
"Kisah Cinta Yang Sama". Gumam Rinjani lagi seorang diri sambil menatap Ria yang sudah tertidur setelah lelah menangis.
Beberapa hari kemudian Ria dan Lula sudah selesai mengurus semuanya, Kiki sudah di operasi dan Tatik sudah pergi menuju cahaya.
Hari-hari Ria dan Lula pun sudah berjalan seperti biasanya, Ria sesekali masih menolong Roh-roh yang tersesat untuk pergi menuju cahaya jika bisa.
Tidak terasa Sudah hampir 1 tahun dia di Surabaya, sekarang sudah memasuki bulan puasa dan sebentar lagi akan lebaran.
Ria dan Lula bersiap untuk mudik, kali ini Ria ingin pulang menggunakan kapal laut. dari sekian ratus orang di kapal, di sana lah Ria sekarang. perlu perjalanan selama 1 hari satu malam untuk sampai di kota Ria.
Di dalam kapal Ria melihat seorang anak kecil di kapal itu seorang diri, Ria tahu jika anak kecil itu bukan lah manusia, Terlihat dari tubuhnya yang memiliki warna kulit berbeda.
Kulit anak itu cenderung putih bahkan pucat, anak itu terus memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. ia tidak berani ke mana-mana tetap diam di dekat tangga tempat biasa penumpang naik ke kapal.
Anak itu mungkin sekitar 7 atau 8 tahunan, baju anak itu terlihat seperti orang-orang zaman dulu. sebuah kemeja kotak dengan celana pendek dan tali di kedua pundak nya, terlihat kebingungan melihat orang-orang. entah kenapa Ria sangat kasian melihat anak itu sepertinya sedang menunggu seseorang naik dan menemaninya di kapal ini.
Sekarang keadaan sudah sepi, tidak ada orang di sekitar Ria malam itu. Ria memberanikan diri mendekati anak itu dan berjongkok di depan anak yang sekarang juga sudah berjongkok sambil tangannya seperti sedang mencoret-coret lantai.
"Hai adik, sedang apa?". tanya Ria, anak itu menoleh ke depan nya di mana Ria duduk di depannya sambil tersenyum.
"Nungguin mamak naik kak, tapi udah lama gak naik-naik ke sini". ujar anak itu menjelaskan.
"Siapa namamu dek, kenapa bisa naik ke kapal ini?". tanya Ria lagi.
"Nama saya Anton, aku naik di suruh mamak duluan karena takut ketahuan bapak. mamak susah bawa barang-barang jadi ketinggalan di bawah,tapi malah mamak gak naik-naik ke sini". ujar anak itu.
"Emang bapaknya kenapa, kok kalian kabur?". tanya Ria, anak kecil tadi pun menggeleng kan kepalanya.
"Gak tau kak, tapi dulu Anton suka liat mamak di pukul. makanya mamak ajak Anton mau pergi untuk pulang kampung ber dua saja". jelas Anton kecil.
Ria sedikit berfikir, Anton dari mana. sepertinya dia adalah salah satu penduduk transmigrasi di kotanya, kasihan sekali dia harus terpisah dari keluarga nya dan seorang diri di kapal ini.
Pasti dia kebingungan di sini, mau pergi pun ke mana. mau turun pun pasti tidak berani karena dia masih kecil, Ria memegang tangan Anton untuk mencari tahu masa lalu anak itu dan bagaimana caranya dia meninggal.
Terlihat anak ini muntah-muntah di kapal, mungkin mabuk laut juga kelaparan. tapi tidak ada yang mengetahui nya karena dia seorang diri menunggu di sini sementara orang-orang sudah masuk ke dalam saat malam kejadian dia meninggal.
Ria juga melihat tubuh Anton yang tergeletak terombang-ambing di tempat nya duduk sekarang, karena ombak di lautan yang menerjang kapal hingga tubuhnya menggelinding terjatuh ke lautan luas ini.
Anton sekarang tidak mungkin mengerti dengan keadaan nya sekarang, dan Ria juga tidak tahu harus dengan cara apa menjelaskan jika dia bukan lagi manusia.
Ria tidak tega melihat Anton sendirian di kapal ini, entah sudah berapa lama. sepertinya jika Anton ikut dengan nya mungkin tidak apa-apa, Rinjani sekarang sudah duduk di bangku untuk biasa penumpang di kapal. dia dekat Ria dan juga Anton sambil memperhatikan interaksi mereka.
"Ayo ikut kakak ke dalam, di sini dingin kan. nanti kita cari ya mamak mu sama-sama, tapi Anton harus sabar ya".ujar Ria.
Anton tersenyum dan dengan cepat menganggukkan kepalanya, akhirnya ada yang mau membantu nya, "Selama ini Anton selalu berusaha meminta tolong orang-orang yang lewat tapi mereka tidak mau membantu, mereka tidak mendengar Anton kak". ujarnya menjelaskan pada Ria.
Ria hanya tersenyum dan mengelus kepala Anton mendengar penjelasan dari anak ini, tentu saja orang-orang tidak akan tahu dia ada di kapal ini dan ingin meminta tolong.
Melihat keberadaan nya saja mungkin tidak, Ria menggenggam tangan anak itu dan membawanya ke kamar. Ria menyuruh anton untuk tidur saja di kasur miliknya dan akhirnya anak itu pun tidur.
Rinjani muncul dari balik dinding dan memperhatikan Ria yang masih menatap Anton dengan rasa iba, Ria sangat kasihan pada anak sekecil anton yang sudah harus meninggal dengan cara yang menggenaskan.
Sendirian, tanpa ada yang tahu. bahkan sekarang mungkin jasadnya sudah tidak bisa lagi di temukan karena sudah terlalu lama dan terjatuh ke lautan luas.
"Kau ingin menjaganya Ria?". Rinjani seperti faham dengan pikiran adiknya itu.
"Bolehkah,..?, setidaknya sampai dia bisa mengerti dengan keadaan nya nanti, pelan-pelan Ria akan menjelaskan keadaan nya". jelas Ria.
Rinjani mengangguk, "Aku juga akan membantu mu menjaga nya, dia sepertinya anak yang penurut". ujar Rinjani.
"Sepertinya dia berasal dari kota kita kak, mereka transmigrasi karena dia bilang ibunya pergi pulang ke kampung nya. dari dulu kapal ini menang sudah menjadi transportasi umum lautan kan kak".Ria menjelaskan pada Rinjani.
Rinjani menganggukkan kepala nya, "Sebaiknya kamu juga istirahat lah. biar aku yang menjaga kalian, kapal ini kemungkinan besar akan sampai lusa pagi di kota kita". perintah Rinjani pada Ria, Ria pun mengangguk dan merebahkan dirinya di samping Anton yang sudah terlelap terlebih dahulu.
Dan sekarang mereka sudah sampai di pelabuhan kota Ria, tertulis kan kata Selamat datang di kota Sampit . terlihat di salah satu tugu nya, setelah turun dari sini mungkin satu jam menggunakan ojeg motor Ria sudah akan sampai d rumah nya nanti.
Ria memegang tangan Anton untuk membantu nya turun tangga, tidak ada yang berubah dari pelabuhan ini. Ria dulu sering ke sini untuk sekedar melihat pemandangan sungai dengan banyak kapal yang terparkir di tengah-tengahnya.
Anton dengan hati-hati dan senyum yang selalu terpancar di wajahnya, mungkin sekarang dia bahagia akhirnya setelah sekian lama ia bisa turun dari kapal ini, dan dia bisa mencari Ibunya. karena tadi ria sempat bertanya apakah ini pelabuhan tempat Anton naik dan dia menganggukkan kepalanya dengan semangat.
Sungai Mantaya, sungai dengan sejuta cerita dan misteri di dalam nya. Ria kembali menatap ke arah sungai besar itu, di mana sekarang terlihat sebuah istana emas di di tengah-tengah sungai besar itu dan anehnya istana itu terlihat mengapung di mata Ria.