Cinta Dan Dendam Abian

Cinta Dan Dendam Abian
Bab.32


"Tuan?aku bisa sendiri,"seru Sekar saat merasakan tubuhnya melayang.


Sesampainya didalam kamar,tiba tiba saja Sekar merasa jika tubuhnya sudah melayang.Dan ternyata Abianlah pelakunya.


Abian langsung mengangkat tubuh Sekar untuk dipindahkan dari kursi roda ke ranjang.Sekar sempat memberontak meminta untuk diturunkan namun di abaikan oleh Abian.


"Diam dan menurutlah,ini semua aku lakukan untuk kebaikan mu,agar kamu segera pulih,"jawab Abian yang lagi lagi tidak ingin dibantah oleh gadis itu.


Tidak ada pilihan lain untuk Sekar selain menuruti pria yang dominan itu.Sekar pun membiarkan saja Abian melakukan apa yang dia inginkan.


Toh membatah atau menolak juga tidak akan ada gunanya,pria itu akan kekeh dengan pendirian dan juga pendapatnya sendiri.


"TIdurlah,aku akan disini menemanimu."ucap Abian setelah membaringkan tubuh Sekar lalu menyelimutinya dengan selimut tebal yang ada disana.


"Tuan juga,lebih baik Tuan juga istirahat.Semalam Tuan tidur disofa pasti rasanya tidak nyaman,kembalilah kekamar Tuan,aku sudah baik baik saja.TIdak usaha khawatir dan menungguiku terus."jawab Sekar yang meminta Abian kembali kekamarnya untuk beristirahat saat melihat wajah Abian yang terlihat begitu kelelahan.


"Tidak apa apa,aku akan tetap disini.Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menebus semua kesalahaku padamu."lirih Abian saat kembali teringat berbuatan buruknya pada Sekar.


"Aku sudah memaafkan Tuan dan mengikhlaskan semua yang sudah terjadi.Lagi pula,Tuan juga sudah menyadari kekeliruan Tuan.Sudah,jangan merasa bersalah lagi,istirahat ya.Aku janji,Tuan adalah orang pertama yang akan aku hubungi jika ada sesuatu yang terjadi."bujuk Sekar agar Abian mau kembali kekamarnya dan beristirahat.


Abian pun nampak merogoh saku celena bahan yang dia kenakan saat ini.Abian menyerahkan ponsel jadul milik Sekar.


"Ada orang yang terus menghubungimu,maaf sudah lancang membuka pesan pesan dari nya,"ucap Abian saat menyerahkan kembali ponsel milik Sekar yang sempat dia sita.


Sekar mengambil ponsel itu dengan ragu ragu.Lalu membuka aplikasi pesan yang dimaksud oleh Abian tadi.


Benar saja,diantara sekian banyaknya pesan dari panti.Terselip satu pesan dari orang yang cukup spesial untuk Sekar kala masih bersekolah dulu.


"Angga?"lirih Sekar namun masih terdengar cukup jelas ditelinga Abian.


"Siapa dia?apa dia pacarmu?"tanya Abian mendadak ketus saat menanyakan status pria itu pada Sekar.


Dan hal itu tentu saja membuat Sekar kaget dan langsung menatap bingung pada Abian.Tak hanya Sekar yang saat ini tengah menatap Abian.Abian pun ternyata tengah menatap intens pada Sekar.


"Kenapa tidak menjawab?apa dia kekasihmu?"tanya Abian lagi dengan nada dingin dan datarnya.


"Bukan,dia hanya teman sekolah.Dan rencananya kami memang akan berkuliah dikampus yang sama."jawab Sekar tanpa mau melihat ke arah Abian.


Pria itu terlihat sangat menyeramkan jika dalam mode dingin nya.Sehingga Sekar pun tidak berani untuk menatap nya jika sudah dalam mode itu.


"Ok,ayo lebih baik sekarang kamu istirahat saja,itu akan membantumu untuk segera pulih."


Abian seegra bangkit dari duduknya dan kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya Sekar.Dengan telaten Abian menyelimuti dan mengusap lembut pucuk kepala Sekar.


Sumpah demi apa,perlakuan lembut pria yang awalnya dikenal kejam dan bengis itu membuat jantung Sekar berdeber debar tak karuan.


Bagaimana bisa tidur sedangkan kondisi jantung nya saja tengah tidak baik baik saja begitu.Sekar yang sudah menutup matanya pun kembali membuka mata itu,saat Abian mengusap lembut pucuk kepalanya.


"Kenapa?apa ada yang kamu butuhkan?atau ranjang nya tidak nyaman?"tanya Abian saat melihat Sekar kembali membuka matanya.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"lirih Sekar.


Sungguh rasanya tidak nyaman saat akan bertanya,namun mau tidak mau Sekar harus menanyakan hal itu agar kelak Sekar tahu harus melakukan apa kedepan nya.


"Apa?katakan saja,"


"Setelah aku pulih dan sembuh total,apa aku boleh pergi dari sini?"


Deg...


Jantung Abian rasanya mau copot saat Sekar bertanya masalah itu,meski Abian sudah tahu jika Sekar tidak tahu menahu tentang kehidupan Arumi.


Namun entah mengapa rasanya,hatinya tidak rela jika sampai gadis itu pergi dari dekatnya dan


menghilang dari padangan nya.