
"Semoga besok aku bisa menyelamatkan mu Syakila". ujar Ria kemudian memejamkan matanya untuk tidur.
Pagi hari Gunawan, Ria, Lula dan Bu sari sudah di dalam mobil untuk menuju ke desa tempat keluarga Bu Astri, sebentar lagi mungkin akan sampai.
Namun saat hendak memasuki halaman rumah terlihat Mbah Gundala sedang duduk di bangku depan rumah menatap ke arah depan seperti sedang menunggu seseorang.
"Mungkin beliau sudah tahu jasad Bu Astri akan segera sampai". fikir Ria sambil menatap ke arah Mbah Gundala.
"Mas, katanya kapan ambulance nya sampai di sini?". tanya Ria pada Gunawan, karena baru saja Gunawan menelfon ke Kapolres untuk menanyakan itu.
"Kalau perhitungan mas pas tidak lama setelah kita sampai maka ambulance pun juga sampai dek". jawab Gunawan sudah ingin memberhentikan mobil di pinggir jalan karena mereka sudah sampai, tinggal jalan sedikit ke depan.
Semua orang terlihat sedang sibuk dengan kegiatan nya untuk bersiap menyambut kedatangan Astri fikir mereka.
Saat semua sudah hampir masuk di pimpin oleh ibu Sari yang mengucapkan salam, langkah Ria terhenti setelah menyadari sesuatu. kenapa Bu Sari melewati Mbah Gundala tanpa memberi salam.
Ria menutup mulutnya dan segera ia menolehkan ke arah Gunawan yang masih ada di belakang, ia tertinggal karena harus memarkirkan mobil dengan benar tadi.
Gunawan yang melihat Ria berbalik menghadap nya dengan wajah yang shock dan terlihat air mata nya yang hampir jatuh segera mendatangi Ria dan memegang pundak nya, tubuh Ria bergetar tangis nya tumpah.
Dengan tangisnya yang sesenggukan Ria ingin mengatakan sesuatu yang mungkin membuat Gunawan tak kalah terkejut nya, namun belum sempat Ria bercerita tak beberapa lama terdengar suara ambulans memasuki halaman rumah.
Gunawan sudah merangkul tubuh Ria dari samping, Gunawan fikir pasti ini tidak mudah untuk Ria.
Ria melihat Astri yang tersenyum ke arah nya mengikuti kemana jasadnya di gotong oleh beberapa keluarga yang sudah menunggu di rumah.
Ria semakin terisak kala melihat Mbah Gundala bangkit untuk menyambut kedatangan putrinya yang selama 35 tahun ini di nantikan nya.
Tapi kali ini mereka benar-benar bertemu, saling berpelukan dengan Astri yang sudah terisak di pelukan ayahnya.
"Bapak, maafkan Astri. Astri sudah membuat bapak menunggu kepulangan Astri Sangat lama". ujar Astri.
"Gak apa-apa nduk, yang penting kamu sudah pulang. bapak senang masih di beri kesempatan untuk melihat kamu dan pergi bersama, selama ini bapak bertahan hanya untuk bisa melihat kamu pulang". ujar Mbah Gundala.
"Ria terimakasih banyak, jika bukan karena kamu mungkin aku tidak pernah bisa pulang, bertemu dengan bapak dan pergi bersama. Terimakasih banyak". ujar Astri sambil menggandeng lengan bapaknya.
"Terimakasih banyak ya nak Ria, Kamu sudah membawa anak ku pulang. Bapak sudah tenang kalau pun harus pergi dari dunia ini sekarang". ujar pak Gundala sambil tersenyum melihat putri kesayangan nya yang kini sudah bersamanya.
Ria hanya bisa mengangguk dan semakin terisak di samping Gunawan yang masih merangkul nya, walaupun ia tidak faham kenapa Ria mengangguk seperti berbicara dengan seseorang.
"Kamu jaga diri Ria, semoga kebaikan mu di balas oleh Allah yang maha esa. Kami pamit pergi". ujar Astri kemudian berjalan dengan di ikuti Mbah Gundala berjalan menuju ke arah cahaya terang di ujung sana.
"Mereka pergi mas, menuju cahaya". ujar Ria masih semakin terisak, Gunawan bingung siapa yang di maksud dengan mereka.
Gunawan menarik Ria ke dalam pelukan nya, berharap Gadisnya menemukan tempat untuk ia mencurahkan segala kesedihan nya, walaupun ia masih belum faham siapa yang Ria maksud dengan mereka.
"Mas Gunawan, Ria, katanya jenazah sebentar lagi akan di sholatkan. kalian ikut menyolatkan Bu Astri dan Mbah Gundala nggak?". ujar Lula.
Ria cepat-cepat melepaskan dirinya dari pelukan Gunawan, dia benar-benar tidak sadar dengan semua itu karena yang Ria tahu ia hanya ingin menumpahkan tangisan nya tadi.
"Aku ikut". Ujar Ria yang memang sudah membawa peralatan untuk sholat nya.
Sekarang Gunawan faham siapa yang di maksud dengan Mereka oleh Ria barusan, padahal dia belum masuk ke dalam rumah tapi Ria sudah tahu kalau Mbah Gundala juga berpulang.
"Ayo kita masuk bersama". ujar Gunawan kemudian.
Ria dan Lula pun berjalan bersama, terlihat Bu Lastri dan Bu sari sudah saling menguatkan di pojokan sana dan saat melihat Ria masuk ke dalam rumah tangisan Bu Lastri kembali pecah.
Ria segera melangkahkan menuju Bu sari dan memeluk tubuh wanita itu, ia mengelus pundak Bu Lastri yang sudah terisak di pundak nya.
"Bu, Mbah tadi pergi sama Bu Astri. kata Mbah dia sudah tenang karena beliau pergi bersama anak yang sudah di nantikan oleh beliau, jadi saya harap ibu ikhlas". ujar Ria berbisik pelan.
Bu Lastri kemudian menatap wajah Ria, ia mengangguk faham sambil menghapus air mata yang ada di pipinya juga berusaha tersenyum pelan.
"Bu, Eang Uti mana?". tanya Ria mencari istri dari Mbah Gundala.
"Ada di dalam kamar nduk, kamu kedalam saja". ujar Bu Lastri menunjuk ke arah kamar.
Lula duduk di samping Bu Sari sambil menunggu waktu untuk sholat bersama.
"Eang Uti". ujar Ria setelah memasuki kamar dan memberikan salam, ia duduk tepat di depan wanita tua yang sedari tadi memeluk foto suami juga putri nya yang hari ini akan di makamkan.
Tidak ada air mata di wajahnya, walaupun terlihat ia sangat sedih dan kehilangan.
"Nduk, Lastri sudah menceritakan semuanya sama Mbah. terimakasih banyak ya nduk. karena kamu Mbah Gundala bisa pergi dengan tenang, beliau sudah terlalu lama memendam kesedihan dan kerinduan kepada putri nya itu. semoga mereka bertemu bersama di sana ya". ujar Eang uti sambil menggenggam tangan Ria.
"Eang tenang saja, Tadi Ria lihat Mbah Gundala dan Bu Astri pergi bersama". ujar Ria membuat eang Uti menarik nafas lega karena putri dan suami nya sudah bersama, tinggal dirinya saja menunggu giliran yang nantinya juga pasti akan menyusul.
"Bu, ayo kita sholat kan dulu jenazah nya bersama sebelum kita makamkan nanti". ujar suami Bu Lastri.
Eang Uti mengangguk, Ria dengan cepat merangkul tubuh Eang Uti untuk mengambil air wudhu dan bergabung bersama yang lain.
Selang beberapa lama pun mereka sudah ada di makam, Mbah Gundala dan Bu Astri di kuburkan 1 liang lahat.
Bu Lastri sudah terlihat lebih tenang sedang merangkul Eang Uti yang terlihat tak kalah tegar nya, Gunawan juga sudah selesai membantu memasukan jenazah ke liang lahat tadi bersama para laki-laki yang juga ada di sana.
Sekarang ia sedang berdiri di samping Ria yang masih menatap ke arah makam, "Ayo kita pulang ke rumah Bu Lastri untuk membantu acara pengajian Ria, biarkan Eang Uti dan yang lain di sini, mungkin sebentar lagi mereka juga akan pulang". ujar Gunawan menggenggam tangan Ria dan mengajak nya melangkah pelan.
Bukan tanpa alasan Gunawan membawa Ria menjauh dari pemakaman, Gunawan takut Ria kenapa-napa di sana karena sejak tadi dia selalu melamun.