Datuk Buaya Putih.

Datuk Buaya Putih.
89 Kecantikan Cucu ku.


Ria tidak berani meninggalkan jasad Yuni karena takut terjadi sesuatu yang tidak baik, Ria akan di sini sampai nanti Yuni sudah di makamkan.


Jam 10 pagi, semua orang sudah selesai makamkan jasad Yuni setelah di mandikan dan di sholatkan terlebih dahulu di pimpin oleh Kakek Darma.


Ria sekarang sudah di rumah, dan sudah membersihkan dirinya, terlihat wajah lelah dan sedih dari Ria. entah kenapa melihat perpisahan lagi di depannya sekarang kembali membuat hatinya sakit.


Rinjani yang tahu kenapa Ria sedih tidak bisa berbuat banyak, ia juga takut jika menyebutkan nama seseorang yang mungkin menjadi penyebab Ria sedih melihat perpisahan dari pasangan nya.


"Ria, sebaiknya kamu istirahat, nanti malam kau akan membantu doa di rumah Yuni bukan?" ujar Rinjani, akhirnya Ria pun memilih tidur siang hari itu.


Ria bangun saat Datuk kuning meningkatkan nya untuk ibadah karena waktunya hampir habis, seperti biasa walaupun dia bukan dari golongan manusia, Datuk selalu mengingat keturunan nya untuk ibadah agar terhindar dari bahaya dan itu juga kewajiban nya sebagai manusia.


Setelah magrib, Ria dan para keluarga semua nya bersiap untuk mengikuti pengajian di kediaman Yuni. sangat sedikit sekali orang yang ikut membaca doa di sana, namun mau bagaimana lagi. mengingat Yuni banyak menyakiti hati orang ini lah yang harus terjadi dan Ria tidak bisa berbuat apa-apa.


Setelah pengajian Ria dan yang lain pun pulang,ada beberapa murid dari kakek Darma yang di pinta untuk menjaga makam dari Yuni di temani oleh kakek Darma langsung. karena biasanya orang yang meninggal seperti Yuni kuburan nya sangat rentan untuk di bongkar dan di ambil kain kafannya untuk mengaji ilmu hitam.


Ria sudah sampai di rumah, terlihat sosok hitam besar sudah menunggu nya di dekat rumah, berusaha untuk menggapai Ria namun tidak bisa.


Entah kenapa makhluk itu tiba-tiba bisa ada rumah dan seperti memang menunggu kedatangan nya, karena mata makhluk itu terus menatap ke arah Ria. keluarga sudah masuk ke dalam rumah sementara Ria masih berdiri di teras.


Perlahan Wujud dari makhluk tadi berubah menjadi wajah seseorang pria Tampan dengan baju khas adat Dayak bersulam emas yang berjalan mendekat ke arah Ria namun tidak bisa masuk ke dalam, bahkan hanya bisa sampai batas pekarangan saja ia bisa mendekat.


"Bicaralah, aku bisa mendengar mu dari sini. ada perlu apa kau ke sini?". ujar Ria lagi.


"Jadi benar kau bisa melihat kami, aku tidak ingin apa-apa hanya saja ingin menyapa mu. aku fikir kau tidak menyadari keberadaan ku". ujarnya sambil tertawa pelan.


"Hanya itu?, kalau begitu aku masuk ke dalam sekarang". ucap Ria, lalu pergi meninggalkan makhluk itu sendirian.


Ria memang tidak suka berinteraksi dengan makhluk yang seperti itu terutama laki-laki, Ria takut mereka akan mengikuti dan menempel padanya atau pada kakak nya Rinjani yang memiliki wajah serupa.


"Ck,, ck,, ck,, jadi ada apa kau ke sini?". sekarang Rinjani yang tiba-tiba muncul di sebelah pria itu.


"Aaaa,,, aku sebenarnya mencari mu, Namaku Darwin. pangeran Darwin dari Desa Kalap". ujarnya pelan.


"Oe, kenapa mencari ku, jauh sekali kau mencari ku sampai ke sini". ujar Rinjani.


"Aku mendengar desas desus ada kembar cantik di desa ini, 1 dari alam manusia, satu lagi dari bangsa kami". ucap Darwin lagi.


"Lalu?". ujar Rinjani lagi bertanya.


"Heemmm, ternyata benar ada, hehehehe". ujar pangeran itu cengengesan.


"Cantik sekali, apakah aku bisa mendekati nya dan menjadikan dia permaisuri di kerajaan ku". ujar Darwin lagi.


"Apa aku culik saja dan nikahi dia?". ucapan pelan tiba-tiba sosok buaya putih muncul di samping nya dan mengibaskan ekornya hingga Darwin terduduk di tanah.


Sosok itu pun berubah menjadi wujud seorang nenek tua berbaju kuning yang ternyata sudah memperlihatkan semuanya dari tadi.


"Berani kau melakukan itu pada keturunan ku, akan ku porak poranda kan istana mu". ujar makhluk itu yang adalah Datuk kuning.


"Maaf Datuk, saya fikir dia bukan cucu dari Datuk. saya tidak bermaksud menyakiti nya, Hanya saja dia sangat cantik". ujar Darwin sambil menunjuk ke arah Rinjani yang sekarang sedang bermain bersama Anton di pekarangan rumah malam itu.


"Pergilah jangan ganggu mereka, jika kau ingin dengan cucu ku minta lah pada kakek nya di istana". ujar Datuk kuning pun akhirnya ikut masuk ke dalam Rumah, Darwin pun memilih pergi kembali ke istana nya bersama kedua orang tuanya yang memang sudah datang menjemput nya tadi.


Ria sudah tertidur lagi di rumah nya setelah terlebih dahulu melaksanakan ibadah isya yang tertunda karena harus mengikuti pengajian tadi.


Tidak terasa waktu Ria di kampung sudah hampir habis, lusa Ria akan kembali ke Surabaya dan kembali melanjutkan kuliah nya di sana.


Ria belum sempat mencari keberadaan kedua orang tua dari Anton pun merasa bersalah, karena kesibukan nya di kampung membuat nya lupa akan janjinya pada Anton.


"Sebaiknya kita rawat saja Anton di istana sampai nanti, jika dia di takdir kan untuk bertemu dengan orang tuanya. maka bukan tidak mungkin dia akan bertemu dengan nya". ujar Datuk kuning pada Ria dan Rinjani.


"Betul Ria, tidak mungkin untuk kita membawa Anton ke Surabaya. siapa yang akan menjaga nya di sana". ujar Rinjani lagi.


"Baiklah jika itu memang yang terbaik, Ria ikut saja kak". ucap Ria menjawab kakak nya itu.


Akhirnya Anton pun di bawa ke istana dan bermain juga berkumpul bersama anak-anak lain di sana.


Sebenarnya Anton bukan lah anak pertama yang di tampung di istana itu, banyak juga anak-anak yang pernah tenggelam di Laut atau pun sungai yang penasaran akhirnya tinggal di sana juga ada beberapa anak korban peperangan dulu.


Mereka semua masih belum menyadari mereka sudah bukan manusia, dan tidak tahu kenapa mereka belum bisa menuju cahaya pun akhirnya di tampung oleh Datuk kuning di istana nya.


Darwin sendiri masih suka mengawasi Rinjani dari jauh, dia tidak berani mendekat karena banyak nya pasukan yang menjaga mereka belakangan ini entah kenapa.


Padahal Datuk kuning lah yang memerintah kan penjagaan itu, karena tidak ingin cucunya di incar oleh makhluk seperti Darwin karena Datuk kuning tahu. Ria dan Rinjani adalah keturunannya yang sangat cantik.


"Aku bangga memiliki kalian, namun aku juga khawatir karena kecantikan kalian bisa saja membuat orang lain saling menyakiti untuk memiliki kalian". ujar Datuk kuning sambil memandangi Kedua Cucu nya yang sedang berbincang sambil tertawa-tawa.


Sementara di tempat lain juga ada seorang pemuda tampan dengan mata biru ke abu-abuan namun berambut hitam yang sedang mengejar pendidikan dengan giat nya karena ingin segera bisa menyelesaikan semua tugas kuliah agar bisa liburan ke tempat yang dulu pernah ia kunjungi bersama ayah dan kakek nya sebelum kakeknya meninggal.