Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Epilog. Pernikahan


"Aku tidak mau cuma jadi pacar saja. Kita tunangan, ya!”


“Hah?! Tunggu sebentar!” Elona melihat tangan Arthur yang membuka sebuah kotak beludru, yang di dalamnya terdapat cincin berlian buah karya desainer ternama di negeri.


“Kamu melamarku tunangan begini, memangnya sudah bilang pada Kak Stefan?” tanya Elona. Arthur menggelengkan kepalanya.


“Belum. Stefan itu urusan nanti! Kamu dulu, mau ya?”


“Kamu itu kok, tidak ada romantis-romantisnya, sih! Ini kita masih di kereta kuda, lho!” ucap Elona heran. Arthur mengibaskan tangannya.


“Waktu itu aku sudah mempersiapkan segalanya untuk jadi romantis, tapi malah kamu keburu diajak jalan oleh Louis! Aku tidak mau kehilangan kesempatan lagi!”


Mendengar hal itui, Elona tertawa terbahak-bahak. Arthur jadi sebal melihatnya.


“Jangan tertawa, jawab dulu!”


“Iya, iya, aku mau!”


“Yay!”


“Mengajak bertunangan kok pakai paksaan, sih!” gerutu Elona. Arthur hanya tertawa cengengesan.


“Biarkan, yang penting aku dapat kamu!”


“Tapi, kamu tahu kan, kalau apapun jawabanku itu, tidak akan sah kalau belum disetujui Kak Stefan selaku kepala keluarga Locke?”


Pertanyaan Elona menohok Arthur. “Begitu, ya? Sial, kenapa sampai detik terakhir, Stefan selalu jadi penghalang, sih?!”


*****


Satu tahun kemudian.


“Hey, acaranya akan dimulai sejam lagi, kenapa kamu malah belum siap begitu?”


Louis memasuki kamar persiapan Kiara. Para pelayan sibuk mondar-mandir di ruangan menyiapkan dress, perhiasan, dan peralatan make up. Sembari masih memakai balutan handuk di kepalanya, tangan Kiara masih berkutat dengan kertas linen dan pena bulu di tangan. Louis geleng-geleng kepala saat melihat kekasihnya itu masih sibuk dengan pekerjaannya.


“Tunggu sebentar, tanggung sekali kalau harus menunda sekarang. Ini sisa satu laporan ini saja!” ucap Kiara sambil terus asyik menulis.


Lousi menghela nafas tak habis pikir. “Kamu kenapa sejak bekerja dengan Elona, jadi gila kerja begini, sih?”


Tepat setahun yang lalu setelah bebas dari penjara, Kiara datang ke kediaman Locke untuk menandatangani surat-surat kontrak kerja. Mulai hari itu dan seterusnya, Kiara akan menggantikan posisi Ryndall yang selama ini berperan sebagai sekretaris sementara Elona. Padahal sebenarnya Ryndall adalah sekretaris Stefan.


Elona sama sekali belum memiliki sekretaris. Selama Ryndall menjadi sekretarisnya, pekerjaan Ryndall sebelumnya digantikan oleh Iris, yang mana membuat wanita itu cukup keteteran. Terutama setelah Iris hamil, wanita itu jadi tidak boleh kelelahan. Meskipun Iris memaksakan dirinya, namun Stefan tetap melarangnya. Akhirnya, Stefan jadi kelebihan beban kerja selama ini.


Saat merapikan sisa-sisa pekerjaannya, Kiara iseng bertanya pada Ryndall pengalamannya bekerja pada Elona.


Dan Ryndall menjawab, “Kamu harus bersiap-siap kerja keras kalau dengan Nona Elona.”


Dan inilah yang dilakukan Kiara saat ini. Gadis itu masih saja sibuk meski seharusnya dia telah bersiap-siap karena acara penting akan dimulai sejam lagi.


Kiara asyik menuliskan beberapa laporan penjualan tempe yang belum sempat direalisasikan saat peledakan itu terjadi. Setelah pabrik kedelai dibangun kembali dalam kurun waktu tiga bulan, maka bisnis kedelai Elona bisa kembali berjalan. Pabrik bisa langsung dibangun tanpa ada kendala keuangan, semuanya berkat Arthur yang memaksa Elona untuk membantu secara finansial dari keuangan keluarga Eckart.


Tetapi seperti biasa, Elona tidak mau dibantu secara cuma-cuma. Bantuan Arthur dianggapnya sebagai pinjaman. Arthur hanya bisa geleng-geleng kepala tak habis pikir memikirkan hal itu, namun dibiarkannya saja selama Elona masih mau menerima bantuannya.


Dan inilah yang Kiara juga kerjakan sekarang, menuliskan laporan pembayaran hutang pada keluarga Duke Eckart, yang mana statusnya adalah tunangan dari Elona sendiri selaku si pemilik pabrik kedelai.


Dengan dibantu oleh Kiara sebagai sekretaris barunya, maka pekerjaan Elona jadi semakin cepat. Terlebih lagi Kiara memang sudah punya pengalaman tentang kedelai meski hanya sebatas teori, tapi cukup dibandingkan dengan orang-orang lain di dunia ini. Kiara adalah kandidat yang sangat pas untuk bisa membantu Elona dalam bisnisnya.


Setelah bisnis kedelai kembali berjalan stabil, Elona dan Kiara mulai melanjutkan membuat tempe dan memasarkannya. Karena tempe ini dibuat oleh Elona untuk kalangan warga biasa yang ingin menikmati makan daging dari sayuran, maka penjualannya pun dilakukan di tempat-tempat yang lebih ramah harga bagi kalangan non bangsawan, seperti kedai dan toko-toko bahan makanan.


Di kafe pun juga dijual meskipun telah divariasikan dengan berbagai macam bumbu dan gaya memasak, seperti steak tempe. Makanan baru trrsebut sangat disukai oleh kalangan bangsawan yang hanya ingin makan sayuran, membuat Duchess Nania Eckart bisa meluaskan target pasarnya pada mereka yang vegetarian.


Selain 4 produk kedelai dasar, yaitu susu kedelai, tahu, tempe, dan kecap, Elona juga semakin melebarkan sayap dalam bisnis kedelai dengan menambah varian seperti tempe mendoan, tahu sutra, bongkrek dan sejenisnya yang bisa dibuat dari keempat produk dasar tadi.


Kedelai yang tadinya diremehkan dan hanya menjadi bahan pelengkap sup, kini menjadi makanan favorit bagi masyarakat, terutama kalangan warga biasa. Tidak ada kedai, toko, dan kafe yang para warga bisa masuki tanpa melihat merek Armelin Locke terpajang di rak-raknya. Suatu pencapaian yang luar biasa, mengingat tadinya pembuatan tempe dan tahu itu sendiri sebenarnya hanyalah usaha Elona untuk memperbaiki lahan tanah bekas tambang yang rusak di daerah Armelin.


Kiara pun juga jadi bisa mewujudkan keinginan ayahnya di bumi untuk dia bisa bekerja di pabrik kedelai, meskipun berbeda dunia saat ini. Maka dari itu, Kiara tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa bekerja dengan Elona sebaik-baiknya.


“Kiara…” panggil Louis. Namun Kiara tak mengindahkannya. Kiara duduk di meja rias sambil rambutnya dirapikan oleh para pelayan, tapi tangannya tidak lepas dari pena bulunya.


“Hmm…” jawab Kiara.


“Kiara…”


“Apa, Louis? Sebentar ya…”


“Wulandari Sudirja!”


“Kenapa kamu memanggilku dengan nama itu?”


“Soalnya kamu acuh sekali dari tadi, sih!” ucap Louis sebal.


“Iya, iya… maaf ya. Ada apa?”


Louis pun mengeluarkan sebuah kotak beludru dari dalam saku celananya. Pemuda itu membuka kotak tersebut dan terdapat sebuah cincin berkilau di sana.


“Aku tidak tahu, Louis yang ada di dalam cerita favoritmu itu melamarmu bertunangan dengan cara apa. Tapi inilah caraku. Kamu suka?”


Keharuan menyelimuti hati Kiara, dan tanpa sadar air matanya menetes di pipi.


“Suka… suka sekali… bahkan ini lebih baik dari yang ada di cerita…”


*****


Satu jam kemudian.


Kiara dan Louis turun dari kabin kereta kuda dengan tergesa-gesa. Acara yang akan mereka hadiri baru saja dimulai.


“Kamu sih, masih kerja, padahal waktunya sudah mepet!” Louis menyalahkan Kiara, membuat gadis itu sebal.


“Kamu juga, sih! Kenapa malah mengajakku bertunangan saat aku sedang berdandan!”


Mereka telah hadir di sebuah gedung pernikahan. Tampak di sekitar gedung terdapat hiasan warna merah muda dan putih sebagai warna lambang cinta kasih. Louis dan Kiara bergandengan tangan memasuki ruangan. Tampak tempat duduk para pengunjung hampir penuh semuanya. Mereka berdua berjalan ke tempat duduk paling depan yang sudah disediakan khusus.


Tak jauh dari mereka duduk, tampak David dan Mai yang saling menautkan jemarinya, bergandengan selagi duduk. Iris juga duduk paling depan, sembari menggendong bayi laki-laki mungil yang baru saja berumur 6 bulan.


Seorang pendeta berada di depan ruangan. Di sebelahnya, tampak sang duke yang baru setahun menjabat, Arthur Eckart, telah siap dengan setelan jas putih-putih, dan bunga mawar merah tersemat di bagian saku.


Pemuda itu tidak bisa berbohong kalau tangannya gemetaran saat ini, tapi hatinya sudah sangat bergembira. Kegembiraannya itu mendapat tawa kecil dari para prajuritnya yang turut hadir dan duduk di deretan kursi paling belakang.


“Tuh lihat, Tuan Muda gemetaran!”


“Hahaha! Kelihatan gugup sekali dia!”


Sang pendeta bersiap di podium dan berkata, “Mari kita panggilkan mempelai wanitanya. Lady Elona Locke!”


Pintu gedung terbuka. Dan tampaklah Elona Locke memasuki ruangan dengan begitu anggun dan cantik dengan dress putihnya serta tudung di bagian kepala. Tangan Elona menggamit Stefan yang berdiri di sebelahnya, mengantarkan adik kesayangannya menuju altar.


Semua hadirin terkesima dengan kecantikannya, tak terkecuali Arthur Eckart. Begitu dia melihat calon istrinya memasuki ruangan, di satu sisi dia ingin langsung berlari ke arah Elona dan memeluknya. Tetapi di sisi lain, dia juga ingin mengusir semua pengunjung supaya tidak berlama-lama menikmati kecantikan Elona.


Elona telah sampai di altar dan berdiri di sebelah Arthur. Sang pendeta pun memulai upacara pernikahan.


“Untuk kedua mempelai, ucapkanlah sumpah pernikahan yang akan saya katakan setelah ini,


Saya bersedia menjadi suami maupun istri yang baik, yang akan selalu menjaga pasangan saya, dari sekarang sampai selama-lamanya. Untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan.”


“Saya bersedia.” ucap Arthur. Dan diikuti tak lama oleh Elona, “Saya bersedia.”


Setelah mereka bertukar cincin, sang pendeta mulai berkata lagi.


“Sekarang, mempelai pria diijinkan untuk membuka penutup kepala mempelai wanita dan menciumnya sebagai simbol suci ikatan pernikahan.” ucap sang pendeta lagi.


Arthur membuka perlahan penutup kepala Elona, yang disambut senyuman manis dari mempelai wanitanya itu. Jantung Arthur serasa mau copot melihat gadis yang sekarang akan menjadi wanitanya itu.


“Cium! Cium!” seru Iris memberi semangat dari arah pengunjung. Para hadirin langsung mengikuti tindakannya, kecuali Stefan yang menggerutu sebal karena masih saja tidak rela melepas adiknya untuk sepupu Iris yang jahil itu.


Tetapi Stefan juga tahu kalau mereka berdua saling mencintai, jadi terpaksa pria itu melepas adiknya dengan melontarkan berbagai ancaman pada Arthur sebelumnya, untuk selalu menjaga Elona.


Arthur dan Elona saling mendekat, dan kedua bibir mereka saling menyentuh, yang diiringi oleh sorak sorai para tamu yang hadir memeriahkan pernikahan suci mereka.


Dalam sebuah ciuman yang begitu lembut, Arthur dan Elona mengikat sumpah setia mereka. Tiada lagi kesedihan yang akan dialami Elona seperti di kehidupan masa lalunya di masa mendatang. Kalaupun sesuatu yang buruk terjadi, Elona begitu yakin kalau dia akan menghadapinya dengan orang-orang tersayangnya di dunia ini.


Terutama dengan Arthur Eckart, yang mulai detik ini resmi menjadi suaminya. Dan Elona yakin, kalau prianya itu akan selalu berada di sisinya seumur hidupnya.


END


*****


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...


...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...


((Ryby: untuk karya2 berikutnya akan kupromosikan di IG @author.ryby Difollow ya gaes! Thanks))