
Beberapa saat sebelumnya.
"Paman, anda tahu di mana keberadaan Nona Elona Locke?"
Seorang ajudan bertanya pada salah satu pekerja di ladang. Sudah berhari-hari majikannya, yaitu Louis Vandyke, terombang-ambing di kapal dari ibukota menuju Armelin. Perjalanan yang begitu melelahkan.
Sesampainya di Armelin, Louis langsung mencari tahu kediaman Locke, yang ternyata terletak di bagian utara kota, hampir berbatasan dengan hutan. Tapi para pelayan mengatakan bahwa si pemilik rumah tidak ada di tempatnya saat ini.
Dan para pelayan, yang tidak mengenal siapa Louis dan bagaimana kelakuannya terhadap nona mudanya terdahulu, menunjukkan arah menuju ke ladang kedelai dan pabrik milik Elona. Mereka hanya takut pada atribut bangsawan yang dikenakan oleh Louis dan mengira dia adalah teman majikannya. Ketika Mai yang saat itu sedang sibuk di dapur mengetahui hal ini, ia langsung marah-marah pada para pelayan lainnya dan menceritakan semuanya.
Louis pun tiba di ladang beberapa saat kemudian. Matanya mencari-cari ke seluruh area, sosok gadis berambut cokelat terang gemuk berpakaian bangsawan. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada satu pun orang gemuk yang bisa ia temukan di ladang.
"Oh, Nona Elona? Itu, yang sedang jalan ke arah sana!" ucap salah satu pekerja, dan Louis mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk.
Di sana, Louis memang melihat seorang gadis yang berpakaian lebih baik daripada para pekerja di sekitarnya, tapi itu hanyalah pakaian biasa yang rapi saja, bukan pakaian seorang nona bangsawan. Meskipun gadis itu memiliki rambut cokelat terang yang sama seperti Elona, tapi tubunya langsing, tidak seperti mantan tunangannya itu.
"Yang mana, Paman?" kini giliran Louis sendiri yang bertanya. Matanya masih mencari-cari orang yang dimaksud oleh si pekerja paruh baya itu.
"Itu, gadis muda itu, yang ada di arah sana! Nah sekarang dia lagi berjalan ke arah pinggiran ladang, sepertinya diikuti oleh Art." telunjuk sang pekerja bergerak manakala seorang gadis muda langsing yang dilihat Louis tadi pergi ke arah pinggir hutan. Dan lelaki itu langsung terkejut dibuatnya.
"Yang itu?? Yang langsing itu?!" tanyanya seraya terperangah. Si pekerja ladang itu terkekeh.
"Hehe, Nona Elona sudah sangat cantik dengan tubuh yang indah! Dia sudah berhasil dengan dietnya, dan kami bangga sekali padanya yang pekerja keras!"
Tampak dari kejauhan, Elona yang sudah langsing itu berjalan cepat ke area pinggir ladang yang banyak pepohonannya. Gadis itu tampak diikuti oleh seorang pemuda berpakaian tunik sederhana dengan penutup kain di kepalanya. Wajahnya yang putih, bersih dan tampan terlihat sangat tidak cocok dengan pakaian rakyat biasa seperti itu.
Pemuda itu tampak mengejar Elona dan mereka berdua menghilang di balik pepohonan. Insting Louis mengatakan kalau ia harus mengikuti pasangan tersebut dengan cepat.
"Terima kasih, Paman!"
Setengah berlari Louis mengekor di belakang, dan mendapati bahwa pemuda tadi hendak melakukan sesuatu pada Elona yang membuat hatinya tidak rela.
*****
Saat ini.
"Louis?! Kamu di sini??"
Elona sangat terkejut dengan kehadiran sosok mantan tunangannya itu. Jarak dari ibukota ke Armelin tidaklah dekat. Elona menduga bahwa ada hal yang sangat penting yang ingin disampaikan oleh Louis sampai lelaki itu harus menghampirinya jauh-jauh seperti ini.
Louis yang sedari tadi masih menatap tajam Art, memgalihkan pandangannya pada Elona. Kemudian, dengan cepat ia meraih lengan kanan gadis itu.
"Ayo ikut denganku. Ada yang ingin kubicarakan padamu." ucap Louis tiba-tiba, lalu menarik lengan Elona.
"Eh?! Tapi kemana?"
"Ikut saja. Ini penting!" Louis menarik lengan Elona, membuat gadis itu terseret mengikutinya.
"Louis! Tidak usah menarikku! Sakit!"
"Hoy!!"
Art berteriak marah, membuat Louis berbalik karena terkejut. Tubuh Elona yang hampir terjatuh ditahan dengan sigap oleh Art. Lelaki itu memegangi lengan kiri Elona.
"Bisa tidak, kau tidak kasar pada perempuan, hah?!"
Art begitu marah melihat kelakuan dari mantan tunangan Elona itu. Lelaki itu menarik Elona ke sisinya, dan pasang badan di hadapan putra Vandyke tersebut.
Louis balik melotot marah pada Art, "Bukan urusanmu, pemuda desa! Memangnya kau siapa!"
Di tengah perseteruan itu, Art sedikit tertawa dalam hati saat ia menyadari bahwa Louis tidak mengenali wajahnya. Padahal, beberapa kali mereka menghadiri perjamuan bangsawan bersama sebagai tamu undangan di masa lampau, meskipun mereka tidak saling bertegur sapa.
Rupanya, dengan ditutupnya rambut emasnya dengan kain itu, dan dengan fakta bahwa ia menetap di kediamannya di Kota Rudiyart dan bukannya ibukota seperti bangsawan lainnya, membuatnya tidak begitu dikenali oleh kaumnya. Memang hanya warga Rudiyart saja yang bisa mengenali wajahnya meski rambut emasnya telah ditutup.
"Urusan Elona adalah urusanku. Akan kubalik pertanyaanmu itu. Memangnya kau yang siapa?!!" sahut Art tak mau kalah.
"Aku adalah tunangannya Elona, jadi jangan macam-ma-"
"Mantan!!" potong Art dengan nada penuh kemenangan. "Makanya, rajin baca surat kabar! Berita putusnya pertunanganmu dengan Elona sudah tersebar kemana-mana!"
Art tersenyum mencibir dan meremehkan. Padahal, Art sendiri jarang dan bahkan tidak pernah menyentuh surat kabar. Berita tentang pertunangan Elona pun dia tidak akan tahu kalau bukan dapat infonya dari Iris dan David.
Sekarang, bisa-bisanya ia mencibir Louis untuk rajin membaca surat kabar. Benar-benar kekanakan sekali. Tapi Art tidak peduli, yang penting ia sudah merasa menang adu mulut melawan Louis.
Melihat pemuda desa di hadapannya mencibir dan mengejeknya, Louis langsung naik pitam. Ia tampak geram sekali. Dikepalkannya kedua tangan, seperti bersiap memukul sesuatu.
"Beraninya kau...!!"
"Hentikan!! Sudah cukup kalian berdua!" Elona berteriak kesal. Kedua lelaki yang berseteru itu langsung terdiam dan menoleh ke arahnya.
"Ah, maafkan aku, Elona..." ucap Art, lalu mengangkat lengan Elona yang tadi ditarik oleh Louis.
"Kamu tidak apa-apa? Tadi lenganmu sakit, ya?" tanya Art begitu perhatian, dan hal itu membuat Louis muak. Ditariknya lengan Art sampai ia menjauh dari tubuh Elona.
"Menyingkir kau dari Elona, orang desa! Kau hanya orang asing!" ucap Louis.
Arthur Eckart, orang yang tidak akan mengalah dalam pertarungan fisik maupun pertarungan adu mulut. Nasihat orangtuanya saja seringkali dibangkang dan dijawab balik. Apalagi hanya dengan Louis sekarang ini, yang bahkan perkataan ayahnya sendiri saja ia tidak berani melawannya, meski tak sesuai dengan keinginannya sendiri.
"Apa katamu?!!"
"Kubilang hentikan!!" teriak Elona sekali lagi. Gadis itu cukup kesal karena perintahnya untuk berhenti bertengkar tidak digubris sama sekali. Ia melotot marah pada Art dan Louis.
"Kalau kalian bertengkar sekali lagi, aku akan meminta para pekerja ladang untuk mengusir kalian berdua dari sini!"
"Ba-baik, maafkan kami..." kedua pemuda itu menjawab hampir bersamaan.
Elona mengambil nafas sejenak dan menghembuskannya perlahan. Lalu gadis itu menatap ke arah Art.
"Biarkan aku mengikuti Louis dulu. Aku ingin tahu apa maunya dia sampai jauh-jauh kemari dari ibukota." Elona berkata seraya menunjuk lelaki berambut hitam di hadapannya. Louis hanya terdiam saja melihatnya.
"Tapi, Elona-"
"Aku akan segera kembali, tenang saja." ucap gadis itu. Kemudian, pandangan matanya sekarang menatap Louis.
"Aku akan ikut denganmu, tapi tidak dengan cara ditarik-tarik seperti tadi. Sebaiknya kamu sadar kalau ini di Armelin dan bukan ibukota. Dan aku, Elona Locke, adalah pemimpin wilayah ini. Sekali saja kau bersikap tidak sopan padaku, seluruh warga kota bisa kupanggil untuk melemparimu dengan batu dan mengusirmu dari kota ini! Paham?!!"
Elona menatap tegas pada Louis, membuat lelaki itu bergidik ngeri. Ia harus mengakui kalau ini bukanlah Elona yang dulu hanya mengalah dan diam bila diperlakukan tidak sopan oleh Louis. Gadis yang ada di hadapannya ini telah berubah, bukan hanya dari segi fisik tapi juga mental. Di mata Louis, Elona terlihat sebagai pemimpin yang berwibawa saat ini.
"Baik, maafkan aku..." ucap Louis dengan nada memohon. Elona pun mengangguk.
"Baiklah. Ayo kita bicara."
*****
"Aku kemari untuk meminta maaf padamu."
Louis memohon seraya menundukkan kepalanya. Lelaki itu mengajak Elona untuk berbicara di sebuah kafe kecil di pinggiran kota tidak jauh dari ladang kedelai milik gadis itu.
Elona mengernyitkan dahinya dan berkata, "Bukannya dulu kita sudah saling bermaafan, saat aku datang ke rumahmu untuk memutuskan pertunangan kita?"
"Bukan permintaan maaf yang seperti itu!" Louis menyanggah. "Waktu itu, kita bermaafan untuk mengakhiri pertunangan kita. Tapi sekarang, aku meminta maaf supaya aku bisa dapat kesempatan untuk memperbaiki perlakuanku padamu di masa lalu. Dan juga supaya aku mengenalmu lebih dekat."
"Uh? Untuk apa kamu perlu mengenaliku lebih dekat? Kita kan hanya teman sekarang." sahut Elona tak mengerti.
"Akan aku koreksi sedikit: kita adalah mantan tunangan." Louis meralat dan mengakuinya dengan malas kalau perkataan pemuda desa tadi ada benarnya juga.
"Kita adalah mantan tunangan karena kesalahanku yang telah mengabaikanmu. Tapi jujur, setelah kamu pergi, aku terus memikirkan dirimu..." Louis berkata dengan sendu seraya menatap Elona lekat-lekat.
"Memikirkan aku? Lalu bagaimana dengan Kiara? Kalau kamu bersikap begini, itu berarti kamu sudah mengulangi kesalahan yang sama!"
"Itu sebabnya!" sela Louis. "Karena aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, maka aku datang kemari untuk memohon maaf padamu dan meminta izin untuk mengenalimu lebih dekat. Supaya aku tahu hatiku ini untuk siapa dan harus kemana."
Elona mendengus tak habis pikir pada lelaki di hadapannya itu. Lalu gadis itu berkata dengan cuek. "Berikan saja hatimu pada Kiara. Lagipula, terlihat sekali kalau dia sangat tulus mencintaimu."
"Tolong, izinkan aku yang menentukan hal itu sendiri!" ucap Louis dengan wajah yang bersungguh-sungguh.
"Lalu, kalau seandainya ternyata hatimu memilihku dan bukan Kiara, apa yang akan kamu lakukan? Aku belum tentu mau menerimamu kembali, bukan?!"
Louis terdiam dan menelan ludah. Ia dihadapkan pada pertanyaan yang paling menakutkan dirinya.
Louis menghela nafas sejenak, lalu menjawab, "Seandainya hal itu terjadi, aku ingin kamu yang memutuskan apakah ingin bersamaku kembali atau tidak. Tapi, jika kamu tidak mau, aku akan pergi dari hidupmu dan juga hidup Kiara selamanya."
"Kamu yakin dengan keputusanmu?"
"Yakin sekali."
"Baiklah..." Elona menghela nafas lagi. Ia sangat mengetahui, kalau Louis sudah memiliki keinginan, maka hal itu susah sekali untuk dipatahkan, kecuali oleh ayahnya.
"Aku memaafkanmu atas kejadian terdahulu. Aku sungguh-sungguh. Lagipula, aku sudah sangat sibuk sekarang, sampai-sampai tidak punya waktu untuk bisa memikirkan masa lalu. Jadi, kamu tidak perlu cemas lagi." ucap Elona.
Louis tersenyum sumringah saat permintaannya dikabulkan. "Terima kasih, Elona!"
"Lalu, apa yang kamu inginkan sekarang? Kamu bilang, ingin mengenalku lebih dekat?" tanya Elona lagi.
Louis pun mengangguk mengiyakan. "Izinkan aku untuk mengenalmu dengan mengikuti kegiatanmu."
Elona tertawa mendengarnya. "Kamu berkata begitu seperti anggota tim pengawas kerajaan saja, hahaha!"
Louis tertegun melihat tawa Elona. Tak pernah ia menyangka bahwa hatinya akan mengagumi wajah ceria mantan tunangannya itu, yang sekarang terlihat sangat cantik.
Elona menatap Louis sejenak dan berpikir. Setelah beberapa saat, gadis itu berkata, "Baiklah, kalau itu keinginanmu. Besok pagi-pagi sekali sekitar pukul 6, datanglah ke ladang kedelaiku. Berpakaianlah yang biasa saja. Aku akan menemuimu di sana."
*****
...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...
...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...