
Sekar langsung bangkit lagi dan mengambil poisis duduk.Sekar menatap lekat pria yang saat ini juga tengah menatapnya.
"Maksud Tuan apa?"tanya Sekar yang begitu tidak tahu kemana arah tujuan pembicaraan mereka.
Abian terdiam namun langsung bangkit dari duduknya di sofa.Abian berjalan menuju ke arah ranjang lalu duduk berjongkok didepan Sekar yang duduk di atas ranjang.
"Bisakah,kita menikah?aku tidak memiliki keluarga,begitu pun dengan kamu.Aku tidak ingin hidup sendiri."jawab Abian dengan nada yang cukup lembut.
"Bukan nya Tuan membenciku?kenapa tiba tiba meminta agar kita menikah?"
"Itu dulu,tidak dengan sekarang.Aku,,,,aku ingin melindungi dan ingin selalu bersamamu,tapi seperti yang kamu katakan tadi.Agamamu tidak memperbolehkan kita untuk bersentuhan bahkan berdekatan karena kita bukan saudara kandung.Maka dari itu,hanya dengan pernikahan yang bisa kita lakukan agar aku bisa menjaga dan melindungimu."jelas Abian yang tentu saja membuat Sekar terenyuh.
"Tuan masih bisa melindungi ku tanpa harus kita menikah,lagi pula apa Tuan yakin akan memilih keyakinan yang sama denganku?Ini menyangkut tuhan dan kepercayaan yang akan Tuan pegang seumur hidup,jangan menjadikan nya lelucon Tuan,tidak baik."
"Yang menganggap jika pilihanku ini adalah lelucon siapa Sekar?aku sudah hidup lama tanpa mengenal siapa tuhan ku,apa salah jika saat ini aku ingin memulai hidup dengan miliki satu keyakinan dan memiliki kepercayaan jika aku memiliki tuhan?"
"Tapi kenapa harus keyakinan ku?bukankah keluarga Tuan juga memiliki keyakinan dan tuhan sendiri?"
"Jika aku ikut mereka,aku tidak bisa menikahimu ."lirih Abian.
"Jadi Tuan ingin memiliki keyakinan hanya karena ingin menikah?"
"Bukan juga,tapi iya juga sih,"
"Lalu mana yang benar?"
"Selama ini,aku hidup tanpa mau mengenal siapa tuhanku dan jujur aku tidak pernah percaya adanya tuhan itu.Tapi,sejak aku mengenalmu,aku sedikit merasa tertarik untuk mengenalnya dan meyakini jika dia ada.Jadi,bisakah kamu mengajariku untuk mengenal lebih jauh lagi bagaimana tuhanmu?"
"Apa Tuan yakin?"
"Tentu saja,aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya."
"Baiklah jika begitu.Besok kita cari tempat yang tepat untuk Tuan belajar lebih lanjut lagi dan dibimbing oleh orang yang tepat.Sekarang lebih baik kita istirahat,ini sudah terlalu larut."
"Baiklah,sana kembali ke sofa.Tuan juga butuh istirahat bukan?"
"Baiklah,selamat istirahat ya?"
"Iya,Tuan juga."
Abian pun segera bangun dari duduknya dan kembali lagi ke sofa dimana dirinya akan tidur malam ini.
Sekar sendiri langsung membaringkan tubuhnya lalu menyellimutinya dengan selimut tebal milik Abian.
Kini keduanya nampak menyambangi alam mimpi secara bersamaan.Sebelum benar benar tertidur,dua sejoli itu nampak memperlihatkan senyumannya di wajah masing masing.
Entah kenapa,saat ini keduanya merasa senang dan lega setelah berbicara dari hati ke hati tentang banyak hal.Bahkan Abian tak henti hentinya tersenyum sebelum matanya benar benar tertutup dengan sempurna dan masuk kedalam alam mimpi.
Begitu pun dengan Sekar,entah sejak kapan rasa takut yang dia miliki terhadap pria itu hilang,yang pasti saat ini Sekar selalu merasa gugup dan juga malu jika pria yang dulu pernah bersikap begitu kasar padanya itu menatapnya atau berada didekatnya.
...***...
Ke esokan paginya...
Sekar mengerjapkan matanya saat sayup sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang.Perlahan tapi pasti,mata Sekar akhirnya terbuka dengan sempurna,lalu Sekar pun bangkit dari tidurnya.
Sekar berlalu meninggalkan kamar Abian untuk kembali ke garasi untuk mengambil mukena yang akan dia pakai subuh ini.
Sejenak Sekar kembali kebingungan saat akan melakukan ibadah dua rakaatnya.'Haruskan kembali kekamar dan melakukan ibadahnya disana?'batin Sekar bermonolog.
Dan setelah berpikir sejenak Sekar pun kembali melangkah menuju kamar Abian.Meski sedikit ragu dan canggung namun demi sebuah kedamaian Sekar pun kembali lagi kekamar itu.
Namun baru saja membuka pintu,Sekar dikejutkan dengan sesosok yang sudah berdiri didepan pintu dengan menatap nya cukup tajam dengan mata yang memerah.