
Sekar tertegun saat mendengar nama panggilan baru dari Abian untuknya.Sungguh,ada rasa aneh yang kini hadir didalam hati Sekar saar Abian memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.
"Kenapa jadi berdebar gini?terus kenapa jadi senang banget ya saat Mas Abi memanggku sayang?"gumam Sekar dalam hati sembari menyendokkan makanan nya lalu memasukkan sati sendok nasi beserta lauknya kedalam mulutnya.
Keduanya pun nampak menghabiska makan siang mereka dalam diam.Abian terlihat begitu lahap menyantap makanan yang baru saja dia makan saat ini.
Sebuah cita rasa baru yang begitu lezat dan enak saat disantap.Sesekali Sekar melirik Abian yang nampak begitu fokus dengan makanan nya.
Bahkan pria jangkung dengan wajah yang cukup rupawan itu tidak pernah menoleh kemana mana dan tetap fokus dengan makanan yang ada dipiring nya.
"Ya ampun kenyang nya,"seru Abian saat isi piring nya tandas tak bersisa.
"Alhamdulillah,jika mengikuti keyakinan Sekar,coba biasakan dengan mengucap Alhamdulillah saat kenyang,saat mendapat berita baik,saat senang juga dan disaat saat kita mendapatkan rezeki dan berkah dari Allah."ujar Sekar memberikan saran nya.
"A_Al,apa tadi?coba ulangi lebih pelan lagi,biar aku bisa mengikuti."tanya Abian antusias.
"Al-ham-du-li-llah,ayo kini giliran Mas yang coba sebutkan,"
"Al-ham-du-li-llah?seperti itu?"
"Iya coba ulangi lagi,"
"Al-ham-du-li-llah,Alhamdulillah,Alhamdulillah."
"Iya seperti itu,Alhamdulillah sudah bagus tinggal dibiasakan ya?"
"Ingatkan jika aku lupa,ya?"
"In Sha Allah,kita sama sama belajar ya,karena bukan cuma Mas yang harua belajar,Sekar juga masih banyak kurang nya."
"Iya mari kita sama sama belajar dan mendekatkan diri padanya.Semoga istiqomah ya Mas,Aamiin."
"Aamiin sayang,Aamiin."
"Ja_jangan panggil begitu?"lirih Sekar saat Abian kembali memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Bukan tidak suka,hanya saja,belum saatnya.Kita masih belum terikat dan mungkin akan lebih baik jika panggilan itu disematkan setelah kita halal satu sama lain."jelas Sekar yang jujur merasa belum pantas menggunakan panggilan itu sementara masa depan mereka masih terlihat abu abu.
Abian baru saja mau melangkah menuju ke arahnya.Dan takdir bisa saja berubah ditengah jalan,Qodarullah kita pasrahkan semuanya pada sang maha pemilik kehidupan.
Karena sejatinya,tidak akan ada yang tahu akan masa depan seseorang.Begitu pun dengan hubungan antara Abian dan juga Sekar.
...***...
"Setelah ini,kita mau kemana?apa kamu ingin mengunjungi suatu tempat?"tanya Abian saat keduanya sudah berada didalam mobil milik Abian.
"Boleh nggak jika,mampir dulu sebentar kerumah Sekar?Sekar rindu rumah,"lirih Sekar dengan sedikit ragu.
Jujur sebenarnya Sekar cukup merasa takut saat akan meminta ijin oada Abian untuk meminta mampir ke rumah nya.
Namun rasa rindu pada rumah itu sudah tidak terbendung lagi.Berbulan bulan meninggalkan rumah sederhana itu tentu saja Sekar rindu dan juga khawatir.
Entah sudah bagaimana rumah sederhana itu,apakqh masih utuh atau ruksak dibeberapa bagian?berhubung rumah itu adalah rumah lama yang sudah mulai rapuh dibeberapa bagian tempat.
"Baiklah,tapi hanya mampir ya?setelah urusan disana selesai kita pulang,"
"Iya Mas,Sekar hanya ingin tahu kondisi rumah saat ini."jawab Sekar.
Meski ada rasa ingin kembali pulang namun saat ini Sekar masih terlalu takut untuk protes akan keputusan yang di ambil oleh Abian.
Dan pada akhirnya Sekar akan memilih untuk diam dan menuruti semua yang sudah menjadi keputusan pria itu.
Pria yang sudah mengklaim jika dirinya adalah calon suaminya dan hal itu tidak bisa dibantah oleh siapapun,termasuk Sekar.
Tak membutuhkan waktu lama hingga akhirnya mobil yang dibawa Abian mulai memasuki halaman rumah dengan bangunan baru berbentuk minimalis yang asri dan teduh karena banyaknya pohon dan bunga hias.
Sekar sempat kebingungan saat Abian memasukkan mobilnya kehalaman rumah itu.Bahkan Sekar masih diam terpaku meski Abian sudah lebih dulu turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuknya.
"Ayo turun,kenapa bengong?"ucap Abian yang membangunkan Sekar dari lamunan nya tentang rumah baru itu.