
"Nyonya Iris, ada surat lagi."
"Ya ampun, dari siapa lagi, sih?" Iris gusar ketika bolak-balik seorang pelayan mengantarkan surat ke ruang kerja kediaman Locke di ibukota.
Saat ini, Iris Locke sang nyonya rumah sedang duduk mengerjakan laporan keuangan keluarga di kursi yang biasanya diduduki oleh Ryndall, sekretaris suaminya. Selama sang sekretaris berada di Armelin untuk membantu Elona, Iris lah yang menggantikan posisinya untuk membantu suaminya, Stefan, bekerja.
"Dari siapa?" tanya Stefan yang sedang berada di meja kerjanya, berseberangan dengan meja Iris. Istrinya itu menerima surat dari pelayan dan membuka segelnya.
"Surat lamaran lagi untuk Elona. Dari... Count Ruanda." jawab Iris sambil membaca isi surat. Stefan terdengar mendengus kesal.
"Yang putranya playboy itu? Tolak saja!"
"Iya, iya... sebentar, aku akan baca surat yang lainnya." Iris berkata, lalu mengambil tumpukan surat di ujung mejanya. Semuanya surat lamaran untuk Elona yang belum sempat dibukanya.
Sejak berita tentang putusnya pertunangan Elona menyebar di surat kabar, berbondong-bondong surat lamaran berdatangan pada Stefan dan Iris. Hal ini membuat Stefan akhir-akhir ini terlihat kesal. Berbagai lamaran untuk adiknya datang justru dari orang-orang yang menurutnya tak sepantaran dengan Elona.
Ada yang datang dari seorang baron tua yang sudah menginjak usia dua kali dari usia Elona. Ada juga yang datang dari seorang duda beranak satu. Ada pula yang datang dari seorang pemuda manja anak mama yang tidak juga kunjung menikah. Sekarang malah dari seorang playboy.
Tak ada satupun lamaran yang berasal dari seseorang seperti Louis Vandyke yang tampan, cerdas, memiliki riwayat baik, berlatar belakang keluarga baik dan belum menikah. Dan hal inilah yang membuat Stefan geram.
"Beraninya orang-orang semacam itu melamar adikku!!" Stefan berteriak marah-marah. Iris hanya bisa menutupi telinganya.
"Mau bagaimana lagi? Semua orang mengetahui kalau Elona itu... yah seperti yang kamu tahu sendiri: gemuk, tidak cantik, dan tidak bergaul. Mereka tidak mengenal Elona yang sudah berubah." Iris berusaha menenangkan suaminya. Stefan malah menggebrak mejanya.
"Kalau saja mereka semua tahu otak Elona itu cerdas, pasti semua jenis lamaran akan datang padanya!"
Iris hanya bisa tersenyum memaklumi. Wanita itu tidak menyangka juga kalau ternyata Stefan bisa sesayang ini pada adiknya, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ditunjukkan.
Iris mengambil sebuah surat lagi dari tumpukan. Surat yang ini sedikit berbeda. Terkesan lebih mewah dan tebal. Stempel yang tertera di segelnya seperti Iris kenal, tapi dia lupa. Lalu, wanita itu membuka surat tersebut perlahan.
Dari... Arthur Eckart...?
Mau apa Arthur mengirim surat kemari?
"Dari siapa?" Stefan bertanya ketika istrinya ternyata membuka sebuah surat lagi.
"Umm... dari Arthur."
"Arthur sepupu jauhmu itu? Yang nakal itu?" Stefan mengernyitkan dahinya. Iris hanya mengangguk.
Arthur Eckart adalah sepupu jauh Iris dari pihak ibunya. Seperti yang dikatakan Stefan, Arthur memang terkenal nakal di kalangan keluarga besar mereka. Sejak kecil sepupunya itu suka mengerjai orang-orang sekitar. Tak terkecuali pada Stefan sewaktu dia dan Iris masih bertunangan dulu.
Kulit Stefan pernah gatal-gatal karena jasnya ditaburi bubuk gatal oleh Arthur, dulu saat Stefan berkunjung ke rumah Iris dan kebetulan Arthur juga sedang berada di sana. Hal itu tidak akan pernah dilupakan oleh Stefan, karena ia harus pergi menghadap raja setelahnya dan menahan malu karena menggaruk-garuk badannya sepanjang jalan.
"Mau apa anak nakal itu mengirim surat kemari?! Jangan bilang kalau dia juga mau melamar Elona!" Stefan kembali marah-marah. Iris cepat-cepat menenangkannya.
"Bukan, ini err... surat untukku, menanyakan tentang seorang saudara." jawab Iris.
Stefan mendelik pada istrinya itu, lalu menghela nafas keras. "Hahh! Baguslah. Lebih baik kujodohkan Elona dengan si pemuda anak mama itu ketimbang dengannya!"
"Hehe... iya." Iris menjawab singkat. Lalu cepat-cepat ia membaca surat dari sepupunya, Arthur, tersebut.
Di sana tertulis kalau Arthur memang bukan berniat melamar Elona. Jadi Iris tidak bisa dikatakan berbohong pada Stefan. Iris hanya tidak mengatakan yang sebenarnya kalau Arthur memang bukan melamar, tapi menanyakan banyak hal tentang Elona di kertas itu.
Di dalam suratnya, Arthur tidak mengatakan dengan jelas darimana ia mengenal Elona. Pemuda itu kebanyakan bertanya tentang apa yang disukai oleh Elona, makanan favorite gadis itu, apa yang sering dilakukan oleh Elona di rumahnya kalau senggang, baju warna apa yang Elona sukai dan semua hal-hal mengenai yang Elona lakukan.
Kenapa dengan Arthur?
Iris bertanya dalam hatinya penasaran. Namun pertanyaan itu langsung terjawab, ketika di bagian akhir surat, Arthur menanyakan kepastian hubungan antara Elona dengan Louis Vandyke.
"Apa benar pertunangan Elona dan si Vandyke itu sudah berakhir?"
Kenapa Arthur menanyakan hal ini...
Oh! Ya ya ya... hihi aku mengerti. Dasar!
Iris yang sangat peka mengenai hal-hal semacam ini. Stefan melihat istrinya tersenyum-senyum sendiri.
"Kenapa kamu?"
"Ah, tidak ada apa-apa. Ini Arthur mengatakan sesuatu yang lucu."
"Oh..." sahut Stefan singkat tidak begitu peduli.
Iris segera mengambil pena bulu di sisi kanan meja dan secarik kertas linen. Wanita itu bersiap menulis balasan untuk sepupunya yang nakal itu.
*****
Dan hal ini mengundang rasa bosan dalam diri Arthur Eckart selama tiga pekan terkahir.
Arthur kembali pada kegiatannya sebelumnya. Ia tidur hingga menjelang siang hari, lalu membantu mengerjakan pekerjaan ayahnya sebagai duke, dan di sore hari berburu ke hutan. Ya, seharusnya seperti itu, kecuali untuk kegiatan yang sore hari.
Arthur memang pergi berburu, tapi tak ada satupun hewan yang berhasil ditangkapnya. Pikirannya kebanyakan melayang dan hanya berjalan-jalan saja di atas kudanya di tengah hutan. Ia seperti kehilangan sesuatu yang dia tidak tahu apa itu.
Tetapi sesuatu itu terbayarkan apabila di sore hari ia mengunjungi danau kecil di seberang hutan, dan melihat Elona sedang berlari-lari kecil dalam olahraga sorenya di tepian danau. Ada perasaan menyeruak dari dalam tubuhnya yang mengharuskan ia untuk melihat gadis itu meski hanya sebentar saja. Meskipun saat bertemu pun ia tidak tahu harus bicara apa.
Dan seluruh pelayan dan prajurit kediaman Eckart mengetahui perasaan macam apa yang dirasakan tuan mudanya itu, kecuali dirinya sendiri. Mereka hanya tertawa-tawa geli dan terharu bila sudah membicarakan tingkah majikannya tersebut sembari bekerja.
Dan inilah dia si majikan yang digosipkan, sedang memangkukan kepalanya di atas meja kerja dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain memegang pena bulu. Seharusnya ia sudah menandatangani beberapa dokumen yang diberikan oleh sekretarisnya, tapi malah ia hanya mencoret-coret kertas di hadapannya.
"Tuan Arthur," sekretarisnya yang bernama David memanggil. Arthur mendongakkan kepala.
"Apa?"
"Nama anda Arthur Eckart, kan?"
Arthur mengernyitkan dahinya heran, "Apa maksudmu? Kau pikir aku lupa namaku siapa?!"
"Sepertinya begitu," jawab David dengan muka datar, "Karena yang Tuan tuliskan di bagian tanda tangan dokumen itu bukan nama Tuan Arthur sendiri, melainkan 'Elona'"
"Hah?!!"
Dengan cepat Arthur melihat bagian tanda tangan sebuah dokumen penting, dan bukannya namanya yang ia tulis di sana, tetapi malah nama Elona.
David menghela nafas panjang begitu tuannya itu menyadari kesalahannya. Ia mengulurkan tangan, "Biar saya ganti dengan kertas yang baru."
Arthur menyerahkan dokumen tersebut dengan cepat, lalu ia kembali melamun. David hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Ia memikirkan bagaimana pekerjaannya bisa cepat selesai, kalau pikiran majikannya saja bahkan tidak ada pada pekerjaannya.
"Kalau Tuan merindukan Nona Elona, kenapa tidak menemuinya saja nanti saat sore hari di danau?" tanya David.
Arthur menggelengkan kepalanya dan mengelak. "Rindu? Aku tidak rindu!!"
"Ya ya ya..." sahut David tidak peduli. Dirinya memang tidak peduli apakah tuan mudanya itu nanti akan marah dengan sikap dinginnya atau tidak, karena yang mempekerjakannya adalah si tuan besar Ron Eckart, bukan anaknya.
Arthur kesal melihat sikap David menanggapinya, tapi ia tidak bisa sembarang memecatnya, atau ayahnya akan marah dan pekerjaannya terbengkalai.
Arthur menghela nafas keras, "Lagipula, Elona hanya berolahraga selama lima belas menit di tepi danau, dan itu tidak cukup!!"
Tok! Tok!
Pintu ruang kerja diketuk pelayan, dan Arthur membiarkannya masuk.
"Ada surat, Tuan. Dari Nyonya Iris Locke."
"Dari Iris? Kemarikan cepat!"
Arthur membuka buru-buru surat dari sepupu jauhnya itu. Pelan-pelan ia membaca kalimat per kalimat, berharap Iris mau menjawab semua pertanyaannya yang ia tuliskan di suratnya sebelumnya.
Dan memang Iris menjawab semua pertanyaannya dengan singkat. Lalu sepupunya itu menuliskan berbagai pertanyaan padanya kembali.
"Mau apa kamu tanya-tanya soal Elona? Tahu darimana kamu tentang dia? Jangan macam-macam ya, Stefan tidak akan mengijinkanmu mendekati adiknya. Suamiku itu masih dendam dengan kelakuan nakalmu soal bubuk gatal dulu itu."
Arthur membaca surat tersebut dalam hati dan mendecakkan lidah, "Aku tidak peduli dengan Stefan!"
Lalu di bagian akhir surat tertulis Arthur membacanya lagi dalam hati.
"Soal hubungan Elona dengan Louis Vandyke, apa kamu tidak membaca surat kabar? Terpampang jelas di sana tentang beritanya."
"Apa? Surat kabar?" Arthur keheranan, lalu menoleh pada David. "Apa kau menyimpan surat kabar terakhir?"
David mengeluarkan surat kabar dari dalam laci mejanya dan memberikan pada tuannya itu. Arthur pun menyambarnya dengan cepat dan membacanya.
"Elona Locke dan Louis Vandyke telah mengakhiri pertunangannya... hah!! David! Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku soal berita ini?!!"
"Karena Tuan tidak pernah tertarik untuk membaca surat kabar," jawab David melengos. Arthur memang tidak pernah tertarik membaca surat kabar yang isinya kebanyakan tentang gosip dan rumor antar bangsawan. Tetapi yang kali ini, tentu saja pengecualian baginya.
"Lain kali kalau ada berita tentang keluarga Locke, terutama Elona, beritahu aku dengan cepat!" perintah Arthur pada sekretarisnya. David hanya menghela nafas.
"Katanya tidak rindu... tapi dicari-cari."
"Berisik!!"
*****