
Sehari sebelumnya, di tepi danau Armelin.
"Jadi, sekarang aku harus apa?" tanya Arthur pada Iris. Wanita itu mengambil nafas sejenak.
"Hmm, diam saja." ucapnya. Arthur mengernyitkan dahinya.
"Diam?"
"Iya, diam saja. Cara mendekati wanita itu bukan dengan cara ditempel terus-menerus, tapi sesekali jauhi sedikit." jelas Iris.
"Untuk mendekati wanita, harus menjauh? Kata-katamu sendiri saja berlawanan begitu!" pungkas Arthur. Iris jadi sebal melihatnya.
"Hih, sudah turuti saja apa kataku! Nanti biar aku yang bekerja!"
"Iya, iya!"
******
Saat ini, di Kota Rudiyart, kediaman Eckart.
Walaupun diminta untuk diam saja, justru Arthur malah semakin gelisah dibuatnya. Berkali-kali ia hanya menghabiskan waktu di kamarnya, berguling-guling tidak jelas di kasurnya. Pemuda itu berharap sepupunya memberikan kabar sedikit saja padanya, namun harapannya itu sia-sia.
"Kok jatuh cinta itu tidak enak begini, sih! Agh!" Arthur melempar bantal tidurnya ke dinding.
"Apa ini juga, yang dirasakan para gadis itu saat mereka menyatakan cinta padaku?"
Arthur teringat terhadap wanita-wanita yang selama ini mengejar-ngejarnya. Semuanya ditolak mentah-mentah oleh pemuda tersebut. Bahkan ada yang suratnya didiamkan oleh Arthur sama sekali tanpa ada balasan apapun.
Jangankan dibalas, begitu datang, surat-surat itu langsung masuk api perapian tanpa dibuka sama sekali. Semuanya habis menjadi bahan bakar perapian di kamarnya.
"Kasihan juga aku jadinya sama mereka itu..."
Seketika Arthur merasa bersalah. Selama ini ia tidak mengerti apa itu cinta. Lelaki itu tidak pernah merasakan hati yang berdebar saat bertemu dengan orang yang disuka, tangan yang gemetar saat menulis surat untuknya, dan kegelisahan karena tidak bertemu. Arthur tidak pernah mengalami semuanya, itu sebabnya ia setega itu pada semua wanita yang mengejarnya tersebut.
Setidaknya sampai sekarang ini, akhirnya Arthur kena batunya. Saat ini lelaki itu jatuh cinta pada seorang gadis yang justru balik membuatnya merasakan apa yang dialami oleh para wanita tersebut.
Arthur memangkukan kepala dengan kedua tangannya di tepian tempat tidur dan menghela nafas. Ia mengusap-usap wajahnya dengan keras dan menggerutu.
"Elonaaa kenapa kamu berbeda sekali, sih...! Kenapa kamu tidak seperti yang lain saja! Seandainya kamu yang mengejarku seperti perempuan lainnya, aku pasti akan langsung menerimamu! Aku akan langsung melamarmu detik itu juga!"
Arthur berteriak-teriak sendiri. Tapi sedetik kemudian, ia menarik lagi kata-katanya.
"Tunggu, aku mulai menyukainya kan justru karena dia berbeda dari yang lain? Agh, pusing!"
*Brak!!*
"Tuan Muda, ada dokumen-dokumen yang harus ditandatangani!"
"David!!" Arthur terperanjat hingga loncat dari tempat tidurnya. Kedatangan sekretarisnya yang tanpa mengetuk pintu dan main masuk saja itu membuatnya kaget setengah mati.
"Bisa tidak sih, sebentar saja kau membiarkanku menikmati kegalauan membayangkan Elona?!" tanya Arthur gusar.
Tapi David tidak peduli. Ia langsung menggelengkan kepala, "Tidak bisa, Tuan. Pekerjaanmu menanti. Karena Tuan tidak juga datang ke ruang kerja, jadi saya bawakan dokumen-dokumennya kemari."
"Awas kau ya! Kupecat-"
"Memecat saya? Tidak akan bisa." David tersenyum mengejek, membuat Arthur semakin sebal.
Kemudian, David melanjutkan, "Lagipula, Nona Elona itu pekerja keras, dia pasti akan menyukai Tuan yang lebih produktif menggunakan waktunya ketimbang hanya gelisah tidak jelas seperti ini."
"Oh, begitu ya..."
Dengan satu kalimat, Arthur beranjak dari tempat tidurnya, lalu meraih semua dokumen yang ada di tangan David.
"Ayo ke ruang kerja saja." katanya, lalu langsung menuju ke arah ruang kerja dan diikuti sekretarisnya itu.
David tertawa dalam hati. Ternyata hanya dengan menyebutkan nama Elona saja, Arthur langsung bergerak. Dengan demikian, David baru saja menemukan cara pamungkas untuk bisa mengendalikan tuan mudanya yang susah diatur itu.
*****
"Kak Stefan, Kak Iris mana?" tanya Elona pada kakaknya yang berdiri di sebelahnya. Stefan ikut melihat melongok ke dalam dari halaman.
"Mungkin sebentar lagi ia siap. Pakaianmu begitu saja?" tanya Stefan yang heran melihat adiknya mengenakan pakaian rakyat biasa.
"Iya, begini saja, Kak, hehe!" jawab Elona sambil tersenyum.
Matahari sudah terbit sejak dua jam yang lalu, dan Elona telah bersiap-siap untuk mengantar kakak iparnya berjalan-jalan di kota. Ia dan Stefan sudah berdiri di halaman, di samping kereta kuda yang akan dinaiki Elona dan Iris nantinya.
Gadis itu telah mengenakan pakaian rakyat terbaiknya untuk hari ini. Ya, Elona memang tidak ingin statusnya yang seorang bangsawan terlihat menonjol di kota. Ia ingin melihat kota dan penduduknya lebih dekat dan lebih membaur dengan cara memakai pakaian yang sama dengan mereka.
Elona tidak bermaksud menyamar, lagipula wajahnya memang sudah dikenal oleh sebagian warga. Hanya saja gadis itu merasa, setiap kali ia mengenakan gaun mahalnya, para warga lebih menarik diri ketimbang saat ia memakai pakaian biasa, seolah ada jenjang status yang terlihat di antara mereka.
"Kak Iris, sudah siap?" tanya Elona begitu melihat Iris akhirnya menemuinya di halaman depan.
Iris pun berjalan menemui adik iparnya dengan pakaian serupa. Wanita itu lalu memutarkan tubuhnya yang indah dan membuat roknya seperti melayang.
"Cocok tidak?"
Sedangkan Stefan hanya tertegun. Tak sedikitpun ia memberikan komentar. Penasaran dengan pendapat suaminya, Iris pun berjalan mendekati pria itu.
"Hei, bagaimana penampilanku?" tanya Iris.
Stefan masih juga tidak menjawab, tetapi tangannya bergerak cepat. Dalam satu kali tarikan pada pinggul Iris, Stefan mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya tersebut, membuatnya kaget. Lalu Stefan berbisik, dan nafasnya menggelitik telinga Iris.
Entah apa yang dibisikkannya, hal itu membuat wajah Iris merona merah pekat. Iris menoleh ke arah suaminya terkejut, tapi Stefan hanya tersenyum. Kemudian pria itu melepaskan pelukannya, meninggalkan Iris yang masih tertegun dibuatnya.
Hal itu sangat membuat penasaran Elona, "Ada apa, sih? Kak Stefan, tadi membisiki Kak Iris soal apa?"
"Anak kecil belum boleh tahu." tandas Stefan, membuat adiknya itu sebal.
"Aku bukan anak kecil lagi!"
"Sudahlah, kalian berangkat saja sana! Nanti terlanjur siang, jalanan panas."
****
"Kak, tadi Kak Stefan berbisik tentang apa?" tanya Elona saat berada di dalam kabin bersama Iris. Ia masih saja penasaran dengan apa yang dikatakan Stefan pada Iris secara diam-diam tadi.
Wajah Iris kembali merona merah. Ia menutupinya dengan kipas di tangannya dan menjawab malu, "Hehe, urusan suami istri!"
Elona ikut tersenyun mendengarnya. "Akhirnya hubungan kalian terlihat seperti suami istri."
Iris mengernyitkan dahinya dan bertanya, "Memang yang biasanya bagaimana?"
"Seperti sepasang teman." jawab Elona dengan polosnya. "Tapi akhir-akhir ini kalian terlihat mesra sekali!"
"Hmm, justru bukannya begitu lebih baik? Berteman dulu dengan pasanganmu, jadi sahabat, lalu mencintainya."
Elona dan Iris mulai menyusuri kota dengan berjalan kaki di sekitar area pasar tradisional. Iris senang sekali dengan perhiasan, dan wanita itu membeli sederet gelang khas kerajinan Armelin yang terbuat dari kaca dan berwarna-warni. Elona teringat akan gelang-gelang khas India bila melihat kerajinan tangan tersebut.
"Jadi dulu, Kakak berteman dengan Kak Stefan?" tanya Elona melanjutkan percakapan.
"Hmm iya, tapi bukan teman dekat. Kakakmu itu terlalu sibuk dalam pekerjaannya jadi marquess termuda saat itu. Kami saling menyapa saat itu, tapi kami tidak mengobrol banyak."
"Jadi, bagaimana kalian bisa menikah?" Elona semakin penasaran.
Sudah setahun lebih Iris menjadi nyonya rumah keluarga Locke, tapi tak satupun memori diri Elona yang sebelumnya menunjukkan kalau ia mengetahui kehidupan percintaan kakaknya. Sampai seperti itu rasa minder Elona yang sebenarnya di masa lalu, hingga gadis itu benar-benar tidak mengenali apapun tentang kakak iparnya itu sama sekali.
Iris tersenyum mendengarkan pertanyaan Elona. Meski ia sekarang tahu kalau Elona yang saat ini adalah orang yang berbeda, tapi wanita itu menganggap hal itu sebagai berkah. Elona mau membuka diri padanya sekarang.
"Dulu aku lumayan sering membantu Stefan mengerjakan urusan marquessnya di perpustakaan sekolah, hahaha!"
"Lalu, Kak Stefan menyatakan cinta?"
Iris menggeleng cepat. "Tidak pernah! Dia langsung melamar dengan alasan aku teman yang mengerti dia. Setidaknya, sampai kemarin malam, hehe!"
"Teman ya..." Elona mengangguk kecil, berusaha mencerna kata-kata Iris.
"Kamu tahu, menikah itu sebenarnya mencari teman mengobrol seumur hidup." ucap Iris. Elona mengernyitkan dahinya heran.
"Mengobrol?"
"Iya. Menikahlah dengan seseorang yang bisa jadi temanmu berdiskusi tentang hal apapun, berdebat tentang segalanya denganmu. Karena nanti saat kalian menua dan sudah sama-sama tidak rupawan, di saat itulah kamu masih memiliki dia sebagai tempatmu untuk pulang, membicarakan penatnya dunia."
Elona tertegun mendengarkan kata-kata Iris. Tak pernah sekalipun terpikirkan olehnya untuk mencari teman hidup dalam arti sebenarnya, teman seumur hidup dan menikahinya. Elona tidak memiliki pengalaman percintaan yang baik. Hubungannya dengan Louis, bahkan dengan Geri di kehidupan sebelumnya, sama-sama kandas dengan cara mengenaskan.
"Jadi... kalau ingin menikah, aku harus mencari teman yang baik untukku, lalu mencintainya?" Elona menyimpulkan. Iris pun menganggukkan kepalanya.
"Bisa juga begitu. Tapi sepertinya kamu sudah bertemu dengan orang yang seperti itu."
"Siapa?" tanya Elona balik.
Iris tersenyum menggoda, "Memangnya siapa temanmu di dunia ini, yang selalu membantumu kapanpun kamu butuhkan?"
"Temanku... temanku sepertinya hanya satu, yaitu Art..."
Seketika itu juga, Elona mengerti maksud kakak iparnya. Spontan wajahnya merona merah karena malu. "Maksud Kak Iris... si Art?! Tapi aku dan dia kan cuma-"
"Aku tidak mengatakan apapun, lho... kamu sendiri yang menyimpulkan kalau dia orangnya, hohoho!"
Wajah Elona semakin merah dibuatnya. Iris pun menambahkan.
"Tidak ada yang salah dengannya, kan? Dia tampan, baik hati, selalu ada di saat kamu butuhkan, dan juga teman yang baik bagimu, benar?"
"Iya, sih... tapi..." Elona meragu. Batinnya berkecamuk. Ia pun berkata dalam hati dan tidak terdengar oleh Iris.
Tapi... aku takut jatuh cinta lagi...
*****
...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...
...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...