
"Maaf Sekar,tapi Nenekmu sudah tidak bisa kami perjuangkan lagi."ucap William saat tadi pagi dirinya dipanggil oleh Abian untuk menjelaskan kondisi nenek Sari ada cucunya Sekar.
"Ma_maksud Dokter?"lirih Sekar dengan dada yang mulai terasa sesak mendengar kabar tentang kondisi sang nenek.
"Sebenarnya nenekmu sudah tidak tertolong saat dibawa kemari,namun ABian bersikeras untuk mempertahan kan nya dengan menggunakan alat pembantu pernafasan yang kami punya,tapi jika situasi ni terus berlanjut maka itu akan sangat tidak baik nenekmu,saranku,lebih baik kamu ikhlaskan dia,biarkan dia pergi dengan tenang karena percuma saja,selama apapun kamu mempertahankan kondisinya saat ini hasilnya akan sama saja dan itu akan semakin membuatnya tersiksa."jelas William yang saat ini sudah membuat Sekar menangis tersedu.
Rasanya masih belum siap jika saat ini harus kehilangan sang nenek.Dtambah Sekar yang tidak memiliki keluarga lain membuat Sekar bimbang namun tidak mungkin juga untuk tetap mempertahan kan neneknya jika sudah tidak memungkin kan lagi.
"Ji_jika itu yang terbaik untuk nenek,maka lakukan saja Dokter,saya akan ikhlas melepaskan nya pergi jika itu membuat nenek jauh lebih baik."lirih Sekar disela isak tangisnya.
Dengan berat hati William pun mulai melepaskan satu persatu alat yang menempel di tubuh nenek Sari.Karena percuma saja,tubuh wanita renta isu sebenarnya sudah tidak bernyawa sejak dibawa masuk kedalam markas.
Hanya saja Abian tetap mempertahankan sekuat yang dia bisa,agar Sekar bisa melepas kepergian sang nenek dengan ikhlas dan saat Sekar sudah tersadar dari tidur panjang nya.
...***...
Sekar mana sendu gundukan tanah yang baru saja ditutupi dengan taburan bunga segar di atasnya.Di atas nisan nya tertuliskan nama sang nenek.
Sepi dan sendiri,itulah hidup Sekar saat ini.Entah harus bagaimana dia melanjutkan hidup saat ini.Satu satunya tujuan hidupnya sudah tiada dan rumah satu satunya pun sudah lama dia tinggalkan dan entah sudah jadi apa sekarang.
Rumah tua dengan sejuta kenangan manis didalamnya namun saat ini rasanya terlalu berat untuk kembali kerumah itu.Tujuan nya untuk pulang sudah tidak ada,lantas Sekar harus pulang kemana??dan pulang pada siapa??batin Sekar.
"Ayo kita pulang,hari sudah semakin sore dan sebentar lagi gelap."ujar Abian membangunkan lamunan Sekar tentang rumah dan tujuan nya untuk pulang saat ini.
"Saya harus pulang kemana Tuan?rumah dan tujuanku ada disini."lirih Sekar tanpa mengalihkan pandangan nya dari makam sang Nenek.
Abian pun meraih tangan Sekar lalu menggandeng dan membawanya pergi meninggalkan area pemakaman dimana nenek Sari dimakam kan.
Sekar yang saat ini masih dalam kondisi berduka pun hanya bisa menurut dan mengikuti langkah Abian yang membawanya kembali kedalam mobil miliknya.
Abian dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Sekar dijok bagian belakang mobilnya.Lalu Abian berjalan mengitari mobil itu setelah menutup pintu mobil disamping Sekar.
Abian masuk dipintu lain dan duduk disamping Sekar.Saat ini Abian menggunakan jasa supir untuk mengantarkan keduanya.
Abian menarik tubuh Sekar masuk kedalam pelukan nya.Abian mendekap erat tubuh Sekar yang mulai bergetar karena menangis kembali.
"Menangislah,jika itu akan membuatmu merasa lebih baik."bisik Abian membelai lembut rambut Sekar yang terurai.
Sekar pun semakin terisak saat Abian membisikkan kata kata itu.Sekar semakin menengglman wajahnya didada bidang Abian saat pria itu mendekap tubuhnya semakin erat.
Bahkan tanpa ada rasa malu dan canggung lagi Sekar pun mulai membalas pelukan pria itu dengan tidak kalah eratnya.
Lelah setelah sekian lama menangis Sekar pun akhirnya tertidur dipelukkan Abian hingga tiba dirumah pribadi pria itu,Sekar masih tampak tertidur lelap.
Tidak tega membangunkan Sekar yang masih terlelap dalam pelukkan nya,Abian pun berinisiatif untuk membawa masuk Sekar dengan menggendongnya.
Gadis itu menelusupkan wajahnya diceruk leher Abian saat Abian berhasil membawanya dalam gendongan dan sumpah demi apapun,hangatnya nafas Sekar yang menerpa leher Abian membuat tubuh kekar pria itu merinding dan panas dingin.