
Tahu jika Hansel ingin bicara berdua dengannya membuat Aileen merasa gugup.
Lagi-lagi dia meremat kedua tangannya di atas pangkuan dan memainkan kuku.
"Aku tidak memgizinkan mu menggunakan baju terbuka seperti tadi, mengerti?"
"Iya Kak, maafkan Aku," jawab Aileen cepat, tidak ingin membuat Hansel semakin marah.
Dia juga langsung mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Hansel yang lurus.
Membuat jantungnya semakin berdebar hebat.
Dilihat olehnya Hansel yang menghela nafas pelan, melihat itu tiba-tiba jadi merasa bersalah sekali.
"Maafkan Aku," ucap Aileen sekali lagi, dia mencubit kecil lengan Jas yang di kenakan Hansel.
Membuat pria ini lantas menarik tangan itu dan digenggamnya erat.
"Aku akan memberikan mu kebebasan, karena itulah jaga dirimu baik-baik. Havana akan jadi adikmu meski usianya lebih tua, jadi bantah saja jika ajarannya sesat."
Aileen terdiam, sedikit menurunkan pandangan. Sedikit takut, tapi juga merasa cukup senang. Hansel benar-benar mengasihinya dengan tulus.
Membimbingnya untuk jadi lebih baik, bukan hanya acuh.
"Mengerti?"
"Iya Kak."
Hansel menarik Aileen dan memeluknya erat, mengecup puncak kepala gadis ini hingga membuat Aileen pun membalas pelukan itu.
"Ini hari pertama mu kuliah, jadi nikmatilah."
Senyum Aileen mulai kembali. Saat pelukan itu terlerai, Aileen sudah melihat wajah Hansel yang kembali teduh. Bahkan ada sedikit senyum di sudut bibir pria berwajah dingin ini.
"Turun lah."
"Kak Hansel tidak ingin mencium ku?"
"Ai."
"Kata Havana sebelum berpisah, biasanya tiap pasangan akan memberikan sebuah ciuman."
"Havana lagi."
"Aku kan hanya melakukannya dengan kak Hansel, bukan dengan yang lain."
Hansel menyentuh kepalanya yang berdenyut, dia adalah pria normal yang sedang mencoba sadar. Andai hasratnya yang utama sudah sejak lama dia menyerang Aileen.
Sementara Aileen menatap Hansel penuh harap.
Bahwa hal wajah jika Aileen dan Hansel saling berciuman, bahkan ciuman bisa dikatakan sebagai penguat sebuah hubungan.
Semalam juga Hansel mengatakan kesungguhannya untuk menerima Aileen. Maka Aileen pun sudah memutuskan untuk menerima Hansel pula.
Bukan hanya sebagai dewa penolong, namun juga jadi suaminya.
"Sini," ucap Hansel, dia menarik tengkuk Aileen dan si gadis menurut untuk mendekat.
Hansel lalu mencium kening Aileen cukup lama, hingga berhasil menciptakan perasaaan menghangat di hati masing-masing.
"Kenapa cium kening? kalau pasangan itu cium nya bibir," celetuk Aileen.
Membuat Hansel benar-benar kehabisan kata-kata dan hasratnya mulai menguasai jiwa.
Dia adalah pria normal. Lantas dengan perlahan Hansel kembali mengikis jarak, menjangkau bibir merah cherry milik Aileen dan melumaatnya lembut.
Sementara kedua mata Aileen langsung mendelik, dia tidak menyangka jika efek ciuman akan sedahsyat ini. Aileen hanya diam membatu merasakan bibirnya yang dilumati oleh Hansel.
Dia tak berkutik, bahkan seluruh tubuhnya terasa seperti tersengat listrik.
Berhasil membuat bibir Aileen basah, Hansel menghentikan ciumannya. Menghapus sisa-sisa saliva yang dia tinggalkan.
"Sudah puas?" tanya Hansel dan Aileen hanya bisa mengangguk pasrah.
"Sekarang turun lah."
Aileen mengangguk lagi, Hansel yang gemas kembali mencium pipinya sekilas.
"Nanti saat pulang kuliah, aku akan meminta siska untuk menjemputmu."
Lagi-lagi Aileen mengangguk, ciuman itu seolah merenggut setengah kesadarannya. Kini dia rasanya lemas sekali.
Aileen turun dan hendak menutup pintu, namun terhenti saat Hansel memanggilnya lagi.
"Ai."
"Iya Kak."
"Pakai lipstikmu lagi."
Aileen yang malu langsung menutup pintu itu dengan kuat.
Brak!
Meninggalkan Hansel yang tertawa dengan hati berbunga-bunga.