
Selesai acara Wisuda.
Mereka semua memutuskan untuk langsung pulang.
Di area parkir kampus, langkah kaki Havana sedikit berat untuk segera masuk ke dalam mobil. Dia kembali berbalik dan melihat sang ayah yang berjalan di belakang.
Havana sungguh ingin ayahnya ikut dia pulang ke rumah utama, namun lidahnya kelu untuk berucap.
Havana menatap sang kak, melihat Hansel yang juga menatapnya lekat. Seolah dari tatapan itu mereka saling bicara, saling mengutarakan isi hati yang sama.
Sama-sama ingin Robin kembali tinggal di rumah.
Saat itu, Hansel hanya menganggukkan kepalanya kecil. Namun Havana sudah sangat tahu jika artinya Iya.
"Papa pulanglah bersama kami," ucap Havana kemudian, sebuah ajakan yang membuat Robin tergugu. Antara senang dan merasa masih tak pantas untuk menikmati kebahagiaan bersama kedua anaknya.
Aileen yang ada di sana juga hanya diam, apapun keputusan Havana dan Hansel tentang Robin akan selalu dia ikuti.
"Tidak sayang, papa akan pulang ke rumah papa," jawab Robin, dia harus tau diri. Dialah yang dulu sudah merusak kebahagiaan di rumah itu.
"Kenapa? papa tidak ingin tinggal bersama kami? Aileen sudah hamil, butuh banyak orang untuk menjaga dia di rumah," bohong Havana, mencari-cari alasan agar sang ayah ikut pulang.
Bukan hanya Robin yang terkejut, Aileen, Hansel dan Denis juga SMA terkejutnya.
Pasalnya mereka semua sangat tahu jika Aileen tidak hamil.
Hansel bahkan langsung mendelik pada sang adik, tapi Havana malah memalingkan wajah. Menghindari tatapan tajam sang kakak.
Sementara Aileen garuk-garuk kepala, menyentuh perutnya sendiri yang tidak ada isinya apa-apa.
"Aku tidak ham_empt." Havana langsung menutup mulut Aileen yang mau buka suara.
Namun Hansel dengan cepat melerai keduanya.
"Sstt!" potong Havana lagi, memuat Aileen benar-benar diam.
"Diam dulu atau aku akan bilang kak Hansel kalau kamu kemarin duduk di dekat Bian." Bisik Hanvana, mengancam sang kakak ipar.
Dan Aileen yang sangat takut pada suaminya itupun langsung diam seribu bahasa. Bian adalah ketua tim nya di salah satu tugas matakuliah. Kemarin Havana melihat Aileen dan Bian duduk bersebelahan dan terus menjadikan itu sebagai ancaman.
"Apa benar Aileen hamil?" tanya Robin, matanya berbinar penuh harap. Pertanyaan yang memutus perdebatan kecil Aileen dan Havana.
Robin sangat bahagia, bahkan baru mendengarnya saja sudah membuat dia sangat bersyukur.
"Benar Pa, karena itulah ayo pulang. Biar aku tidak repot sendirian." jelas Havana.
Aileen diam dan cemberut. Melirik Havana tajam, padahal Aileen adalah gadis jujur, tak suka kebohongan.
"Baiklah, papa akan pulang bersama kalian," putus Robin dengan antusias, saat ini dia merasakan kebahagiaan yang berlipat-lipat.
Dan melihat raut wajah bahagia itu, membuat Aileen urung untuk meluruskan semuanya. Kini dia malah tahu jika kebohongan Havana hanya untuk niat baik membawa sang ayah pulang.
Hansel juga tak bisa menjelaskan apapun, hanya terus menatap tajam sang adik, melihat Havana yang sedikit menjulurkan lidahnya.
Dasar pembohong ulung! kesal Hansel. Kini dia memang tidak bisa berbuat apa-apa, tapi Hansel sudah memikirkan cara untuk menghukum sang adik.
Tunggu saja pembalasan kami adik ku sayang. Batin Hansel, menatap Havana dengan bibirnya yang menyeringai.
Melihat itu kini Havana jadi bergidik ngeri.
Dan setelah drama singkat itu, mereka semua akhirnya masuk ke mobil masing-masing.
3 mobil beriringan menuju rumah utama keluarga Braille.