Cinta Dan Dendam Abian

Cinta Dan Dendam Abian
Bab.42


"Astaghfirullahaladzim,Tuan?ya ampun bikin kaget saja,"pekik Sekar yang begitu masuk dikejutkan dengan Abian yang sudah berdiri didepan pintu dengan wajah panik dan mata yang memerah.


"Dari mana?kenapa pergi?akukan sudah menyuruhmu tetap disini.Bahkan aku berjanji tidak akan mengganggumu,"tanya Abian dengan begitu paniknya.


"Saya hanya ke garasi Tuan,saya kesana untuk mengambil mukena yang akan saya kenakan untuk beribadah.Kembali tidur ya?saya akan beribadah disini kok,jadi Tuan tidak usah khawatir ya,"


Abian tidak menjawab,namun mengangguk patuh dan kembali berjalan menuju sofa dimana tadi dia tertidur.Abian pun kembali merebahkan tubuh nya tapi tidak langsung tertidur.


Sekar sendiri langsung melesat masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu untuk melakukan ibadaha dua rakaatnya.


Setelah beberapa saat Abian kembali bangun dan terduduk disofa saat Sekar keluar dari kamar mandi dan memulai memakai mukenanya.


"Apa harus memakai kain itu untuk beribadah?"tanya Abian yang membuat Sekar menoleh ke arah nya.


"Iya Tuan,dan ini hanya untuk perempuan.Setelah aku memulai tolong jangan berbicara dulu ya,"


"Kenapa?"


"Nanti setelah selesai akan Sekar jelaskan,Sekar ijin shalat dulu ya Tuan."


"Mmm,lakukanlah,aku tidak akan mengganggu."


"Terima kasih atas pengertian nya."


Sekar pun mulai ibadahnya dan Abian memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh Sekar dengan seksama.


Ada rasa kagum yang menyeruak dalam hati Abian saat melihat gadis itu beribadah dengan khusu pada tuhan nya.


Bahkan Abian sampai tersenyum saat melihat bagaimana cantiknya seorang Sekar saat mengenakan kain yang menutupi seluruh tubuhnya itu.


Dan tidak membutuhkan waktu lama bagi Sekar untuk menyelesaikan ibadahnya.Saat Sekar akan membuka mukena yang dia pakai,Abian tiba tiba menghentikan pergerakan nya.


"Jangan dibuka,biarkan tetap seperti itu."seru Abian saat melihat Sekar akan membuka mukena yang dia pakai.


"Kenapa Tuan?"


"Jangan dibuka,tetaplah seperti itu.Agar aku tahu batasan antara diriku dan dirimu,setidaknya untuk saat ini."jawab Abian yang lagi lagi membuat Sekar terenyuh.


"Kemari dan jelaskan apa yang kamu maksud tadi?"lanjut Abian menepuk sofa disamping nya yang kosong.


Saat Sekar akan duduk disamping nya Abian langsung menggeser tubuhnya untuk memberi jarak diantara mereka.


"Ayo,katakan dan jelaskan.Kenapa saat melakukan ibadah kita tidak boleh bersuara atau berbicara?"tanya Abian yang tampaknya sudah tidak sabar untuk mendapatkan penjelasan itu.


"Kerena itu bisa membatalkan shalat kita,saat kita shalat itu adalah hubungan antara kita dan tuhan kita,jadi sekiranya kita hanya fokus padanya dan tidak terganggu dengan hal hal lain."


"Jadi begitu?"


"Iya seperti itu,Tuan bisa memulai membaca buku tentang Islam terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memeluk islam.Keyakinan itu bersangkutan dengan hati nurani kita bukan hawa nafsu.Jika Tuan memilih Islam hanya karena hawa nafsu itu tidak baik dan tidak akan membawa keberkahan,tapi jika Tuan memilihnya dengan hati nurani,Insya Allah akan berkah dan semoga selalu istiqomah jika memang sudah yakin dan mantap akan memeluk agama Islam."


"Kalau begitu bisa antarkan aku membeli buku buku itu?aku ingin segera mengenal agamamu dan semoga keputusanku tetap sama setelah membaca buku buku yang kamu maksud."


"Tentu Tuan,dengan senang hati."


"Sekar?"


"Iya,kenapa Tuan?"


"Bisa tidak,jika berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan?"


"Hah?apa?tapi itu tisak sopan,secara Tuan kan memang maji___"


"Itu dulu,sekarang kan berbeda."potong Abian.


"Berbeda apa nya Tuan?"


"Dulu,aku memang majikanmu tapi tidak untuk sekarang.Sekarang,kamu adalah calon istriku jadi berhenti memanggilku Tuan."


"Tapi___"


"Tidak ada tapi tapian dan tidak ada penolakan.Pokoknya,mulai saat ini bantu aku agar aku bisa menjadi imam yang baik untukmu dan aku akan berusaha agar aku layak bersanding denganmu."


Sekar menatap lekat wajah tampan Abian yang saat ini begitu bertekad mengikuti keyakinan nya demi bisa bersama dengan dirinya.


Meski awalnya ragu,namun Sekar akan tetap menemani setiap langkah Abian menemukan tuhan dan kepercayaan nya.


Prihal jodoh,akan Sekar kembalikan pada sang maha kuasa dan pemilik kehidupan nya.Sekar yakin jika memang Abian pilihan dari Allah maka semua akan diberi kelancaran.