
Sebenarnya mereka berdua pasti sedang mengawasi perjalanan Ria dan Lula juga Gunawan sekarang, tapi mereka mengikuti nya dengan cara mereka sendiri sebagai makhluk ghaib.
"Adek, Lula bagaimana keadaan kalian selama kemarin setelah kalian semua membantu menyelamatkan Ayu. apakah ada gangguan untuk kalian?". Gunawan bertanya sambil fokus menyetir.
"Tidak ada mas, saya tidak merasa apa-apa. Mungkin karena saya di berikan kalung ini dari ria. Lihat bagus kan?". ucap Lula memamerkan Kalung pemberian dari Ria.
"Bagaimana dengan mu Dek, apakah kamu aman?". tanya Gunawan lagi.
"Sejauh ini Ria aman-aman juga mas, tapi sepertinya Ria di incar untuk menggantikan Ayu". jelas Ria pelan, ia tidak ingin menyembunyikan apapun.
Gunawan mengerem mobilnya di pinggir jalan dengan mendadak, beruntung tidak ada mobil di belakang nya.
"Kenapa baru bilang dek?". ujar Gunawan menatap Ria.
"Ria cuman gak mau mas khawatir dan juga Ria sudah di jaga dengan Datuk juga Kakek Ria dari jauh". jawab nya Ria lagi.
"Baiklah, ayo kita segera ke rumah, besok pagi mas akan langsung kembali ke kota x untuk mengunjungi rumah pak Santoso untuk mengambil Tubuh dari Syakila agar Sukmanya bisa kembali untuk mengakhiri semua ini". ujar Gunawan memajukan mobilnya kembali sambil meremas setir yang ia pegang karena menahan amarahnya.
Gunawan benar-benar marah sekarang, dulu Syakila lah yang mereka ambil dari sisinya karena alasan kasta, sekarang Ria juga ingin di rebut untuk di jadikan tumbal.
Gunawan benar-benar akan menghancurkan pemujaan yang di lakukan pak Santoso.
"Mas, tapi ibu tau mas akan langsung turun untuk membantu Ria?". tanya Ria sedikit khawatir kalau-kalau Gunawan tidak di izinkan untuk masuk ke dunia yang Ria jalani sekarang.
"Ibu sempat terkejut, tapi mas sudah berikan penjelasan kalau ini juga tugas yang mas harus jalani sebagai sesama manusia". jelas Gunawan.
Setelah beberapa saat di mobil sambil berbincang ringan akhirnya mereka sampai di rumah ibu Sari.
Terlihat Bu sari sudah menunggu kedatangan mereka, seperti biasa ia akan langsung memeluk Ria dan Juga Lula saat sudah berada di depan nya setelah memberi salam.
"Masuk ke dalam nak, kalian pasti lelah". ujar Bu sari membawa Ria dan Lula ke dalam.
Gunawan sendiri masih di luar karena ada seseorang yang ia kenal sedang berdiri di depan rumah, Gunawan bingung kenapa bapak ustadz kemarin bisa ada di depan rumah nya.
"Pak ustadz apa kabar, bapak sedang apa di sini?". tanya Gunawan setelah memberi salam kepada beliau.
"Saya sedang lewat, Gunawan panggil saya mbah gumilang. ada yang Mbah ingin jelaskan sama kamu, karena itu Mbah menemui mu". jelasnya.
"Ada apa Mbah, bagaimana caranya Mbah bisa tau ini rumah saya?". ujar Gunawan bingung karena ia tidak pernah bercerita di mana rumah nya.
"Sebaiknya kita masuk Mbah, ada gazebo di sana". ujar Gunawan membawa Mbah Gumilang masuk ke halaman samping depan rumah.
"Sebentar saya buat kan Mbah minum". ucap Gunawan ingin pergi masuk ke rumah sebentar.
"Tidak perlu, Mbah Hanya sebenar di sini. Mbah hanya ingin memberi tahu padamu siapa aku". ucapnya.
"Mbah siapa?". tanya Gunawan bingung.
"Sama seperti Ria yang di jaga oleh khodam Datuk dari keturunan keluarga nya, Kamu juga Memiliki khodam keturunan Le". ujar Mbah Gumilang menjelaskan.
"Maksudnya Mbah bagaimana, Gunawan kurang faham". ujar Gunawan bingung.
"Jadi Mbah bukan?". ucapan Gunawan terhenti setelah mendengar Auman Singa sangat kencang dan saat ia menoleh ada seekor Singa yang kemarin Ria lihat sudah ada di belakang nya.
Gunawan sempat terkejut karena melihat makhluk itu.
Sementara Ria yang sedang ngobrol dengan ibu Sari juga terkejut setelah mendengar Auman singa dari arah depan, ia pun izin pamit sebentar untuk keluar melihat dari mana asal suara itu.
Di sana lah Ria melihat Gunawan dan juga orang tua yang kemarin datang ke mimpinya, juga Singa besar itu sekarang sudah pindah ke dekat Gunawan.
Bukan maksud lancang tapi Ria ingin tahu bagaimana Gunawan mencerna semuanya, apakah dia percaya kalau dia juga sama seperti dirinya yang ternyata juga memiliki khodam penjaga.
"Assalamualaikum Mbah, apakah saya mengganggu". ujar Ria setelah mendekati Gunawan dan Juga Mbah Gumilang.
"Tidak nduk, mari bergabung bersama-sama di sini. sepertinya Gunawan masih bingung dengan keadaan semua ini, bantu Mbah untuk menjelaskan padanya". ujar Mbah Gumilang pada Ria.
Ria mengulurkan tangan nya untuk mengelus Surai di kepala singa itu, untuk membuat Gunawan tau kalau siang ini tidak berbahaya.
"Dia yang selama ini menjaga Mas". ujar Ria mulai menjelaskan.
"Ternyata Mas juga sama dengan Ria, kita sama-sama orang terpilih". lanjut Ria lagi.
"Bagaimana bisa, kenapa selama ini Gunawan tidak pernah melihat keberadaan nya dek". ujar Gunawan bingung.
"Coba ingat-ingat lagi mas, Misalnya waktu dulu mas kecil?". tanya Ria.
Gunawan diam sesaat,dulu waktu kecil dia memang pernah bermimpi bermain bersama singa besar waktu dia berumur 5 atau 6 tahun.
Sebelum akhirnya ia tidak pernah lagi bermimpi saat adik perempuan nya yang akhirnya meninggal dunia, dan tidak lama ayah nya Gunawan menghilang entah kemana.
"Aku fikir itu hanya mimpi". ujar Gunawan.
"Sama seperti Ria yang di tutup mata batinnya, kamu juga di tutup sebelum waktunya untuk terbuka kembali". jelas Mbah Gumilang.
"Jika Mbah bisa melindungi saya, kenapa tidak dengan adik dan ayah saya?". tanya Gunawan lagi.
"Adikmu sudah terlanjur di korbankan oleh ayahmu, Karena itu Mbah membuatnya untuk menjauh darimu. sekarang kamu sudah besar, kamu lah yang akan menghadapi ayahmu". jelas Mbah Gumilang.
"Apa maksudnya Mbah, adik saya di korbankan?". tanya Gunawan.
"Ya, untuk ayah mu mencari ilmu. ia ingin menjadi orang sakti, dan ia harus pergi untuk menumbalkan anak kandung nya. sebenarnya yang terpilih adalah dirimu, namun karena kamu memang aku jaga. jadi lah adikmu yang menjadi korban". Mbah Gumilang menjelaskan dengan wajah sedihnya karena merasa gagal melindungi salah satu keturunan nya.
"Tidak mungkin, ayah Sangat menyayangi kami ber dua, dia pergi karena merasa bersalah pada kami, bukan karena ia ingin mencari ilmu". Gunawan terlihat shock dengan semua ini begitu pun Ria.
"Kamulah yang harus menghentikan ayah mu Le, Dia semakin merajalela di luaran sana. Tanpa rasa kasihan menjadikan manusia sebagai tumbalnya, dan sekaligus mencari kebenaran tentang ucapan Mbah sekarang". jelas Mbah Gumilang lagi.
"Mbah tahu beliau di mana sekarang Mbah?". tanya Gunawan.
"Tempat nanti kamu dan Ria akan datangi, seperti takdir yang sudah Gusti Allah buat ayahmu juga ada di sana". Mbah Gumilang memberi tahu dan membuat Ria juga Gunawan Saling tatap semakin terkejut.