
"Kalian berdua sama-sama gesrek, Jadi lebih baik saling mendoakan". ujar Ria sambil menahan tawa di kursi belakang dan akhirnya mereka bertiga tertawa bersama.
Tidak beberapa lama sampai lah Lula dan Ria di asrama, sudah ada banyak mahasiswi juga yang sudah kembali dari liburan panjang nya seperti mereka.
"Mas langsung ke rumah temannya mas ya, kalian berdua hati-hati belajar yang rajin. jangan asik pacaran aja". ujar Gunawan.
"Kalian berdua yang pacaran Mulu, saya kan nggak". ujar Ria dan di sambut tawa oleh Lula juga Gunawan.
"Maksudnya mas Gunawan, jangan terlalu serius belajar. coba deh pacaran biar tau serunya gimana".Ujar Lula sambil menyenggol pundak Ria pelan.
"Udah ah, makasih ya mas. Ria masuk aja sekarang". Ria tidak mau meladeni dua manusia yang sepertinya memang di takdir kan bersama ini, sementara Lula salim dulu baru dia masuk pamit kepada kekasihnya itu.
Hari sudah malam, Ria masih terjaga. Entah kenapa perasaan nya hari ini sungguh tidak enak.
Seperti merindukan Seseorang tapi tidak tahu siapa, kadang Ria bingung kenapa dia tidak bisa menyukai orang lain. setiap dia ingin mencoba membuka hatinya untuk seseorang maka sekelebat bayangan seseorang juga muncul di ingatan nya.
Ingatan yang sedikit buram, hingga Ria tidak bisa tahu siapa orang itu. Namun kadang juga membuat Ria malah tidak fokus untuk merespon orang-orang yang ingin mendekati nya.
"Siapa Dia, kenapa selalu saja muncul di ingatan ku seperti aku pernah bersama nya. tapi wajah nya tidak bisa ku gambarkan". monolog Ria dalam hati.
"Ria, kenapa belum tidur?". Rinjani muncul di samping Ria dengan senyuman yang manis seperti biasanya.
"Belum mengantuk kak, kakak dari mana?". ujar Ria karena dari tadi tidak melihat kakak nya Rinjani di dekat nya.
"Kakak di depan, sepertinya ada makhluk yang ingin mendekati mu. berhati-hati lah, kakak Rasa dia menyukai mu". ujar Rinjani pada Ria.
"Makhluk itu laki-laki?". tanya Ria dengan polosnya.
"Iya, dia laki-laki. makhluk yang kemarin ada di rumah mu. dia mengikuti kita sampai ke sini,aku hanya tidak ingin kamu kembali menyukai makhluk seperti bangsa kami".ujar Rinjani tanpa sadar.
"Kembali menyukai?!, maksudnya kakak apa, apakah Ria pernah menyukai makhluk dari dunia kakak?". Ria kebingungan, karena setahu nya dia tidak pernah menyukai pria apa lagi dari makhluk ghaib.
"Eee,,, tidak. maksudnya kakak seperti dulu para makhluk menyukai mu, tapi kau tidak tahu karena kakak langsung mengusir nya". ujar Rinjani mencari alasan.
"Hampir saja aku keceplosan, huuffttt Philip seandainya saja kamu dari bangsa manusia, mungkin aku tidak akan menjauhkan bahkan memisahkan cinta kalian. sayang nya kamu sejenis dengan ku". Rinjani berbicara dalam hati.
"Lebih baik sekarang kamu tidur, Istirahat lah". Rinjani memerintahkan Ria dan Ria pun mengangguk kemudian mencoba untuk tidur.
"jadi kamu bisa melihat ku?"..
"Ya aku bisa".. krriiinggggggg...
Tiba-tiba suara alarm subuh berdering membangun kan Ria dari mimpi nya.
Ria bermimpi Berbicara dengan seseorang tapi dia tidak bisa melihat wajah orang itu,dan membuat Ria penasaran. Ia tidak langsung bangun tapi masih melamun memikirkan mimpinya barusan, mimpi yang seperti nyata.
"Huufffss siapa dia, suara nya tidak asing". ujar Ria bicara pelan.
"Siapa Ria, kamu kenapa?". ujar Rinjani yang masih duduk di samping Adiknya dan menjaga nya dari tadi malam.
"Aaaa Tidak kak, Ria hanya bermimpi. tapi tidak jelas".Ujar Ria, Rinjani hanya mengangguk pelan dan mengingat kan Ria untuk bangun Ibadah subuh.
Sekarang sudah jam 12 Siang, setelah beres-beres sedikit dan saling bertukar oleh-oleh Ria dan Lula memutuskan untuk keluar sebentar untuk jalan-jalan dan mereka juga mencari alat tulis untuk keperluan besok kembali belajar di kampus.
"Riiaaa". ujar seseorang memanggil nya dari belakang, Ria dan Lula pun menoleh dan melihat kakak senior Tampan di kampus mereka sedang ada di mall yang sama.
"Hai kak Zain, kakak sedang apa di sini". ujar Lula menyapa kakak senior nya itu.
"Oe, hai Lula. maaf kakak tidak lihat kamu di sini". ujar Pria itu yang bernama Zain.
"Gak apa-apa kak, sudah biasa memang aku tidak di anggap". ujar Lula dengan wajah yang di buat sedikit menyedihkan, Ria hanya geleng-geleng melihat sahabatnya kumat jika berhadapan dengan pria tampan.
"Hai kak, Kakak di mall sini juga?". akhirnya Ria mengeluarkan suara merdu dan lembut nya.
"Aaaa iya, cari angin sebelum besok kita mulai bertempur lagi dengan semua tugas kuliah kita". Ujar Zain sambil tertawa pelan, ia gembira mendengar Ria bertanya padanya.
"Ria sedang apa di sini?". ujar Zain kemudian.
"Ria Lagi cari alat tulis buat besok belajar, sama sekalian cari angin juga". Jawab Ria lagi.
"Aa.. boleh kakak gabung gak?, kan kakak sendirian". Zain meminta untuk jalan-jalan bersama.
"Ya sudah gak apa-apa kak, ayo aja kita mah. Ya kan Ria??!". kali ini Lula lah yang menyahut sambil menyikut pelan pundak Ria, Ria hanya mengangguk pelan.
"Terserah kakak saja". ujar Ria lagi.
"Oke, ya udah, kita beli minuman di sana Yue sambil jalan. kan lagi viral tu, sama kalian mau nonton gak. ada film baru rilis, katanya bagus". Zain terus bicara, dan seperti biasa Lula lah yang semangat untuk menjawab sementara Ria hanya mengangguk atau menggeleng saja.
Dari jauh ada seseorang yang memperlihatkan mereka bertiga dengan mata yang menatap dengan amarah nya.
"Dasar cewek-cewek kampung, bisa-bisa nya mereka mendekati incaran ku. lihat saja besok di kampus, akan ku beri kamu pelajaran".Ujar orang itu masih sambil mengikuti mereka dari jauh.
"Kak, sudah sore. kami pamit pulang ke asrama dulu ya, makasih untuk semuanya?". ujar Ria kepada Zain.
"Tidak usah berterima kasih Ria, kakak senang bisa jalan sama kamu. boleh kakak antar nggak, sekalian kakak juga mau pulang". ucap Zain kepada Ria.
"Tidak usah kak, Ria sama Lula naik taxi online saja". Jawab Ria tidak ingin merepotkan kakak senior nya ini.
"Ck, ayo donk, Kakak gak akan ngapa-ngapain kalian. Emang nya muka kakak kaya penjahat ya, sampai gak mau di anterin pulang, Lula kasih tau donk Ama Ria. Biar dia mau di anterin".Ujar Zain pada Lula.
Karena dari tadi hanya Luka yang bisa membuat Ria berkata ia tanpa ada penolakan, bahkan saat di ajak nonton film horor tadi.
Ya,.. walaupun Ria sama sekali tidak ketakutan. padahal Zain berharap nya Ria ketakutan dan bersembunyi di balik tumbuh nya karena posisi Ria yang duduk di tengah di apit oleh nya dan Lula. seperti adegan di film-film Romantis yang biasa dia tonton dengan mantan-mantan nya.
Zain tidak tahu saja hidup Ria selalu berkutat dengan hal-hal berbau Horor secara langsung, film-film itu tidak ada apa-apa nya untuk Ria.
"Ayo lah Ria, sekali-kali kita ngerepotin orang lain gak apa-apa kan.kamu selalu bantuin orang lain, sekarang kamu juga harus menerima bantuan orang lain".ucap Lula pada sahabat nya itu dan ya, benar tebakan Zain, Ria tidak akan menolak ucapan dari Lula dan akhirnya mereka pulang dengan di antar menggunakan mobil milik Zain.
20 menit kemudian mereka sudah sampai di depan asrama, Ria dan Lula pun turun setelah mengucapkan terimakasih terlebih dahulu pada Zain.
"Kami kedalam dulu kak, Terimakasih banyak untuk hari ini". ucap Ria pada Zain sambil sedikit tersenyum, Zain mengangguk sambil membalas senyuman Ria dengan semangat.
"Sama-sama, kapan-kapan kalau ada waktu boleh kan Kakak ajak kalian lagi jalan-jalan?".ujar Zain pada Ria dan Lula, Zain tau mereka berdua satu paket dan tidak mungkin terpisah kan.
"Insyaallah, kalau ada waktu luang ya kak". Jawab Ria dan akhirnya mereka berpisah setelah saling pamit.
Tak jauh dari sana juga ada sebuah mobil berhenti hanya untuk memantau mereka ber3 dari jauh.
"Perempuan Sundal, lihat apa yang akan ku lakukan jika kamu berani merebut Zain dari ku".ujar orang tersebut sambil memukul-mukul setir mobil nya dengan kuat.