
"Maaf kan aku kak Syakila, bukan nya aku tidak ingin membantu. sedih sekali rasanya melihat mu menangis seperti tadi, namun itu adalah takdir yang tidak bisa aku rubah". Ria sedikit melamun di kelas.
Ria melewati harinya dengan sedih beberapa hari ini, Ria masih belum bisa melupakan kepergian dari Philip dan juga Gunawan masih menghubungi Ria walaupun dia tidak mendapatkan balasan untuk perasaan nya.
Ria masih suka memimpikan Philip dan bangun dalam ke adaan menangis, membuat Rinjani berinisiatif untuk pergi ke kerajaan dan mengatakan semuanya kepada Datuk kuning, juga menyampaikan permintaan Philip untuk menghapus memori Ria tentang dirinya dan akhirnya para leluhur pun mengadakan ritual yang membuat Ria tidak lagi mengingat tentang Philip.
"Besok Ria tidak akan pernah mengingat tentang Philip lagi, namun ada satu syarat yang harus kalian ingat. jangan pernah sebut namanya lagi di depan Ria, karena jika ada yang mengungkit tentang Philip. mungkin saja ingatan Ria tentang nya akan kembali". jelas Datuk Kuning pada Rinjani.
"Baik Datuk, saya akan ingin pesan ini dan mungkin saya juga akan mengingatkan. Gunawan tentang ini semua". ujar Rinjani kemudian pamit untuk menemui Gunawan.
Gunawan sedang ada di rumah sedang duduk sendiri di gazebo, ia hanya di temani oleh Singanya yang sedang tidur di dekat nya. tiba-tiba Rinjani muncul di depan Gunawan membuat nya mengerut kan keningnya bingung.
"Ada apa Rinjani, tumben kamu ke sini sendirian". ujar Gunawan bertanya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Ria sudah tidak bisa mengingat tentang Philip lagi. aku sudah meminta Datuk untuk menghapus memori nya tentang Philip". Rinjani mengatakan hal itu pada Gunawan.
"Bagaimana bisa ada ilmu yang mampu menghapus ingatan tentang seseorang Rinjani, apakah ada ilmu seperti itu?". tanya Gunawan ingin tahu.
"Sama seperti pelet penakluk yang orang mungkin tahu, ini sama saja seperti itu. Contoh nya jika kita ingin merebut seseorang dari pasangan nya, maka pelet seperti itu akan membuat orang yang di incar untuk melupakan pasangan nya bukan?". ujar Rinjani berusaha menjelaskan dengan bahasa yang mudah di mengerti.
"Kenapa Philip harus di lupakan, apa salah nya?". Gunawan bingung.
"Tidak ada yang salah di antara mereka, hanya saja Cinta mereka berdua yang terlalu besar. namun sayangnya Cinta dua Dunia walau bagaimanapun adalah sebuah kesalahan". jelas Rinjani.
"Bagaimana cara kalian melakukan itu, apakah ada ajian seperti itu?". Gunawan masih penasaran.
"Di tempat kami ada hal yang di sebut dengan TAMPUNG TAWAR, ritual ini biasanya kami lakukan untuk menolak bala, kadang untuk penenang hati, ataupun juga membersihkan diri dari hal-hal yang buruk. menurut kami kesedihan Ria yang berlebihan Sangat tidak baik untuk nya. sehingga kami berinisiatif untuk membuat Ria melupakan tentang semua memorinya pada Philip". jelas Rinjani dengan sabar.
"Berarti Ria tidak akan pernah mengingat Philip lagi selamanya?". ujar Gunawan bertanya pada Rinjani.
"Mungkin saja seperti itu, namun ada syarat yang harus di patuhi jika tidak ingin Ria kembali sedih, karena itu aku ke sini menemui mu". ujar Rinjani.
"Apa syarat itu?". Gunawan kembali bertanya.
"Jangan ada yang mengungkit atau bahkan menyebut nama Philip di depan Ria, aku harap kamu juga mengingat Syarat ini. aku tidak ingin Ria kembali sedih ketika mengingat Philip kembali". Rinjani mengatakan syarat nya pada Gunawan.
"Baiklah, aku tidak akan mengungkit atau membicarakan tentang Philip di depan Ria". jelas Gunawan.
"Baik lah, terimakasih banyak sudah mau bekerjasama. Aku pergi untuk menjaga Ria lagi". ujar Rinjani kemudian menghilang bersama hembusan angin.
"Philip, maafkan aku tidak bisa membantu apa-apa, mungkin takdir kalian memang harus seperti ini". ujar Gunawan merasa kasihan pada Philip yang harus di lupakan dari memory Ria, orang yang ia cintai.
Keesokan harinya Ria dan Lula sudah bersiap untuk ke acara Tujuh bulanan Abang Frans dan Unge, Wajah Ria terlihat lebih cerah tidak ada Lagi kesedihan yang terpancar.
"Maaf ya, lama gak tadi nunggu mas nya?". ujar Gunawan setelah Ria juga Lula memasuki mobil nya dengan membawa kado untuk calon bayinya Frans.
"Gak ko mas, kita juga baru pada selesai siap-siap, biasa cewe kalo dandan kan lama". ujar Lula menjawab di kursi belakang.
Ria hanya tersenyum seperti biasa, Gunawan juga tersenyum melihat Ria yang cantik dengan baju setelan panjang dan pasmina yang menutupi kepalanya.
Ria memang belum menutup kepala nya, hanya di acara-acara tertentu saja ia menggunakan hijab.
"Oe, Pantes pada cantik-cantik hari ini, apalagi yang di sebelah mas ini. ya gak Lula?".ujar Gunawan bertanya pada Lula di belakang.
Lula tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. "Iya mas, Ria cantik banget". ujar Lula,ia memang mengakui Ria sangat cantik, wajar Gunawan terpikat oleh pesonanya.
"Lula, kamu juga cantik ko. ya kan mas?". ujar Ria bertanya pada Gunawan.
"Iya, Lula juga cantik. kalian berdua sama-sama cantik". jawab Gunawan akhirnya.
Tidak beberapa lama mereka sudah tiba di acara mandi-mandi dari Abang Frans dan Unge, keduanya terlihat cantik menggunakan baju adat Jawa. Ria sampai terkagum-kagum melihat acaranya yang sangat kental dengan nuansa tradisional, tidak terhapus oleh zaman.
Acara siraman belum di mulai, Gunawan, ria, dan Lula pun menemui calon orang tua baru itu.
"Weehh brooww datang juga kamu akhirnya, aku kira gak akan datang. ya gak yang?". ujar Frans dan di angguki oleh Unge.
"Datang lah,masa nggak. nanti kalo aku bikin acara beginian juga sama istri ku kamu juga datang ya". Ujar Gunawan lagi.
"Alamak, memang Ria mau terima buaya macam kau?".ujar Frans lagi.
"Ini masih usaha, mungkin 4 tahun lagi dia baru kasih aku jawab, nasip-nasip. harus nunggu lulus dulu". ujar Gunawan curhat di depan semua orang termasuk Ria.
"Ya kan kita temenan aja dulu Mas, siapa tau nanti mas ketemu cewe yang jadi jodohnya mas di perjalanan nanti. Ria bantu doa". ujar Ria menjawab.
"Ck, Ria, Ria, Mas mau marah tapi sayang, mau sedih tapi Cowok harus berjuang". Gunawan berbicara sambil mengelus dadanya mendengar ucapan Ria.
Gunawan, Unge, dan Frans adalah teman dari dulu, jadi mereka tidak malu-malu lagi untuk berbicara seperti tadi.
"Aduuh jadi kasihan juga aku sama kamu Gun, hahahaha Kasihanilah Teman ku ibu Ria".Ujar Frans yang seperti sedang menghibur namun sebenarnya mengejek Gunawan yang di tolak lagi.
Ria melihat ke arah Unge yang dari hanya tersenyum melihat mereka, Ria sekilas melihat tangan Unge bersisik hijau namun hanya sebentar kemudian kembali ke kulitnya yang awal.
Ria juga memperhatikan sekitar, ia ingin memastikan apakah makhluk kemarin masih ada di sekitar Unge, namun Ria tidak melihat apapun.