
Pagi hari, di ibukota.
"Nona Kiara, makanlah, sudah seharian kemarin tidak ada satupun yang masuk ke perut anda, Nona!"
Seorang pelayan terdengar mengetuk dan memanggil nama nona majikannya, sembari membawakan seporsi makanan dan segelas susu di nampan. Namun, tak ada tanggapan sama sekali dari dalam ruangan tersebut.
"Nona, buka pintunya!"
"Ada apa ini?"
Seorang wanita berjalan menghampiri sang pelayan yang ada di depan pintu.
"Ah, Nyonya Penny, begini... Nona Kiara tidak mau keluar dari kamarnya sejak kemarin..."
"Apa?! Sedikitpun?"
Pelayan itu pun menceritakan situasinya. Wanita itu tampak terkejut setelahnya, dan kemudian berganti dia yang mengetuk pintu sekarang.
"Kiara, ini Mama! Buka pintunya, Sayang. Kalau ada masalah, ayo cerita sama Mama, ya?"
Lagi-lagi, keheningan yang menjawab.
"Kiara... kamu kenapa seperti ini..." Penny berkata dengan nada sendu.
"Dari dulu, kalau kamu ada masalah, kamu pasti tidak mau cerita ke Mama. Kamu hanya cerita bagian yang senang-senangnya saja. Kamu tidak pernah mau terlihat sedih di depanku... Apa kamu tidak percaya pada Mama..."
Sesaat kemudian, tiba-tiba pintu tersebut terbuka, dan menampilkan seorang gadis dengan mata sembab dan bengkak, serta rambut biru terang yang acak-acakan. Wajahnya layu seperti tidak ada harapan untuk hidup.
"Ya ampun, Kiara!" Penny berteriak histeris. "Kamu kenapa? Apa yang terjadi?!!"
Pertanyaan tersebut hanya disambut oleh tatapan kosong Kiara. Ibunya pun menarik tangannya masuk ke dalam kamar. Si pelayan juga ikut membawa masuk nampan berisi makanan tersebut, dan kembali pergi setelah menutup pintu, meninggalkan Penny dan Kiara di dalam ruangan tersebut.
Penny mengajak putrinya untuk duduk di tepian tempat tidur, lalu ia membelai kepala Kiara dan merapikan rambutnya dengan tangan.
"Ada apa, Sayang? Mau cerita sama Mama?"
Masih dengan kepala yang tertunduk, Kiara mulai membuka suara perlahan. Ada serak yang menyertai ucapannya. Suaranya seakan habis karena terlalu lama menangis.
"Semuanya... sudah selesai... Ma... Sia-sia..."
Penny mengernyitkan dahinya tak mengerti. "Apa? Apa yang sudah selesai? Apa yang sia-sia?"
"Semuanya, Ma... Ceritaku... sudah selesai... semuanya... keluar dari plot yang seharusnya..."
Air mata kembali menetes di pipi gadis itu. Suara isakan terdengar dari bibirnya yang pucat. Penny menyentuh pundak putrinya dengan kedua tangannya, berusaha membuat Kiara menatap matanya.
"Ceritakan dari awal, ya, supaya Mama bisa mengerti kesusahanmu..."
Kiara menatap mata ibunya lekat-lekat, lalu ia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya supaya lebih tenang.
"Mama mungkin tidak akan percaya apa yang akan kukatakan setelah ini..."
"Tentang apa?"
"Tentang diriku, Ma... Aku terlahir kembali di dunia ini... dengan membawa ingatan dari duniaku yang sebelumnya..."
Kiara pun menjelaskan segalanya pada wanita yang telah menjadi ibu kandungnya di dunia ini. Satu persatu ia ceritakan perlahan, mulai dari kehidupannya di dunia yang sebelumnya, siksaan dari ibu dan saudari tirinya, ibu kandung yang meninggal dunia, tentang cerita webtoon yang dia sukai, tentang ia yang dijual oleh saudarinya. Dan pada akhirnya, tentang kelahirannya kembali di dunia ini sebagai putri dari Baron Perez.
Penny menutup mulutnya dengan satu tangan, saking terperangahnya tidak percaya. Begitu Kiara mengakhiri cerita, Penny langsung memeluk erat putri semata wayangnya. Air matanya langsung menetes ke atas pundak Kiara.
"Maaf, maafkan Mama! Kamu mengalami semua hal itu di duniamu yang sebelumnya, pasti berat sekali bagimu. Maafkan Mama yang tidak peka!"
"Aku juga minta maaf, Ma..." Kiara berkata sambil terus terisak,
"Aku tidak bercerita tentang masalahku, bukan karena aku tidak percaya pada Mama... Aku hanya tidak ingin membebanimu... Aku tidak ingin Mama sakit dan meninggalkanku... seperti yang terjadi pada Mamaku di duniaku yang dulu..."
Penny melepaskan pelukannya. Wanita itu menghapus air mata di pipinya dan berkata dengan pasti, "Itu tidak akan terjadi! Lihat, Mama sekarang sehat, kan?! Kalau kamu masih khawatir juga, baiklah, mulai sekarang Mama akan rajin berolahraga dan makan sehat, supaya tidak sakit-sakitan, ya! Supaya Mama bisa selalu menemani kamu!"
"Benarkah...?"
"Tentu! Jadi, jangan sedih lagi, ya!" Penny tersenyum ceria, membuat putrinya itu juga ikut tersenyum. Keceriaan dalam senyuman Penny mengingatkan Kiara akan mendiang ibunya di bumi sebelum beliau jatuh sakit karena kanker.
"Lalu, soal Louis Vandyke. Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Penny, disambut dengan gelengan lemah dari putri tunggalnya itu.
"Aku tidak tahu... Apa aku salah selama ini, ya, Ma? Aku telah membuat pertunangan Louis dan Elona berakhir... tapi alur ceritanya memang seperti itu... dan hubungan mereka memang sudah buruk dari dulu..."
"Apa, Ma?"
"Jawablah dengan jujur. Apa kamu hanya menganggap Louis sebagai lawan mainmu saja dalam cerita, atau kamu sungguh melihatnya sebagai seorang laki-laki dan mencintainya?"
Penny bertanya mengenai perasaan Kiara pada Louis. Gadis itu sebenarnya telah mengetahui jawabannya sejak lama.
"Aku sungguh mencintai Louis, Ma. Bukan sebagai karakter cerita, melainkan sebagai seorang laki-laki. Tadinya aku pikir aku tidak akan pernah punya perasaan lebih padanya, tapi... semakin hari aku semakin merasa kalau aku tidak bisa jauh darinya..." jawab Kiara, seraya menghapus sisa-sisa air mata di pipinya.
"Jadi, aku harus bagaimana, Ma?" tanya gadis itu lagi.
Penny tersenyum dengan lembut dan berkata, "Kalau begitu, mudah saja. Jangan ikuti alur ceritanya."
"Maksud Mama?"
"Ini dunia yang sebenarnya, bukan lagi cerita yang tadi kamu bilang. Dan kamu juga sudah sejak lama mencintai Louis karena dirinya, bukan karena dia protagonis pria. Semua sudah keluar dari plot cerita sejak saat itu, Kiara!"
"Jadi..."
Penny menunjuk ke arah dada Kiara. "Ikuti kata hatimu. Apa yang kamu mau sebenarnya? Kamu akan menyerah, atau diam saja dan menunggu jawaban dari Louis? Atau kamu akan mengejarnya? Keputusannya ada di tanganmu sekarang."
Kiara tampak tertegun setelah mendengar jawaban ibunya. Gadis itu pun berpikir sejenak, lalu tiba-tiba beranjak bangkit dari sisi tempat tidur.
"Aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang, Ma. Aku akan bersiap-siap!"
*****
Sementara itu, pagi hari di Kota Armelin.
"Nona, kuda Anda sudah siap."
Seorang pelayan di kediaman Locke sedang menarik sebuah tali kekang yang dipasangkan pada seekor kuda dan membawanya ke hadapan Elona Locke. Hari ini, rencana mencari daun waru dengan kapang akan dilaksanakan, setelah dua hari lalu didiskusikan dengan Art.
Sehari sebelumnya, Elona telah berlatih seharian penuh menaiki kuda. Baik dalam ingatannya sebagai Elona maupun sebagai Tara, gadis itu sama sekali tak pernah menyentuh seekor kuda sungguhan. Selama ini ia berpergian kemana-mana di dunia fantasi tersebut menaiki kereta kuda berkabin. Baru kali ini ia harus duduk di pelana kudanya langsung.
Elona menjejakkan kakinya pada pijakan dan dengan hati-hati menaiki kuda tersebut. Gadis itu tampak masih belum mahir mengendalikan kudanya, tapi memang sudah jauh lebih baik dari yang kemarin.
"Nona, anda tidak apa-apa?" tanya Sir William cemas. Ia dan satu orang prajurit wanita bernama Mary akan mengawal nona mudanya itu untuk menelusuri hutan.
Elona tersenyum berusaha untuk menenangkan para pengawalnya itu, "Aku tidak apa-apa. Tenang saja."
Tak lama, rombongan Art dan teman-temannya sejumlah 4 orang pun datang menghampiri Elona di kediaman Locke. Kali ini Art terlihat berbeda. Yang biasanya hanya memakai tunik biasa, kali ini dilengkapi dengan pelat baja di bagian dada dan sebilah pedang tersampir di bagian punggungnya. Teman-teman yang dibawanya pun berpakaian serupa.
"Elona!" Art memanggil. Gadis itu pun menoleh, "Hai!"
Begitu para prajurit Locke melihat Art, mereka secara refleks langsung memberikan gestur hormat.
"Ah, salam hormat Tuan Art-"
"Shhh!!" Art dan teman-temannya langsung mencegah dan memberi kode isyarat.
"Eh, apa? 'Tuan'?" tanya Elona tak mengerti. Sepengetahuan gadis itu, hanya yang bergelar bangsawan yang biasanya dipanggil tuan oleh seornag prajurit.
"Ah, maaf Nona, saya salah bicara." jawab Sir William berusaha untuk tetap terlihat berwibawa. Kesatria tersebut tampak memandangi teman-teman Art satu persatu. Ia jelas tahu kalau mereka semua sebenarnya adalah prajurit Eckart.
Dan mereka yang dipandangi pun merasa sedikit canggung juga terhadap Sir William. Pria tua itu adalah mentor mereka terdahulu di akademi keprajuritan. Sedangkan Mary juga adalah lulusan terbaik di akademi, dan kelihaiannya dalam bermain pedang telah mengungguli banyak prajurit laki-laki dalam berbagai kontes. Elona mungkin hanya membawa dua orang prajurit saja untuk mengawalnya hari ini, tapi kekuatan dan ketangguhan Sir William dan Mary dalam bertarung sama saja dengan membawa dua puluh orang prajurit Eckart.
"Sudah ada Senior William dan Mary, sepertinya kita tidak terlalu dibutuhkan..." bisik seorang prajurit Eckart.
"Sudah, ikut saja dulu. Nanti dihukum Tuan Arthur push up 100 kali, tahu rasa kau!" balas yang lain.
"Ehem!!" Art berdeham, membuyarkan bisik-bisik para prajuritnya yang sedang menyamar menjadi teman-temannya saat ini.
"Kamu sudah siap? Kita berangkat sekarang?" tanya Art pada Elona memastikan, seraya memperhatikan kondisi kuda yang dinaiki gadis itu.
Elona pun mengangguk dan berkata, "Iya, aku sudah siap. Ayo!"
*****
...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...
...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...