Bride Of Choice

Bride Of Choice
BOC BAB 45 - Perasaan Tulus


"Jawab Kak, jangan diam saja," ucap Havana, suaranya pelan sangat takut jika jawaban Hansel akan membuat dia kecewa.


Tentang Aileen yang mungkin saja hanya dimanfaatkan oleh sang kakak. Mendiang ibu mereka berwasiat bahwa rumah itu akan jadi milik Hansel andai dia sudah menikah. Tentang ini hanya Hansel, Havana dan Robin yang mengetahui, sementara Angeline tidak.


"Kak!" tuntut Havana sekali lagi, dia butuh kejelasan untuk ini.


"Tidak Hav, aku tidak sedang memanfaatkan Aileen. Awalnya memang iya, tapi sekarang tidak lagi."


"Kenapa?"


"Karena aku ingin menerima Aileen. Dia gadis yang baik."


"Aku pegang kata-kata kak Hansel. Dan satu lagi, lebih baik kakak katakan tentang wanita itu dan masa lalu yang kalian punya, sebelum aku yang mengatakannya sendiri," balas Havana pula.


Dan Hansel menganggukkan kepalanya kecil sebagai jawaban.


Setelah pembicaraan itu akhirnya mereka bersepakat untuk nanti setelah pesta pernikahan mereka akan kembali ke rumah utama keluarga Braile.


Malam datang.


Sehabis makan malam, Havana terus melirik sang kakak. Memberi isyarat agar Hansel segera memberi tahu Aileen tentang Angeline.


Aileen berhak tau akan hal itu, jadi nanti setelah mereka pindah ke rumah utama Aileen bisa memutuskan bagaimana bersikap dengan rubah itu.


"Aduh, tiba-tiba aku mengantuk sekali. Aku mau tidur sajalah," ucap Havana lalu mengedipkan sebelah mata pada sang kakak.


"Ya ampun Hav ini baru jam 8, kita juga baru selesai makan. Nanti saja tidurnya, kita nonton tv dulu," ajak Aileen, dia sedang membasuh tangannya du westafel.


"Kamu nonton dengan kak Hansel saja, aku mau ke kamar," jawab Havana, sementara Aileen hanya mendengus kesal. Mana asik menonton tv bersama pria dingin itu.


Aileen ingin menonton drama sementara Hansel pasti ingin lihat berita.


Tapi mau bagaimana lagi, mau tidak mau akhirnya kini Aileen dan Hansel duduk berdampingan dan mulai menonton televisi.


"Kak Hansel mau lihat apa?" tanya Aileen, lebih baik bertanya lebih dulu. Berharap Hansel akan menjawab terserah, lalu dia bisa melihat drama kesukaannya.


"Breaking News."


Mendengar itu Aileen langsung mencebik, karena lagi-lagi Hansel ingin melihat berita.


"Aileen."


"Apa?" Aileen menoleh, televisi itu jadi berhenti di siaran drama kesukaannya.


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," ucap Hansel dengan tatapannya yang serius, membuat Aileen jadi mendadak takut.


Aileen diam saja, hanya berani membalas tatapan itu dan menunggu apa yang akan diucapkan Hansel selanjutnya.


"Ada cerita lama yang cukup membuat aku dan Havana terluka. Kamu tahu? Angeline istri ayahku, sebelumnya adalah kekasih ku. Kami merencanakan pernikahan, tapi akhirnya dia menikah dengan Papa."


Kedua mata Aileen membola, antara terkejut dan bingung sekaligus. Karena itulah kini ia baru mengerti, kenapa ibunya Hansel muda sekali. Dia sudah kira jika Angeline adalah ibu tiri, namun Aileen sungguh tak menyangka jika wanita itu adalah mantan kekasih Hansel.


"Aku dan wanita itu tidak memiliki perasaan apapun lagi, bahkan rasanya membenci pun tidak. Karena aku sudah lelah, juga sudah menemukan kebahagiaan ku sendiri."


Aileen masih tetap terdiam, tak mampu berkata-kata. Otaknya mendadak kosong, bahkan rasanya cukup sulit untuk mencerna ucapan Hansel.


Dia bahan tidak sadar ketika Hansel mengikis jarak, tau-tau pria ini sudah mengecup keningnya sekilas.


"Setelah kita menikah nanti, kita pindah ke rumah utama keluarga Braile. Mau?"


Aileen mengangguk saja dan Hansel menarik tubuhnya untuk dipeluk erat.


"Dulu sebelum ibuku meninggal, dia membuat wasiat bahwa rumah itu akan menjadi milik ku ketika aku sudah menikah ..."


"Karena itulah aku ingin membawa mu kesana setelah kita menikah nanti ..."


"Awalnya aku memang hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk mengambil rumah itu lagi, rumah yang penuh dengan kenangan indah untukku dan Havana ..."


Aileen tergugu, cukup sadar diri siapa dia. Bahkan sampai merasa wajar jika hanya untuk dimanfaatkan.


"Tapi itu dulu Aileen, sekarang tidak lagi. Sekarang aku benar-benar ingin menikahi kamu."


Pelukan Hansel terasa semakin erat, perasaan tulus pria ini mampu Aileen rasa dengan jelas.


Aileen pun membalas pelukan itu, menyandarkan semua harapan hanya pada pria ini.