
Malam ini Hansel dan Aileen tidur sambil saling memeluk erat, merasakan kehangatan dan aroma tubuh satu sama lain.
Hingga pagi datang dan Aileen bangun lebih dulu.
Pagi ini Aileen tidak buru-buru turun dari atas ranjang, dia lebih dulu menatapi wajah sang suami yang masih terlelap. Deru nafas Hansel yang teratur pun masih terdengar jelas.
Aileen tersenyum, membelai lembut wajah tampan dan rupawan itu.
Masih ingat jelas bagaimana pertemuan pertama mereka saat di rumah utama keluarga Clarke. Malam itu adalah malam yang cerah dan keluarga Braile datang, tiba di saat penampilannya pada tahap yang paling buruk. Rambut Aileen pendek dan di potong asal.
Tidak seperti sekarang yang sudah di rapikan oleh Havana.
Ku kira dulu kamu akan memilih kak Freya. Batin Aileen. Dia terus menatap lekat wajah sang suami.
Tampan. Batinnya lagi dengan bibir yang tersenyum.
Tiba-tiba saja Aileen sangat ingin mengecup lebih dulu bibir tebal suaminya itu, dan seperti seorang pencuri dengan pelan-pelan Aileen mengikis jarak dan menjangkau bibir suaminya. Ciuman yang sangat lembut dan hati-hati, namun siapa sangka tetap saja bisa membangunkan Hansel.
Aileen sontak membuka mata, terkejut ketika tiba-tiba ciumannya terbalas, dalam sekejab saja kedua bibirnya diraup oleh Hansel, dilumaatinya hingga basah.
Hingga ada kata ah yang lagi-lagi keluar dari mulut Aileen.
"Kak," lirih Aileen saat salah satu tangan Hansel menyelusup masuk ke dalam baju tidurnya, lalu meremaas lembut salah satu buah dada, dia menggeliat tak karuan.
"Ai."
"Iya Kak."
"Boleh aku melakukannya lagi?" tanya Hansel, menatap dengan tatapan yang selalu mampu membuat Aileen hanyut.
Dan dilihatnya sang istri yang mengangguk memberi persetujuan.
Bibir Hansel tersenyum, dia lantas menindih tubuh sang istri dan kembali memulai permainan panas mereka.
Permainan penuh desaah dan hasrat yang ingin dipuaskan.
Seperti tak pernah puas, mereka juga kembali mengulangi adegan itu saat sama-sama mandi di dalam bathtub.
Kini tubuh Aileen benar-benar lemas, dia tak punya tenaga lagi dan sangat lapar.
Ternyata dia tak cukup kuat untuk mengimbangi tenaga Hansel yang tak pernah habis.
"Ai, makan di kamar saja ya? Aku akan ambilkan sarapan untuk mu."
"Tidak usah Kak, aku akan turun. Rasanya tidak sopan jika hari pertama aku sudah melewatkan sarapan bersama keluarga."
Membuat Aileen kesulitan untuk berjalan.
"Aku gendong saja ya?" tawar Hansel.
"Malu ih."
"Biar saja, ayo." putus Hansel, setelahnya dia menggendong sang istri seperti pengantin baru dan keluar dari dalam kamar mereka.
Aileen terus tersenyum sambil menggantungkan kedua tangan di leher sang suami, merasa lucu sendiri seolah dunia ini hanya milik mereka berdua.
"Astaga ya Tuhaaan!!" ucap Havana dengan suaranya yang mengeram kesal. Pertama kali keluar dan dia melihat adegan gendong-gendong itu.
"Kenapa sih gendong-gendong! turun!" kesal Havana, dia menghampiri sepasang pengantin ini sebelum sama-sama turun ke lantai 1.
"Aku tidak bisa jalan Hav," jawab Aileen.
"Kenapa?"
Cup! belum sempat Aileen menjawab, Hansel sudah lebih dulu mengecup bibir istrinya sekilas. Agar istrinya diam.
Adegan itu membuat Havana memukul punggung Hansel kuat.
Plak!
"Bisa Tidak! jangan lakukan di depan Ku!" geram Havana.
Gadis ini kemudian menuruni anak tangga lebih dulu, lengkap dengan bibirnya yang menggerutu.
"Hais harusnya aku tidak tinggal bersama mereka. Harusnya aku tetap saja tinggal di apartemen seorang diri, dasar tidak tau malu, bagaimana bisa dengan santainya berciuman di depan ku, bla bla bla ..."
Hansel yang mendengar gerutuan adiknya tidak peduli, semantara Aileen berulang kali mencubit manja wajah suaminya ini. Dia juga malu jika tiba-tiba dicium di hadapan orang lain.
"Jangan mencium ku di depan orang lain," bisik Aileen, membuat larangan.
Tapi Hansel malah lagi-lagi mencium bibirnya.
Cup!
"Iiihhh," kesal Aileen.
Dan Hansel terkekeh.