Cinta Dan Dendam Abian

Cinta Dan Dendam Abian
Bab.26


Setelah selesai membersihkan diri dan bersarapan,Abian kembali keruangan dimana Sekar berada.


Saat ini gadis itu nampak tengah duduk membaca buku diatas ranjang nya.Berhubung saat ini Sekar tengah berada di markas kelompok yang Abian ketuai.


Maka Sekar tidak lagi tidur diranjang rumah sakit yang sempit dengan kasur yang agak keras.Saat ini Sekar terbaring dengan cukup nyaman diatas ranjang super besar dan juga empuk.


"Bagaimana keadaan mu?"tanya Abian yang mengalihkan perhatian Sekar dari buku menjadi padanya.


"Su_sudah jauh lebih baik Tuan,terima kasih."lirih Sekar yang masih begitu terlihat ketakutan jika bersama dengan Abian.


"Jangan takut,aku tidak akan menyakitimu.Soal yang kemarin,aku minta maaf,aku tidak tahu jika selama ini kamu juga korban dari wanita itu,"jelas Abian yang membuat Sekar tercengang.


Sekar menatap tak percaya pada pria yang saat ini berjalan mendekatinya.Abian meraih tangan Sekar lalu mengganggam nya dengan cukup erat.


"Aku benar benar minta maaf Sekar,saat itu aku dibutakan oleh amarah dan tidak bisa mengontrol emosiku,maafkan aku."lanjut Abian membuat mata Sekar berkaca kaca.


"Tu_tuan,"lirih Sekar.


"Kamu maukan memaafkan aku?aku janji,setelah kamu sembuh,aku akan mengembalikanmu kekehidupan mu semula.Bahkan jika perlu,aku akan menghilang dari pandangamu.Aku tahu terlalu banyak luka yang telah aku torehkan dihatimu.Setelah ini hiduplah dengan baik,"lanjut Abian panjang lebar yang kini membuat Sekar menangis tersedu.


Sekar tidak menyangka jika Abian akan meminta maaf dengan tulus seperti itu.Bahkan Abian sampai menitikan air mata saat menyesali semua perbuatannya.


Abian menarik Sekar masuk kedalam dekapan nya.Tangis Sekar pun akhirnya pecah didalam pelukkan Abian saat Abian dengan begitu lembut membelai punggung san juga pucuk kepala Sekar untuk menenangkan gadis itu.


"Menangislah,aku tahu jika semua yang selama ini kamu alami begitu menyakitkan.Maafkan aku,aku benar benar minta maaf."lirih Abian mendekap erat tubuh Sekar.


***


"Ini,minumlah."


Abian menyodorkan satu gelas air putih pada Sekar saat gadis itu sudah mulai menghentikan tangisnya.


"Terima kasih,"lirih Sekar sesaat setelah menghabiskan air didalam gelas itu.


"Apa kamu mau melihat Nenekmu?"tanya Abian yang membuat Sekar kembali dibuat kaget.


"Ne_Nenek?"


"Iya,Nenek Sari juga ada disini.Kondisi nya kurang baik,bahkan sejak dipindahkan kemari,beliau masih belum sadarkan diri,"


"Ne_Nenek kenapa?kenapa bisa?"


"Aku juga tidak tahu,saat pihak panti menghubungiku,Nenek Sari sudah pingsan dan terus memanggil nama anaknya begitu tersadar.Tapi saat aku tiba,belau kembali tidak sadarkan diri hingga saat ini."


"Baiklah,tunggu disini,aku akan mengambil kursi roda untukmu,"


"Tapi saya sudah bisa berjalan Tuan,"


"Tidak,kamu tidak boleh kelelahan.Tunggu disini atau kita tidak jadi saja kesananya."


Tanpa menunggu jawaban dari Sekar,Abian pun langsung keluar dari ruangan itu untuk mengambil kursi roda.


Dan tidak lama kemudian Abian pun sudah kembali dengan membawa kursi roda ditangan nya.Sekar pun hanya bisa pasrah dan menurut saat Abian dengan sigap mengangkat tubuh mungilnya untuk dipindahkan dari ranjang ke atas kursi roda.


"Tu_tuan,sa_saya bisa sendiri,"ucap Sekar saat Abian menggendongnya.


"Diam dan menururlah.Ini semua demi kabaikanmu juga,"Abian pun menurunkan Sekar dengan perlahan ke atas kursi roda.


Lalu mendorong kursi roda itu keluar ruangan menuju ke ruangan lain.Dimana Nenek Sari saat ini berada.


Keduanya pun berjalan menelusuri lorong yang cukup panjang hingga keduanya tiba didepan sebuah pintu besar dengan dua orang penjaga disisi kiri dan kanan pintu itu.


Sekar manatap bingung saat kedua penjaga itu menunduk hormat saat Abian datang dengan membawa Sekar bersama dengan nya.


"Buka pintunya,"


"Baik Tuan,"


Salah satu dari kedua orang itu nampak beranjak untuk membukakan pintu besar itu.Dan dari kejauhan pun Sekar sudah bisa melihat sosok paruh baya yang terbaring diranjang dengan alat alat bantu pernafasan terpasang ditubuhnya.


Dada Sekar semakin sesak saat melihat satu satunya keluarga yang dia punya saat ini tengah terbaring tidak sadarkan diri dengan alat alat medis terpasang ditubuhnya.


"Ne_Nenek,"lirih Sekar saat Abian membawanya mendekati ranjang dimana Nenek Sari berada.


Sekar maraih tangan wanita tua renta yang sudah merawatnya selama ini.Sosok wanita yang menjadi sosok ibu untuknya.


Sejak ditinggal sang ibu,Nenek Sarilah yang menjadi sosok Ibu untuk Sekar.Meski dalam tiga tahun terakhir Nenek Sari melupakan nya.


Namun Sekar tidak pernah berhenti menyayangi Nenek sekaligus ibu untuknya itu.Sehingga melihat wanita paruh baya itu terbaring tak sadarkan diri membuat hati Sekar sakit dan juga hancur.


"Ayo bangun Nek,ini Sekar,Sekar sudah pulang,"lirih Sekar yang membuat hati Abian terenyuh.


Rasa bersalah Abian pun kian besar saat Abian mendengar ucapan Sekar yang terdengar begitu memilukan.