
Sebelum nanti malam ia kembali harus menyiapkan pasukan untuk melawan makhluk yang sudah mengincar gadis kecil Cinta..
...****************...
Magrib menjelang, sekeliling Rumah sudah di taburi dengan garam kasar yang selalu Gunawan sediakan di rumah. sekarang semua orang berkumpul di ruang tamu, seperti sedang menunggu sesuatu yang datang.
Setelah ibadah Maghrib berjamaah, mereka tidak ada yang mau masuk kamar untuk istirahat. sengaja tadi Ria meminta Semua orang makan lebih awal saat jam 5 sore tadi, Ria ingin semua orang bersiap dengan apapun yang akan terjadi.
Takkk.. takk.. takk... jam dinding terus berdetak, namun tidak ada satupun yang berbicara saat ini. mereka masing-masing melafalkan doa untuk melindungi diri malam ini dengan di pimpin Gunawan, dzikir pun terus di lantunkan.
Sementara di tempat lain seorang wanita sedang menggunakan kain jarik dan kemben dengan kain yang diikat di pinggang nya sedang menyembah sesuatu di depan nya dengan kemenyan yang sudah terbakar di depan nya.
Wanita itu bangkit perlahan dan menari dengan lembut di iringi suara musik gamelan yang berbunyi entah dari mana, padahal tidak ada orang lain di kamar itu dan tidak ada juga yang sedang bermain alat musik seperti gamelan di sekitarnya.
Wanita itu terus menari sambil menyanyikan tembang yang terdengar merdu namun kemudian wanita itu berputar-putar kencang hingga akhirnya tubuhnya melengkung ke belakang dengan posisi tubuhnya yang masih berdiri, seperti seseorang yang kayang.
Terlihat sosok ular besar sekarang sedang mencekik tubuhnya dengan kuat.
Dengan rambut yang terurai panjang dan mulut yang terbuka lebar, wanita itu sepertinya kehilangan kesadarannya. terlihat dari matanya yang sekarang berubah menjadi putih dan mulut nya yang mengeluarkan suara seseorang yang Tercekik...
"Hhhhhhhkkkkk,,,,, hkkkkkk,,, hhhkkk". suara wanita itu terdengar menyedihkan karena ia hampir kehabisan nafasnya.
Namun beberapa saat kemudian tubuhnya kembali lurus secara pelan dan tangan nya tiba-tiba terangkat lagi untuk meneruskan tariannya, wanita itu terus menari dan kemudian muncul lagi sesosok wanita dengan berbaju kemben hitam dan kain jarik hitam terlukis emas dengan mahkota berbentuk naga di kepalanya.
Tanggg,,, Tang,, tanggg,, dung,, tang,,, tang,, tang dung,,, suara itu berulang-ulang melantunkan musik yang mengiringi tembang yang wanita tadi nyanyikan.
Mereka menari bersama dan dengan lembut sosok wanita itu memegang jari-jari lentik wanita yang sedang menari tadi, seperti seseorang yang sedang mengajarkan cara menari dengan benar dan bagus.
"Bagaimana, kamu suka menari dengan jari yang lentik ini bukan Andini. Jari ini yang selama ini aku tuntun agar melakukan tarian yang indahhhh". ujar makhluk tadi berbisik di telinga wanita yang bernama Andini,dia adalah ibu tiri Cinta.
Tubuh Andini bergetar hebat, namun ia tidak tahu harus melakukan apa. dia sudah ingkar dengan perjanjian nya jika malam ini dia akan mempersembahkan tumbal seorang anak perempuan ke pada sosok yang berdiri di belakang nya sekarang.
Sosok yang selama ini dia sembah agar semua keinginan nya tercapai, walaupun keinginan nya untuk menyakiti seseorang sekali pun.
Baru saja dia di cekik hingga hampir kehilangan nyawanya, karena sepertinya sosok itu marah dengan nya.
"Kaki ini yang ku bimbing untuk mengikuti langkah agar bisa seirama dengan ketukan gamelan itu kan??". ujar wanita itu mengangkat kaki nya dan menendang pelan kaki Andini seperti seseorang yang masih membimbing langkah-langkah kaki nya.
Tanggg,, Tung,, tang,,, tung,, suara gamelan masih berbunyi dengan merdu. Andini sekarang sudah menangis namun tubuhnya terus saja menari tanpa bisa ia hentikan.
"Maafkan saya nyai, tolong berikan saya kesempatan sekali lagi.. hikzz jangan sakiti saya". ujar Andini sambil terisak di sela tariannya.
Sosok itu tersenyum, hingga kemudian tangan nya memegang jari lentik Andini dengan kencang dan krreeeekkkk jari lentik Andini tertekuk ke atas hingga menyentuh pergelangan atas tangan nya karena jari lentik itu di patahkan oleh sosok wanita yang masih terus membimbing Andini untuk menari.
"Kesempatan??!!!, kau fikir kamu bisa mengalahkan mereka dan mengambil gadis kecil itu lagi hemmm??!!".. Krreeeeekkkk lagi, jari lentik Andini di tangan satunya ikut di patahkan.
"Tanpa mu, aku akan mengambil sendiri gadis kecil itu. dia milikku, dan akan tetap menjadi milikku. namun sebelum aku mengambilnya. lebih baik aku memberikan sedikit pelajaran pada mu". ujar nya lagi.
Kali ini dia pindah berdiri di depan tubuh Andini yang masih terus menari berlinang air mata, dengan jari-jarinya yang sudah patah.
"Kau sudah tidak berguna untuk ku". ujarnya kemudian menendang tulang kering di kaki Andini hingga patah...
"Aaaaakkkkhhh, Nyai sakit. ampuni saya, ampuni nyaiiiiiii". ujar Andini lagi, dia terseok-seok dengan kaki yang sudah patah ke belakang dan terlihat kaki nya patah hingga tulang nya keluar dari kakinya.
"Ammmppuuunnn??!!,,, hahahhaha.. kau membuat ku muak Andini. kau gagal, maka nyawa mu lah yang harus menggantikan nya.
Wanita itu kembali menendang tulang kering Andini... **kkrraaakkkkkk**. sosok itu kembali mematahkan kaki Andini yang satu lagi hingga tumbang lah tubuhnya.
Andini jatuh bersimpuh ke lantai dengan jeritan kesakitan namun anehnya tidak ada satupun orang yang datang untuk membantu Andini, karena Nyai sendiri sudah memisahkan kamar miliknya yang sudah di tutup pagar ghaib tidak bisa masuk atau di dengan orang lain.
"Maafkan saya nyai, ampunn. tolong jangan buhuh saya... hikkzz... tolonggggg". ujar Andini meraung-raung berharap ada seseorang yang mendengar jeritan nya.
"Biasanya kau selalu menyanyikan tembang untuk ku dengar mulut ini bukan??!!". ujarnya kemudian memasukkan kedua tangan ny ke dalam mulut andiri hingga Andini seperti sedang tersedak.
Tangan itu dengan mudahnya merobek mulut Andini yang berisik hingga mulut itu robek di kedua sisinya. hingga hampir mengenai telinga.
"Aaaaaa,,, Aaaaaa,,,,". Andini semakin menjerit dengan dagu yang sudah jatuh tergantung di lehernya sendiri.
"Mulut mu sekarang berisik, aku tidak suka dan mulut sobek ini sangat cocok untuk mu hahahha". ujar sosok itu sambil tertawa puas.
"Aaaaa,,, hiiikzzz..aaaaa,,, Aaaa,," ujar Andini masih berusaha bersuara walaupun sudah memiliki mulut yang sama sekali tidak bisa di gunakan untuk berbicara.
Andini sekarang merasakan tangan itu kembali mengelus wajahnya dengan Lembut. tangan itu terus berjalan hingga menuju kebelakang dan menarik rambut Andini dengan kuat, menyeret tubuhnya tiba-tiba hingga di depan sajen dan kemenyan yang di bamar di atas bara api yang menyala di wadah nya.
Ceeeesssshhhh, sosok wanita itu merebahkan kepalanya Andini di atas bara api yang menyala.
"Aaaa hhaaahhiiiikkkkk( Aaaa sakittt)". ujar Andini yang masih belum bisa berbicara dan tidak memiliki kekuatan untuk lepas.
"Sakiittt, bagai mana dengan ini????!!".sosok itu berbicara dengan wajah yang tersenyum menakutkan, ia mengambil bara api yang menyala kemudian memasukkan bara itu ke dalam mulut andiri yang sudah hampir lepas dari dagunya menyisakan sedikit kulit agar tidak terlepas dari wajah.
Andini semakin menjerit namun sosok itu justru tertawa puas melihat andini yang sekarang bersimpuh di depan sesajen yang ia persembahkan untuk makhluk ghaib peliharaan nya itu, tapi justru ia lah yang sekarang di sakiti seolah dia lah tumbal sebenarnya.
Nyai itu kemudian menaruh kaki di pinggang milik Andini, hingga tanpa aba-aba ia mematahkan juga pinggang milik Andini dan sekali lagi Terdengar suara jeritan Andini yang menyakitkan jika di dengar.