Bride Of Choice

Bride Of Choice
BOC BAB 98 - Bukan Balas Dendam


"Kak Hansel ke-kenapa menatapku seperti itu?" tanya Aileen dengan gagap. Tubuhnya bahkan sedikit mundur dan kedua tangannya menyilang di depan dada.


"Kenapa? tatapan mesyum ya?" Hansel malah semakin menggoda-goda istrinya. Dia sangat suka tiap kali melihat wajah Aileen yang merah merona.


Sementara Aileen langsung mencebik, disaat dia gugup tapi sang suami malah menjadikannya candaan.


"Ayo jalan," pinta Aileen dan Hansel menurutinya, dengan bibir tersenyum lebar akhirnya dia melakukan mobil itu keluar dari pekarangan rumah utama keluarga Braille.


Dan Havana di luar sana yang melihat mobil sang kakak mulai menjauh langsung menghentak-hentakan kakinya dengan kesal.


Rasanya jika seperti ini lebih baik dia tidak wisuda dan tetap kuliah, dari pada setelah lulus malah diberi banyak pekerjaan.


"Hih sebel!" gerutunya, kedua tangannya bergerak seolah sedang meninju sang kakak.


"Harusnya aku saja yang jadi kakaknya dia," geram Havana lagi tak habis-habis.


Belum selesai kekesalannya, dia sudah lihat mobil sang kekasih memasuki area rumah, makin mencebik lah mulut Havana. Karena dia tahu pasti Denis ingin menjemputnya untuk pergi ke Clarke Super Mall.


Sebelum mobil Denis berhenti, Havana sudah lebih dulu berlari masuk ke dalam rumah. Berniat pura-pura sakit atau apalah agar tidak jadi pergi ke Clarke Super Mall.


Bukan apa-apa, karena Hansel memintanya untuk jadi tim keamanan, bukan langsung ke kursi CEO milik Aileen.


"Kamu mau kemana?" tanya Robin saat dia dan sang anak berpapasan di bawah tangga, dilihatnya Havana yang seolah ingin kabur.


"Aku mau ke kamar Pa."


"Itu di depan ada Denis, kok malah naik?" tanya Robin lagi, dia juga menunjuk ke arah ruang tamu dan melihat Denis masuk.


Havana mencebik.


"Aku sakit perut Pa, mau ke kamar dulu."


"Jangan bohong, kamu menghindar agar tidak pergi ke CSM kan?" tebak Robin dan memang benar adanya. Keputusan Hansel untuk memerintahkan Havana jadi petugas keamanan di Mall itu dibicarakannya dengan Robin. dan Sang ayah pun menyetujuinya, bahkan menyambut baik.


Havana akan belajar bagaimana caranya bekerja dari bawah, melayani dengan sepenuh hati dan menghargai sebuah pekerjaan.


Tidak langsung menempati posisi tertinggi dengan gampangnya.


Dan belum sempat Havana kembali berkilah, Denis sudah lebih dulu menghampiri mereka berdua.


"Selamat pagi Tuan," sapa Denis seraya menundukkan kepalanya memberi hormat.


Kemudian jadi menunduk saat Denis pun menatapnya dengan tatapan dingin.


"Kakak mu buat keputusan seperti itu pasti sudah dipikirkannya dengan sangat matang, bukan hanya karena dia ingin membalas dendam tentang bulan madu," terang Robin saat dilihatnya sang anak mulai menunduk.


"Kamu akan lebih menghargai artinya uang, tidak poya-poya terus seperti selama ini. Sekarang waktunya kamu belajar bagaimana caranya melayani orang lain ..."


"Pergilah," titah Robin kemudian.


Tapi Havana hanya diam, sampai akhirnya Denis yang menjawab untuk pamit.


"Kami permisi Tuan," ucap Denis, satu tangannya pun menarik pergelangan tangan Havana agar mengikuti langkahnya.


Saat itu Havana hanya bisa pasrah, berjalan gontai mengikuti sang kekasih.


Bahkan hanya diam saat Denis memasukkannya ke dalam mobil dan duduk di depan.


Masih diam hingga mobil itu melaju dan berhenti tepat di area parkir khusus eksekutif di basement Mall.


"Ayo turun."


"Kak Denis jahat."


"Sini cium dulu." Denis langsung menarik dan memeluk erat sang kekasih.


"Katanya cium," rengek Havana, saat ini dia tiba-tiba menangis. Karena baru pertama kalinya dimarah oleh Robin, ternyata membuat hatinya bersedih.


Dan Denis tidak menjawabi ucapan itu, dia langsung melerai pelukan mereka dan mencium kekasihnya dengan mesra.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author punya karya baru spin off dari After Divorce, cerita tentang anaknya Alex dan Jia, Alden Carter.


Kalau berkenan, mampir ya


Judulnya : Wanita Bayaran dan CEO