
"Kakak, benar-benar ingin pulang hari ini?"
Elona bertanya pada Stefan dengan tatapan sendu. Hari ini pagi-pagi sekali, Stefan dan Iris telah bersiap-siap untuk pulang ke ibukota. Tumpukan koper sudah tertata rapi di halaman, siap diangkut ke dalam kabin kereta kuda yang telah dipersiapkan.
Terdapat tiga buah kereta kuda yang terparkir di sana. Satunya untuk mengangkut barang-barang, satunya untuk para pelayan pendamping yang mereka bawa dari ibukota, dan satunya lagi adalah untuk Stefan dan Iris sendiri. Para prajurit yang akan mengawal pun telah siap dengan kuda masing-masing.
Stefan menatap adiknya dengan perasaan ikut sendu. "Mukamu jangan seperti itu, aku jadi tidak tega. Kalau bukan karena dewan kerajaan memanggilku karena suatu pekerjaan, aku juga masih ingin berlama-lama menginap di sini."
Iris menghampiri adik iparnya dan memeluknya, "Pulanglah ke ibukota sesekali, ya. Ingat, jaga kesehatanmu. Jangan makan terlambat, jangan terlalu kelelahan."
"Iya, Kak Iris..." Elona menganggukkan kepalanya.
Iris mendekati telinga Elona dan berbisik, "Kalau ada apa-apa, minta bantuan saja pada temanmu itu, ya."
Iris mengakhiri bisikannya dengan kedipan mata, membuat Elona tersipu malu.
"Kakak, aku sama Art kan hanya berteman saja!" sanggah Elona setengah berteriak, dan hal ini memancing Stefan untuk ikut mendengarkan.
"Apa? Ada apa? Kalian berbisik-bisik tentang apa?"
"Ah, tidak ada! Ayo, Stefan, sebaiknya kita berangkat sekarang! Nanti kita ketinggalan kapal!" Iris mengajak Stefan untuk segera masuk ke dalam kabin, sekaligus mencegahnya untuk penasaran lebih lanjut.
"Sampai jumpa, Kak! Hati-hati di jalan!"
*****
Senja telah tiba. Elona masuk ke dalam kamarnya yang temaram dengan pencahayaan lilin sepulangnya ia dari pabrik. Suasana begitu sepi setelah kedua kakaknya pulang ke ibukota, setelah dua bulan lebih menginap di Armelin.
Elona terduduk di kursi yang menghadap ke jendela kamarnya. Gadis itu menghela nafasnya.
Sepi lagi... Tapi, yang biasanya kan juga tidak ada Kak Stefan dan Kak Iris. Tapi, biasanya ada...
Rona merah tiba-tiba muncul di kedua pipi Elona.
Kenapa aku jadi memikirkan Art?!
Gadis itu mengibaskan tangannya di atas kepala, berusaha menghilangkan wajah Art dari pikirannya. Sejak kakaknya menginap di Armelin, sejak itu pula Art tidak mengunjunginya sama sekali pada malam hari.
Penyebabnya sudah diketahui Elona. Pemuda itu pasti takut kalau seandainya Stefan memergokinya menyelinap ke kamar seorang gadis yang jelas-jelas adalah adik tersayangnya. Terlebih lagi, Stefan tampak membenci temannya itu, meski ia tidak tahu alasannya.
Art apa kabar ya? Aku terlalu sibuk sampai-sampai tidak sempat lagi mengobrol di ladang dengannya sejak Kak Stefan datang.
Apa dia akan kemari malam ini, ya...
Lagi-lagi Elona terkejut akan pikirannya sendiri dan berusaha membuyarkannya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kenapa aku jadi kepikiran terus, sih, sama dia?!
Sudah, sudah! Sebaiknya aku mulai memikirkan produk baru, pengganti daging dari kedelai!
Demi tidak memikirkan pemuda bernama Art itu lagi, Elona mengambil secarik kertas linen dan pena bulu dari dalam laci meja. Ia pun duduk kembali di kursi yang menghadap ke jendela dan menuliskan sesuatu di atas kertas tersebut.
'Daging dari kedelai, alias Tempe.'
Elona menuliskan judul di kertas bagian atas. Kemudian, gadis itu berusaha mengingat-ingat apa saja yang diperlukan untuk membuat tempe ala tradisional. Untuk masyarakat yang menyukai atau memilih untuk menjadi vegetarian atau vegan, tempe sering disebut-sebut sebagai pengganti daging karena kandungan proteinnya yang cukup tinggi.
Cara membuat tempe sebenarnya mudah, yaitu tinggal merebus biji kedelai yang sudah dikupas kulitnya sampai empuk. Kemudian, masukkan ke dalam lipatan daun pisang atau waru, taburkan ragi tempe secara merata. Tinggal ditunggu 5 hari dan jamur benang atau yang biasa disebut dengan kapang akan tumbuh. Kapang tersebut berwarna putih-putih melekat di seluruh biji kedelai tersebut, membuatnya menyatu satu sama lain. Kemudian, siap dimasak. Semudah itu.
Yang jadi permasalahan adalah, tidak ada ragi tempe di dunia fantasi ini.
Tempe adalah makanan berupa biji kedelai yang saling menyatu dengan lapisan putih yang muncul karena proses peragian menggunakan ragi tempe. Lapisan putih tersebut adalah kapang alias jamur benang. Tentunya karena hal itu, ragi tempe tidak bisa digantikan oleh ragi roti misalnya, yang berfungsi untuk mengembangkan adonan, bukan menumbuhkan kapang seperti pada tempe.
Dan hal inilah yang membuat Elona pusing memikirkannya. Pasalnya, untuk membuat tempe memerlukan ragi tempe, sedangkan ragi tempe bisa dibuat kalau sudah ada tempe sebelumnya.
Membuat ragi tempe memerlukan bahan tempe segar yang disimpan dan didiamkan berhari-hari, diiris tipis-tipis, lalu dijemur kering, kemudian dihancurkan. Jadi, sudah harus ada tempe sebelumnya untuk bisa menjadi si kapang yang nantinya jadi ragi. Elona ingat bahwa keberadaan ragi tempe bisa digantikan dengan tepung tempe, tapi pembuatan tepung ini juga perlu ada tempe sebelumnya.
"Aduh, pusing!!"
Elona setengah berteriak di kamarnya. Lalu gadis itu menelungkupkan wajahnya di meja.
*****
Tok!
Terdengar suara kaca jendela yang dilempari batu. Sontak Elona langsung menoleh ke arah sumber suara. Terlihat sosok lelaki yang sedang bertengger di dahan pohon di depan jendela seperti biasanya.
Art...
Bibir Elona menyunggingkan senyum tanpa disadarinya. Sesaat kemudian, wajahnya merona.
Ah, ini semua gara-gara Kak Iris, aku jadi berlebihan memikirkan tentang Art!
Tok!
Jendela dilempari kerikil lagi. Elona segera beranjak dari duduknya dan membukakan jendela. Lelaki itu pun langsung melompat masuk ke dalam kamar Elona dengan cekatan.
"Hai." sapa lelaki tersebut. Art tampak mengusap-usap rambutnya dengan satu tangan, berusaha membersihkan rambutnya dari dedaunan dan serangga yang barangkali menempel sewaktu dia masih bertengger tadi.
Lho, ada apa denganku?
Elona bertanya pada dirinya sendiri dengan heran. Dan pertanyaan yang sama diucapkan oleh Art sesaat kemudian.
"Kamu kenapa?" tanya pemuda itu. Elona langsung menggeleng dengan cepat.
"Ah, ti-tidak apa-apa..."
"Kok seperti bingung begitu saat melihatku?" tanya Art lagi saat ia telah duduk di kursi yang berseberangan dengan Elona.
"Oh, kita sudah lama tidak bertemu, itu saja..."
Art menatap Elona lekat-lekat. Sebenarnya, seharusnya ia sedikit menjauhi Elona saat ini, sesuai anjuran Iris sepupunya. Tapi ia tidak tahan. Apalagi saat Stefan berkunjung ke Armelin, ia semakin tidak bisa mengunjungi kamar Elona di malam hari. Begitu ia mendengar bahwa Stefan dan Iris sudah pulang ke ibukota, Art langsung bergegas ke kediaman Locke di Armelin seperti yang biasa ia lakukan sebelum-belumnya.
Dan reaksi Elona yang tidak biasanya membuat Art curiga. Padahal mereka sudah lama tidak berbincang satu sama lain selama hampir tiga bulan semenjak Stefan ada di Armelin. Sekarang kakaknya itu sudah pulang. Art berharap akan disambut dengan senyuman Elona saat ia berkunjung ke kamar gadis itu. Tapi pada kenyataannya, Elona justru tidak banyak bicara saat ini.
Apa ini? Kenapa saat aku menuruti perkataan Iris, Elona jadi seperti canggung padaku begini?! Jangan bilang kalau nasihat Iris itu malah membuatnya semakin jauh dariku!!
Meski dalam hati ia sudah mengutuki sepupunya itu, tapi Art masih belum yakin. Ia mencoba memancing Elona sekali lagi.
"Tumben nada bicaramu gugup begitu padaku. Ada apa?" tanya pemuda itu. Namun Elona hanya diam saja. Pandangannya hanya mengarah pada kertas di atas meja yang berada di antara mereka.
Karena semakin penasaran, Art memutuskan untuk mengeluarkan pertanyaan nekat.
"Hei, jangan bilang kalau kamu gugup begitu karena saking rindunya padaku, ya? Tidak mungkin, kan?! Haha!"
Art memperhatikan perubahan pada wajah Elona setelahnya, sekecil apapun itu. Gadis itu tampak memejamkan matanya dengan erat selama beberapa detik. Kemudian, tiba-tiba ia mengangguk pelan.
"Iya..."
Detik itu juga, Art merasa seolah jantungnya mau lepas dari rongga dadanya karena saking kerasnya benda itu berdegup. Ia tampak terperangah, dan wajahnya merah seperti kepiting rebus sampai ke telinga.
Sesaat kemudian, Elona membuka matanya seolah ia sudah menenangkan dirinya sendiri. Ia menatap Art lekat-lekat. Dan gadis itu tersenyum, dengan rona merah yang masih ada di pipinya.
"Iya, hehe... aku memang merindukanmu. Kan kamu temanku satu-satunya di sini."
Kini Art bagaikan disiram air dingin. Ia begitu terkejut karena pandangan Elona terhadapnya masih tetap sama, hanya sebagai teman. Padahal tadi ia sudah menyanjung-nyanjung Iris dalam hati atas nasihatnya yang manjur. Sanjungan tersebut untungnya belum terdengar sampai ke orangnya langsung. Hati Art patah begitu mendengar kata 'teman' itu.
"Teman...?" Art berusaha memastikan barangkali telinganya salah dengar. Tapi Elona mengangguk dengan polosnya.
"Iya, teman!" Elona lalu mengambil kertas yang ada di meja dan membacanya sekali lagi. Lalu ia menulis beberapa kata di atasnya.
"Elona, aku... ingin lebih dari itu..." Art mengucapkannya tanpa tenaga. Keterkejutannya yang baru saja membuatnya begitu lemas. Dan tentu saja Elona tidak mendengarkannya.
"Eh, apa?" Elona mendongakkan wajah cantiknya yang polos. Art pun menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Ah, tidak ada apa-apa..."
Hahh... mungkin bukan malam ini. Masih banyak waktu lain. Aku tidak boleh menyerah! Art berusaha menyemangati dirinya sendiri.
*****
Art menyadari kalau Elona sedang asyik menuliskan sesuatu.
"Apa yang sedang kamu kerjakan?" tanya pemuda itu penasaran.
"Oh, ini..." Elona pun menceritakan keinginannya membuat tempe sebagai pengganti daging, dan kendala dalam pembuatannya.
"Aku harus bagaimana, ya?" tanya gadis itu meminta pendapat. Art pun tampak berpikir keras.
"Jadi intinya, kamu butuh kapang itu untuk membuat tempe ini? Ada cara yang lainnya lagi?"
"Hmm, ada. Tapi aku tidak yakin dengan yang ini..."
"Apa itu?"
"Aku pernah baca di buku, kalau daun waru yang telah ditumbuhi kapang sebelumnya juga bisa dipakai sebagai gantinya ragi tempe ini, tapi aku tidak pernah mencobanya." jelas Elona sambil berpikir keras.
"Oh, begitu. Kamu mau mencari daun waru? Sepertinya ada di hutan dekat danau itu." ucap Art sambil menunjuk ke arah luar jendela.
Elona pun terkesiap, "Benarkah?"
"Benar, ada banyak area yang ditumbuhi pohon waru di hutan itu. Aku bisa menemanimu mencarinya. Tapi kalau mau kesana, aku harus bersiap-siap membawa pedangku dulu, dan mungkin beberapa orang praju- um, teman-temanku untuk membantu." jelas Art. Elona mengernyitkan dahinya bingung.
"Kenapa harus bawa pedang?"
"Karena di hutan tersebut banyak hewan buasnya..."
*****
...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...
...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...
minta votenya ya gaes, maaci!