
Dengan rahangnya yang mengeras, Denis melangkahkan kaki dan menghampiri meja sang kekasih.
Tawa Havana yang riang seketika hilang.
Dia bahkan sampai tersedak makanannya sendiri.
Sontak saja David dan Bima mengikuti ke arah pandang Havana dan melihat seorang pria dengan tatapan dingin mendekati meja mereka.
"Siapa dia? kamu mengenalnya?" tanya David, dia jadi semakin bingung saat melihat raut wajah Havana yang berubah jadi takut.
"Di-dia adalah, Di-dia adalah..." jawab Havana gagap, saat dalam keadaan takut begini dia berubah jadi begitu cupu. entah kenapa kini dimatanya, tatapan sang kekasih lebih menyeramkan dibanding tatapan kakaknya.
"Dia siapa?" potong Bima dengan cepat, tak ingin pria asing ini adalah seorang penjahat yang akan menyakiti Havana.
Tapi karena Havana tak mampu menjawab, David dan Bima kembali menatap dengan lekat pria itu, pria yang kini sudah berdiri tepat di samping meja mereka.
Lama menatap sampai akhirnya membuat mereka berdua mendelik, baru ingat jika dia adalah asisten dari Hansel Braille, rekan bisnis Bosnya di tempat kerja. David dan Bima sudah berulang kali melihat pria ini, pria bernama Denis.
Astaga. Batin mereka berdua kompak.
"Tuan Denis," sapa Bima dengan cepat, ketika semua kesadarannya telah kembali.
David dan Bima sontak bangkit dari duduknya, berdiri dan menundukkan kepala memberi hormat.
Namun Denis hanya menganggukkan kepalanya kecil sebagai tanggapan.
"Nona Havana, sudah waktunya Anda pulang," ucap Denis, masih dengan tatapannya yang seperti elang.
"Pu-pulang, tapi kan ini masih jam kerja," jawab Havana masih dengan suaranya yang terbata-bata.
Dan panggilan Nona yang diucapkan oleh Denis berhasil membuat David dan Bima bingung, juga heran.
Mulai menebak-nebak siapakah Havana ini, mungkinlah adiknya Hansel Braille? suami pemilik Mall ini. Mereka berdua mulai menghubung-hubungkan, sampai akhirnya kembali ingat ucapan Havana tentang Mall ini yang akan diserahkan kepadanya.
"Mari pulang," ucap Denis, lengkap dengan suara penuh penekanan.
Dan saat itu Havana tak bisa lagi membantah.
Setelahnya wanita itu pamit pada kedua teman barunya, David dan Bima. Sementara kedua pria itu hanya mampu menundukkan kepalanya semakin dalam.
Jangan sampai memperpanjang urusan dengan pria bersama Denis itu, seorang asisten yang terkenal sangat kaku dan tegas.
Keluar dari Cafe itu Havana melangkah kakinya dengan cepat agar bisa beriringan dengan sang kekasih yang berjalan di depannya.
"Kak Denis, pelan-pelan, kakiku sakit."
Denis berhenti, dia berbalik dan langsung menggendong Havana seperti pengantin baru.
Sontak saja gadis cantik ini menjerit dan langsung menggantungkan kedua tangannya di leher sang kekasih.
Belum sempat berontak, Havana sudah lebih dulu kehilangan keberaniannya ketika melihat banyak orang menatap mereka dengan tatapan yang entah.
"Kak Denis," cicit Havana, tapi pria ini tidak peduli, setelah berhasil menggendong sang kekasih dia kembali melanjutkan langkah. Menuruni eskalator dengan begitu santainya seolah tubuh Havana yang berisi tidak membuatnya kesulitan.
Sedangkan wanita ini semakin malu saja, untuk mengurangi rasa malunya itu dia menyembunyikan wajahnya di dada sang kekasih, juga semakin memeluk Denis erat.
Havana memejamkan kedua matanya erat, dia tidak tau ini dimana, tidak tau Denis akan membawanya kemana, dunia baginya bahkan seperti berhenti berputar.
Hanya bisa merasakan tubuhnya yang melayang.
Havana bahkan tidak melihat, saat Denis tersenyum kecil mendapati pelukannya yang semakin erat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Udah pada karatan belum nunggunya? 🤣🙏💋