Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 29. Tes Pasar


"Ini... enak!"


"Iya, kan?!"


Elona tersenyum senang ketika ia melihat Art sampai membelalakkan matanya setelah meminum hanya satu sesapan. Lelaki itu tidak percaya pada jenis minuman baru yang ada di hadapannya.


"Kandungan gizi dan kalsiumnya hampir sama dengan susu sapi. Jadi, ini cocok untuk diminum orang-orang seperti Paman yang kemarin itu." jelas Elona.


"Yang tidak bisa minum susu sapi tempo hari itu?" tanya Art mengonfirmasi. Elona mengangguk.


"Kenapa?" tanya Art, membuat Elona bingung dan menatapnya.


"Kenapa apa?"


"Kenapa kamu berbuat sampai seperti ini? Kan kamu tidak mengenal Paman yang kemarin itu?"


Elona mengernyitkan dahinya heran, "Apa maksud ucapanmu? Tentu karena aku kasihan! Banyak warga tidak mendapat manfaat susu hanya karena mereka tidak mampu membelinya atau karena alergi. Aku tahu cara mengatasinya, jadi kenapa aku tidak membuatnya?!"


Art memandangi gelas yang ada di tangannya.


"Hanya karena kasihan, kamu sampai membuat sebuah penemuan baru seperti ini?" tanya Art yang hanya diucapkannya dalam hati.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?" tanya lelaki itu lagi.


"Eh, selanjutnya?"


"Iya. Kamu tidak mungkin kan membuat ini hanya untuk dirimu sendiri saja. Apa kamu mau menjualnya?"


Elona berpikir sejenak, "Aku memang akan ke arah sana, tapi... aku ingin tes pasar dulu."


*****


Satu minggu kemudian. Lahan bekas galian tambang pasir kini tak lagi terlihat seperti lahan yang tak terurus lagi. Undakan-undakan tanah telah berjejer rapi seluas 20 hektar. Di sekelilingnya dipasangi pagar kayu pendek supaya hewan-hewan kecil seperti kelinci tidak masuk untuk memakan dedaunan. Beberapa patung orang-orangan yang terbuat dari jerami dipasang di berbagai sudut supaya bisa menakuti burung-burung yang hendak memakan tanaman.


Saat ini memang belum terlihat tunas dari kacang kedelai yang para warga tanam itu, tapi mereka cukup optimis dengan segala macam ilmu pertanian yang Elona Locke bawa pada mereka. Para pekerja meyakini bahwa semua yang diajarkan oleh nona muda tersebut berasal dari sekolah di ibukota, sebuah tempat yang tidak akan pernah mereka pijaki seumur hidupnya. Mereka percaya bahwa ilmu di ibukota jauh lebih maju ketimbang di Armelin setelah melihat apa yang Elona Locke lakukan untuk mereka.


Penanaman benih kedelai telah selesai beberapa hari lalu, dan kini para pekerja hanya perlu menyirami tanahnya supaya lembab dan tunas tanamannya mendapatkan cukup air. Tak lupa pula mereka memeriksa setiap lubang tanam yang ada dan menyiangi rumput-rumput liar yang mengganggu nutrisi dari tunas kedelai tersebut.


Pekerjaan menyiram dan menyiangi tanaman ini akan berlangsung selama sebanyak 100 hari ke depan, dan hal ini tidak memakan tenaga banyak. Oleh karena itu, Elona memangkas jumlah pekerja menjadi hanya setengahnya saja. Sisa pekerja seperti para pelayan Locke, para prajurit Locke, teman-teman Art dan beberapa warga telah dipulangkan setelah diberi upah yang sesuai.


Sebenarnya Elona tidak ingin memulangkan dan membuat mereka menganggur di rumah, terutama para warga yang memang ingin beralih profesi menjadi petani. Tapi ya mau bagaimana lagi. Setelah mengetahui bahwa kakaknya bahkan tidak dapat memodali siklus panen yang kedua, Elona jadi harus pintar-pintar dalam mengelola pengeluaran untuk penggarapan lahan ini.


Terlebih lagi memang belum ada pekerjaan yang berarti sampai nanti tiba waktunya panen. Setidaknya ia sekarang bisa memangkas setengah dari upah harian para pekerja tersebut.


Elona mengedarkan pandangan ke lahan garapan yang ada di hadapannya. Ia berpikir, kalau menjual kacang kedelai mentahan saja hanya mendapatkan keuntungan 50 persen, berarti ia harus bisa menjual produk yang dapat dihasilkan dari kacang kedelai tersebut. Terutama setelah ia mengetahui kalau selama ini di dunia tempat tinggalnya sekarang, para warganya belum bisa memanfaatkan kacang kedelai lebih baik lagi.


Berarti, daripada menjual kacang kedelai mentahan, aku harus menyajikannya sebagai produk yang siap konsumsi. Ada banyak sih... tahu, kecap, tempe... tapi yang paling mudah dan cepat itu susu kedelai. Karena yang lainnya itu butuh-


"Nona Elona!"


Seorang prajurit membuyarkan lamunan gadis itu. Di belakangnya sudah terdapat sebuah gerobak sapi dengan dua drum air di atasnya.


"Drum-drum ini mau diletakkan di mana, Nona?"


"Oh! Itu... di sebelah sini saja." Elona menunjuk pada area di sebelah tempat ia berdiri saat ini. Ada sebuah bangku kayu di sana yang cukup lebar dan kokoh apabila dijadikan meja untuk alas drum-drum tersebut. Dan dengan dibantu oleh si pengemudi gerobak sapi, prajurit itu berhasil memindahkan drum-drum itu ke atas bangku.


"Semuanya! Ayo kemari, cepat!" Elona berteriak pada pekerja dan mereka pun datang menghampiri. Saat para pekerja tersebut melihat dua drum air, mereka mulai menebak.


"Apa itu, Nona? Susu lagi?"


Elona langsung tersenyum lebar. "Benar sekali! Ayo diminum. Susu kali ini sangat spesial!"


Elona melihat pria tua yang kemarin mengidap intoleransi laktosa juga ada di sana. Ia tampak enggan bahkan untuk mendekat saja ke arah gadis itu.


"Paman juga bisa minum, kok!" seru Elona saat melihat tingkah pria tua itu yang hendak melanjutkan pekerjaannya saja ketimbang minum susu.


"Tapi, aku kan tidak bisa minum susu, Nona." jawabnya. Namun Elona menggeleng.


"Kalau susu yang ini, Paman pasti bisa meminumnya!"


Elona mengambil satu gelas dari nampan, lalu membuka keran dari bagian bawah drum dan menadahnya dengan gelas itu. Sebuah cairan berwarna putih segera mengucur dari keran tersebut ke dalam gelas. Setelah dirasa cukup penuh, Elona menghampiri pria tua itu dan menyodorkan gelas susu tersebut.


"Aku berani jamin, Paman tidak akan sakit perut ataupun diare setelah ini!"


Pria tua itu menerima gelas pemberian sang nona muda penuh dengan keraguan. Cairan berwarna putih terlihat, dan ia pun mendekatkan mulut gelas ke bibirnya. Pria tua itu menahan nafas, berusaha mengantisipasi apapun yang akan terjadi setelah ini.


Glek...


Satu tegukan masuk ke dalam kerongkongannya. Pria itu mengecap rasanya di lidah. Ada rasa manis memenuhi area dalam mulutnya, tetapi ringan tidak seperti susu sapi yang berlemak pada umumnya.


Selagi tangan kanannya memegang gelas susu itu, tangan kirinya meraba perutnya berusaha merasai sesuatu. Tetapi tidak ada yang terjadi. Pria itu tidak merasakan mulas ataupun lambung yang melilit. Seperti sedang meminum air putih biasa saja.


"Ini... susu? Aku... minum susu?!" pria tua itu memandangi gelas susu di tangannya tak percaya. Lalu dengan cepat ia menenggak habis sisa susu dalam gelas.


"Enak!! Dan aku tidak sakit perut!" pria itu berseru lantang, yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari para pekerja lainnya. Rupanya mereka menantikan hasil penilaian pria itu seolah sedang menunggu hasil audisi juri uji bakat.


Yang lainnya pun langsung menyerbu gelas-gelas yang tersisa begitu mendengar penilaian tersebut, dan mengucurkan susu kedelai dari keran dua drum yang ada. Mereka meminum susu kedelai yang dibawa Elona hampir bersamaan.


"Wah, benar ya. Ringan sekali rasanya masuk ke dalam tenggorokan."


"Iya, tidak seperti susu biasa ya."


"Ini susu apa, Nona?" seorang warga bertanya. Elona hampir lupa memperkenalkan produk baru tersebut.


"Ini namanya susu kedelai." jawab gadis itu. Para warga saling melemparkan pandangan.


"Susu kedelai? Yang tempo hari Nona katakan itu?"


"Benar sekali! Sebenarnya ini saripati bubur kedelai yang sudah disaring. Rasanya ringan karena tidak mengandung lemak seperti susu sapi. Kalorinya juga lebih sedikit."


"Kalau tidak mengandung lemak, berarti..." seorang warga mengambil kesimpulan, "ini bisa untuk menguruskan badan?"


"Tepat!"


"Waahh..."


Tiba-tiba, seorang warga lainnya mengeluarkan botol minum dari dalam kantung celananya, lalu segera menghampiri drum yang masih menyisakan susu di dalamnya.


"Biar kubawakan satu botol pulang untuk istriku. Dia sedang diet sekarang." katanya sambil membuka keran drum.


Mendengar hal itu, warga yang lain jadi ikut mengeluarkan botol masing-masing tidak mau kalah. "Hey aku juga perlu untuk keluargaku di rumah! Jangan dihabiskan!"


Elona tergelak melihat tingkah para pekerjanya yang berebutan susu kedelai buatannya. Itu berarti tes pasarnya cukup berhasil kali ini.


"Apa Nona ingin menjual produk susu kedelai ini ke pasaran?" seorang warga bertanya kembali, dan hal itu membuat Elona berpikir.


"Sebenarnya iya, tapi aku ragu apakah akan laku. Tetapi kalau melihat tanggapan kalian saat ini, aku cukup optimis, sih."


"Kalau harganya bisa lebih murah dari susu sapi, pasti akan laku di kalangan warga biasa." Ryndall, yang sedari tadi hanya diam saja membantu Elona melakukan tes pasar, akhirnya ikut bicara.


"Memang pasti harganya lebih murah dari susu sapi. Tetapi selain warga biasa, aku sebenarnya juga ingin mempromosikannya ke kalangan bangsawan."


"Hmm, tapi bagaimana cara kita melakukan tes pasar untuk kalangan bangsawan?" tanya Ryndall.


"Itulah yang sedang kupikirkan, kak."


Saat Elona tengah merenung memikirkan langkah selanjutnya, sebuah suara muncul dari sebelahnya. Rupanya itu adalah Art. Dia telah menenggak habis susu kedelai dalam gelasnya dan menghampiri Elona.


"Untuk tes pasar di kalangan bangsawan, serahkan padaku."


"Eh?!"


*****


((Ryby: Untuk yg selama ini minta crazy up atau double up. Mohon maaf banget belum bisa kukabulkan. Aku cuma bisa ngetik setelah bayiku tidur. Dan aku kalo ngetik bisa makan waktu 3-5 jam karena ada risetnya (soal pertanian, produk makanan kedelai, dan soal settingan dunia middle age yang ga ada listriknya). Mohon bersabar ya kakak2 pembaca.


Ini novelnya pendek, perkiraanku sih ga nyampe 70an bab, karena aku pun juga bukan tipikal yg suka manjang-manjangin cerita kalo emang udah ga ada konfliknya. Jadi walaupun sehari 1 bab, insyaallah aku jamin kalian akan puas sampai tamat dan ga muter-muter. 🤗


Terimakasih atas segala dukungannya, aku sayang kalian banyak-banyak. Jangan lupa like dan sharenya ya. Selamat tahun baru 2022! ❣️❣️))