Datuk Buaya Putih.

Datuk Buaya Putih.
63 undangan 7 bulanan.


"Jadi karena ini kamu pingsan Ria, karena Philip". ujar Gunawan dalam hati, ada rasa sakit di dalam hatinya sekarang.


"Kamu tidak apa-apa kan Dek, mimpi sampe nangis gitu. memangnya Philip kemana?". Gunawan tau Philip akan pergi, tapi fikirnya Philip hanya pergi menjauh untuk bersama Rinjani atau pergi ke tempat lain.


"Philip pergi menuju cahaya,semalam dia pamit. dia tidak akan bersama kita lagi". ujar Ria kemudian duduk kembali melihat ke samping memperhatikan pemandangan yang terlewat di jalan.


"Dia sudah tenang di sana Dek, tidak baik terlalu bersedih. lebih baik kamu kirimkan doa untuk nya supaya dia di berikan tempat terbaik untuk nya seperti mas mendoakan bapak". ujar Gunawan sambil fokus menyetir dan sesekali melihat spion depan untuk memeriksa keadaan Ria.


"Mas benar, dengan mudah saya bicara kemarin supaya mas sabar, ternyata sesulit ini untuk ikhlas ya mas. maafkan Ria yang kemarin hanya sedikit peduli pada mas yang kehilangan orang tua mas". Jawab Ria merasa sedikit bersalah.


"Bukan begitu dek, mungkin wanita dan pria beda mengutarakan kesedihan nya. wanita bisa menangis sepuasnya, mas tidak mungkin melakukan itu bukan. malu nanti sama otot dan seragam". Gunawan berusaha menghibur Ria berharap dia bisa melupakan sedikit kesedihan nya.


"Ternyata Philip sudah menuju cahaya, semoga kamu tenang di sana, aku akan berusaha menjaga Ria di sini semampu dan sebisa ku". ujar Gunawan dalam hati.


Lula yang tertidur akhirnya juga bangun setelah mendengar Ria dan Gunawan yang ngobrol di dekat nya. "Apakah kita sudah sampai mas?". tanya Lula pada Gunawan.


"Sebentar lagi, tinggal beberapa belokan kita sampai. tapi lebih baik kita Maghriban dulu. makan baru mas antar ke Asrama ya". ujar Gunawan. Ria dan Lula hanya mengangguk pasrah.


Jam 8 malam akhirnya Ria dan Lula sampai. Gunawan turun sebentar untuk berpamitan pada Ria dan Lula, saat sedang ingin pergi tiba-tiba Gunawan merasakan ada yang menepuk pundaknya.


"Heh Gun, ngapain di sini. nganterin cewek mu ya, yang mana cewek mu?". ujar orang tadi yang ternyata teman dari Gunawan yang menyelidiki kasus kebakaran di rumah pak Santoso.


"Hehh Frans, belum di terima sayanya. masih usaha ini, yak gak dek?". ujar Gunawan Santai menyenggol pundak Ria pelan.


"Bagus lah, jangan terima dia. cewek nya banyak". ujar Frans lagi.


"Enak aja,kamu tu yang selingkuhan nya banyak. nanti aku laporin ke Unge liat aja". Gunawan kembali mengejek Frans.


"Hahahahha, ampun nyerah saya. bumil lagi mode reog melulu, jangan macam-macam gun.di potong nya nanti aku punya pusaka, selesai aku".ujar Frans sambil mengangkat tangan nya tanda menyerah.


"Jadi siapakah gerangan nama adik-adik yang cantik jelita ini?".Tanya Frans lagi.


"Ini Lula, dan Ini Ria". ujar Gunawan mengenalkan mereka satu-persatu. akhirnya mereka pun saling bersalaman untuk saling mengenal kan diri masing-masing.


"Aku si ganteng Frans tapi maaf saya sudah sold out, tidak bisa di miliki lagi".ujar Frans sambil bergurau dengan mereka.


"Alhamdulilah sudah sold out ya mas, jadi tidak ada yang nemenin deh". ujar Lula.


"Panggil Abang saja, jangan mas. Mas itu si Gunawan". ujar Frans membetulkan panggilkan nya, memang wajah fran tidak terlihat seperti orang Jawa, tapi lebih ke orang timur.


"Dia bukan orang Jawa, tapi istrinya yang orang sini". jelas Gunawan.


"Ya cinta ku bersemi di tanah Jawa, hahahaha". ujar Frans lagi.


Ria hanya sesekali tersenyum melihat semuanya berinteraksi. entah kenapa dia melihat ada sesuatu yang janggal pada diri Frans tapi tidak tahu kenapa.


"Sepertinya kasus akan lama untuk di proses, atau mungkin akan di tutup saja. karena tidak ada bukti pembunuhan atau tindakan kriminal di sini". ujar Frans.


"Baiklah, aku mau langsung pulang Brow. bentar lagi piket di lapangan. mayan lah udah setengah jalan".Ujar Gunawan pamit.


"Salam sama Unge dan semoga dedek bayi sehat-sehat di perut nya ya. biar ada Frans Junior". ujar Gunawan lagi.


"Minggu depan ajak lah mereka ke siraman istri ku ya, kami akan mengadakan 7 bulanan di rumah dinas saja". ujar Frans mengundang Gunawan dan yang lain.


"Kalo saya insyaallah di usahain datang, lumayan ada alasan kan buat ke sini lagi. tapi tidak tahu Ria bisa apa nggak, takut nya dia sibuk".


"Hari apa bang acaranya?". akhirnya Ria mengeluarkan suaranya.


"Hari Sabtu, kau masih ada mata pelajaran di kampus tidak, bila tidak bisa tidak apa jika tidak datang. Hanya saja kasian si jomblo ini tidak ada temannya". ujar Gunawan lagi.


"Yang di undang cuman Ria ya, Lula nggak". ujar Lula memasang wajah sedih nya, "Di sana pasti lebih banyak pilihan Anggotanya kalo aku datangkan?". ujar Lula dalam hati, tetap yang utama abang-abang ganteng yang ada di otak Lula.


"Kalo kamu bisa kita bisa berangkat sama-sama, gimana Ria. apakah kamu bisa?". tanya Gunawan.


"Bisa mas insyaallah, Ria akan datang jika di izinkan untuk nebeng sama mas". ujar Ria merasa tidak enak jika berbohong dia tidak datang.


Padahal niatnya ingin menjauh dari Gunawan setelah hari ini, tenyata mereka masih di takdir kan untuk bertemu.


"Ya sudah Mas pamit pulang ya, hati-hati di sini. kalian jaga diri, kalo ada apa-apa hubungin mas ya". ujar Gunawan sambil mengelus kedua kepala wanita itu.


"Aku juga pamit pulang, saya tunggu kedatangan nya".ujar Frans dan mereka pun masuk ke mobil masing-masing untuk pergi ke tempat mereka.


Lula yang baru pertama kali di perlakukan seperti itu oleh Gunawan malah semakin jatuh cinta pada sosok Gunawan, ia memegang jantung nya yang berdegup kencang setelah di elus kepala nya tadi.


Sementara Ria hanya fokus melihat mobil Gunawan akhirnya hilang di belokan,ria tidak merasakan apa-apa karena di hatinya masih ada nama Philip yang bertahta.


"Ayo masuk Lula, sudah sangat malam". ujar Ria membuyarkan lamunan sahabat nya Lula.


"Aaa,, ayo masuk Ria. kau sudah baikan kan, tidak ada yang sakit lagi?". walaupun Lula sakit hati pada Gunawan yang tidak menganggap nya seperti Ria, Lula tetap memperhatikan Sahabat nya Ria.ia tidak ingin memaksakan kehendak nya dan membuat hubungan persahabatan mereka retak.


"Aku sudah tidak kenapa-kenapa Lula, istirahat sebentar pasti sembuh dan pulih seperti sedia kala". ujar Ria sambil berjalan bergandengan dengan Lula.


"Baiklah, tapi kalau sakit segera beri tahu aku. akan ku racikan obat yang manjur untuk mu". ujar Lula lagi.


"Kamu gak jadiin aku bahan experiment Kamu kan Lula?".tanya Ria sedikit menggoda teman nya.


"Astaga bisa-bisanya kamu ya Ria". ujar Lula berkecak pinggang di depan kamar sambil menunggu Ria membuka kunci kamar nya.


"Hahahaha, bercyaanndaaa.. bercyanndaaa".ujar Ria tertawa memasuki kamar mereka dan akhirnya mereka pun sampai di kamar mereka juga.