Datuk Buaya Putih.

Datuk Buaya Putih.
85 Apakah Dia Mau?


"Ayo kita ke rumah mu sekarang, Ria ikut kakek Cu. bantu Kakek". ujar kakek Darman kepada Ria yang berdiri di belakang kakek Darman sekarang.


Ria menggunakan kepalanya pelan dan akhirnya mereka ber empat pun melangkah menuju ke rumah Yuni, Si Kuyang yang kesakitan.


Akhirnya Ria, kakek Darman, pak ustadz dan suami Yuni sampai di rumah nya, mereka langsung di tuntun ke kamar oleh suaminya di Yuni tadi, terlihat lah di sana Yuni yang sedang terengah-engah sambil menggelengkan kepalanya.


Ria tahu dia pasti sangat ketakutan, terlihat juga air matanya yang terus mengalir membuat Ria tidak sampai hati untuk menatap Yuni.


kakek Darma dan pak ustad pun ikut juga melihat Yuni, di baca kan lah ayat-ayat suci untuk membuat Yuni sadar.


Namun Yuni malah menggelepar di atas kasur membuat suaminya bingung, ia memegang kaki istrinya yang menendang-nendang agar tenang kembali.


Sementara Ria memegang tubuh dari Yuni, kakek Darma juga sepertinya sangat iba melihat keadaan Yuni. pak ustadz yang awalnya berfikir jika Yuni kerasukan sedikit terkejut melihat memar dan lebam di leher Yuni dan melirik ke arah kakek Darma.


Kakek Darma yang tahu apa maksud pak ustad hanya menganggukkan kepalanya pelan, seperti membenarkan fikiran dari beliau.


Yuni sekarang sudah bisa menggerakkan tubuhnya,namun masih belum bisa mengendalikan nya. tubuh nya seolah-olah tidak seperti biasanya, tenaganya sangat kuat sampai membuat Ria juga Suaminya kewalahan memegangi nya.


Yuni bangun dari tidur nya sekarang, dia duduk di atas kasur, namun masih belum bisa bicara. kepala nya menengadah ke atas dengan suara yang tercekik.


"Kkhhheeeeehhhh,,,". Yuni hanya mampu mengeluarkan suara itu saja dari tadi, suaminya sekarang sudah berpindah ke belakang Yuni dan memeluk tubuh istrinya yang masih menengadah kepalanya ke atas.


Namun Yuni dengan kuat menangkis tangan suaminya yang berusaha menenangkan nya hingga kepala suami nya terbentur dinding kamar dan mengeluarkan sedikit darah karena ada paku yang memang menancap di situ.


Beruntung luka itu hanya luka gores, bukan luka yang tertancap. namun tetap mengeluarkan darah yang mengalir, tapi suami Yuni kembali bangkit dan memeluk kembali Yuni yang sedang mengamuk sambil membaca ayat-ayat suci yang dia bisa.


Sementara Ria pindah ke kakinya dan menekan jempol milik Yuni, Ria membacakan ajian yang memang di ajarkan para Datuk untuk nya.


Tubuh Yuni semakin bergetar dan kejang, suaminya sudah menangis sambil memeluk nya.


"Yuunn,, istighfar.. eling, kamu kenapa bisa seperti ini?". ujar suaminya menangis.


Perlahan Yuni pun tenang, setelah kakek Darma memegang kepalanya dan seperti mencabut sesuatu. mungkin untuk orang awan itu tidak terlihat apa-apa, tapi Ria melihat di situ seperti ada seekor Cicak putih yang di tarik dari dalam kepalanya Yuni.


Pak ustadz tadi membantu sambil membaca ayat-ayat suci agar Yuni cepat sadar tadi.


Yuni menyadarkan tubuhnya ke suami nya, sementara Ria masih memegang kedua jempol kaki milik Yuni agar cicak atau energi ghaib itu tidak kembali masuk.


Karena biasanya mereka masuk ke tubuh manusia melalui jempol kaki.


Yuni masih diam dengan tatapan kosong, air matanya mengalir dengan deras. ia memegang kedua tangan suaminya yang sedang melingkar di pinggang nya, Ria tahu sepertinya Yuni sangat sedih.


"Kak, sadar ya kak. kasian suaminya kakak, dia terluka tadi". ujar Ria pelan.


Yuni menengadahkan kepalanya melihat wajah suaminya yang sudah terlihat berurai air mata dan terluka pada kening nya, namun bisa-bisa nya dia masih memeluk tubuh Yuni tanpa merasakan sakit di lukanya.


"Yun, sadar ya. ini Mas, istighfar ya". ujar suaminya Yuni, terlihat sekali dia sangat mencintai istrinya ini.


Yuni mengangguk dan memeluk suaminya, ia terisak di sana, Ria, kakek Darma juga pak ustadz memilih keluar kamar untuk memberikan mereka Ruang.


"Kakek, apakah benar dugaan saya tadi kek. sepertinya Yuni mendalami ilmu sesuatu". ujar ustadz itu pada kakek Darma.


"Seperti yang kamu lihat, memang dia bukan manusia biasa". jawab kakek Darma.


"Ria, kau tidak apa-apa kan Cu?". ujar kakek Darma pada Ria yang terlihat sangat sedih dengan kejadian tadi.


Ria menggelengkan kepalanya, sambil sedikit tersenyum "Ria tidak apa-apa kek, hanya sedikit sedih melihat keadaan kak Yuni". ujar mereka lagi.


Selang beberapa lama, suaminya Yuni pun keluar kamar dan menemui kakek Darman, ustadz dan Ria.


"Maaf kan saya semuanya, saya merepotkan kalian". ujar Suaminya pada mereka ber 3.


"Tidak apa nak, memang sudah tugas kita membantu sesama. Bagaimana keadaan istrimu di dalam?". tanya kakek Darma.


"Dia sudah tertidur lagi kek, semoga dia tidak kembali kerasukan lagi". ujar nya menjawab.


"Sebaiknya taburi garam di sekeliling rumah nak, agar tidak ada hal buruk yang masuk ke dalam sini, dan besok jika kamu bekerja lebih baik kalau bisa bawalah Yuni ke rumah kakek ya". ujar kakek Darma lagi.


"Baik kek, apakah saya tidak merepotkan jika menitipkan Yuni ke rumah kakek?". tanya suaminya lagi.


"Tidak apa, daripada dia sendirian di rumah. biar cucu saya Ria yang menemani nya nanti di rumah". Kakek Darma lagi menjelaskan.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya, insyaallah istrimu tidak akan kesurupan lagi. ingat untuk menaburkan garam dan kalau ada apa-apa kamu bisa ke rumah lagi". ujar kakek Darma akhirnya pamit di ikuti oleh pak ustadz juga Ria.


Di jalan pak ustad tadi memberanikan diri untuk berbicara pada kakek Darma tentang Yuni dan tindakan apa yang akan di ambil, tidak mungkin untuk mereka membiarkan Yuni terus berada di kampung ini dengan ajian yang ia miliki.


Pak ustadz juga sekarang ingat ada 3 orang yang seperti nya sudah jadi korban di kampung ini kemarin karena sudah 3 kasus keguguran kemarin.


"Bersabarlah, insyaallah saya akan buat Yuni melepaskan ajian nya. percuma jika kita menyuruh nya pergi dari sini, nanti justru dia bisa mencari korban di kampung-kampung lain". ujar kakek Darma menjelaskan.


"Syukurlah jika kakek berkenan untuk membuat Yuni melepaskan ajiannya, kalau begitu saya pamit pulang duluan kek". ujar pak ustad yang memang sudah lebih dulu melewati rumah nya setelah Salim dengan kakek Darma.


Kakek Darma mengangguk dan setelah menjawab salam ia lenjut melangkah bersama Ria kembali ke rumah.


"Kakek, jika nanti kak Yuni betul akan melepaskan ajiannya. apakah dia bisa hidup normal?". tanya Ria.


"Mungkin umur nya hanya tinggal beberapa hari setelah ia melepaskan ajian nya Ria, karena memang pada dasarnya dia tidak muda lagi". ujar kakek menjelaskan.


"Apakah dia mau melepaskan ajian nya?". ucap Ria dalam hati sambil melangkah memegang lengan kakeknya pulang.