
"Kau tahu dari mana dia mencintai ku, ada-ada saja". Ria terkekeh melihat temannya yang sudah memasang wajah kesal dengan bibir yang sudah seperti kartun bebek.
Ria dan Lula keluar asrama bersamaan setelah izin dengan kepala asrama nya, di sini memang tidak terlalu ketat, asalkan tau batas jam pulang dan tidak membawa pria ke dalam sudah cukup. juga bila ke mana-mana atau menginap harus dengan bukti jika sudah izin ke orang tua.
"Sudah siap, ayo kita berangkat sekarang" ujar Gunawan setelah semua masuk ke mobil, Ria di kursi depan juga Lula di belakang.
"Ibu sehat kan Mas?". tanya Ria membuka pembicaraan agar tidak boring di perjalanan.
"Alhamdulillah ibu sehat dek". jawab Gunawan sambil memberi senyuman terbaik nya kepada Ria.
Lula yang duduk di belakang berasa seperti obat nyamuk sebenarnya, namun dia memilih diam menikmati perjalanan ini dan Lula juga bukan berasal dari sini dan ini perjalanan jauh pertama nya.
"Alhamdulillah, jadi besok sudah pasti jenazah Bu Astri di kembalikan ya mas. semoga keluarga Bu Lastri ikhlas dan tabah ya mas, mereka menunggu sangat lama untuk kepulangan Bu Astri dan sekalinya pulang justru hanya tinggal nama". Ria masih sedih jika ia mengingat Astri, seseorang yang pertama kali ia bantu dengan kelebihan nya.
"Mungkin ini sudah suratan takdir beliau Dek, kita manusia tidak bisa tahu apa yang akan terjadi di dalam hidup kita". ujar Gunawan mencoba menghibur Ria yang terlihat sudah menahan tangis.
"Saya beberapa lama saja tidak berjumpa orang tua rindu nya setengah mati mas, beliau 35 tahun tidak bisa berkumpul dengan keluarga nya. sempat beberapa lama bergentayangan di rumah nya yang dulu sebelum betul-betul kehilangan jejak karena kedua orang tuanya pindah". Ria membuang wajah nya menghadap ke luar karena sekarang air mata nya kembali Luruh.
Kemarin Bu Astri datang ke padanya mengucapkan terimakasih dan mungkin akan pamit untuk pergi, Ria ingat wajah cantik Bu Astri sudah kembali seperti terakhir kali sebelum dia di Bun*h. wajah nya cantik sekali, membuat Ria seperti tertusuk ribuan belati jika mengingat semuanya.
Juga kemampuan Ria semakin bertambah sekian bertambah nya waktu, ia sudah mampu melihat kejadian masa lalu saat Astri memegang tangan nya dan memperlihatkan kejadian-kejadian yang dia alami sampai ia akhirnya meregang nyawa.
Karena itu sekarang ia tidak bisa tidak bersedih, Lula yang melihat Ria menangis pun akhirnya mulai sedikit percaya jika yang di ucapkan oleh teman nya tadi tidak bohong.
"Ria benar-benar bisa melihat mereka ternyata". ucapnya dalam hati, tapi entah kenapa sekarang bukan nya takut Lula justru bangga teman nya ini memiliki kemampuan untuk membantu orang lain.
Melihat Ria yang menangis Gunawan memberanikan diri untuk mengusap punggung Ria, mencoba untuk menenangkan gadis di sebelah nya dengan lembut.
Lula juga maju depan memeluk sahabatnya walaupun terhalang kursi mobil.
"Kamu jangan bersedih Ria, seperti mas Gunawan bilang kalau ini sudah takdir". ucap Lula berusaha menghibur temannya.
Ria mengangguk dan menghapus air matanya, beberapa kali ia mengingatkan kejadian yang menimpa Astri maka dia akan menangis tanpa bisa di tahan memang dan mungkin Ria memang belum terbiasa dengan kelebihan baru nya juga.
Ria dan Lula mengangguk dan mereka pun turun bersama, Gunawan menuju tempat para lelaki sementara Ria dan Lula menunju tempat para perempuan.
Setelah selesai menjalankan ibadah mereka pun langsung menyeberang jalan untuk makan malam, mereka makan sambil sedikit mengobrol ringan.
Tiba-tiba Ria teringat dengan gadis yang selalu menangis di tengah malam, Ria ingin menanyakan sesuatu pada Gunawan mengingat wanita itu mengenalnya.
"Mas, Ria mau tanya sesuatu boleh?". ujar Ria pelan.
"Boleh, mau tanya soal apa dek?". jawab Gunawan.
"Mas Kapan mau nembak Ria?". Lula lah yang bertanya menyela pembicaraan Gunawan dan Ria, dengan sedikit tertawa dia mencoba menggoda kedua manusia itu.
"Uuhhhuuukkk, uhhuukk, Lula". ucap Ria tersedak minuman nya sendiri,untung saja Ria tidak menyemburkan minuman itu ke arah wajah teman yang sedikit gila ini.
"Dek, minum nya pelan-pelan". ujar Gunawan yang duduk di depan Ria memberi tisu karena mulut Roa yang basah karena tadi tersedak.
Sementara Lula bukan nya merasa bersalah justru semakin terkekeh melihat temannya sudah batuk-batuk di sebelah nya.
"Maaf ya Mas, Lula becanda ny kelewatan". ujar Ria,sambil memukul-mukul kecil pundak Lula yang masih tertawa tertahan karena restoran ini memang sedikit ramai.
"Nggak apa-apa Dek, mas santai ko". jawab Gunawan agar Ria tidak malu.
"Tu.., mas Gunawan nya aja santai Ria jadi kapan mas, jangan lama-lama ya mas, Ria incara banyak buaya mas. dari dunia nyata, dunia Maya dan juga dunia lain".masih saja Lula tanpa merasa bersalah melanjutkannya pertanyaannya nya tanpa malu.
Sementara Ria Wajahnya sudah seperti kepiting rebus, memerah dan ia pun memilih menutup wajah nya sambil menunduk, melawan teman nya ini memang sama gilanya fikir Ria.
"Doakan saja Lula, Mas lagi usaha". Jawab Gunawan pelan sambil memberi kode pada Lula.
Ria yang tambah terkejut mendengar ucapan Gunawan malah sampai lupa dengan pertanyaan yang ia mau tanyakan tadi.