Datuk Buaya Putih.

Datuk Buaya Putih.
45 Tidak Sempat.


Bukan tanpa alasan Gunawan membawa Ria menjauh dari pemakaman, Gunawan takut Ria kenapa-napa di sana karena sejak tadi dia selalu melamun.


"Dek, kamu tidak apa-apa kan?". tanya Gunawan yang sedikit khawatir karena sedari tadi ia hanya diam sepanjang perjalanan mereka menuju rumah bu Lastri.


"Ria gak apa-apa mas, Ria sedang berfikir jika hari ini sepertinya kita tidak cukup waktu untuk menolong Syakila". ujar Ria.


Karena mereka sepertinya akan menginap di sini semalam, sudah terlalu larut jika mereka pulang ke rumah Bu Sari setelah mereka selesai pengajian nanti.


"Kamu dari tadi memikirkan itu Dek?". tanya Gunawan pada Ria.


Ria menganggukkan kepalanya pelan, Lula sedang berjalan bersama di samping Bu sari yang sudah terlebih dahulu di depan bersama orang-orang yang juga ikut tadi ke makam.


"Besok malam saja kita coba untuk melakukan nya dek, terlalu banyak hal yang terjadi hari ini. kamu juga terlihat sangat tidak baik-baik saja, malam ini kita menginap di rumah saudaranya Mas keponakan dari ibu di desa ini, karena tidak mungkin kita pulang malam-malam sekali". jelas Gunawan.


Benar dugaan Ria, ia tidak akan punya banyak waktu malam ini, karena mereka tidak bisa langsung pulang.


"Jangan terlalu di jadikan beban Dek, Mas tau kamu pasti tidak tega melihat Syakila yang seperti itu. tapi tidak semuanya harus menjadi tanggung jawab kamu, jika memang takdir nanti membawa mu menjadi penyelamat untuknya maka semua pasti akan terjadi sesuai ketentuan yang di atas". jelas Gunawan.


"Mas Gunawan tidak apa-apa kah jika Ria belum bisa menyelamatkan Syakila malam ini, Ria merasa punya utang budi sama Mas. karena mas sudah membantu Ria untuk menyelesaikan kasus Bu Astri". ujar Ria sambil menundukan kepalanya.


"Kamu ini bicara apa dek, semua nya sudah takdir. bertemu dengan kamu juga takdir, jadi jangan kamu jadikan beban semua nya di diri kamu dek". ujar Gunawan mencoba menenangkan Ria.


Ria mengangguk pelan, semakin lama ia menyadari bahwa tanggung jawab yang ia tanggung sangat lah berat, berpacu dengan waktu membuat nya sedikit merasa tertekan.


"Kamu tahu, jika nanti kamu sudah menjadi seorang dokter dan ada pasien yang akhirnya meninggal padahal kamu sudah melakukan yang terbaik apakah kamu akan menyalakan dirimu?". tanya Gunawan.


Ria menoleh menatap Gunawan dan menggeleng, karena Ria yakin sebagai seorang dokter pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk pasien nya.


Dan jika takdir berkata lain, maka mungkin memang sudah takdir nya.


"Kamu sudah melakukan pertolongan pertama dek, semoga kita masih ada waktu untuk menyelamatkan Syakila. namun jika takdir berkata lain, ini semua juga bukan salah kamu. Tapi tuhan lah yang punya kuasa yang menjalankan takdir untuk nya". Gunawan menatap wajah Ria, ada ketakutan di matanya.


"Ayo kita bantu orang-orang menyiapkan semuanya dulu dek, jangan sedih lagi. sekarang kita fokus ke acara pengajian ini dulu ya". pinta Gunawan pada Ria agar dia tidak melamun seperti tadi.


Ria mengangguk dan mereka pun berpisah di halaman, Ria menuju dapur dan Gunawan menuju mobil untuk mencari baju ganti karena baju nya sekarang sudah kotor oleh tanah di makam tadi.


Malam hari setelah mereka selesai pengajian Gunawan dan yang lain pamit untuk izin pulang ke rumah saudara untuk menginap di situ sebelum nanti langsung pulang pagi harinya.


Bu Lastri dan Mbah Uti berkali-kali mengucapkan terimakasih dan ingin memberikan Ria sedikit uang, namun lagi Ria menolaknya dan meminta uangnya di pakai untuk pengajian selanjutnya saja.


Mereka semua sudah di tunggu kedatangan nya oleh seorang wanita yang sedang hamil muda dan suaminya, juga terlihat seseorang wanita sekitar umur 30 tahunan sedang menggunakan kebaya putih di belakang mereka berdua.


Ria dan yang lain pun masuk dan berbicara sebentar sebelum akhirnya istirahat di kamar yang sudah di sediakan.


Ria, ibu Sari dan Lula tidur di kamar yang sama. sedangkan Gunawan tidur di kasur lantai di depan tv.


Seperti biasa Ria masih tidak bisa tidur, ia pun ingin mengambil minum karena haus. saat ia keluar dari kamar ia harus melewati Gunawan yang sudah tidur di ruang tamu depan Tv.


Ria melangkah kan kakinya pelan agar tidak menggangu Gunawan, saat ia sudah memasuki dapur terlihat sosok perempuan muda yang tadi ia lihat sedang duduk di kursi makan.


Ria berpura-pura tidak melihat nya karena takut akan menggangu kenyamanan nya, walaupun sebenarnya Ria sedang berfikir apakah dia mengganggu atau tidak.


Tapi terlihat dia sama sekali tidak jahil, sedari tadi dia datang sampai sekarang. sosok itu hanya diam duduk memperhatikan saudara Gunawan yang sedang hamil.


"Mungkin dia sosok penjaga dari saudara nya mas Gunawan". ujar Ria dalam hati ia pun mengambil air dingin di dispenser dan meminum nya hingga gelasnya kosong.


Saat Ria berjalan ingin kembali ke kamar lagi ia di kejutkan oleh Gunawan yang sudah duduk di kasur lantai.


"Kamu gak bisa tidur lagi dek?". tanya Gunawan sambil memeluk bantalnya.


"Ngg.. nnnggak mas, Ria cuman haus". ujar Ria berbohong karena tidak ingin Gunawan khawatir.


"Ya sudah, kamu jangan fikirkan tentang Syakila dulu dek, mas janji akan membantu kamu untuk menyelamatkan Syakila dari belenggu makhluk pesugihan orang tua nya nanti". ujar Gunawan.


Deggg, Ria langsung menoleh ke arah sosok yang tadi duduk di meja makan. pasti dia mendengar kalau Ria memiliki kelebihan untuk ber interaksi dengan makhluk gaib.


Dan benar dugaan Ria, sekarang sosok itu sedang menatapnya dan tersenyum sedikit menundukkan kepala nya seolah sedang memberikan salam kepada Ria.


Ria pun membalas anggukan pelan karena merasa tidak sopan jika ia tidak membalas salam dari dari wanita tersebut sambil tersenyum sedikit, sebelum akhirnya kembali melihat Gunawan dan tersenyum lebar sambil memberi kode.


Gunawan yang faham Ria seperti melihat seseorang di arah meja makan yang hanya terhalang lemari pajangan rak buku menatap Ria dan menarik tangan Lia untuk duduk di kursi sofa di atas kasur lantai nya.


"Apakah ada makhluk gaib di situ Dek". ujar Gunawan berbicara berbisik karena takut di dengar oleh sesuatu yang ia tidak bisa lihat.


"Ada, tapi nggak ganggu ko. sepertinya dia baik dari tadi cuman merhatiin kita, gak bikin ulah macem-macem". Jawab Ria juga berbisik.


"Dek, Mas tidur di lantai bawah kasur di kamar ya. Mas janji gak macam-macam, Mas juga gak akan ngorok". ujar Gunawan, mungkin ia takut melanjutkan tidur sendiri di ruangan tamu setelah tahu kalau ada seseorang yang sedari tadi di dapur.