
Satu minggu sebelumnya, di Kota Rudiyart.
"Oh, Dewa!! Arthur!! Kamu kenapa, Nak??"
Duchess Nania berteriak histeris kala mendapati tubuh putranya bersimbah darah. Pakaiannya sobek di sana-sini, dan goresan serta sayatan luka juga terlihat.
Sudah setahun lamanya, Nania tidak melihat putra satu-satunya bersimbah darah seperti itu. Wanita itu bersyukur dengan kehadiran Elona Locke dalam hidup Arthur, yang bisa mengubah sifat dan kelakuan anaknya.
Tetapi sore ini, Arthur seperti kembali ke dirinya sebelumnya, yang suka berburu dengan beringas. Yang berbeda hanyalah, terpancar kesedihan mendalam dari matanya.
Arthur dengan gontai berjalan ke arah tangga dan terduduk di anakan terbawah. Lelaki itu langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Nania yang berada di anakan tangga teratas langsung turun dan menghampirinya. Tampak dari dekat, punggung putranya yang bergetar seperti sedang menangis.
Sang ibu langsung duduk di sebelah Arthur dan mengusap pundaknya. "Art... ada apa?" tanyanya hati-hati.
"Aku sudah bersalah sama Elona, Bu... Aku tidak pantas untuknya..." suara isakan yang tertahan menyahut dari bibir putranya. Ia masih saja menelungkupkan wajahnya diantara kedua tangan dan lutut.
"Bersalah bagaimana? Apa dia sedang marah padamu? Kalian bertengkar?" tanya Nania lanjut.
"Iya, Bu... Tapi dia tidak melakukan apapun padaku, justru aku yang marah-marah padanya..." jelas Arthur.
Nania tersenyum mendengarnya. Wanita itu tak menyangka putranya yang selalu nakal dan brutal terhadap hewan buruannya itu, ternyata bisa tunduk pada seorang gadis. Nania pun mengelus kepala Arthur yang memiliki warna rambut emas sama seperti dirinya.
"Ibu tidak tahu apa yang terjadi pada kalian, tapi kalau kamu merasa bersalah padanya, minta maaflah. Elona anak yang baik, pasti dia akan memaafkanmu."
"Tidak semudah itu, Bu... Kali ini kesalahanku terlalu besar. Aku sudah menyakiti hatinya tanpa tahu kesengsaraan yang dia alami. Aku sudah egois, Bu... Aku tidak pantas lagi untuknya..."
"Ada apa ini?" sebuah suara memasuki ruangan. Ron Eckart baru saja pulang dari pertemuannya dengan para kolega bisnis, ketika ia mendapati istri dan putranya sedang duduk-duduk di anak tangga.
"Ayah..."
Arthur mengangkat wajahnya. Mata yang merah dan sembab tidak bisa ia sembunyikan. Ron yang melihat tampang putranya seperti itu langsung berjalan mendekat.
"Eh, ada apa? Apa yang terjadi? Nania, ada apa ini?"
Ditanya begitu oleh suaminya, Nania hanya bisa mengangkat bahu dan menggelengkan kepala pertanda tidak tahu.
Arthur menatap wajah ayahnya dengan serius dan bertanya, "Ayah, apa aku bisa dinobatkan menjadi duke, tanpa harus memiliki tunangan terlebih dahulu?"
"Apa? Arthur, tapi kenapa?! Perjuangkan dulu Elona! Jangan menyerah begitu!" Nania berteriak tidak terima, tapi Arthur tidak mendengarkannya. Ia hanya menanti jawaban dari ayahnya saja.
"Bisa. Tapi nanti urusan manajemen rumah tangga dan keluarga akan menjadi beban bagimu bila tidak ada seorang istri. Ditambah lagi, para gadis lain yang selama ini kamu anggap sebagai pengganggu, akan semakin mendekatimu. Apa kamu sanggup?"
Ron bertanya ragu, tapi dijawab anggukan kepala oleh putranya itu. "Aku siap, Ayah. Ayo kita langsung adakan penobatan saja di ibukota."
Dan hal itu membuat Nania semakin terkejut. "Arthur, pikirkan sekali lagi! Kalau kamu tidak mengejar Elona kembali dari sekarang, selamanya kamu tidak akan bisa kembali padanya!"
"Sudahlah, Bu..." Arthur beranjak dari duduknya dan melangkah gontai ke lantai atas seraya melanjutkan, "Elona masih bisa mendapatkan lelaki yang lebih pantas daripada aku..."
"Memangnya siapa lagi lelaki yang lebih pantas daripada kamu?! Kamu itu seorang putra duke! Keluarga duke yang lain putranya sudah punya pasangan semua, tidak seperti kamu! Arthur!!"
Namun, teriakan Nania hanya dianggap sebagai angin lalu, membuat wanita itu semakin gemas akan tingkah putranya.
"Hih, dasar anak itu! Giliran berburu saja dia tidak mau kalah, tapi kalau soal perempuan kenapa dia jadi lembek begitu! Hih aku yang jadi sebal rasanya!" ucap Nania marah-marah.
"Sudahlah, dia sudah dewasa. Biarkan dia bertanggung jawab sama pilihannya sendiri!" Ron berkata berusaha menenangkan istrinya, namun malah mendapat lirikan amarah.
"Tidak bisa begitu! Aku ingin Elona yang jadi menantuku, bukan yang lain! Kamu sama putramu si Arthur itu sama saja!!"
"Lho, kok jadi aku yang salah?"
Nania pun melenggang masuk ke dalam kamar, meninggalkan Ron yang kebingungan sendirian.
*****
Saat ini, di hall istana kerajaan, di ibukota.
"Kepada Tuan Arthur Eckart, dipersilakan untuk maju ke depan singgasana." seorang sekretaris Raja Valcke meminta Arthur untuk mendekat ke arah raja.
Begitu sampai di pelataran, Arthur langsung diselimuti oleh mantel bulu tebal, yang menyimbolkan keagungan dan kesucian. Di Kerajaan Lightz, yang mendapat penobatan jabatan seperti ini hanyalah dari pangkat Duke dan Raja. Begitu terhormatnya acara ini, hingga seluruh bangsawan ingin turut hadir dalam sesinya.
Sang pendeta grand magus pun turut hadir dalam memberikan ucapan berkah dan perapalan doa suci. Setelah meneteskan ubun-ubun kepala Arthur dengan air suci, kedua tangan sang pendeta menjulurkan sebuah kitab ke hadapan si calon duke.
"Letakkan kedua tanganmu di atas kitab suci ini, dan tutuplah kedua mata anda." perintah sang grand magus, diikuti oleh Arthur.
"Ikuti kata-kata saya: Saya bersumpah, bahwa akan menjaga nama baik kerajaan dan wilayah kekuasaan yang diberikan amanatnya pada saya. Saya bersumpah, akan mengabdikan diri pada rakyat Kerajaan Lightz dan Yang Mulia Raja Valcke sebagai keturunan sah pemimpin Kerajaan Lightz. Tidak akan berkhianat, dan tidak akan mengabaikan mereka."
"Saya bersumpah." ucap Arthur, lalu diikuti dengan serentetan rangkaian kata sumpah yang baru saja diucapkan oleh sang grand magus.
Setelah selesai, si pendeta menyingkir dari hadapan Arthur bersama dengan kitabnya. Kemudian, Arthur pun berlutut. Sang raja bangkit dari singgasana, mendekati Arthur dan menarik bilah pedang dari sarung di sebelah kiri pinggangnya. Bilah pedang tersebut di sentuhkan pada kedua pundak Arthur secara bergantian seraya mengucapkan,
"Dengan ini, Arthur Eckart, telah resmi menjadi Duke dari Kerajaan Lightz. Laksanakan tugasmu dengan baik."
"Siap laksanakan!"
Begitu Arthur mengucapkan hal itu, seketika itu juga ruangan hall yang luas dipenuhi sorak sorai dan tepuk tangan. Kelompok musik pun menyanyikan nada penghormatan, tanda acara penobatan telah selesai.
*****
Yang Mulia Raja Valcke mempersilakan para hadirin untuk menikmati acara, selagi dia kembali ke ruangannya untuk beristirahat.
Arthur menjawab satu persatu sebisa yang dia mampu, tapi jelas dia tidak bisa menutupi kekosongan dalam tatapan matanya. Dalam hati dia berharap, kalau di antara kerumunan gadis-gadis itu, ada sosok Elona di antaranya. Tapi jelas itu tidak mungkin. Elona pasti sedang sibuk di Armelin. Tidak mungkin ia bisa hadir di acara penobatan duke yang diadakan di ibukota.
Meski begitu, kedua mata Arthur terus mengedarkan pandangan.
Mereka semua tidak ada yang seperti Elona... semuanya berdandan dengan makeup tebal. Aku rindu sekali dengan wajah Elona yang auranya tetap terlihat cantik meski sedang berkeringat karena panas-panasan di ladang. Sedangkan mereka semua yang ada di sini, mana mungkin tahu hal itu.
Ah, yang di sana itu... siapa dia? Mirip sekali dengan Elona... Apa aku mulai berhalusinasi karena terus kepikiran tentangnya? Tidak mungkin itu Elona...
Tapi, kenapa dia mirip sekali?
Eh, kenapa dia menangis saat melihat ke arahku?!
Arthur mengusap-usap matanya dengan kasar, berusaha memastikan kalau yang dilihatnya ini nyata atau tidak. Tetapi gadis itu meneteskan air mata dalam tatapan kosong saat menatap Arthur. Lelaki itu pun membelalakkan matanya begitu menyadari sosok gadis tersebut.
"Elona...?"
Dan keraguannya pun menjadi pasti, ketika gadis itu langsung berlari pergi dengan wajah kecewanya, dan diikuti oleh Louis Vandyke yang mengejar di belakangnya seraya setengah berteriak.
"Elona, tunggu!!" panggil Louis.
Panggilan Louis terhadap gadis itu langsung membuat Arthur bergegas membelah kerumunan para gadis yang menghalangi jalannya. Lelaki itu berusaha mengejar Elona dari balik kerumunan, namun tak sempat. Hanya Louis yang berhasil berada di dekatnya saat ini.
"Itu tadi Elona?! Dia benar-benar Elona? Di ibukota??" tanya Arthur pada mantan saingannya itu. Louis pun menganggukkan kepala.
"Cepat susul dia! Elona terlihat sangat kecewa dan marah besar saat ini!!"
*****
Di kediaman Locke, di ibukota.
"Elona? Apa yang terjadi?? Kamu kenapa, Sayang?"
Iris begitu terkejut mendapati adik iparnya berlari ke dalam rumah sembari menangis tersedu. Sedari tadi Iris hanya beristirahat di dalam kamar karena mengalami mual. Ia berpikir bahwa Elona sedang asyik berada di kamarnya saja.
Elona menatap Iris dengan nanar, seraya berkata diiringi isak tangisnya, "Kak Iris jahat! Kakak sengaja melakukannya padaku!!"
"Hah? Ada apa? Aku salah apa?" tanya Iris yang bingung tak mengerti.
"Kak Iris tahu kan, kalau Art itu sebenarnya seorang putra duke, ya kan? Itu sebabnya, Kakak ingin aku dekat dengannya, begitu? Kenapa Kakak malah menyembunyikan identitasnya dariku?! Kenapa??"
"Eh, Elona, aku-"
Tanpa menunggu penjelasan lebih, Elona menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Iris benar-benar terkejut dan heran kenapa Elona bisa mengetahui yang sebenarnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara kereta kuda berhenti di halaman depan, dan seseorang memasuki ruangan. Iris melihat Art yang berpakaian jas lengkap putih-putih, dengan berbagai emblem kerajaan di dada dan lengannya. Pakaian yang begitu resmi seolah baru saja menghadap pada raja.
"Arthur?! Kenapa kamu berpakaian begitu?" tanya Iris pada sepupunya. Tapi bukannya menjawab, Arthur malah bertanya balik.
"Dimana Elona sekarang?"
"Dia tadi lari ke atas sambil menangis. Ada apa ini sebenarnya??"
"Aku baru saja dinobatkan menjadi duke menggantikan ayahku. Lalu kulihat ternyata Elona menghadiri undangannya dan kaget melihatku. Mana Stefan? Kenapa bukan dia yang hadir tapi malah Elona!"
"Stefan sedang berada di Armelin, ada ledakan kebakaran terjadi di pabrik." jelas Iris singkat.
"Apa?! Lalu, bagaimana dengan Elona?"
"Itu sebabnya dia diminta Stefan datang kemari untuk menenangkan diri, tapi malah terjadi hal ini! Aku menyesal membantumu merahasiakan identitasmu! Sekarang Elona juga jadi kesal padaku!!"
Arthur terhenyak mendengar perkataan Iris. Padahal tadinya ia hanya ingin menjauh dari Elona. Tapi begitu melihat Elona menangis karena kesalahannya lagi, dan juga saat mendengar kemalangan yang menimpa gadis itu, ia jadi semakin merasa bersalah.
Tanpa pikir panjang dan tanpa permisi, Arthur masuk begitu saja ke arah tangga menuju lantai dua, guna mencari kamar Elona. Dengan bertanya pada para pelayan yang melewatinya sambil berlari, ia berhasil menemukan kamar gadis itu yang terkunci rapat dari dalam.
"Elona, ini aku! Bukakan pintunya, kumohon! Aku akan menjelaskan semuanya! Kamu ingin memaafkan aku atau tidak, itu hakmu. Setidaknya, berikan kesempatan padaku untuk menjelaskan!"
Hanya keheningan yang menyambut. Arthur mengetuk pintu kamarnya sekali lagi.
"Elona... kumohon! Dengarkan penjelasanku kali ini saja! Elona!"
"Art, sudahlah." Iris menyudahi tindakan Arthur yang sedari tadi menggedor-gedor kamar Elona tanpa hasil apapun. "Pulanglah dulu. Biar aku yang membujuknya."
"Tapi-"
"Sudahlah. Dia butuh menenangkan dirinya. Sekarang pulanglah dulu."
Arthur berpikir sejenak sebelum memutuskan dan berkata, "Tidak. Aku akan tetap di luar untuk menunggunya membukakan kamarnya."
"Kamu dengar itu, Elona?!" tanya Arthur setengah berteriak pada pintu kamar gadis itu. "Aku akan tetap berada di sekitar sini sampai kamu mau mendengarkan penjelasanku!!"
Dari dalam kamar, Elona jelas mendengar perkataan lelaki tersebut. Dia mengintip ke arah luar jendela. Tak seperti di Armelin, di sisi luar jendela kamarnya yang berada di ibukota tidak ada pohon yang berdiri di seberangnya. Jendela kamarnya langsung menghadap pagar depan rumah, dan di sanalah terlihat Art sedang menunggu, melihat jendela kamar Elona dari kejauhan.
Elona mengintipnya sedikit, lalu dengan cepat ia menutup tirai jendela, menghalangi pandangan Arthur. Lelaki itu berdiri di sana sendirian, hingga hujan turun membasahi dirinya.
*****
...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...
...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...