
Sore hari, di hall kastil kerajaan.
“Hey, lihat itu di sana. Ada Tuan Louis Vandyke!”
Segerombolan ladies saling bercanda dan tertawa di dalam hall kastil kerajaan. Para bangsawan dari berbagai kasta mulai memenuhi ruangan berlantaikan marmer putih itu. Karpet merah telah terhampar dengan ujungnya berakhir di singgasana raja yang masih tampak kosong. Para tamu saling mengobrol sebelum acara benar-benar dimulai.
Para ladies saling berbincang seraya memandangi Louis, sejak pemuda itu memasuki ruangan. Mata mereka tak lepas dari ketampanan Louis yang memukau satu ruangan ini. Pemuda itu memakai setelan jas dan celana hitam, tampak begitu serasi, meskipun tangannya sedang dikalungkan perban ke lehernya, seperti orang yang patah tulang.
“Tapi dia sedang terluka, ya?” tanya seorang lady.
“Tapi tetap tampan ya, hohoho!”
“Tapi kalau aku, sih, lebih memilih calon duke yang akan dinobatkan hari ini. Ketampanannya tidak tertandingi!”
“Mereka berdua memang sama-sama tampan, ya! Tapi yang satunya sudah punya tunangan, dan yang satunya lagi tidak jelas statusnya masih sendiri atau tidak!”
“Oh, kabarnya, Tuan Louis sudah putus pertunanganya dengan Nona Locke yang gemuk itu?”
“Benarkah?! Ah, apa aku bisa menggantikan posisinya, ya?”
“Kalian jangan asal bicara. Kabarnya, Tuan Louis sudah memiliki kekasih baru, yaitu Kiara Perez!”
“Si putri baron itu?! Ah, aku kalah cepat!”
“Dengan siapapun dia, pasti akan cocok, kecuali dengan si gemuk itu!”
“Kalau tidak salah, sudah setahun berlalu sejak kita melihat Nona Locke. Pergi kemana dia, ya?”
“Kabarnya sih, dia membuat susu kedelai di kampung halamannya di Armelin.”
“Susu kedelai yang itu?! Enak, lho, rasanya!”
Perbincangan dan gosip tentang keluarga Locke dan kedelai memang selalu menjadi topik hangat di kalangan para bangsawan. Beberapa di antara mereka sudah menawarkan kerjasama pada Stefan. Tetapi, pria itu mendelegasikan semuanya pada Elona, karena memang adiknya lah pemilik usaha tersebut.
Dua orang pengawal pintu yang tadinya saling menyilangkan tombak mereka satu sama lain, mulai menegakkan lurus senjatanya itu. Kemudian, salah seorang dari mereka berkata,
“Memasuki ruangan, Nona Elona dari keluarga Marquess Locke!!”
Elona, yang ditemani oleh seorang pengawal yang mengantarnya, memasuki ruangan dengan anggun. Tubuh sintalnya berbalut gaun perpaduan warna cokelat gelap dan putih, dengan hiasan permata di bagian renda bawahnya. Wajahnya yang cantik semakin mempesona dengan riasan untuk pesta sore itu.
Dan semua mata tertuju padanya saat ini. Yang wanita terperangah, dan yang pria memuji.
“Itu… Nona Elona Locke? Yang dulu gemuk itu??”
“Benarkah? Apa aku tidak bermimpi? Tubuhnya seindah itu sekarang??”
“Cantik…”
Para pemuda mulai mendekati Elona, ingin mengajaknya berdansa. Elona jelas tampak kebingungan. Selama dia hidup di dunia ini, yang dihadapinya adalah para warga biasa. Pengalamannya dengan para bangsawan menyisakan kenangan yang tidak menyenangkan, karena dirinya selalu dipandang jijik oleh mereka.
Melihat sekarang semua pemuda di ruangan ingin mengajaknya berdansa, Elona jadi bingung menanggapinya.
“Elona.” seseorang menghampiri gadis itu dan memanggilnya, di antara para pemuda yang ada di sekitarnya. Spontan Elona menoleh, dan mendapati Louis di sana.
“Hai, Louis!”
“Ayo, kita ngobrol di sebelah sana.” ucap Louis menunjuk dengan sebelah tangan yang tidak diperban. Elona pun mengikuti langkahnya, membuat para lelaki yang mengajaknya berdansa tadi cukup kecewa.
“Apa-apaan itu, ternyata putusnya pertunangan mereka itu hanya rumor belaka?”
“Entahlah, mereka masih dekat begitu. Sia-sia aku mendekatinya tadi!”
Para lelaki itu pun menggerutu, menciptakan gosip baru yang tidak terdengar oleh Elona dan Louis yang sudah berjalan menjauh.
Begitu mereka berdua sampai di sebelah meja yang menjejerkan banyak sekali gelas-gelas minuman, Elona berhenti dan menarik nafas lega.
“Sama-sama, aku juga melihatmu kesusahan tadi, hehehe!”
“Itu tanganmu kenapa diperban begitu? Apa semakin parah?” tanya Elona khawatir.
“Oh ini, supaya aku tidak banyak menggerakkan tanganku saja. Sebenarnya ini sudah jauh lebih baik dari kemarin. Ditambah lagi, aku juga jadi punya alasan untuk menolak para gadis yang mengajakku berdansa, kan?!”
“Heeh, licik juga kamu!” ujar Elona, membuat keduanya tergelak bersama.
“Lupakan soal perban di tanganku. Kenapa kamu ada di sini?” tanya Louis tiba-tiba.
“Oh, aku menggantikan kakakku. Kak Stefan masih ada di Armelin untuk menyelidiki kasus pabrikku itu. Sepertinya dia tidak tahu kalau dapat surat undangan dari raja. Jadi, aku bermaksud menggantikannya.” jelas Elona.
Louis mengernyitkan dahinya. “Jadi… kamu kemari bukan karena kamu mengenal siapa yang akan dinobatkan jadi duke yang baru?”
Elona menatap Louis dengan bingung. “Tidak. Aku tidak tahu sama sekali. Aku hanya membca surat undangan itu, dan langsung pergi kemari.”
Mendengar pernyataan Elona, Louis membelalakkan matanya. “Jadi, kamu belum tahu apapun??”
“Hah? Tahu soal apa, sih?” Elona malah semakin penasaran.
Seketika itu juga, dengan sebelah tangan, Louis menarik tangan Elona, mengajaknya keluar dari ruangan.
“Louis! Ada apa?! Kenapa malah mengajakku keluar?!!” Elona bertanya seraya berusaha melepaskan genggaman tangan Louis, tapi lelaki itu mencengkeram tangannya dengan kuat meski hanya sebelah tangan.
“Kamu tidak boleh ada di sini!” seru Louis, membuat Elona semakin heran.
“Tapi kenapa??”
“Itu karena-“
“Memasuki ruangan, Raja Valcke Willem Henderson Lightz III, pemimpin Kerajaan Lightz! Seluruh tamu undangan diharap memberikan penghormatan!”
Suara Louis terpotong dengan teriakan pengawal yang membuka pintu. Raja Valcke, pemimpin dari negeri kerajaan ini memasuki ruangan, dan semua hadirin menundukkan kepala sebagai penghormatan, hingga raja tiba di singgasananya.
“Salam semuanya. Angkatlah kepala kalian.”
Raja Valcke pun memberi titah dan semua hadirin mengangkat kepalanya, tak terkecuali Louis dan Elona.
“Hari ini sangatlah spesial, karena salah satu sahabat kebanggaanku, yang juga seorang duke, yaitu Ron Eckart, akhirnya memutuskan untuk mewarisi jabatannya kepada putranya. Akhirnya dia menyadari kalau usianya sudah menua.”
Raja Valcke memberi pembukaan yang membuat semua hadirin tertawa, termasuk Ron Eckart yang berdiri tak jauh sari singgasana sang raja. Dan hal itu membuat Elona tertegun.
Putra? Tuan Ron dan Nyonya Nania memiliki seorang putra? Kenapa selama ini aku tidak tahu? Kenapa setiap kali aku berkunjung ke rumah Eckart untuk urusan bisnis, aku tidak pernah bertemu dengan putra mereka?
“Kalau begitu, langsung saja tak perlu berlama-lama. Pengawal, panggilkan calon duke terbaru kita.”
Begitu mendengar titah sang raja, sang pengawal menyiapkan suaranya kembali.
“Memasuki ruangan, calon duke yang akan dinobatkan hari ini, Tuan Arthur dari keluarga Duke Eckart!!”
Musik pun menggema begitu sambutan selesai diucapkan sang pengawal. Kedua daun pintu terbuka, dan seseorang masuk dari arah sana. Seseorang yang memakai setelah jas putih dan celana putih. Berbagai macam emblem kerajaan tersemat di bagian dada. Tubuhnya yang tegap dan wajahnya yang rupawan membuat para ladies terpana di tempat.
Seseorang memasuki ruangan dengan gagahnya. Seseorang dengan rambut emasnya yang selama ini Elona kenal. Kini sosok tersebut membuat satu ruangan terkesima saat ia berjalan menghadap raja yang duduk di singgasana.
"Art…?”
*****
...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...
...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...