
Nania Eckart sedang jengkel akhir-akhir ini. Pasalnya, bisnis kafe yang wanita itu jalankan bersama putranya sedikit merosot hasil penjualannya. Kafe yang ia beri nama 'Satu Sesapan' itu akhir-akhir ini mengalami sepi pengunjung.
Bisnis tersebut ditargetkan kepada para bangsawan dan istri-istri mereka. Biasanya para kaum elit tersebut pergi ke kafenya hanya untuk sekedar duduk dan bersantai, mengobrol atau bahkan membahas sesuatu yang penting dengan rekan kerja mereka. Kafe Satu Sesapan memang menyediakan ruangan-ruangan kecil di lantai dua dan tiga untuk membicarakan bisnis secara pribadi, yang dapat disewa perjamnya.
Per harinya keluarga Eckart dapat memperoleh keuntungan lebih dari 100 persen, terutama apabila ada produk-produk baru yang sengaja sang nyonya duke datangkan secara langsung dari kerajaan tetangga, seperti kopi dan teh. Nania Eckart pun tak segan-segan memperkerjakan juru masak terbaik dalam negeri demi bisa menghasilkan camilan yang enak, yang dapat disantap sebagai teman minum kopi atau teh.
Tetapi akhir-akhir ini, semuanya sedang menurun. Tidak terlalu ada terobosan baru dalam bisnis kuliner, dan hal itu menjadikan menu dalam kafe Satu Sesapan terasa membosankan. Padahal, kafe tersebut berada di garda depan dalam bisnis kuliner kerajaan saat ini. Bila kafe itu sampai mengalami kerugian, maka yang dipermalukan adalah nama besar Duke Eckart yang berada di balik berdirinya kafe tersebut.
Apalagi ketika Nania melihat bahwa kafe-kafe pesaingnya mulai menurunkan harga demi merebut pengunjung. Turun harga bagi Nania berarti turun tingkat keelitan kafenya, kecuali bila memang sedang diadakan sale. Dan wanita itu tidak mau hal itu terjadi.
Jadi sekarang, wanita itu sedang bersama dengan manajer kafe yang bernama Hansen. Mereka berdua berkutat di ruang kerja sejak siang hari. Wanita tua itu membolak-balik halaman laporan penjualan kafe yang tersebar di sebelas titik strategis penjuru kerajaan, yang salah satunya terletak di Kota Rudiyart. Alisnya mengerut menandakan ia sedang berpikir keras. Dan sesekali marah pada Hansen yang berada di sebelahnya.
"Apa para juru masak itu benar-benar tidak aa ide untuk membuat menu baru?!" tanya Nania dengan gusar, yang disambut dengan gelengan kepala.
"Menu yang mereka ciptakan paling-paling hanyalah varian baru dari menu yang sudah ada, Nyonya. Dan itu kurang untuk mendobrak popularitas kafe kita kembali." jelas Hansen, yang makin membuat Nania Eckart semakin gusar.
"Percuma mereka punya gelar juru masak terbaik kalau tidak bisa membuatku untung!"
Nania mengedarkan pandangan ke meja yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Meja itu biasanya diisi oleh putranya, yang mengatur manajemen sebagian cabang bisnis kafe Satu Sesapan. Tetapi meja itu kosong, dengan tumpukan laporan yang belum terjamah sama sekali.
"Kemana Arthur?" tanya Nania.
"Saya kurang tahu, Nyonya. Tapi tadi David, sekretarisnya bilang, kalau Tuan Muda Arthur biasanya di jam segini masih berada di Kota Armelin."
"Mengunjungi Elona Locke?" tanya Nania. Hansen pun mengangguk.
Nania memang tahu dari suaminya Duke Ron Eckart, kalau kegiatan putranya itu akhir-akhir ini memang sering pergi ke Armelin untuk mengunjungi seorang gadis, putri dari mendiang sahabat suaminya. Tetapi wanita itu tidak mengetahui apa yang Arthur lakukan di sana.
Ron Eckart memang mengetahui kebenarannya kalau Arthur dan Elona sedang menggarap lahan tanaman kedelai. Tetapi pria itu tidak memberitahu Nania. Yang istrinya tahu itu hanyalah kalau Arthur ke sana hanya untuk sekedar pacaran saja.
Dan inilah yang membuat wanita itu semakin kesal. "Pekerjaannya di sini belum selesai, dia malah asyik pacaran! Benar-benar anak itu! Begitu pulang, panggil dia untuk menghadapku segera!"
"Baik, Nyonya."
Ternyata yang ditunggu-tunggu justru datang dengan sendirinya beberapa saat kemudian. Arthur masuk ke dalam ruang kerja ibunya tergesa-gesa sambil membawa sebuah botol minum penuh beirisi cairan putih.
"Ibu! Ibu!" teriaknya. Nania sampai menutup telinganya.
"Apa sih, anak satu ini! Bisa tenang tidak?!"
Arthur tidak memedulikan perkataan ibunya. Dengan cepat ia menyodorkan botol minum tersebut pada wanita itu.
"Bu, coba minum ini."
"Apa ini?" tanyanya seraya menerima pemberian botol dari Arthur ragu-ragu.
"Susu." jawab putranya singkat. Sesaat kemudian Nania menyodorkan botol itu kembali.
"Kamu kan tahu, kalau ibu tidak minum susu malam-malam. Nanti gemuk!"
Arthur memberikan botolnya lagi, "Tapi susu yang ini beda! Coba dulu! Ini susunya khusus untuk orang yang sedang diet."
"Oh ya? Susu apa?" tanya Nania kembali. Wanita itu berusaha mengintip ke dalam botol kulit tersebut.
"Susu kedelai." jawab Arthur. Nania tersenyum geli.
"Pfft, sejak kapan kedelai bisa diperah susunya?" Nania bertanya tak percaya sama seperti para pekerja lahan sebelumnya. Lama kelamaan Arthur menjadi gusar.
"Hih, coba dulu! Ini enak!"
"Ini..."
"Enak, kan?!"
"Enak, sih. Tapi... susu kedelai?" Nania menatap botol di tangannya tak percaya. Lalu meminumnya lagi.
"Dibuatnya dari saripati kedelai." jelas Arthur lagi. "Aku ingin memasukkan ini sebagai menu baru di kafe kita."
"Tapi... darimana kamu mendapatkan minuman ini?" Nania memandangi putranya. Arthur hanya mengibaskan tangan.
"Sudah, ibu tidak perlu tahu. Aku hanya ingin tes pasar di kalangan bangsawan."
Arthur memilih untuk merahasiakan nama Elona yang berada di balik pembuatan minuman baru tersebut. Ibunya itu memiliki sifat melebih-lebihkan sesuatu. Misalnya, begitu Nania tahu kalau putranya sedang dekat dengan seorang gadis, wanita itu segera menanyai Arthur setiap harinya kapan ia bisa bertemu dengan gadis tersebut.
Kalau sampai ibunya tahu bahwa Elona Locke lah yang berada di balik penemuan baru ini, wanita itu pasti akan langsung histeris ingin menjodohkan putranya secepatnya.
Yah, Arthur juga memang tidak akan menolak, tapi yang jelas tidak sekarang. Tidak ketika Elona bahkan belum mengetahui identitasnya yang sebenarnya. Saat ini adalah waktu yang belum tepat untuk mempertemukan Elona dengan kedua orangtuanya.
"Jadi, boleh ya? Aku ingin tahu apakah kalangan bangsawan akan menyukai minuman ini juga." Arthur berkata.
Nania Eckart berpikir sejenak. "Baiklah. Lagipula ini memang enak. Hansen!"
Hansen mendekat ketika namanya dipanggil.
"Arthur, apa saja kelebihan dari minuman ini? Hansen, catat! Kita perlu kata-kata yang bisa dipakai untuk promosi."
"Umm..." Arthur menerawang ke atas, berusaha mengingat-ingat apa yang dikatakan Elona padanya mengenai susu kedelai ini.
"Kandungan gizinya hampir seperti susu, terutama kalsiumnya. Tidak memiliki lemak, jadi ringan diminum, cocok untuk orang yang sedang diet. Terbuat dari saripati kedelai... terus, lebih murah dari susu sapi..."
Nania menyipitkan matanya begitu mendengar kata sifat tentang susu kedelai ini dari mulut anaknya.
"Murah?"
"Iya, karena dari tanaman kedelai, bukan dari hewan. Kedelai mentah sendiri kan memang harganya murah di pasaran." jawab Arthur.
"Hmm..." sang nyonya duke berpikir, "Murah itu bukan sesuatu yang disukai oleh kalangan elit seperti bangsawan, kamu tahu?"
"Eh, kenapa??" tanya Arthur heran.
"Karena murah berarti tidak mewah. Tidak eksklusif. Kamu tahu kan, kalau kalangan seperti kita ini memiliki wibawa dan gengsi yang dijunjung tinggi?"
"Jadi, menurut ibu?"
"Aku tidak mau mengambil kesimpulan dini. Kita tes pasar dulu saja. Kita akan sajikan ini sebagai menu minuman segar. Tapi nanti jangan kecewa kalau apa yang ibu takutkan benar terjadi."
Beberapa hari kemudian, sebuah laporan penjualan bisnis kafe Satu Sesapan telah siap untuk diperiksa oleh keluarga Eckart. Arthur hari itu sengaja tidak pergi ke lahan untuk membantu Elona. Ia penasaran sekali dengan laporan yang nantinya akan diberikan sang manajer kafe Hansen untuknya. Begitu laporan itu tiba, Arthur dengan segera membacanya.
Lelaki itu terkesiap. Apa yang ditakutkan ibunya benar terjadi. Penjualan susu kedelai buatan Elona tidak mengalami peningkatan yang signifikan sejak masuk ke dalam menu kafe milik keluarga Eckart. Berbeda sekali dengan tanggapan warga biasa saat dilakukan tes pasar. Malahan, angka penjualannya terus merosot dari hari ke hari.
"Apa? Kenapa ini bisa terjadi?"
*****
...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...
...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...