
"Kakek, boleh kah aku meneruskan kisah Cinta kalian. Bantu aku dan restui aku agar aku bisa membuat kisah Cinta ini berakhir bahagia kek". ujar Felix mengelus foto yang tergambar 4 orang di dalamnya, 3 pria dan 1 wanita cantik di dalam Sana.
Pagi ini Rombongan Gunawan sudah otw ke tempat yang di tuju oleh Felix, tempat di mana di sana menyimpan banyak sejarah dalam hidupnya.
Ada kisah Cinta, pengorbanan, penantian panjang, juga Kesedihan yang terkubur bersama dengan orang-orang yang sekarang ingin mereka datangi.
Lula dan Ria banyak diam pagi ini, Gunawan juga fokus menyetir. sementara Felix masih asik mengambil potret di sepanjang jalan. 15 tahun lalu dia ke sini terakhir kali bersama kakek nya, juga ayah ibunya.
Banyak yang berubah dalam 15 tahun ini, membuat Felix berdecak kagum. pemandangan yang indah dengan kearifan lokalnya mampu menghipnotis mata siapapun yang baru datang ke sini, kota kelahiran seseorang wanita yang mampu menggetarkan hati seorang pria yang bahkan sampai tidak sanggup melanjutkan hidup nya tanpa kehadiran wanita nya itu.
"Kakek, aku datang, bersama dengan seseorang yang mungkin jika kau bisa melihat wajahnya akan membuat mu jatuh cinta sekali lagi. Sepertinya aku mengerti kenapa kamu tidak bisa berpaling dari nya dan memilih untuk tidur selamanya bersama Cinta mu". ujar Felix sekali mencuri pandang Ria dari kaca spion yang kebetulan Ria juga sedang melihat pemandangan di luar dengan jendela mobil yang di buka.
Felix mengambil foto Ria dari pantulan kaca spion, lagi dia terpesona dengan senyuman wanita itu, Secantik itu Ria di mata Felix.
Gunawan masih fokus menyetir sambil sesekali melihat ke arah kekasihnya Lula yang dari tadi hanya diam tidak bicara, tidak seperti biasanya Lula adalah gadis yang selalu memecahkan kesunyian.
"Mungkin dia merasa tidak bisa menjadi diri sendiri karena ada Felix, bisa Malu-malu juga ternyata pacar ku itu". ujar Gunawan tersenyum saat tatapan matanya bertemu dengan Lula melalui spion depan.
"Lula, kamu sariawan ya. dari tadi kamu diam saja". ujar Gunawan memecahkan kesunyian pagi itu.
"Lula lagi kurang enak badan dari tadi malam mas,saya udah bilang untuk batal saja ikutan nya dan istirahat saja tapi dia tidak mau". jawab Ria karena Lula masih tidak menyahut pertanyaan Gunawan.
"Lula,kamu kok gak bilang sama mas kalo lagi gak enak badan. kamu pusing gak duduk di belakang, mau pindah ke depan gak?".tanya Gunawan sambil meminggirkan mobilnya.
Ia berbalik menghadap ke belakang karena khawatir dengan kekasihnya itu, sementara Lula hanya menggeleng kan kepalanya. pantas saja tadi sarapan hanya sedikit fikir Gunawan karena melihat tadi Lula hanya mengaduk-aduk bubur nya.
"Lula, kamu bisa tiduran di sini, istirahat lah. perjalanan kita masih 2 jam lagi". ucap Ria sambil menepuk pahanya untuk sahabat nya itu tidur, Lula pun mengangguk dan merebahkan kepalanya di paha Ria.
Gunawan sendiri menarik nafas panjang, bingung dengan kekasih nya yang dari kemarin malam hanya diam. ia tidak tahu kenapa, perasaan dia tidak melakukan kesalahan apapun. apa mungkin karena dia sedang PMS, ujar Gunawan dalam hati dan melanjutkan perjalanan nya lagi.
Felix sendiri tadi sudah siap-siap duduk di belakang namun di urungkan karena Lula yang memilih untuk tidur di pengakuan Ria yang terlihat sekarang sedang mengelus kepala Lula lembut.
Sebenarnya Ria juga sesekali masih mencuri-curi pandang terhadap Felix, entah kenapa saat ini hatinya sangat bahagia. Tidak seperti biasanya saat ia belum bertemu dengan Felix, mimpi yang biasa membuat dia menangis pun tadi malam sudah tidak lagi datang.
Tadi malam Ria tidur dengan nyenyak, tidak ada lagi tangisan di tengah malam karena ia bangun dari mimpi yang membuat nya merasakan sakit di hatinya.
"Siapa kamu sebenarnya, kenapa aku seperti sudah lama mengenal mu. bagaimana bisa perasaan ku sebahagia ini saat bersamamu Felix". ucap Ria dalam hati dan sekarang tatapan mereka berdua bertemu melalui kaca spion mobil Gunawan.
Ria tersenyum begitu pun Felix, mereka saling memandang seperti insan yang sudah lama tidak bertemu, padahal mereka baru saja kenal.
Gunawan memperhatikan kedua insan itu dan hanya ikut tersenyum tanpa ingin mengganggu mereka berdua, mungkin sudah saat nya mereka kembali menjalani takdir yang dulu sempat berhenti.
"Maafkan aku tidak bisa mengatakan siapa Felix, karena aku sudah berjanji pada Rinjani". ujar Gunawan lagi.
"Sebentar lagi kita sampai, bisa kah kamu membangun kan Putri tidurku, Ria??". ujar Gunawan meminta tolong agar Lula di bangunkan.
"Lula, kita sudah sampai. ayo bangun".ujar Ria menggoyangkan Pelan pundak Lula, tidak butuh waktu lama akhirnya Dia bangun.
"Kita sampai, kamu mau ikut turun atau tinggal saja di mobil dulu". ujar Ria pada Lula.
"Aku ikut, ayo turun". ujar Lula keluar dari mobil setelah Gunawan membukakan pintu untuk nya dan mengulurkan tangan untuk membantu Lula turun, Lula menyambut uluran tangan Gunawan karena mungkin ini adalah genggaman yang terakhir yang dia bisa rasakan fikir Lula.
Gunawan tersenyum sambil terus menggenggam tangan kekasihnya memasuki area pemakaman yang di tuju oleh Felix.
Ria sendiri juga sudah turun saat Felix juga membukakan pintu untuk nya tadi, sempat mengulurkan tangan juga dan Ria menyambut uluran tangan itu.
Tangan hangat yang baru pertama kali Ria Rasakan, sambil menatap wajah Felix Ria turun namun dengan cepat ia melepas genggamannya karena tidak ingin Felix salah faham dengan nya.
Padahal Felix masih ingin menggenggam tangan Ria,tapi Felix tidak ingin memaksa. karena tidak ingin membuat Ria tidak nyaman bersama nya, Felix juga sudah mengantongi foto yang selalu dia bawa untuk nanti menunjukkan nya pada Gunawan.
Niat awalnya hanya ingin membuat Gunawan terkejut, tapi nanti pasti mereka semua lah yang akan terkejut dengan apa yang nantinya akan ia tunjukkan.
"Itu makamnya Felix". ujar Gunawan sambil menunjuk ke arah di mana di sana ada 3 makam yang terlihat lebih mewah dari Pada yang lain.
"Wahh sudah banyak juga yang di makam kan di sini ternyata,dulu hanya ada 3 makam di sini". ingat Felix saat ia ke sini bersama kakek dan kedua orang tuanya.
"Katanya kakek mu lah yang membeli tanah ini kemudian mewakafkan nya agar adiknya tidak kesepian di sini, dan agar makamnya tidak di gusur atau di pindahkan, mungkin jika ia ingin berkunjung maka ia mudah menemukan makam adiknya kan?!". ujar Gunawan menjelaskan apa yang ia dapat saat penyelidikan kemarin dan bertemu dengan penjaga makam ini kemudian menceritakan kepadanya.
"Ya, kakek sangat menyayangi adiknya, sampai-sampai Namaku pun di ambil dari nama adiknya ini". ujar Felix di perjalanan menuju ke arah makam itu.
Gunawan masih menggenang tangan Lula kekasih nya sambil tersenyum, walaupun Lula hanya membalas senyuman nya sedikit saja.
"Kita sampai". ucap Gunawan kepada yang lain, Felix maju ke depan. begitu pun Ria, di sana tertulis nama seseorang yang membuat dia terkejut.
"Philip Estu Felix". ucap Ria, entah kenapa nama itu tidak asing dan kemudian ingatan-ingatan masa lalu seperti kaset yang di putar ulang di kepala Ria.
Ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya, matanya berair. ia kemudian menangis di depan makam hingga membuat Lula juga Felix bingung, kecuali Gunawan.
Rinjani masih memperhatikan semuanya dari jauh, ia merasakan kesedihan dari adiknya. ia tahu sepertinya ingatan Ria tentang Philip pasti sudah kembali.
"Maafkan aku Philip,aku tidak bisa menepati janji ku untuk membantu Ria melupakan mu. takdir membawa langkah nya kembali kepadamu lagi". ujar Rinjani dari kejauhan.