Bride Of Choice

Bride Of Choice
BOC BAB 95 - Merasa Bangga Sudah Membantu


Masih merasa kesal dengan keputusan Robin, akhirnya malam itu Hansel memanggil Denis untuk masuk ke dalam ruangannya.


Dari jam 8 malam sampai jam 10 Hansel terus mengurung sang asisten disana, membahas ini dan itu yang tidak penting.


Bahkan hanya untuk membatalkan jadwal penerbangannya saja Hansel sampai meminta bantuan sang asisten.


Sementara di luar sana, tepatnya di ruang tengah lantai 1 Havana masih terus menunggu sang kekasih. Dia masih ingin bertemu dan bicara tapi kakaknya itu sungguh tidak ada pengertian.


"Aileen!" panggil Havana pada sang kakak ipar, Aileen malah asik sendiri menonton film di layar televisi sana. Sedikitpun tidak merasa bosan, capek ataupun marah karena menunggu.


"Telepon kak Hansel! suruh dia keluar, ini sudah jam 10 malam," kesal Havana.


Tapi Aileen tidak langsung menjawab, malah lebih dulu makan chiki-chiki di tangannya.


"Bagaimana mau telepon? ponselnya saja aku yang pegang," jawab Aileen, seraya menunjukkan ponselnya dan Hansel yang berdampingan di atas meja, romantis sekali.


Dan Havana yang melihat itu mengeram frustasi seraya mengacak rambut panjangnya dengan asal.


Yang satu terlalu polos dan yang satunya lagi terlalu menyebalkan! kesal Havana.


"Hav, aku punya ide."


"Ide apa?" sahut Havana dengan cepat, susah payah meredam kekesalannya sendiri.


"Kita pura-pura tidur saja, kita matikan lampu dan televisi. Nanti aku naik ke kamar sementara kamu bersembunyi di mobil kak Denis, jadi kalau kak Denis pulang kan kamu tahu," jelas Aileen.


"Darimana kamu dapat ide seperti itu?"


"Kak Clint, dia sering bersembunyi di apartemen kak Hansel. Tanpa sepengetahuan kak Hansel dia membawa kekasihnya ke apartemen."


"Iis dia itu memang playboy, Dari mana kamu tahu?"


"Seminggu lalu waktu aku kesana bersama kak Hansel, aku lihat kak Clint bersembunyi di balik tirai jendela bersama seorang gadis, tapi dia bisik-bisik meminta aku diam."


"Jadi kamu tidak beri tahu kak Hansel?"


"Baiklah, kalau begitu jangan bilang kak Hansel juga kalau aku sembunyi di mobil kak Denis, nanti dia marah pada ku."


"Baiklah," jawab Aileen dengan mantap, rasanya bangga sekali ketika sudah berhasil membantu orang seperti ini.


"Tapi janji satu hal padaku."


"Apa?" tanya Havana dengan bibir mengulum senyum, kepolosan Aileen juga sangat banyak membantunya selama ini.


"Jangan nodaii kak Denis sebelum kalian halal."


"Hih!" mendengar itu Havana langsung saja memukul Aileen menggunakan bantal sofa, membuat Aileen langsung tertawa dengan keras. Havana memang lebih berbahaya, kakaknya saja semesyum itu, apalagi adiknya. Begitulah yang ada dipikiran Aileen.


Tawa keras Aileen itu terdengar sampai ke ruangan sang suami, Hansel mengerutkan dahinya seraya menatap ke arah pintu seolah bisa menembus menatap sang istri.


Membuatnya merasa tak nyaman, karena Aileen bahagia karena orang lain, bukan karena dia.


Tidak lama kemudian tawa itu seketika menghilang, diganti dengan suasana yang sangat sepi. Benar-benar membuat Hansel bingung


"Kita sudahi untuk malam ini."


"Baik Tuan," jawab Denis seraya bangkit dari duduknya dan berdiri siap mengekor Hansel yang hendak keluar.


Dan saat kedua pria ini sampai di ruang tengah, mereka tak lagi melihat Havana dan Aileen, bahkan lampu utama ruangan ini sudah mati, tinggal lampu yang temaram.


"Sepertinya mereka berdua sudah naik, kamu pulanglah."


"Baik Tuan."


Setelah Hansel menaiki anak tangga, barulah Denis melangkahkan kakinya keluar dari rumah utama keluarga Braille.


Menuju mobilnya yang terparkir tepat di halaman parkir rumah ini.