
Sudah seperti kebiasaan, tiap selesai makan Aileen akan membereskan piring. Tanpa canggung dia mengambil semua piring kotor dan menaruhnya di westafel.
"Aileen, tidak perlu melakukan itu Nak. Biar para pelayan yang melakukannya," ucap Robin, namun Aileen tak langsung berhenti. Dia tersenyum menatap ayah mertuanya.
"Tidak apa Pa, cuma mencuci ini saja bukan pekerjaan berat," jawab Aileen. Havana yang tahu susahnya mengurus rumah pun membantu Aileen dengan membawa gelas kotor kesana.
Ada perasaan menghangat di hati Robin ketika melihat anak gadisnya seperti itu. Seolah gadis manjanya telah benar-benar tumbuh dewasa.
Hansel dan Robin pergi lebih dulu dari ruang dapur itu. Havana yang kebelet pipis pun ke kamar mandi sebentar dan kini hanya menyisahkan Aileen dan Angeline disana.
Merasa ada kesempatan untuk menekan Aileen, Angeline pun langsung mendekati menantunya itu.
"Tingkah mu benar-benar seperti pelayan," ucap Angeline, mendekati Aileen dengan membusungkan dadanya yang sedikit terbuka.
Dan di dekati oleh Angeline, Aileen langsung bersiap-siap untuk melawan. Sebelum pindah ke rumah ini Havana juga sudah memberinya banyak ilmu untuk melawan sang ibu mertua.
Awalnya Aileen tidak percaya jika Angeline akan bersikap baik saat didepan Robin dan Hansel, namun mulai menunjukkan wajah aslinya yang jahat ketika kedua orang tidak ada.
Ternyata semua itu benar dan kini Aileen merasakannya sendiri. Hawa Angeline sama seperti Helda, Freya dan Pharsa.
Aileen lantas tersenyum, menoleh pada ibu mertuanya.
"Apa salahnya beres-beres di rumah sendiri? Mama tidak pernah ya? seperti tamu saja," balas Aileen, kemudian dia terkekeh pelan.
Membuat Angeline sungguh geram mendengarnya. Saking geramnya, dia langsung menarik lengan Aileen dan mencekalnya kuat. Juga menatap tajam penuh kebencian.
"Jaga sikapmu!"
"Kak Hansel!!" teriak Aileen, dia harus teriak saat disakiti seperti ini.
Dan teriakan Aileen itu sungguh membuat Angeline terkejut. Buru-buru dia melepaskan cekalannya.
Wajahnya mendadak cemas saat melihat Hansel kembali datang dan Havana keluar dari dalam kamar mandi dapur.
Tidak ingin masalah jadi semakin besar, Angeline langsung saja pergi dari sana. Bahkan pergi dengan sedikit berlari meski berpapasan dengan pria yang dia cintai.
"Aduh, selamat," ucap Aileen seraya mengelus dadanya merasa lega.
"Kenapa? ada dia menganggu mu?" tanya Hansel, tadi dia seperti mendengar Aileen yang berteriak.
"Ada apa?" tanya Havana cengo, dia tidak tau apa-apa, gemiricik air di dalam kamar mandi cukup menganggu pendengarannya.
"Cih, dia menganggu mu?" tanya Havana pula dan Aileen hanya mencebik saja.
"Dia tidak melukai mu kan?" Hansel memeriksa keadaan istrinya.
"Tidak Kak, aku baik-baik saja."
"Kalau dia menyakiti mu katakan pada kami." Havana menimpali dan Aileen mengangguk.
"Iya."
Saat itu Angeline langsung ke kamar, Robin yang melihat istrinya berlari pun lantas menyusul.
Ikut masuk ke dalam kamar mereka dan melihat Angeline yang duduk di tepi ranjang dengan nafas terengah.
"Ada apa?" tanya Robin, dia lalu duduk di samping Angeline.
"Sayang, aku tidak suka Aileen tinggal disini. Kenapa mereka harus kembali sih." jawab Angeline dengan angkuh.
"Tentu saja mereka harus kembali, ini kan rumah Hansel."
"Rumah Hansel? apa maksudmu?!"
"Rumah ini atas nama mendiang mama nya dan setelah Hansel menikah rumah ini akan jadi miliknya. Itu artinya juga akan jadi rumah Aileen. Jadi wajar jika mereka pulang."
Angeline terperangah, seperti tersambar petir di malam hari. Bagaimana bisa rumah yang sudah sangat dia cintai ternyata bukan milik Robin.
"Kenapa kamu tidak pernah mengatakan ini padaku!" kesal Angeline, dia mulai marah.
"Untuk apa? Ku rasa itu buka sesuatu yang penting."
"Tentu saja penting! karena aku menginginkan rumah ini!" pekik Angeline, membuat Robin terdiam dan menatapnya dalam.
Melihat tatapan itu seketika Angeline sadar jika dia telah kelepasan bicara.
"Maksud ku bukan seperti itu Sayang." Suara Angeline mulai pelan, dia juga menyentuh lengan Robin dengan lembut.
Tapi telinga Robin tidak tuli, mendengar ucapan itu membuat Robin mulai berpikir jika Angeline menikah dengannya hanya karena harta.