarnya!” Arthur berkilah, dan hal itu membuat wajah Elona memerah seketika.


“Baru pacar, belum suami! Surat lamaran pertunangan darimu untuk Elona saja belum kuterima, sudah berani dekat-dekat. Enyah!!” Stefan semakin gusar.


“Eh, jadi kalau aku melamar Elona, akan langsung kau restui?” tanya Arthur penuh harap.


“Akan langsung kurobek!!”


“Kau ini kenapa, sih!”


“Sudah, sudah! Ini masih di area istana dan kalian malah ribut di sini! Nanti kalian diseret penjaga ke penjara, tahu rasa!” Iris akhirnya tak tahan dan melerai mereka berdua.


“Elona…” sebuah suara baru muncul lagi memanggil nama gadis itu. Tampak Louis menghampiri Elona, sebelum akhirnya meminta izin.


“Aku ingin bicara sebentar denganmu, boleh? Sebaiknya kita ke taman, bila kamu mengijinkan.” tanya Louis.


Elona menatap pada kedua kakaknya dan Arthur. Stefan menganggukkan kepalanya, “Aku akan menunggumu di sini,”


“Ada apa Louis?” tanya Elona begitu mereka berdua duduk di salah satu kursi payung parasol.


“Aku hanya ingin memastikan sekali lagi. Apa kamu juga berasal dari dunia lain, sama seperti Kiara?” tanya Louis seraya menatap mata Elona lekat-lekat.


“Iya. Aku berasal dari dunia lain. Perbedaannya dengan Kiara adalah, aku tidak terlahir di sini. Aku memasuki tubuh ini justru setelah Elona yang sebenarnya dewasa.”


“Elona yang sebenarnya… berarti, tunanganku yang dulu itu… bukan kamu?” tanya Louis lagi. Elona menggelengkan kepalanya.


“Yang dulu gemuk itu bukanlah aku, tapi Elona yang sebenarnya.”


“Lalu, sejak kapan kamu…?”


“Menurutmu, sejak kapan kalau aku bukanlah Elona tunanganmu?” tanya Elona balik. Louis sedikit menerawang mengingat-ingat kejadian lampau.


“Sejak aku membela Kiara di sekolah? Karena aku menyadari kalau semenjak hari itu, kamu mulai berubah…”


Elona menganggukkan kepala dan tersenyum lembut. “Kamu benar. Di hari itu, aku memasuki tubuh ini. Begitu aku menyadari kalau aku adalah Elona Locke si antagonis dalam cerita, aku segera memutuskan pertunangan denganmu untuk menghindari akhir cerita yang mengenaskan. Maafkan aku untuk itu,”


Elona menundukkan kepalanya sedikit.


“Tidak apa. Itu sudah berlalu.” ucap Louis. “Tapi, aku merasa, sewaktu kita berjalan-jalan di Kota Armelin, sifatmu kembali ke dirimu yang sebelumnya.”


“Ah, untuk yang satu hari itu saja, Elona yang sebenarnya memasuki tubuh ini kembali. Katanya, dia ingin membuat kenangan bersama dengan lelaki yang dia cintai untuk terakhir kalinya.” jelas Elona, membuat Louis terperangah.


“Terakhir kali itu, maksudnya…”


“Louis….” Elona mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan. “Elona yang sebenarnya sudah tiada…”


“Apa?! Jadi… yang bersamaku waktu itu… adalah benar-benar yang terakhir kalinya…?”


Elona menganggukkan kepalanya dan berkata, “Elona sebenarnya telah tiada saat aku menggantikan dirinya menjalani tubuh ini. Dan hari itu adalah yang terakhir kalinya.”


Tangis Louis pecah begitu mendengar pernyataan Elona. Pemuda itu menelungkupkan wajah dengan kedua tangannya di atas meja.


“Dan di hari itu… aku malah membuatnya sedih… bahkan di saat-saat terakhirnya, aku tetap tidak bisa membuatnya bahagia sedikit saja… yang dia inginkan hanyalah kenangan jalan-jalan bersamaku sambil tersenyum, tapi aku malah…”


“Louis sudahlah…” Elona berusaha menenangkan lelaki itu ketika dia melihat pundak pemuda itu bergetar.


“Elona sudah memaafkanmu dengan ikhlas. Dia berpesan agar kamu terus menjalani hidupmu dengan bahagia, itu saja. Justru waktu itu aku yang tidak bisa memaafkanmu sampai membiarkanmu cedera seperti itu, bukan Elona.”


“Tapi, aku yang telah membunuhnya…”


“Jangan berkata begitu! Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Semua sudah takdir, sudahlah!” Elona memeluk Louis dengan hangat, membiarkan lelaki itu menangis di pundaknya.


“Terima kasih…” Louis melepaskan pelukannya. “Aku boleh mengetahui namamu yang sebenarnya?”


“Tara. Namaku yang sebelumnya adalah Tara. Tapi, tetaplah panggil aku dengan nama Elona. Aku ingin mengenangnya. Lagipula… di antara semua orang, kita berdua yang paling mengenal dirinya,”


“Baiklah, Elona… terima kasih banyak. Seandainya kamu bisa menyampaikan maafku padanya, aku akan senang sekali.”


“Tanpa aku bisa menyampaikannya pun, Elona telah mengetahuinya, dan dia sudah memaafkanmu.”


*****


Keesokan harinya, di Penjara Aristokrat, di ibukota.


Elona memasuki sebuah gedung bercat putih yang terletak tidak begitu jauh dari pusat kota. Setelah mengatakan keperluannya di bagian resepsionis, Elona diantarkan ke ruang pertemuan antara pengunjung dan tahanan.


Sepanjang melewati koridor, Elona mengedarkan pandangan ke sekitar. Gadis itu melihat beberapa kamar sel yang ditutup dengan pintu besi putih dengan lubang sebatas mata di bagian atas. Elona juga sempat melewati sel kosong yang pintunya dibiarkan terbuka. Gadis itu melongok sebentar ke dalam ruangan, lalu dia menggerutu.


Dasar bangsawan! Gedung ini bagus sekali! Ketimbang penjara, kamarnya malah lebih besar dibanding kamar kontrakanku dulu di bumi. Memang namanya sesuai dengan kondisi di dalamnya: Penjara Aristokrat!


Di tengah gerutuannya, Elona dipersilakan memasuki ruang pertemuan. Di dalamnya terdapat jejeran jeruji besi yang membatasi antara pengunjung dengan narapidana.


Di seberang Elona saat ini, terdapat gadis yang kemarin menjadi terdakwa pelaku peledakan pabrik kedelainya di Armelin. Kiara Perez.


Kiara mengenakan dress hitam polos yang disediakan oleh pihak penjara. Gadis itu menoleh ke arah pintu, ingin mengetahui siapa yang telah mengunjunginya. Begitu dia melihat wajah Elona, Kiara langsung membuang mukanya.


“Mau apa lagi kamu kemari?”


*****


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...


...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...