Bride Of Choice

Bride Of Choice
BOC BAB 65 - Mendelik Bingung


"Tentang Mama Angeline, Papa belum menjelaskan apapun pada mu kan?"


"Aku tidak mau dengar," tolak Havana.


"Lalu selamanya kamu akan membenci Papa."


Havana terdiam, di saat mulutnya terkunci rapat. Tiba-tiba ada air mata yang jatuh di sudut matanya. Namun dengan cepat Havana menghapus air mata itu.


Dia bahkan berulang kali menelan ludahnya dengan kasar. Merasakan sesak di dada yang semakin menyiksa.


Dulu hingga saat ini dia masih kecewa pada sang ayah, sangat kecewa.


"Papa akui papa salah, Papa tidak akan mencari pembenaran akan hal itu. Tapi semuanya sudah terjadi Hav, Papa tidak bisa berpisah dengan mama Angeline."


"Tapi wanita itu tidak mencintai Papa, dia hanya menginginkan harta keluarga Braile!"


"Papa tahu itu."


"Dan Papa masih ingin mempertahankan dia?"


"Inilah hukuman papa Hav, karena telah berani menyakiti kamu dan Hansel akhirnya papa tidak mendapat kan cinta dari mama sambung mu."


"Ceritakan saja wanita itu Pa."


Robin tersenyum getir.


"Papa tidak akan menceraikan mama Angeline, selama dia tidak menuntut perpisahan dengan Papa."


"Papa terlalu baik pada wanita itu."


"Maafkan Papa Hav."


"Selamanya aku tidak akan pernah menerima dia, Mama ku hanya satu, Mama Kadita." jelas Havana dengan gamblang.


Robin terdiam.


Lagi-lagi dia tersenyum getir, lalu mengangguk kecil memahami perasaan sang anak.


Semuanya memang tidak mudah, Robin hanya bisa berharap waktu akan menyembuhkan semua luka dan mengembalikan kebahagian ke dalam keluarganya.


Hari berlalu.


Semenjak pembicaraan itu Havana malah jadi semakin dingin pada Robin.


Hansel menyadari perubahan sang adik, tapi dia masih menunggu waktu yang tepat untuk bertanya pada Havana ada apa.


Hansel memang selalu seperti itu, hal kecil yang akan dia lakukan pasti sebelumnya sudah dipikirkan matang.


Sarapan pagi ini, Angeline tidak ikut bergabung bersama mereka. Wanita itu masih malas untuk bertemu dan melihat kebersamaan Aileen dan Hansel.


Dan selesai sarapan, Denis datang ke rumah utama ini untuk menyampaikan beberapa laporan pada sang Tuan. Dia tidak datang sendiri, Siska juga ikut bersamanya dengan membawa beberapa dokumen untuk harus di tanda tangani oleh Hansel.


Ketiga orang itu masuk ke ruang kerja. Sementara Aileen akan berkeliling rumah di dampingi oleh Havana, bibi Rose dan paman Artur.


Melihat itu Aileen gemas sendiri jadi ingin mandi.


"Lain kali saja! Sekarang kan jadwalnya keliling rumah dulu!" kesal Havana, dia menarik Aileen yang mulai bermain air.


"Sebentar saja Hav."


"Tidak!"


"Iss, Bibi Rose."


"Mari Nona," sahut Rose, malah memberi jalan Aileen untuk segera meninggalkan kolam renang itu.


Membuat Aileen langsung mengerucutkan bibirnya kesal.


"Nanti aku akan ajak kak Hansel berenang."


"Terserah mu, yang jelas sekarang kita keliling rumah dulu."


"Kamu sangat menyebalkan."


"Aku tidak peduli."


Kedua gadis ini terus berdebat, tapi kedua tangan mereka saling bergandengan erat.


Kembali menyisir rumah hingga sampai di paviliun tempat para pelayan tinggal.


"Bibi tinggal dimana? aku mau masuk." tanya Aileen pada Rose.


"Mari Nona." Rose kemudian memimpin langkah, hingga akhirnya sampai di kamar miliknya.


Melihat itu Aileen tersenyum, kamar ini lebih lebar dari kamar Rose saat menjadi pelayan di rumah keluarga Clarke. Karena Rose selalu membantunya, Helda menempatkan Rose di kamar yang tak layak.


"Bibi nyaman tinggal disini?" tanya Aileen dan Rose mengangguk.


Aileen lantas memeluk bibinya erat. Membuat Havana dan Artur yang melihat ikut mengukir senyum kecil.


Hari itu mereka menyudahi berkeliling rumah, cukup untuk lantai 1.Sementara lantai 2 nya besok lagi.


Havana kembali ke dalam kamarnya, sementara Aileen menghampiri sang suami yang masih berada di ruang kerja lantai 1.


"Kak?" Panggil Aileen, dia membuka pintu dan melongok ruangan itu.


Ternyata Siska sudah pulang dan hanya menyisahkan Denis serta Hansel di sana.


"Aku ganggu ya?"


"Tidak, masuklah."


Aileen membuka pintu lebar dan masuk, dia menghampiri Hansel lalu duduk di atas pangkuan sang suami, membuat Denis langsung mendelik bingung.