
Jam 10 pagi Aileen dan Havana keluar dari apartemen. Karena tidak ingin ditemani oleh Denis, akhirnya Hansel tetap memaksa kedua gadis itu untuk ditemani oleh Siska.
Jadilah ketiga wanita berbeda generasi ini jalan bersama.
Pertama ke toko buku, lalu ke toko baju membeli beberapa baju untuk kuliah, setelahnya ke cafe mengisi perut yang kosong dan terakhir nonton film di bioskop.
Saat masuk ke sana mereka sudah tidak membawa apa-apa, semua barang belanjaan itu sudah lebih dulu dibawa turun oleh sang supir.
Karena pusat perbelanjaan terbesar adalah Clarke Super Mall, jadi mereka tetap kesini. Tidak peduli jika nanti bertemu dengan tiga nenek sihir itu, Helda, Freya dan Pharsa.
Lagipula Aileen selalu merasa nyaman ketika berada di Mall ini.
"Ini kan film dewasa, mana boleh kita menontonnya," ucap Aileen saat melihat 3 tiket yang sudah dibeli oleh Havana.
Siska juga sebenarnya ingin melarang, tapi dia tidak mungkin mencegah keinginan Havana. Baginya pun Havana sudah cukup umur, 21 tahun. Tapi Aileen?
"Hei, diantara kita bertiga nanti malah kamu duluan yang menikah. Jadi tidak apa-apa mulai sekarang tonton dulu yang seperti ini."
Diam-diam Siska setuju juga dengan pemikiran Havana itu, tapi Aileen tetap saja merasa geli dan akhirnya mengerucutkan bibir.
Dia lalu melihat poster film yang akan di tontonya lagi dan melihat gambar vulgard disana. Aileen buru-buru menutup mata lalu berpaling.
"Ya ampun aku tidak mau melihat ini, nanti kalau kak Hansel tahu pasti dia akan marah."
"Kamu terlalu penurut, lagi pula kan kak Hansel tidak ada disini. Mana mungkin dia tahu apa yang kita tonton." jawab Havana yang tetap kukuh.
Sementara Siska pura-pura tidak mendengar, karena jelas nanti dia akan melaporkan semuanya pada sang Tuan. Termasuk apa yang akan mereka tonton saat ini.
"Kak Siska, jangan adukan ini pada kak Hansel?" pinta Havana hingga membuat Siska kaget.
"I-iya Nona," jawabnya gagap.
Akhirnya waktu tunggu mereka habis, semua orang yang ingin menonton film itu sudah dipersilahkan masuk ke dalam bioskop.
Ruang gelap dengan cahaya temaram itu cukup membuat Aileen gugup, ini sudah lebih dari 5 tahun dia tidak pernah berkunjung kesini.
Havana, Siska dan Aileen duduk di kursi tengah. Tempat yang paling stategis untuk menonton.
Tidak terlalu dekat dengan layar lebar itu dan tidak terlalu dekat pula dengan speaker besar di belakang sana.
5 menit setelah semua orang duduk, lampu di ruang ini mulai padam. Berganti dengan suara suara yang menggelegar tanda film akan mulai.
Belum apa-apa mereka sudah disuguhkan dengan adegan vulgard, sebuah penyatuan kedua orang manusia lengkap dengan suara desahaan yang menggema di ruangan sepi ini.
"Ya ampun Havana, apa itu? Aku tidak mau lihat!" rengek Aileen, dia memejamkan mata dan menutup telinganya rapat. Tapi tetap saja mampu mendengar suara ah ah ah itu.
"Kak Siska! tolong aku!"
"Sstt! jangan berisik, nanti kamu di marah orang-orang. Ini cuma awal saja kok, nanti di pertengahan tidak seperti ini." Jelas Havana.
"Jangan bohong."
"Tidak! Buka mata mu."
"Malas, nanti saja."
Dan Siska hanya mampu geleng-geleng kepala melihat keduanya.
Mereka bertiga akhirnya menonton film itu hingga habis, bukan hanya ada adegan panaas. Namun juga banyak kata-kata kasar yang disuguhkan di sana.
Membuat Aileen sedikit belajar bagaimana caranya melawan ketika ditindas.
Dan memang itulah tujuan Havana.