Bride Of Choice

Bride Of Choice
BOC BAB 81 - Tidak Perlu Tindakan


Havana dan Denis bertugas membeli tiket, sementara Aileen dan Hansel membeli popcorn dan minuman untuk mereka berempat.


Di meja pembelian Havana dibuat bingung saat melihat sang kekasih membeli 2 pasang tiket dengan jarak duduk yang berjauhan, mereka bahkan berbeda blok, kiri dan kanan.


"Kakak pacar, kenapa kita duduknya jauh-jauh?"


"Agar aku bisa berdua dengan mu." Jawab Denis datar, juga sedikit berbisik hingga membuat kedua pipi Havana merona, hatinya berdebar tak karuan.


Jadi seperti ini rasanya jatuh cinta? batin Havana, satu tangannya menyentuh dada yang berdegub. Sebuah rasa yang selama ini belum pernah dia rasakan.


"Kenapa kamu senyum terus seperti itu? mencurigakan," tanya Aileen, matanya menyipit saat melihat senyum sang adik ipar. Senyum malu-malu seperi dulu saat pertama kali dia mengecup sekilas bibir Hansel.


Havana yang ditanya malah tidak menjawab, dia malah memeluk erat lengan Denis.


Hansel yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala saja. Tapi cukup yakin jika alasan Havana tersenyum seperti itu adalah tentang tempat duduk mereka yang nanti akan berjauhan.


Membuat mereka memiliki banyak waktu untuk berdua saja.


Dasar bocah mesum. Batin Hansel, mengatai sang adik.


Sepertinya aku harus cepat-cepat menikahkan Havana, batin nya lagi yang takut sang adik akan merusak Denis.


Beberapa menit menunggu dan akhirnya pintu bioskop terbuka. Mereka menuju kursi masing-masing dengan jarak yang cukup jauh.


Awalnya Aileen bingung, namun dia tetap menuruti kemanapun sang suami pergi.


Hitungan menit, film pun di mulai. seketika itu juga suara jerit beberapa wanita langsung memenuhi ruangan gelap ini.


Teriakan dari beberapa orang yang penakut namun tetap coba menonton film horor, termasuk Aileen dan Havana.


"Memang sengaja mau nonton film ini, biar kak Denis selalu memeluk ku seperti ini. Aa!" jawab Havana lalu menjerit ketakutan.


Dia tidak melihat saat Denis tersenyum mendengar jawaban itu.


"Nona."


"Jangan panggil aku Nona Kak."


"Hav."


"Iya seperti itu, panggil nama ku." Havana masih memeluk Denis erat.


"Kenapa kamu memulai hubungan ini? Aku pria dewasa yang tidak bisa main-main," jelas Denis.


Sebelum hubungan mereka berjalan semakin jauh dia ingin memperjelas semuanya di antara mereka.


"Kamu hanya ingin jatuh cinta lalu patah hati?" tanya Denis lagi.


Membuat Havana perlahan melerai pelukannya di tubuh Denis dan menatap kedua mata pria ini di tengah kegelapan, hanya ada cahaya dari layar lebar di depan sana.


Ditanya seperti itu entah kenapa kini Havana mendadak bingung, beberapa hari lalu dia sangat yakin jika itu adalah alasannya. Tapi entah kenapa kini dia seperti ragu.


"Jika hanya itu alasannya, aku akan melakukannya sebaik mungkin. Membuat mu jatuh cinta kemudian sakit hati secara bersamaan." Terang Denis lagi, meski hanya kata-kata nyatanya mampu membuat dada Havana sesak.


Wanita cantik ini menyentuh dadanya yang sakit, merasakan sesak yang juga belum pernah dia alami dengan pria manapun. Rasa sesak yang sama persis saat dia merasa kecewa pada sang ayah, namun kini penyebabnya adalah Denis.


Apa ini patah hati? batin Havana. Hatinya yang lembut mudah sekali tersentuh. Tidak perlu tindakan, bahkan hanya dengan kata-kata dan sorot mata yang dalam dari Denis.